Ayat 55:39
فَيَوْمَئِذٍ لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلَا جَانٌّ
Maka, pada hari itu, tidak ditanya tentang dosanya seorang manusia pun dan tidak jin,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَيَوْمَئِذٍfa-yawma'idzinmaka, pada hari itu
- لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلَا جَانٌّlaa yus'alu 'an dzanbihi insun wa-laa jaannuntidak ditanya tentang dosanya seorang manusia pun dan tidak jin
Terjemahan per kata (8 kata)
- فَيَوْمَئِذٍfa-yawma'idzinmaka pada hari itu
- لَاlaatidak
- يُسْأَلُyus'aluditanya
- عَنْ'andari
- ذَنْبِهِdzanbihidosanya
- إِنْسٌinsunmanusia
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- جَانٌّjaannunjin
Inti bacaan
Modus penghakiman berdasarkan bukti kasat mata: 'pada hari itu, tidak ditanya tentang dosanya seorang manusia pun dan tidak pula jin', pengakuan bahwa pada titik tertentu, identitas pendosa sudah nyata tanpa perlu interogasi verbal, konsekuensi hidup meninggalkan tanda yang tak bisa disembunyikan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَيَوْمَئِذٍ لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلَا جَانٌّ, fa-yawma'idzin laa yus'alu 'an dzanbihi insun wa-laa jaannun). Ayat ini menyelesaikan kalimat yang dibuka 55:37 dengan "maka apabila", sesudah disela refrain 55:38. Kata (فَيَوْمَئِذٍ, fa-yawma'idzin) diterjemahkan "pada hari itu", konsisten dengan pemakaiannya yang luas di terjemahan ini, misalnya di 69:16. Hari itu menunjuk hari ketika langit terbelah.
Rangkaian (لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ, laa yus'alu 'an dzanbihi), "tidak ditanya tentang dosanya", memakai kata kerja pasif yang sama dengan 28:78: (وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ, wa-laa yus'alu 'an dzunuubihimu l-mujrimuuna), "dan orang-orang yang berdosa itu tidak akan ditanya tentang dosa-dosa mereka". Kata kerja pasif itu, diikuti kata depan 'an dan kata dosa, hanya ada di dua ayat tersebut. Di 28:78 kalimat itu menutup ayat tentang generasi-generasi yang dibinasakan meskipun lebih kuat dan lebih banyak kekayaannya.
Ayat-ayat lain menyatakan bahwa mereka akan ditanya: (فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ, fa-wa-rabbika la-nas'alannahum ajma'iina), "maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua" (15:92), (عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ, 'ammaa kaanuu ya'maluuna), "tentang apa yang dahulu mereka kerjakan" (15:93), juga 7:6, 21:23, dan 37:24, (إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ, innahum mas'uuluuna), "sesungguhnya mereka akan ditanya". Al-Qur'an tidak menjelaskan dalam satu ayat bagaimana kedua kelompok ayat ini dipertemukan. Surah ini memberi petunjuk dua ayat kemudian: (يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ, yu'rafu l-mujrimuuna bi-siimaahum), "para pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka" (55:41). Dibaca bersama 55:41, ayat ini meniadakan pertanyaan untuk mengetahui dosa seseorang, karena dosanya sudah dikenali dari tandanya. Pertanyaan tentang apa yang mereka kerjakan di 15:93 tidak disinggung ayat ini.
Kata (ذَنْبِهِ, dzanbihi), "dosanya", tunggal, dengan kata ganti tunggal yang kembali kepada (إِنْسٌ, insun) dan (جَانٌّ, jaannun). Keduanya tunggal tanpa kata sandang, dan keduanya ditiadakan: tidak seorang manusia pun, dan tidak seorang jin pun. Pasangan insun dan jaannun dengan peniadaan dipakai tiga kali, semuanya di surah ini: 55:39, 55:56, dan 55:74. Kata jaannun adalah kata yang juga dipakai di 55:15 untuk jin yang diciptakan dari nyala api, berbeda dari kata untuk jin di seruan 55:33. Urutannya di sini manusia lebih dulu, sedangkan 55:33 mendahulukan jin; pergantian urutan itu tidak dijelaskan.
Terjemahan ayat ini berbunyi "dan tidak jin". Tambahan "pula" tidak dipakai, agar dua peniadaan dalam teks Arabnya, laa dan wa-laa, tetap terbaca sejajar dan setara.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa pada saat itu dosa sudah nyata tanpa perlu ditanyakan lagi: bukti sudah terlihat jelas. Dasarnya ada di surah ini sendiri, di 55:41, yang menyebut para pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka. Di 67:11 penghuni api yang menyala-nyala mengakui dosa mereka sendiri: (فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ, fa-'tarafuu bi-dzanbihim), "maka mereka mengakui dosa mereka". Tanda yang terlihat dan pengakuan dari diri sendiri membuat pertanyaan untuk mencari tahu tidak lagi diperlukan.
Ayat ini juga menutup kalimat yang dibuka 55:37. Langit yang di 55:7 ditinggikan kini terbelah, dan di bawah langit yang terbelah itu tidak ada lagi pemeriksaan untuk mencari tahu. Kalimat yang dimulai dengan gambaran alam semesta berakhir dengan keadaan setiap orang.
Dibandingkan dengan 28:78, lingkup ayat ini lebih luas. Di 28:78 orang-orang yang berdosa tidak ditanya, sedangkan di sini tidak seorang manusia pun dan tidak jin. Soal apakah orang yang tidak berdosa juga tidak ditanya dengan cara yang sama tidak dijelaskan di sini. Ayat-ayat sesudahnya memisahkan kedua kelompok itu, lewat tanda di 55:41 dan lewat dua taman di 55:46.
Di 21:23 dinyatakan (لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ, laa yus'alu 'ammaa yaf'alu), "Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan", dan merekalah yang ditanya. Karena itu, ketiadaan pertanyaan di ayat ini tidak berarti ketiadaan pertanggungjawaban. Ayat ini hanya meniadakan pertanyaan untuk mengetahui, karena pada hari itu semuanya sudah tampak.
Renungan dan Hikmah
- Pada hari itu tidak ada yang perlu ditanyakan untuk mencari tahu. Dosa yang di dunia bisa disembunyikan, dibantah, atau diberi alasan, sudah terlihat pada pemiliknya. Kesadaran ini mengubah cara memandang rahasia. Hal yang hari ini disimpan rapat-rapat tidak sedang aman, tetapi menunggu hari ketika pengakuan tidak diperlukan lagi. Sekarang rahasia itu masih bisa dibawa kepada Allah dengan tobat, selagi pengakuan masih berarti. Pengakuan yang diberikan dengan sukarela hari ini berbeda nilainya dari pengakuan yang terpaksa pada hari itu.
- Di 67:11 penghuni api mengakui dosa mereka sendiri, dan di 75:14 manusia disebut menjadi saksi atas dirinya sendiri. Tidak perlu ada yang bertanya, karena diri sendiri yang menjawab. Orang bisa membohongi orang lain, bahkan membohongi dirinya dalam waktu lama, tetapi tidak selamanya. Kejujuran kepada diri sendiri hari ini adalah latihan kecil menghadapi hari ketika diri sendiri akan berbicara tanpa bisa dicegah di hadapan Tuhannya. Apa yang dilatih hari ini akan menjadi kebiasaan yang dibawa pada hari itu.
- Di 15:92-93 Allah berfirman bahwa mereka pasti akan ditanya tentang apa yang mereka kerjakan, sedangkan di sini tidak ada yang ditanya tentang dosanya. Pertanyaan untuk mencari tahu tidak diperlukan, tetapi pertanggungjawaban tetap berjalan. Dalam hidup sehari-hari, orang sering merasa aman selama tidak ada yang bertanya. Apakah tidak ditanya berarti tidak dimintai tanggung jawab, atau berarti semuanya sudah diketahui? Ayat ini mengingatkan bahwa diamnya pertanyaan bukan tanda bahwa tidak ada yang mencatat.
- Golongan tertentu, orang kaya atau orang miskin, orang berilmu atau orang awam, tidak disebut. Ayat ini menyebut seorang manusia pun dan seorang jin pun, masing-masing tunggal dan tanpa keterangan. Pada hari itu tidak ada kedudukan yang membuat seseorang diperlakukan lain. Gelar, jabatan, dan nama keluarga yang di dunia membuka banyak pintu tidak disebut sama sekali. Hanya diri masing-masing yang tersisa di hadapan Tuhannya, dengan dosanya sendiri. Kesetaraan itu mengajak memperlakukan orang lain hari ini tanpa melihat kedudukannya.
- Para pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka (55:41). Di 48:29 kata yang sama dipakai untuk orang-orang yang sujud: tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Setiap orang membawa tanda dari apa yang biasa ia kerjakan. Tanda itu terbentuk pelan-pelan, dari kebiasaan yang diulang setiap hari, bukan dari satu perbuatan besar. Pertanyaan yang patut diajukan hari ini: tanda apa yang sedang dibentuk oleh kebiasaanku sehari-hari? Tanda itu tidak bisa dipasang pada hari terakhir, karena tumbuh sepanjang hidup.
- Kata dosanya berbentuk tunggal dan melekat pada orang yang tunggal. Di 35:18 dinyatakan bahwa orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Pada hari itu setiap orang hanya berurusan dengan dosanya sendiri. Kesadaran ini membebaskan sekaligus menuntut. Membebaskan, karena kesalahan orang lain tidak ditimpakan kepada kita. Menuntut, karena kesalahan kita juga tidak bisa dialihkan kepada siapa pun di hadapan Allah. Keduanya mengarahkan perhatian ke arah yang sama: memperbaiki diri sendiri lebih dulu.
Ayat 55:40
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
- آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
- رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
- تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan
Inti bacaan
Refrein ketiga belas setelah penjelasan modus penghakiman: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang menegaskan bahwa sistem penghakiman yang jelas dan tidak berbelit pun merupakan bentuk keadilan yang patut disyukuri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan ketiga belas dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Kata ganti dual (كُمَا, -kumaa) pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa) berarti "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Uraian tentang bentuk pertanyaan, kata-katanya, dan letak kemunculannya ada di 55:13 sampai 55:38. Di sini dibahas dua hal yang belum disentuh: cara refrain ini berganti sapaan sesudah 55:39, dan kata dosa yang disebut tepat sebelum refrain ini.
Ayat 55:39 berbicara tentang orang per orang. Kata (إِنْسٌ, insun) dan (جَانٌّ, jaannun) di sana berbentuk tunggal tanpa kata sandang, dan keduanya dibicarakan sebagai pihak ketiga: tidak seorang manusia pun dan tidak seorang jin pun ditanya tentang dosanya. Refrain di ayat ini langsung beralih ke bentuk dual dan menyapa pendengarnya dengan (تُكَذِّبَانِ, tukadzdzibaani), "kalian berdua dustakan". Dalam dua ayat yang bersebelahan, surah ini berpindah dari membicarakan setiap orang pada hari yang akan datang ke berbicara dengan kedua golongan pada saat ini.
Akar ذ-ن-ب hanya dipakai sekali di surah ini, di 55:39, lewat kata (ذَنْبِهِ, dzanbihi), "dosanya". Kata "para pendosa", (الْمُجْرِمُونَ, l-mujrimuuna), menyusul dua kali tidak lama sesudahnya, di 55:41 dan 55:43, dan akarnya pun tidak dipakai di bagian lain surah ini. Kata dosa dan pendosa berkumpul di rentang pendek ini, sedangkan kata "nikmat" dalam refrain muncul tiga puluh satu kali dari 55:13 sampai 55:77. Kemunculan ketiga belas refrain ini jatuh tepat sesudah penyebutan dosa yang hanya sekali itu.
Dalam delapan ayat, surah ini memakai tiga bilangan untuk dua golongan yang sama. Di 55:33 mereka dipanggil sebagai golongan dengan kata kerja jamak, (إِنِ اسْتَطَعْتُمْ, ini statha'tum), "jika kalian sanggup". Di 55:39 mereka disebut satu per satu dengan kata tunggal. Di refrain mereka disapa sebagai dua pihak dengan bentuk dual. Pergantian itu mengikuti apa yang sedang dibicarakan: tantangan kepada seluruh anggota golongan, pertanggungjawaban setiap orang, dan pertanyaan kepada kedua golongan sebagai dua pihak.
Terjemahan menjaga pergantian sapaan tersebut. Ayat 55:39 berbunyi "tidak ditanya tentang dosanya seorang manusia pun dan tidak jin", dengan kata-kata tunggal yang membicarakan orang lain, sedangkan refrain berbunyi "yang kalian berdua dustakan". Kata "kalian berdua" menandai bahwa pendengar kembali diajak bicara, tidak sekadar diceritakan tentang hari itu.
Tafsiran
Ayat ini mengulang refrain setelah menegaskan bahwa dosa tak perlu lagi ditanyakan pada hari itu. Kalimat sebelumnya berbicara tentang hari yang akan datang dan tentang setiap orang satu per satu, sedangkan refrain menarik pendengar kembali ke saat ini, ketika kedua golongan masih disapa bersama dan masih ditanya.
Surah ini menyebut dosa sekali dan menanyakan nikmat tiga puluh satu kali. Perbandingan itu memperlihatkan ke mana surah ini menaruh beratnya. Kabar tentang dosa tidak disembunyikan, tetapi diletakkan di antara pertanyaan-pertanyaan tentang pemberian, sehingga sebelum dan sesudahnya pendengar tetap ditanya nikmat mana yang didustakannya.
Teks tidak menyebut nikmat mana yang dimaksud di sini. Dibaca bersama ayat sebelumnya, pertanyaan ini diajukan kepada jin dan manusia selagi dosa masih bisa dibicarakan, diakui, dan dimohonkan ampun kepada Tuhan mereka. Surah ini tidak menamai keadaan itu nikmat, tetapi urutannya menempatkan pertanyaan tentang nikmat di dalam waktu yang masih terbuka tersebut.
Sesudah refrain ini, surah kembali membicarakan pihak ketiga, yaitu para pendosa di 55:41 dan 55:43. Refrain ini berdiri di antara ayat tentang setiap orang pada hari itu dan ayat tentang para pendosa, dan di antara keduanya pendengar sendirilah yang disapa langsung.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 55:39 berbicara tentang orang per orang: pada hari itu tidak seorang manusia pun ditanya tentang dosanya. Refrain sesudahnya kembali menyapa jin dan manusia bersama. Kelak setiap orang berdiri sendiri di hadapan Tuhannya, tetapi hari ini pertanyaan tentang nikmat masih diajukan kepada banyak orang sekaligus, sehingga mereka masih bisa saling mengingatkan. Keluarga yang saling bertanya tentang syukur dan teman yang saling menegur ketika lupa hanya mungkin selama pertanyaan ini masih diajukan bersama.
- Dalam surah ini dosa disebut sekali, sedangkan nikmat ditanyakan tiga puluh satu kali. Orang yang sedang merasa berat oleh kesalahannya sering hanya melihat dosanya, seakan-akan seluruh hidupnya berisi kesalahan. Surah ini memakai takaran lain: kesalahan dicatat dan tidak disembunyikan, tetapi pemberian Allah disebut jauh lebih sering. Bagaimana rasanya kalau takaran itu dipakai juga ketika menimbang hidup sendiri, tanpa menutupi kesalahan dan tanpa melupakan pemberian?
- Pada hari itu dosa tidak lagi ditanyakan karena sudah terlihat. Hari ini dosa masih bisa dibicarakan dengan Allah: diakui, disesali, diperbaiki, dan dimohonkan ampun. Refrain yang datang tepat sesudah kabar itu mengingatkan bahwa waktu untuk berbicara masih ada. Orang yang menunda pengakuan sampai hari itu akan mendapati bahwa pengakuannya tidak lagi diminta, karena semuanya sudah tampak tanpa perlu dijelaskan oleh pelakunya. Ampunan yang dimohon hari ini masih mungkin diberikan.
- Sesudah menyebut dosa, surah ini tidak melanjutkan dengan tuduhan. Refrain bertanya tentang nikmat Tuhan kalian. Cara ini berbeda dari cara manusia biasanya menegur, yang langsung menunjuk kesalahan orang lain. Mengingatkan seseorang pada kebaikan yang sudah diterimanya sering lebih menyentuh daripada mengingatkan dosanya, karena ia diajak melihat hubungannya dengan Pemberi, tidak hanya pelanggarannya. Allah menegur jin dan manusia dengan cara itu, berulang-ulang.
- Dosa disebut sekali di surah ini, dan itu pun dosa masing-masing, bukan dosa tetangga. Dalam percakapan sehari-hari, kesalahan orang lain sering lebih banyak dibicarakan daripada nikmat yang diterima bersama. Surah ini membalik takaran itu. Pembicaraan tentang pemberian Tuhan mendapat tempat tiga puluh satu kali, sedangkan dosa cukup sekali dan diletakkan pada pemiliknya sendiri. Takaran seperti itu bisa dicoba di meja makan dan di ruang kerja.
- Ini kali ketiga belas pertanyaan yang sama diajukan. Seseorang yang ditanya hal yang sama tiga belas kali biasanya mulai bertanya-tanya kenapa pertanyaan itu terus diulang, dan salah satu jawabannya: karena jawabannya belum juga diberikan. Refrain ini tidak berhenti bertanya. Pengulangan itu memperlihatkan sikap Tuhan terhadap pendengarnya, yang terus memberi kesempatan untuk menjawab sampai pertanyaan itu tidak lagi diajukan. Setiap pengulangan menjadi kesempatan baru untuk menjawab dengan jujur.
Ayat 55:41
يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ
Para pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْyu'rafu l-mujrimuuna bi-siimaahumpara pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka
- فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِfa-yu'khadzu bi-n-nawaashii wa-l-aqdaamilalu direnggut ubun-ubun dan kakinya
Terjemahan per kata (6 kata)
- يُعْرَفُyu'rafudikenali
- الْمُجْرِمُونَl-mujrimuunapara pendosa
- بِسِيمَاهُمْbi-siimaahumdengan tanda mereka
- فَيُؤْخَذُfa-yu'khadzumaka diambil
- بِالنَّوَاصِيbi-n-nawaashiipada ubun-ubun
- وَالْأَقْدَامِwa-l-aqdaamidan kaki
Inti bacaan
Tanda yang tak tersembunyikan: 'para pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya', penegasan bahwa pola hidup meninggalkan jejak yang pada akhirnya tidak bisa disamarkan, dorongan untuk jujur pada diri sendiri tentang arah hidup yang sedang dijalani sebelum jejak itu menjadi permanen.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berbunyi (يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ, yu'rafu l-mujrimuuna bi-siimaahum fa-yu'khadzu bi-n-nawaashii wa-l-aqdaami), "para pendosa dikenali dengan tanda-tanda mereka, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya". Kedua kata kerjanya pasif, (يُعْرَفُ, yu'rafu), "dikenali", dan (فَيُؤْخَذُ, fa-yu'khadzu), "lalu direnggut", sehingga ayat ini menyebut apa yang terjadi pada para pendosa tanpa menyebut siapa yang mengenali dan siapa yang merenggut.
Kata (الْمُجْرِمُونَ, l-mujrimuuna), "para pendosa", dipakai di puluhan ayat, antara lain 6:55, 28:78, dan 30:12. Di surah ini kata tersebut muncul dua kali berdekatan, di ayat ini dan di 55:43, tidak lama sesudah 55:39 menyebut dosa untuk pertama dan terakhir kalinya di surah ini.
Kata (بِسِيمَاهُمْ, bi-siimaahum), "dengan tanda-tanda mereka", berasal dari kata (سِيمَا, siimaa), "tanda", yang dipakai di enam ayat: 2:273, 7:46, 7:48, 47:30, 48:29, dan 55:41. Di lima di antaranya, tanda itu dipasangkan dengan kata kerja mengenali dari akar ع-ر-ف, seperti di ayat ini. Di 2:273 orang-orang fakir yang menahan diri dikenali dari tanda mereka, (تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ, ta'rifuhum bi-siimaahum), dan di 7:46 orang-orang di tempat yang tinggi mengenali setiap golongan dengan cara yang sama. Di 48:29 tanda itu disebut tempatnya, yaitu wajah, dan asalnya, yaitu bekas sujud. Kata ini sendiri tidak menentukan baik atau buruk, karena isinya ditentukan oleh perbuatan yang meninggalkannya.
Kata kerja kedua memakai susunan "direnggut pada ubun-ubun", dengan huruf bi- sebelum kata ubun-ubun. Susunan itu muncul juga di 11:56, dengan Allah sebagai pelakunya: (مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا, maa min daabbatin illaa huwa aakhidzun bi-naashiyatihaa), "tidak ada satu makhluk melata pun kecuali Dia memegang ubun-ubunnya". Kata ubun-ubun dipakai di empat ayat, yaitu 11:56, 96:15, 96:16, dan ayat ini dalam bentuk jamak, (بِالنَّوَاصِي, bi-n-nawaashii). Di 96:16 ubun-ubun itu disifati (نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ, naashiyatin kaadzibatin khaathi'atin), "ubun-ubun yang dusta lagi bersalah".
Kata (وَالْأَقْدَامِ, wa-l-aqdaami), "dan kaki", di tempat lain muncul dalam doa agar kaki diteguhkan, (وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا, wa-tsabbit aqdaamanaa), di 3:147 dan 2:250. Di ayat ini kaki disebut bersama ubun-ubun sebagai tempat para pendosa direnggut. Terjemahan menulis "ubun-ubun dan kakinya" mengikuti urutan teks Arabnya, dari kepala sampai kaki.
Kata kerja yang sama, dari akar أ-خ-ذ, diterjemahkan "memegang" di 11:56 dan "direnggut" di ayat ini. Pilihan itu mengikuti keadaan yang digambarkan: di 11:56 genggaman yang terus berlangsung atas setiap makhluk, di ayat ini tindakan terhadap orang yang tidak mau. Arti per katanya, "maka diambil", menyimpan makna dasarnya.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan pengenalan langsung para pendosa di Hari Kiamat, tanpa perlu penyelidikan lebih jauh. Ayat ini sekaligus menjawab 55:39: tidak ada yang ditanya tentang dosanya karena dosa itu sudah terbaca pada pemiliknya.
Kesejajaran dengan 2:273 memperjelas cara kerja tanda itu. Di sana orang-orang fakir tidak meminta kepada orang lain, (لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا, laa yas'aluuna n-naasa ilhaafan), tetapi keadaan mereka dikenali dari tanda mereka. Di rentang 55:39-41 pertanyaan dan tanda juga bertemu: tidak ada yang ditanya, karena tandanya sudah cukup dikenali. Di kedua tempat, tanda membuat pertanyaan tidak diperlukan, sekali untuk kebutuhan orang yang menahan diri, sekali untuk dosa orang yang berbuat jahat.
Susunan kata kerja yang sama dengan 11:56 memberi arah yang lain. Menurut ayat itu, setiap makhluk sudah dipegang ubun-ubunnya oleh Allah. Di ayat ini ubun-ubun para pendosa direnggut, dan pelakunya tidak disebut. Dibaca bersama 11:56, genggaman itu sudah ada sejak awal, dan pada hari itu barulah terasa oleh orang yang selama hidupnya tidak mengakuinya.
Rupa tanda itu tidak digambarkan. Ayat ini cukup menyatakan bahwa tanda itu membuat para pendosa dikenali, dan pembaca tidak perlu mengisinya dengan gambaran dari luar teks.
Renungan dan Hikmah
- Di 2:273 orang-orang fakir dikenali dari tanda mereka, karena mereka menahan diri untuk tidak meminta. Tanda yang sama, di ayat ini, membuat dosa para pendosa terbaca tanpa perlu ditanyakan. Keadaan seseorang sering lebih jujur daripada kata-katanya. Siapa di sekitar kita yang tidak pernah meminta apa pun, tetapi keadaannya sebenarnya bisa terbaca oleh orang yang mau memperhatikan? Memperhatikan keadaan orang lain dengan cara itu termasuk cara bersyukur atas mata yang diberikan Allah.
- Hud berkata di 11:56 bahwa ia bertawakal kepada Allah, Tuhannya dan Tuhan kaumnya, karena tidak ada satu makhluk pun kecuali Dia memegang ubun-ubunnya. Kenyataan yang sama menenangkan Hud dan menggetarkan para pendosa di ayat ini. Bagi orang yang bersandar kepada Allah, genggaman itu berarti perlindungan. Bagi orang yang merasa bebas dari-Nya, genggaman itu baru terasa ketika ubun-ubunnya direnggut. Perbedaannya tidak terletak pada genggaman, tetapi pada sikap orang yang digenggam terhadap Tuhannya.
- Orang-orang beriman memohon agar kaki mereka diteguhkan, seperti dalam doa di 3:147 dan 2:250. Di ayat ini kaki para pendosa direnggut. Kaki yang sama bisa menjadi tempat doa dikabulkan atau tempat hukuman dijatuhkan, tergantung ke mana kaki itu dipakai melangkah selama hidup. Setiap langkah ke tempat kerja, ke pasar, atau ke rumah orang lain ikut menentukan akan menjadi apa kaki itu di hadapan Tuhannya. Doa agar kaki diteguhkan karena itu juga doa agar langkah hari ini mengarah ke tempat yang benar.
- Pengadilan manusia membutuhkan penyelidikan, saksi, dan bukti, dan tetap saja bisa keliru. Ayat ini menggambarkan pengenalan tanpa sidang: para pendosa dikenali dari tanda mereka dan langsung direnggut. Tidak ada kesempatan untuk mengarang cerita atau memutar keterangan. Orang yang pandai berkelit di hadapan manusia tidak punya tempat berkelit di hadapan Allah, karena yang diperiksa bukan lagi kata-katanya, tetapi bekas perbuatannya sendiri. Kejujuran di hadapan manusia hari ini melatih diri untuk tidak memerlukan kelihaian itu kelak.
- Urutan 55:39 dan ayat ini bergerak dari tidak ditanya ke dikenali. Banyak orang mengandalkan kesempatan untuk menjelaskan diri: ada alasan, ada keadaan yang memaksa, ada niat yang disalahpahami. Pada hari itu kesempatan menjelaskan tidak lagi diberikan, karena tandanya sudah dikenali sebelum pemiliknya sempat berbicara. Kesempatan menjelaskan diri kepada Allah masih terbuka sekarang, dalam doa dan dalam perbaikan perbuatan. Menunda penjelasan itu sama dengan menyerahkannya kepada tanda yang tidak bisa diatur.
- Ubun-ubun dan kaki disebut bersama, kepala dan ujung tubuh, sehingga seluruh diri tercakup. Pertanggungjawaban tidak berhenti pada kata-kata yang diucapkan atau niat yang disimpan. Seluruh diri ikut dihadapkan: pikiran yang merencanakan, langkah yang menjalankan, dan semua yang ada di antara keduanya. Allah menyebut dua ujung tubuh itu, dan tidak ada bagian diri yang bisa dikecualikan dari apa yang diperbuat oleh seluruhnya. Diri yang kelak dihadapkan seluruhnya adalah diri yang sama yang hari ini dipakai untuk berbuat.