Ayat 55:56

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Di dalamnya ada yang menahan pandangannya, yang tidak pernah dijamah oleh manusia sebelum mereka dan tidak jin.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِfiihinna qaashiraatu th-tharfidi dalamnya ada yang menahan pandangannya
  2. لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّlam yathmitshunna insun qablahum wa-laa jaannunyang tidak pernah dijamah oleh manusia sebelum mereka dan tidak jin

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. فِيهِنَّfiihinnapada mereka
  2. قَاصِرَاتُqaashiraatuyang membatasi
  3. الطَّرْفِth-tharfipandangan
  4. لَمْlamtidak
  5. يَطْمِثْهُنَّyathmitshunnamenjamah mereka
  6. إِنْسٌinsunmanusia
  7. قَبْلَهُمْqablahumsebelum mereka
  8. وَلَاwa-laadan tidak pula
  9. جَانٌّjaannunjin

Inti bacaan

Kesetiaan relasional yang ditegaskan: 'yang menahan pandangannya, yang tidak pernah dijamah oleh manusia sebelum mereka dan tidak jin', penekanan pada kemurnian dan eksklusivitas hubungan, nilai kesetiaan yang dijunjung tinggi sebagai bagian dari kenikmatan tertinggi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ, fiihinna qaashiraatu th-tharfi), "di dalamnya ada yang menahan pandangannya", lalu (لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ, lam yathmitshunna insun qablahum wa-laa jaannun), "yang tidak pernah dijamah oleh manusia sebelum mereka dan tidak jin".

Kata (فِيهِنَّ, fiihinna), "di dalamnya", memakai kata ganti jamak perempuan. Dua ayat sebelumnya yang dibuka dengan kata depan yang sama memakai kata ganti dual, (فِيهِمَا, fiihimaa), "di dalam keduanya" (55:50, 55:52), untuk kedua taman. Pasangan taman kedua mengulang susunan itu: fiihimaa di 55:66 dan 55:68, lalu fiihinna di 55:70. Rujukan kata ganti jamak ini tidak disebut. Ayat 55:54 memuat dua kemungkinan, kedua taman dan (فُرُشٍ, furusyin), "kasur-kasur", dan teksnya tidak memilih salah satunya. Terjemahan memakai "di dalamnya", yang dalam bahasa Indonesia tidak menandai jumlah.

Kata (قَاصِرَاتُ, qaashiraatu) berbentuk jamak perempuan dari akar ق-ص-ر. Akar ini dipakai untuk memendekkan salat, (أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ, an taqshuruu mina sh-shalaati) (4:101), dan memendekkan rambut (48:27). Dari akar yang sama datang kata istana, (قُصُورًا, qushuuran) (7:74, 25:10). Dari pemakaian untuk memendekkan itu, qaashiraatu dibaca sebagai "yang membatasi", dan terjemahan kata per kata menulisnya demikian. Kata itu disandarkan pada (الطَّرْفِ, th-tharfi), "pandangan", sehingga pandanganlah yang dibatasi. Terjemahan ayat memakai "yang menahan pandangannya", sama dengan 37:48 dan 38:52, dua ayat lain yang memakai susunan qaashiraatu th-tharfi. Di pasangan taman kedua akar ini muncul dalam bentuk pasif, (مَقْصُورَاتٌ, maqshuuraatun) (55:72), yang di sana diterjemahkan "yang terpelihara". Di 55:72 bidadari-bidadari itu yang dibatasi di dalam kemah, sedangkan di ayat ini yang menahan pandangannya sendiri yang membatasi.

Di luar susunan qaashiraatu th-tharfi, kata tharf dipakai tiga kali lagi untuk mata. Di 27:40 ada (قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ, qabla an yartadda ilayka tharfuka), "sebelum matamu berkedip". Di 14:43 orang-orang pada hari itu digambarkan (لَا يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ, laa yartaddu ilayhim tharfuhum), "kedipan mata mereka tidak kembali kepada mereka", dan di 42:45 orang-orang yang tertunduk karena kehinaan (يَنْظُرُونَ مِنْ طَرْفٍ خَفِيٍّ, yanzhuruuna min tharfin khafiyyin), "memandang dengan pandangan yang tersembunyi". Kata yang sama menggambarkan pandangan yang membeku karena takut, pandangan yang disembunyikan karena hina, dan di ayat ini pandangan yang ditahan.

Tambahan "bidadari" tidak dipakai: qaashiraatu th-tharfi berdiri sendiri sebagai sebutan sifat tanpa kata benda tambahan di teks Arabnya. Kata yang diterjemahkan "bidadari", (حُورٌ, huurun), di surah ini baru dipakai di pasangan taman kedua, di 55:72, dan di luar surah ini antara lain di 44:54 dan 56:22. Teks juga tidak menyebut kepada siapa pandangan itu ditahan, dan terjemahan tidak menambahkan keterangan semacam "hanya kepada pasangannya".

Kata kerja (يَطْمِثْهُنَّ, yathmitshunna) berasal dari akar ط-م-ث, yang di seluruh Al-Qur'an hanya dipakai di ayat ini dan di 55:74, dalam kalimat yang sama persis. Al-Qur'an tidak memberinya konteks lain. Kata "menyentuh" dalam terjemahan ini dipakai untuk dua akar lain: م-س-س di dua puluh lima ayat, dan ل-م-س di empat ayat (4:43, 5:6, 6:7, 72:8). Contoh akar pertama adalah ucapan Maryam (وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ, wa-lam yamsasnii basyarun), "padahal tidak pernah menyentuhku seorang manusia" (3:47, juga 19:20), dan aturan cerai sebelum (تَمَسُّوهُنَّ, tamassuuhunna), "kalian sentuh mereka" (2:236-237). Supaya yathmitshunna, yang hanya dipakai di dua ayat, tidak tercampur dengan kedua akar itu, terjemahan memakai "dijamah".

Kalimat itu memuat dua kata ganti "mereka" yang berbeda. Akhiran (هُنَّ, -hunna) pada yathmitshunna berbentuk jamak perempuan dan menunjuk yang menahan pandangannya. Akhiran (هُمْ, -hum) pada qablahum berbentuk jamak laki-laki dan menunjuk penghuni taman yang bersandar di 55:54. Bahasa Indonesia menulis keduanya "mereka". Susunan (إِنْسٌ, insun) dan (جَانٌّ, jaannun), tunggal tanpa kata sandang, sama dengan 55:39. Tambahan "pula" tidak dipakai pada "dan tidak jin", konsisten dengan 55:39.

Tafsiran

Ayat ini menyebut kesucian pasangan di taman: belum pernah dijamah sebelumnya. Sebutan "pasangan" datang dari ayat lain, (وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ, wa-zawwajnaahum bi-huurin 'iinin), "dan Kami pasangkan mereka dengan bidadari yang bermata elok" (44:54, juga 52:20). Ayat ini sendiri hanya menyebut dua sifat. Sifat pertama menyangkut sikap mereka, pandangan yang ditahan. Sifat kedua menyangkut masa lalu mereka, tidak pernah dijamah siapa pun. Rupa mereka baru disinggung di 55:58, lewat perumpamaan.

Kata qablahum membatasi pengecualian itu pada waktu sebelum para penghuni. Kalimatnya menyebut manusia dan jin sebelum mereka sebagai pihak yang tidak pernah menjamah, sehingga kalimat itu mengandaikan para penghuni sendiri berasal dari golongan yang disebut. Penyebutan jin di samping manusia sejalan dengan sapaan surah ini kepada dua golongan, meskipun teksnya tidak merinci bagaimana hal itu berlaku bagi jin.

Menahan pandangan juga dituntut di dunia, dengan kata yang lain. Di 24:30 laki-laki yang beriman diperintah (يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ, yaghudhdhuu min abshaarihim), "menjaga pandangannya", dan di 24:31 perempuan yang beriman diperintah hal yang sama. Di dunia menjaga pandangan berupa perintah yang harus dijalankan. Di taman, menahan pandangan disebut sebagai sifat yang sudah ada pada mereka yang menemani penghuninya.

Renungan dan Hikmah

  • Tentang yang menahan pandangannya, mula-mula disebut cara mereka memandang, dan rupa mereka baru disinggung dua ayat kemudian. Di dunia urutannya sering terbalik: orang dinilai dari rupanya lebih dulu, dan sikapnya baru diketahui belakangan, kalau sempat. Allah memperkenalkan pemberian-Nya di taman mulai dari sikap. Urutan itu bisa menjadi ukuran bagi pembaca ketika menilai orang lain, dan juga ketika menilai dirinya sendiri: apa yang pertama kali terlihat dari dirinya oleh orang di sekitarnya?
  • Orang yang berusaha menjaga pandangannya, seperti yang Allah tuntut di 24:30-31, tahu bahwa usaha itu diulang setiap hari. Usaha itu sering tidak dilihat siapa pun dan tidak menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan. Keberhasilannya berupa sesuatu yang tidak terjadi: pandangan yang tidak dilepaskan. Ayat ini menyebut keadaan yang sama di taman dan menempatkannya di antara pemberian-pemberian Tuhan kalian berdua, sehingga usaha kecil yang tidak disaksikan orang itu terhubung dengan gambaran balasan.
  • Banyak hal yang sampai ke tangan seseorang di dunia sudah lebih dulu melewati tangan orang lain: rumah yang pernah dihuni, barang bekas, jabatan yang ditinggalkan pendahulu. Di taman, yang disiapkan bagi penghuninya digambarkan belum pernah dijamah siapa pun sebelum mereka. Allah menyiapkan kebaruan itu tanpa perlu diperebutkan, dan penghuni taman adalah yang pertama menerimanya. Pembaca yang terbiasa berebut menjadi yang pertama di dunia bisa melihat bahwa di taman hal itu datang sebagai pemberian.
  • Jin jarang dipikirkan manusia, karena tidak terlihat. Ayat ini menyebut mereka di samping manusia, dalam kalimat tentang taman. Surah yang menyapa dua golongan sejak awal tetap membawa keduanya sampai ke gambaran balasan. Pembaca manusia diingatkan bahwa golongannya tidak sendirian ditanya dan diberi kabar. Ada golongan lain yang mendengar pertanyaan yang sama dari Tuhan yang sama, dan kabar tentang taman tidak disusun hanya dengan ukuran manusia.
  • Kepada siapa pandangan itu ditahan tidak disebut, dan terjemahan tidak menambahkannya. Pembaca yang terbiasa dengan penjelasan lengkap mungkin tergoda mengisi kekosongan itu sendiri, dengan dugaan yang terasa wajar. Menahan diri dari mengisi apa yang tidak disebut Allah adalah bagian dari membaca dengan jujur. Teks yang berhenti pada satu sifat sudah memberi tahu apa yang perlu diketahui, dan sisanya dibiarkan sebagaimana Dia menyampaikannya.
  • Menahan pandangan biasanya dirasakan sebagai kehilangan: ada yang ingin dilihat tetapi tidak dilihat. Ayat ini menyebut sifat itu di antara pemberian-pemberian di taman, bersama mata air, buah, dan kasur-kasur. Sesuatu yang di dunia terasa sebagai pengekangan, di taman termasuk yang ditawarkan sebagai kebaikan. Kekangan yang dipilih seseorang atas pandangannya sendiri, dengan begitu, tidak selalu berarti kekurangan, dan surah ini menempatkannya di dalam daftar nikmat Tuhan kalian berdua.

Ayat 55:57

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَاfa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaamaka, nikmat Tuhan kalian yang manakah
  2. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaaniyang kalian berdua dustakan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَبِأَيِّfa-bi-ayyimaka nikmat yang manakah
  2. آلَاءِaalaa'inikmat-nikmat
  3. رَبِّكُمَاrabbikumaaTuhan kalian berdua
  4. تُكَذِّبَانِtukadzdzibaanikalian berdua dustakan

Inti bacaan

Refrein kedua puluh satu setelah penekanan kesetiaan: 'maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?', pengulangan yang menyoroti nilai kemurnian relasional sebagai bentuk nikmat yang bermakna, bukan sekadar kesenangan fisik semata.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berbunyi (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ, fa-bi-ayyi aalaa'i rabbikumaa tukadzdzibaani), kemunculan kedua puluh satu dari refrain tetap surah ini, yang muncul berulang kali dan diterjemahkan sama persis setiap kemunculan demi konsistensi. Di pasangan taman pertama ini refrain keenam dari delapan, dan datang sesudah 55:56. Di antara ayat-ayat pasangan taman pertama, manusia dan jin disebut dengan namanya di 55:56 saja.

Bentuk dual pada (رَبِّكُمَا, rabbikumaa), "Tuhan kalian berdua", menyapa jin dan manusia bersama. Di 55:56 kedua golongan itu disebut sebagai (إِنْسٌ, insun), "manusia", dan (جَانٌّ, jaannun), "jin", bentuk tunggal tanpa kata sandang seperti di 55:39, yang sudah dicatat di 55:40. Nama di ayat sebelumnya dan kata ganti di ayat ini menunjuk dua golongan yang sama.

Susunan seperti ini terjadi enam kali di surah ini: refrain datang langsung sesudah ayat yang menyebut kedua golongan. Di 55:14-15 keduanya diciptakan, manusia dari tanah kering dan (الْجَانَّ, l-jaanna), jin, dari nyala api, lalu datang refrain 55:16. Di 55:31 keduanya dipanggil (أَيُّهَ الثَّقَلَانِ, ayyuha ts-tsaqalaani), "wahai dua golongan yang berat", lalu refrain 55:32. Di 55:33 keduanya ditantang menembus penjuru langit dan bumi, lalu 55:34. Di 55:39 tidak seorang pun dari keduanya ditanya tentang dosanya, lalu 55:40. Di 55:56 dan 55:74 keduanya disebut sebagai pihak yang tidak pernah menjamah, lalu 55:57 dan 55:75.

Peran kedua golongan di tempat-tempat itu berbeda. Di 55:14-15, 55:31, 55:33, dan 55:39 merekalah yang dibicarakan: diciptakan, diberi tahu bahwa perhatian akan dicurahkan kepada mereka, ditantang, dan tidak ditanya tentang dosanya. Di 55:56 keduanya hanya muncul sebagai batas. Kalimat itu membicarakan yang menahan pandangannya, dan manusia serta jin disebut untuk menyatakan bahwa tidak seorang pun dari keduanya pernah menjamah mereka. Refrain lalu kembali menjadikan kedua golongan itu pihak yang disapa.

Urutan penyebutannya juga tercatat. Di 55:14-15, 55:39, 55:56, dan 55:74 manusia disebut lebih dulu, lalu jin. Urutan itu dibalik sekali, di 55:33, (يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ, yaa ma'syara l-jinni wa-l-insi), "wahai golongan jin dan manusia", tanpa keterangan tentang sebabnya. Refrain sendiri tidak punya urutan, karena kata ganti dual menyapa keduanya sekaligus.

Terjemahan menjaga hubungan kedua ayat ini lewat kata yang dipakainya. Di 55:56 kedua golongan ditulis dengan nama, "manusia" dan "jin", dan di refrain mereka menjadi "kalian", dengan dual yang ditandai kata "berdua" pada "kalian berdua dustakan". Pembaca terjemahan yang membaca kedua ayat berurutan bisa melihat bahwa "kalian berdua" di refrain menunjuk "manusia" dan "jin" di ayat sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini mengulang refrain setelah gambaran kesucian pasangan di taman. Dalam gambaran itu manusia dan jin berada di luar: tidak seorang pun dari keduanya pernah menjamah yang menahan pandangannya sebelum para penghuni. Satu ayat kemudian, kedua golongan yang sama disapa langsung dan ditanya tentang nikmat Tuhan mereka.

Sepanjang surah, kedua golongan ini menempati peran yang berganti-ganti. Mereka diciptakan dari bahan yang berbeda, dipanggil sebagai dua golongan yang berat, ditantang menembus penjuru langit dan bumi, dan disebut dalam kabar tentang hari ketika tidak seorang pun ditanya tentang dosanya. Di bagian taman mereka muncul lagi, kali ini dalam kabar tentang balasan. Perannya berganti, sedangkan pertanyaan yang menyusul setiap penyebutan itu tetap sama, diajukan dengan kata-kata yang tidak berubah sejak 55:13.

Seperti dicatat di 55:56, kata qablahum mengandaikan para penghuni taman berasal dari golongan yang disebut. Pendengar yang ditanya di ayat ini, dengan begitu, adalah golongan yang sama dengan calon penghuni taman. Pertanyaan diajukan kepada mereka sebelum mereka menjadi "mereka" yang dibicarakan di 55:54, dan surah ini tidak menyebut siapa di antara pendengar yang kelak sampai ke sana.

Renungan dan Hikmah

  • Membaca 55:56, pembaca manusia menemukan golongannya disebut: "manusia sebelum mereka". Di situ manusia menjadi pembanding saja, pihak yang tidak pernah menjamah. Satu ayat kemudian pembaca yang sama disapa langsung dan ditanya. Pergantian dari disebut menjadi disapa ini terjadi berkali-kali di surah ini. Allah tidak membiarkan pendengar berlama-lama menjadi penonton dalam kabar-Nya; setiap kali golongan mereka disebut, pertanyaan menyusul dan menarik mereka kembali ke percakapan.
  • Seseorang menjalani banyak peran dalam hidupnya: anak, orang tua, pekerja, tetangga. Setiap peran membawa tuntutannya sendiri, dan mudah bagi orang untuk mengira bahwa pertanyaan yang diajukan kepadanya ikut berganti setiap kali perannya berganti. Peran manusia di surah ini juga berganti dari ayat ke ayat, sedangkan pertanyaan yang menyusulnya tetap satu: nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian dustakan? Di tengah pergantian peran itu, pertanyaan dari Tuhannya tidak ikut berganti.
  • Pembaca yang merasa taman terlalu jauh untuk makhluk seperti dirinya bisa kembali ke kata "sebelum mereka" di 55:56. Penghuni taman tidak digambarkan sebagai makhluk jenis lain. Janji itu ditujukan kepada golongan yang dibuat dari bahan yang sama dengan pembaca, dengan kelemahan yang sama. Dia menciptakan manusia dari tanah kering dan jin dari nyala api di awal surah, dan dari golongan-golongan itu pula datang mereka yang digambarkan bersandar di taman.
  • Manusia sering merasa menjadi pusat segala sesuatu. Surah ini terus menyandingkannya dengan jin, golongan yang tidak terlihat, dan menyapa keduanya dengan satu kata ganti dual. Setiap kali manusia disebut, jin disebut di dekatnya. Pertanyaan tentang nikmat juga menjadi urusan golongan lain yang tidak dikenal manusia, dan golongan itu ikut ditanya oleh Tuhan yang sama. Kesadaran itu bisa mengecilkan rasa penting diri tanpa mengecilkan bobot pertanyaannya.
  • Dalam kalimat tentang taman, manusia dan jin disebut sebagai pihak yang dikecualikan: tidak seorang pun dari mereka pernah menjamah. Orang yang membaca kalimat itu bisa merasa berada di luar, tidak termasuk dalam kabar yang indah itu. Refrain yang langsung menyusul memperlihatkan bahwa berada di luar sebuah pemberian tidak berarti berada di luar perhatian. Refrain mengajak bicara pihak yang baru saja dikecualikan, dan pertanyaan kepada mereka menandakan urusannya belum selesai.
  • Kata "sebelum mereka" menyebut waktu. Ada masa sebelum para penghuni sampai di taman, dan selama masa itu tidak seorang pun menjamah yang disiapkan untuk mereka. Pembaca hidup di masa "sebelum" itu. Apa yang Allah siapkan bagi penghuni taman belum diterima siapa pun, dan pertanyaan di ayat ini diajukan kepada pembaca selama masa itu masih berlangsung, ketika jawaban masih bisa diberikan dengan sungguh-sungguh.