بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ

Apabila Peristiwa itu terjadi,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُidzaa waqa'ati l-waaqi'atuapabila Peristiwa itu terjadi

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. إِذَاidzaaapabila
  2. وَقَعَتِwaqa'atiterjadi
  3. الْوَاقِعَةُl-waaqi'atuhari Kiamat

Inti bacaan

Pembukaan tegas Al-Waqi'ah: 'apabila Peristiwa itu terjadi', penamaan langsung sebagai 'Peristiwa' (bukan sekadar deskripsi) menegaskan kepastian dan skala kejadian yang akan dibahas, tidak memerlukan penjelasan tambahan karena sifatnya yang tak terbantahkan.

Penjelasan pilihan kata

Surah ini tidak dibuka dengan huruf muqatta'aat, melainkan dengan anak kalimat syarat yang belum selesai. Nama yang dipakainya, (الْوَاقِعَةُ, al-waaqi'atu), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:1 dan 69:15. Kata kerja yang mendahuluinya di ayat ini, (وَقَعَتِ, waqa'ati), juga muncul 2 kali, dan di dua tempat yang sama. Jadi kata benda dan kata kerjanya, yang tumbuh dari satu akar, sama-sama dipakai dua kali dan sama-sama berpasangan di dua ayat itu saja.

Perbandingan kedua tempat itu menunjukkan susunan yang berkebalikan. Di 69:15 nama tersebut muncul sesudah bumi dan gunung-gunung disebut diangkat lalu dibenturkan di 69:14; di sini nama itu justru disebut lebih dahulu, dan bumi serta gunung-gunung baru menyusul di 56:4 dan 56:5. Dua surah menyusun bahan yang sama dengan urutan yang terbalik: yang satu memberi tanda dahulu lalu menamainya, yang lain menamainya dahulu lalu memberi tandanya.

Akar katanya berarti jatuh, terjadi, atau menimpa, dan bentuk yang dipakai di sini adalah bentuk pelaku perempuan yang bertakrif. Harfiahnya "yang terjadi itu". Kami terjemahkan "Peristiwa itu" dengan huruf besar, sebab di kedua tempat ia berfungsi sebagai nama tetap, bukan sebagai keterangan. Kata "itu" ditambahkan mengikuti konvensi penamaan yang sudah baku di proyek ini untuk sebutan-sebutan sejenis yang bertakrif, seperti "Saat itu", dan bukan pelanggaran atas aturan kata tunjuk.

Kata pembukanya berarti "apabila", bukan "jika". Bahasa Arab membedakan keduanya dengan tegas: yang satu dipakai untuk sesuatu yang pasti terjadi dan hanya waktunya belum diketahui, yang lain untuk sesuatu yang mungkin terjadi dan mungkin tidak. Yang dipakai di sini adalah yang pertama. Terjemahan "apabila" menjaga perbedaan tersebut, sedangkan "jika" akan memindahkan seluruh kalimat ke wilayah kemungkinan.

Kalimatnya sendiri belum selesai. Anak kalimat syarat menuntut induk kalimat, dan induknya tidak ada di ayat ini. Pembaca harus menunggu sampai beberapa ayat kemudian untuk menemukan sambungannya. Terjemahan kami mempertahankan keterputusan itu dengan menutup ayat memakai koma, bukan titik, sebab jeda yang menggantung adalah bagian dari cara surah ini membuka dirinya.

Bentuk kata kerjanya lampau, padahal yang dibicarakan belum terjadi. Susunan seperti itu lazim di dalam Al-Qur'an ketika sesuatu yang akan datang hendak disebut sebagai sudah pasti: bentuk lampau dipakai untuk menyatakan bahwa perkaranya sudah selesai diputuskan, bukan bahwa ia sudah lewat. Bahasa Indonesia tidak menandai waktu pada kata kerjanya, sehingga "terjadi" di terjemahan kami menampung kedua bacaan itu sekaligus, dan yang hilang bukan maknanya melainkan penekanannya.

Satu hal terakhir tentang huruf besar pada "Peristiwa". Proyek ini memakai huruf besar hanya untuk kata yang berfungsi sebagai nama, dan tidak untuk kata yang sekadar menerangkan. Di kedua tempat kata ini muncul, ia berdiri tanpa keterangan apa pun di sekelilingnya dan langsung dipahami sebagai penunjuk satu kejadian tertentu, dan itulah yang menjadikannya nama.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan penegasan kepastian terjadinya Peristiwa besar, yaitu Hari Kiamat. Cara memperkenalkannya patut diperhatikan: ia dinamai, tetapi tidak dijelaskan.

Nama yang dipakai berarti "yang terjadi", sebuah kata yang sehari-hari dipakai untuk apa saja yang jatuh atau menimpa. Kata seumum itu dijadikan nama bagi kejadian yang paling besar. Susunan tersebut menempatkan pembacanya sebagai orang yang sudah tahu apa yang dimaksud, dan tidak seorang pun diberi keterangan pendahuluan.

Kata pembukanya juga menentukan. Yang dipakai bukan kata untuk kemungkinan, melainkan kata untuk sesuatu yang pasti dan hanya menunggu waktunya. Dengan begitu seluruh surah ini tidak sedang membuktikan bahwa hari itu akan datang; ia sudah bergerak dari sana, dan yang dibicarakan sesudahnya adalah apa yang terjadi ketika ia datang.

Kalimatnya dibiarkan menggantung. Anak kalimat syarat menuntut induk kalimat, dan induknya belum muncul di ayat ini. Jeda itu menahan pembacanya persis di ambang, sesudah nama disebut dan sebelum apa pun diterangkan. Cara membuka seperti ini bekerja sama seperti kalimat yang diucapkan seseorang lalu berhenti: yang mendengar tidak bisa pergi.

Nama yang sama dipakai di satu tempat lain, dan di sana urutannya terbalik. Di 69:15 nama itu baru muncul sesudah bumi dan gunung disebut, sedangkan di sini ia disebut lebih dahulu dan tanda-tandanya menyusul. Perbedaan urutan itu mengubah pengalaman membacanya: yang satu mengajak pembaca menyaksikan lalu memberitahunya apa yang ia saksikan, yang lain memberitahunya lebih dahulu lalu memperlihatkannya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebutnya Peristiwa itu, tanpa menerangkan apa. Pembacanya diminta tahu sendiri. Yang paling besar diperkenalkan dengan kata yang paling umum.
  • Kata yang dipakai apabila, bukan jika. Bentuknya kepastian. Yang dibicarakan bukan kemungkinan, melainkan waktu.
  • Allah membuka surah ini dengan anak kalimat yang belum selesai. Sambungannya di ayat berikutnya. Jeda itu menahan pembacanya persis sebelum keterangan datang.
  • Nama yang dipakai untuk hari itu berarti "yang terjadi", kata sehari-hari untuk apa saja yang jatuh atau menimpa. Kata seumum itu dijadikan nama bagi kejadian yang paling besar, dan tidak ada satu pun keterangan pendahuluan yang menyertainya. Susunan tersebut menempatkan pembacanya sebagai orang yang dianggap sudah tahu. Cara memperkenalkan seperti ini punya akibat yang berbeda dari penjelasan. Keterangan yang lengkap memberi orang sesuatu untuk dipahami, dan sesudah paham ia bisa menutup buku dengan tenang. Nama tanpa keterangan tidak memberi apa-apa untuk dipahami; ia hanya menunjuk, lalu membiarkan orangnya berdiri di depan sesuatu yang belum berbentuk. Dan yang belum berbentuk selalu lebih sulit diletakkan daripada yang sudah dijelaskan panjang lebar. Manusia sebenarnya sudah terbiasa hidup berdampingan dengan nama semacam itu: kematian sendiri dikenal semua orang, tetapi tidak seorang pun pernah menjelaskannya dari pengalaman langsung, dan ketiadaan penjelasan itu tidak pernah dianggap alasan untuk menunda kesiapan.
  • Bahasa Arab membedakan dengan tegas antara kata untuk sesuatu yang pasti terjadi dan kata untuk sesuatu yang mungkin terjadi. Yang dipakai membuka surah ini adalah yang pertama, sehingga terjemahannya "apabila", bukan "jika". Perbedaan satu kata itu memindahkan seluruh pembicaraan. Kalau ia "jika", surah ini sedang mengajukan kemungkinan dan wajar kalau pembacanya menimbang dahulu apakah ia setuju. Karena ia "apabila", tidak ada yang sedang ditawarkan untuk ditimbang; yang belum diketahui hanya waktunya. Allah tidak membuka surah ini dengan membuktikan bahwa hari itu akan datang, dan tidak pula membantah orang yang menyangkalnya. Ia mulai dari sesudah itu. Pembaca yang masih ingin berdebat mendapati dirinya tertinggal di belakang kalimat pertama. Sikap yang diminta bukan mempercayai lebih dulu baru bersiap, melainkan bersiap sebab yang belum diketahui hanya waktunya, dan kesiapan yang menunggu kepastian penuh biasanya datang terlambat.
  • Ayat pertama surah ini bukan kalimat utuh. Ia anak kalimat syarat yang menuntut induk kalimat, dan induknya tidak ada di sini; pembaca harus menunggu beberapa ayat sebelum menemukan sambungannya. Keterputusan itu bukan kelalaian susunan. Ia bekerja seperti kalimat yang diucapkan seseorang lalu berhenti di tengah: yang mendengar tidak bisa pergi, sebab sesuatu sudah dibuka dan belum ditutup. Yang perlu diperhatikan, jedanya jatuh persis sesudah nama disebut dan sebelum apa pun diterangkan. Pembacanya ditahan di ambang, dengan satu kata di tangan dan tidak ada gambar sama sekali. Bukankah begitu juga keadaan kita terhadap hari itu, yaitu tahu namanya, tidak tahu bentuknya, dan tidak bisa berpaling?