لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ
tidak ada yang mendustakan terjadinya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌlaysa li-waq'atihaa kaadzibatuntidak ada yang mendustakan terjadinya
Terjemahan per kata (3 kata)
- لَيْسَlaysabukanlah
- لِوَقْعَتِهَاli-waq'atihaaterhadap terjadinya
- كَاذِبَةٌkaadzibatunyang dusta
Inti bacaan
Kepastian mutlak yang tak tergoyahkan: 'tidak ada yang mendustakan terjadinya', penegasan bahwa penyangkalan manusia terhadap kejadian ini tidak memiliki kekuatan mengubah realitas, dorongan untuk mempersiapkan diri terlepas dari sikap percaya atau tidak percaya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyambung anak kalimat yang dibuka di 56:1 dan masih belum menutupnya. Kata (لِوَقْعَتِهَا, li-waq'atihaa), "terhadap terjadinya", muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Ia tumbuh dari akar yang sama dengan nama di ayat sebelumnya, sehingga dua ayat pembuka surah ini memakai tiga kata dari satu akar berturut-turut: kata kerjanya, namanya, lalu kata bendanya.
Kata (كَاذِبَةٌ, kaadzibatun) dalam bentuk persis ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Sebagai kata, ia dipakai 2 kali, sebab 96:16 memuatnya dengan akhiran i'rab yang berbeda. Angka yang mana yang benar bergantung pada apa yang sedang ditanyakan: bentuknya sekali, katanya dua kali, dan dua-duanya keterangan yang sah.
Bentuknya adalah bentuk pelaku, harfiahnya "yang mendustakan", bukan kata kerja. Kalimatnya dengan begitu berbunyi "tidak ada yang mendustakan terhadap terjadinya", dan itulah yang kami pertahankan. Perbedaannya dengan "tidak dapat didustakan" tidak sepele. Bentuk pelaku menunjuk orangnya, bukan perbuatannya, sehingga yang dinyatakan tidak ada bukan kemungkinan mendustakan melainkan pihak yang berhasil melakukannya.
Kata pengingkar yang dipakai di depan kalimat ini menyatakan ketiadaan pada saat itu, bukan larangan dan bukan pengingkaran umum. Jadi yang dikatakan bukan bahwa mustahil ada yang mendustakan hari itu, sebab ayat-ayat lain justru mencatat banyak yang mendustakannya sekarang. Yang dikatakan adalah bahwa pada saat ia terjadi, tidak ada lagi yang tersisa dalam kedudukan itu.
Terjemahan kami "tidak ada yang mendustakan terjadinya" sengaja tidak menambahkan keterangan waktu, meskipun keterangan itu tersirat dari anak kalimat syarat di ayat sebelumnya. Menambahkan "pada saat itu" akan mengulang apa yang sudah dipikul susunan kalimatnya sendiri, dan membuatnya terbaca sebagai kalimat baru yang berdiri sendiri, padahal ia masih bagian dari satu tarikan yang belum ditutup.
Susunan kalimatnya juga tidak biasa. Kata pengingkarnya berdiri di depan, lalu keterangan "terhadap terjadinya" mendahului pelakunya, dan pelakunya sendiri baru muncul di ujung. Dalam bahasa Arab, mendahulukan keterangan seperti itu berfungsi memusatkan perhatian pada bagian yang didahulukan. Jadi yang ditegaskan bukan siapa yang tidak ada, melainkan terhadap apa ketiadaan itu berlaku. Terjemahan Indonesia harus mengembalikan urutannya ke susunan yang wajar, dan penekanan tersebut adalah salah satu hal yang tidak terbawa.
Yang perlu ditambahkan, ayat ini juga masih belum menutup kalimat yang dibuka di 56:1. Anak kalimat syaratnya masih menggantung, dan ayat ini menyisipkan keterangan di tengah-tengahnya sebelum induk kalimat datang. Sisipan itu memperpanjang jeda yang sudah dibuka, dan terjemahan kami menutup ayat ini dengan koma pula, sebab menutupnya dengan titik akan memutus tarikan yang di teks aslinya belum putus.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa kepastian Peristiwa itu tidak dapat disangkal oleh siapa pun. Tetapi cara ia menyatakannya lebih tepat daripada itu, dan ketepatannya patut diperhatikan.
Yang dipakai bukan kata kerja, melainkan bentuk pelaku: "tidak ada yang mendustakan". Bentuk itu menunjuk orangnya, bukan perbuatannya. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa mendustakan itu mustahil, melainkan bahwa tidak ada seorang pun yang berdiri dalam kedudukan itu ketika hari itu tiba. Bedanya seperti selisih antara berkata "tak seorang pun bisa mengelak" dan berkata "tidak ada yang mengelak".
Perbedaan tersebut penting karena ayat-ayat lain justru mencatat bahwa banyak orang mendustakan hari itu sekarang. Jadi kalimat ini tidak sedang membantah kenyataan tersebut. Ia menyebutkan apa yang terjadi pada kedudukan itu ketika waktunya tiba: pendustaan tidak dikalahkan dengan perdebatan, melainkan kehabisan tempat berdiri.
Yang disebut tidak bisa didustakan pun bukan gambarannya, melainkan terjadinya. Kata yang dipakai menunjuk peristiwa jatuhnya, bukan rinciannya. Orang masih bisa keliru membayangkan bentuk hari itu, dan sebagian besar gambaran manusia tentangnya memang tidak akan cocok. Yang tidak bisa meleset hanyalah bahwa ia terjadi.
Dua ayat pembuka surah ini memakai tiga kata dari satu akar berturut-turut, yaitu kata kerjanya, namanya, lalu kata bendanya. Pengulangan sepadat itu di ruang sesempit dua ayat pendek menghasilkan bunyi yang berdenyut pada satu titik, dan titik itu adalah kejadiannya, bukan akibatnya, bukan pula pelakunya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tidak ada yang bisa mendustakannya. Bukan tidak ada yang mencoba. Tidak ada yang berhasil.
- Kalimatnya menyusul penyebutan Peristiwa itu. Namanya dulu. Kepastiannya kemudian.
- Yang tidak bisa didustakan terjadinya, bukan gambarannya. Allah menyebut kejadiannya. Bukan rinciannya.
- Yang dipakai di ayat ini bukan kata kerja, melainkan bentuk pelaku: tidak ada yang mendustakan. Bentuk itu menunjuk orangnya, bukan perbuatannya, dan perbedaannya menentukan. Kalimatnya tidak berkata bahwa mendustakan itu mustahil; ayat-ayat lain justru mencatat banyak yang mendustakannya sekarang. Yang dikatakan adalah bahwa ketika hari itu tiba, tidak ada lagi seorang pun yang berdiri dalam kedudukan itu. Pendustaan tidak dikalahkan lewat perdebatan dan tidak dibantah dengan bukti; ia hanya kehabisan tempat berdiri. Cara berakhir seperti itu berlaku juga pada banyak perselisihan yang lebih kecil. Sebagian besar pendapat keliru tidak pernah benar-benar dikalahkan orang lain, melainkan ditinggalkan sendiri oleh pemiliknya ketika keadaan sudah tidak menyediakan ruang untuk memeliharanya.
- Yang disebut tidak bisa didustakan bukan gambarannya, melainkan terjadinya. Kata yang dipakai menunjuk peristiwa jatuhnya, bukan rinciannya, dan kata itu tidak dipakai di ayat lain mana pun. Pembedaan tersebut memberi ruang yang sering tidak diberikan orang kepada dirinya sendiri. Sebagian besar gambaran manusia tentang hari itu memang tidak akan cocok, dan tidak ada yang menuntut gambaran kita tepat. Yang tidak bisa meleset hanyalah bahwa ia terjadi. Ini melegakan bagi orang yang berhenti percaya karena merasa tidak sanggup membayangkannya, seolah tidak sanggup membayangkan sama dengan tidak mungkin. Dua hal itu tidak berhubungan. Kita tidak sanggup membayangkan hampir semua yang belum pernah kita alami, dan ketidaksanggupan itu belum pernah sekali pun menghalangi sesuatu terjadi. Allah menyebut yang pasti hanya kejadiannya, dan sisanya dibiarkan di luar jangkauan siapa pun.
- Dua ayat pembuka surah ini memakai tiga kata dari satu akar berturut-turut: kata kerjanya, namanya, lalu kata bendanya. Kata yang ketiga tidak dipakai di ayat lain mana pun. Kepadatan seperti itu di ruang sesempit dua ayat pendek menghasilkan bunyi yang berdenyut pada satu titik, dan pengulangan bunyi semacam ini tidak bisa dibawa ke dalam bahasa Indonesia tanpa terdengar janggal, sehingga pembaca terjemahan kehilangan satu lapis yang ada di teks aslinya. Yang bisa disampaikan hanyalah letak titiknya. Ketiga kata itu berdenyut pada kejadiannya, bukan pada akibatnya dan bukan pada pelakunya. Surah ini nanti akan berbicara panjang tentang tiga golongan dan tentang apa yang mereka terima, tetapi dua ayat pertamanya menahan diri di satu hal saja, yaitu bahwa ia jatuh. Kalau dua ayat pertamanya saja sudah menahan diri sebanyak itu, apa yang sebenarnya sedang diminta dari pembacanya di ambang ini?