خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ
merendahkan lagi meninggikan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- خَافِضَةٌ رَافِعَةٌkhaafidhatun raafi'atunmerendahkan lagi meninggikan
Terjemahan per kata (2 kata)
- خَافِضَةٌkhaafidhatunyang merendahkan
- رَافِعَةٌraafi'atunyang meninggikan
Inti bacaan
Pembalikan status secara total: '(kejadian itu) merendahkan lagi meninggikan', momen yang akan mengubah tatanan status sosial yang selama ini dianggap tetap, pengingat bahwa kedudukan duniawi bukan jaminan kedudukan akhirat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari dua kata saja, dan dua-duanya tidak dipakai di ayat lain mana pun. Kata (خَافِضَةٌ, khaafidhatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini, dan kata (رَافِعَةٌ, raafi'atun) juga muncul 1 kali, di ayat yang sama. Jadi seluruh isi ayat ini terdiri dari kata yang tidak muncul di tempat lain.
Keduanya berbentuk pelaku perempuan, sejajar dengan bentuk nama di 56:1, dan itu yang menyambungkannya. Kedua kata ini menerangkan Peristiwa yang dinamai di ayat pertama, bukan menerangkan pelaku baru. Karena itu tambahan "(kejadian itu)" di depannya kami hapus: subjeknya memang tidak tertulis lagi di sini, sebab ia sudah disebut dua ayat sebelumnya dan bentuk kedua kata ini sendiri yang menandai sambungannya.
Akar kata yang pertama berarti menurunkan atau merendahkan, dan dipakai juga untuk merendahkan sayap sebagai kiasan bagi kelembutan. Akar kata yang kedua berarti mengangkat atau meninggikan. Keduanya kata sehari-hari untuk gerak naik dan turun benda, bukan istilah khusus, dan terjemahan kami "merendahkan lagi meninggikan" menjaga sifat sehari-hari itu.
Yang direndahkan dan yang ditinggikan tidak disebut siapa. Tambahan "(satu golongan)" dan "(golongan yang lain)" yang lazim dipasang terjemahan lain kami hapus, sebab tidak ada di teks Arab. Penghapusan itu bukan sekadar disiplin: kedua kata ini berdiri sebagai sifat bagi hari itu sendiri, dan menyebutkan objeknya akan mengubahnya menjadi keterangan tentang orang. Namanya memang menyusul, tetapi baru mulai di 56:7 dan sesudahnya.
Pasangan berlawanan seperti ini punya kerabat di tempat lain. Di 3:26 disebut bahwa Allah memuliakan siapa yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki, dengan dua akar kata yang berbeda dari yang dipakai di sini, dan di sana pelakunya disebut terang sedangkan di sini yang disebut justru harinya. Perbedaan itu patut dicatat: yang di 3:26 berbicara tentang siapa yang mengerjakannya, yang di sini berbicara tentang apa yang terjadi.
Urutan kedua kata itu juga tetap: yang merendahkan disebut lebih dahulu. Terjemahan kami mengikuti urutan aslinya dan tidak menukarnya menjadi "meninggikan lagi merendahkan", meskipun susunan yang kedua terdengar lebih enak dan lebih menghibur.
Satu catatan tentang kata sambung di terjemahan. Teks aslinya menaruh dua kata itu berdampingan tanpa huruf sambung sama sekali, dan bahasa Arab memang mengizinkan susunan semacam itu untuk dua sifat yang menerangkan satu hal yang sama. Bahasa Indonesia tidak mengizinkannya, sehingga terjemahan kami menyisipkan "lagi": "merendahkan lagi meninggikan". Kata sambung itu tambahan penerjemah, bukan terjemahan dari sesuatu yang ada di sana, dan yang hilang karenanya adalah kerapatan dua kata yang di aslinya menempel tanpa perantara.
Bentuk perempuan pada kedua kata itu juga bukan keterangan tentang jenis. Ia mengikuti bentuk kata yang disifatinya, yaitu nama di 56:1 yang memang berbentuk perempuan, dan bahasa Indonesia tidak menandai hal itu sama sekali. Bagi pembaca teks aslinya, kesesuaian bentuk tersebut adalah penunjuk yang langsung terlihat bahwa kedua kata ini masih menerangkan Peristiwa yang sama, bukan membuka pokok baru.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan sifat ganda Peristiwa itu: merendahkan sebagian dan meninggikan sebagian yang lain. Dua kata saja, dan dua-duanya tidak dipakai di ayat lain mana pun.
Yang perlu diperhatikan lebih dahulu adalah bahwa keduanya sifat bagi harinya, bukan keterangan tentang orang. Yang direndahkan dan yang ditinggikan tidak disebut siapa. Hari itu sendiri yang dinamai sebagai yang merendahkan dan yang meninggikan, seolah pembalikan tersebut bukan salah satu akibatnya melainkan bagian dari apa hari itu.
Susunan seperti ini memberi keterangan tentang sifat kejadiannya sebelum satu nama pun disebut. Pembaca tahu bahwa akan ada yang turun dan ada yang naik, tetapi belum tahu siapa, dan jarak antara mengetahui pola dan mengetahui tempat diri sendiri di dalamnya adalah jarak yang paling tidak nyaman yang bisa diberikan sebuah kalimat.
Urutannya tetap: yang merendahkan disebut lebih dahulu. Susunan yang sebaliknya akan terdengar lebih menghibur dan lebih mudah dibaca, dan justru karena itu ia tidak dipakai. Yang disebut pertama adalah bagian yang orang paling tidak ingin mendengarnya.
Kependekan ayat ini juga bagian dari isinya. Dua kata dalam bahasa aslinya memuat seluruh pembalikan tatanan, tanpa satu pun keterangan tentang caranya, alasannya, atau ukurannya. Perubahan sebesar itu disampaikan dengan napas yang paling pendek, dan kependekan tersebut menyatakan sesuatu yang tidak bisa dinyatakan kalimat panjang: bahwa pembalikan itu tidak memerlukan proses yang perlu diterangkan.
Renungan dan Hikmah
- Dua arah disebut untuk satu peristiwa. Merendahkan dan meninggikan. Allah menaruh keduanya dalam dua kata.
- Yang direndahkan tidak disebut siapa. Yang ditinggikan juga tidak. Namanya menyusul di ayat berikutnya.
- Kalimatnya cuma dua kata dalam bahasa aslinya. Allah menyimpan seluruh pembalikan di situ. Sependek itu memuat perubahan besar.
- Dua kata di ayat ini adalah sifat bagi harinya, bukan keterangan tentang orang. Yang direndahkan dan yang ditinggikan tidak disebut siapa, dan Allah tidak menyisipkan satu nama pun di sini. Hari itu sendiri yang dinamai sebagai yang merendahkan dan yang meninggikan, seolah pembalikan tersebut bukan salah satu akibatnya melainkan bagian dari apa hari itu sebenarnya. Susunan seperti ini memberi pembacanya pola tanpa memberinya tempat. Ia sudah tahu akan ada yang turun dan ada yang naik, tetapi belum tahu di mana dirinya berdiri, dan jarak antara mengetahui pola dan mengetahui tempat sendiri di dalamnya adalah jarak yang paling tidak nyaman yang bisa diberikan sebuah kalimat. Ia tidak bisa disingkirkan dengan menyangkal polanya, sebab polanya belum menyebut siapa pun. Dan kesesuaian bentuk kata di teks aslinya menegaskan bahwa yang sedang disifati memang hari itu sendiri, bukan pihak mana pun di dalamnya.
- Urutan kedua kata itu tetap, dan yang merendahkan disebut lebih dahulu. Susunan sebaliknya akan terdengar jauh lebih enak: naik dulu, baru turun, sehingga kalimatnya berakhir pada bagian yang menghibur. Justru karena itu ia tidak dipakai. Yang disebut pertama adalah bagian yang paling tidak ingin didengar orang, dan letaknya di depan membuatnya tidak bisa dilewati. Kebiasaan kita berlawanan dengan itu. Ketika menyampaikan kabar bercampur, kita hampir selalu menaruh yang berat di tengah dan yang ringan di ujung, supaya yang mendengar pergi dengan perasaan baik. Cara itu sopan, dan kadang perlu, tetapi ia juga membuat bagian yang berat lebih mudah dilupakan. Ayat ini memilih yang sebaliknya, dan pilihan tersebut menandai bahwa yang sedang disampaikan bukan kabar untuk ditenangkan.
- Ayat ini dua kata dalam bahasa aslinya, dan dua-duanya kata yang tidak muncul di ayat lain mana pun. Di dalam ruang sependek itu termuat seluruh pembalikan tatanan, tanpa satu pun keterangan tentang caranya, alasannya, ukurannya, atau berapa lama ia berlangsung. Kependekan tersebut menyatakan sesuatu yang tidak bisa dinyatakan kalimat panjang, yaitu bahwa pembalikan itu tidak memerlukan proses yang perlu diterangkan. Di dunia, perubahan kedudukan selalu memakan waktu dan selalu punya riwayat: ada yang jatuh perlahan, ada yang naik lewat bertahun-tahun kerja, dan riwayat itulah yang biasanya kita pakai untuk menilai apakah perubahannya pantas. Ayat ini tidak menyediakan riwayat apa pun. Kalau kedudukan bisa berbalik sependek itu, atas dasar apa selama ini saya menilai kedudukan seseorang?