إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا
Apabila bumi diguncang sedahsyat-dahsyatnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّاidzaa rujjati l-ardhu rajjanapabila bumi diguncang sedahsyat-dahsyatnya
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِذَاidzaaapabila
- رُجَّتِrujjatidiguncangkan
- الْأَرْضُl-ardhubumi
- رَجًّاrajjanseguncang-guncangnya
Inti bacaan
Detail fisik kehancuran kosmik: 'apabila bumi diguncang sedahsyat-dahsyatnya', gambaran konkret perubahan fisik bumi yang selama ini dianggap stabil dan dapat diandalkan sepenuhnya.
Penjelasan pilihan kata
Seperti ayat sebelumnya, kedua kata inti di ayat ini tidak dipakai di ayat lain mana pun. Kata (رُجَّتِ, rujjati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini, dan kata (رَجًّا, rajjan) juga muncul 1 kali, di ayat yang sama. Dua ayat berturut-turut, 56:3 dan 56:4, masing-masing dibangun dari dua kata yang seluruhnya tidak muncul di tempat lain.
Keduanya tumbuh dari satu akar yang sama, dan susunan seperti itu punya nama tersendiri di dalam tata bahasa Arab: kata kerja disusul kata benda dari akarnya sendiri, yang berfungsi menegaskan kadar perbuatannya. Bahasa Indonesia tidak punya susunan yang sepadan, sehingga terjemahan kami memakai bentuk berulang "sedahsyat-dahsyatnya" untuk membawa penegasan itu. Yang hilang adalah kerapatan bunyinya; yang terbawa hanya kadarnya.
Akar katanya berarti mengguncang keras sampai sesuatu bergetar dari tempatnya, bukan sekadar bergoyang. Kata kerjanya di sini berbentuk pasif, sehingga yang tertulis bukan "bumi berguncang" melainkan "bumi diguncang". Perbedaannya menentukan: bentuk aktif akan menempatkan guncangan itu sebagai gejala yang timbul dari bumi sendiri, sedangkan bentuk pasif menyatakan ada yang mengguncangnya. Terjemahan kami mempertahankan bentuk pasifnya.
Kata pembukanya sama dengan kata pembuka 56:1, yaitu kata untuk sesuatu yang pasti terjadi, bukan kata untuk kemungkinan. Jadi ayat ini membuka anak kalimat syarat yang kedua, sejajar dengan yang pertama dan masih belum ditutup juga. Surah ini menumpuk tiga anak kalimat syarat berturut-turut sebelum induknya datang, dan ayat inilah yang memulai tumpukan bagian keduanya.
Bumi disebut lebih dahulu, gunung menyusul di ayat berikutnya. Urutan itu berkebalikan dengan 69:14, yang menyebut bumi dan gunung sekaligus dalam satu kalimat lalu membenturkan keduanya bersama-sama. Di sini keduanya dipisah ke dalam dua ayat dengan dua kata kerja yang berbeda, sehingga yang di sana satu peristiwa, di sini dua tahap.
Satu catatan tentang kata untuk bumi. Yang tertulis (الْأَرْضُ, al-ardhu) berbentuk takrif dan tunggal, menunjuk bumi sebagai satu keseluruhan, bukan sebagian tempat atau satu negeri. Kata yang sama di banyak ayat lain dipakai untuk tanah atau daerah tertentu, dan yang menentukan bacaannya adalah kalimat di sekelilingnya. Di sini kalimatnya tidak menyebut tempat mana pun, sehingga bacaan yang menyeluruh itulah yang berlaku, dan terjemahan kami "bumi" tanpa keterangan mengikutinya.
Susunan kata benda penegas seperti di ayat ini dipakai lagi persis di ayat berikutnya dengan akar yang berbeda, dan sesudah itu tidak dipakai lagi dalam rangkaian pembuka surah ini. Dua ayat berturut-turut memakai pola penegasan yang sama, dan kesejajaran bentuk itulah yang mengikat keduanya sebagai satu pasangan, meskipun benda yang dibicarakan berbeda.
Tafsiran
Ayat ini merinci tanda-tanda kosmis Peristiwa itu, dimulai dari guncangan dahsyat bumi. Sesudah tiga ayat yang berbicara tentang nama, kepastian, dan sifatnya, barulah gambarannya mulai diberikan.
Yang pertama disebut adalah bumi, dan bentuk kata kerjanya pasif. Yang tertulis bukan bumi berguncang, melainkan bumi diguncang. Perbedaan itu memindahkan seluruh peristiwanya dari gejala alam menjadi perbuatan. Gempa yang kita kenal adalah sesuatu yang terjadi pada bumi karena bumi itu sendiri; yang disebut di sini adalah sesuatu yang dikerjakan atasnya.
Kadarnya ditegaskan dengan susunan yang khas bahasa Arab, yaitu kata kerja disusul kata benda dari akar yang sama. Susunan itu tidak menambah keterangan baru; ia hanya mengulang, dan pengulangan tersebut yang menyampaikan kadarnya. Terjemahan Indonesia harus memakai bentuk berulang untuk mendekatinya, dan yang terbawa hanya kadarnya, bukan bunyinya.
Pilihan bumi sebagai yang pertama juga masuk akal. Bumi adalah satu-satunya benda yang tidak pernah masuk hitungan siapa pun sebagai sesuatu yang bisa berubah keadaan. Segala perhitungan manusia, dari yang paling besar sampai yang paling sepele, mengandaikan bahwa tempat berpijaknya tetap. Yang diguncang lebih dahulu adalah andaian itu.
Kata pembukanya masih kata yang sama dengan pembuka surah, yaitu kata untuk kepastian. Jadi ini anak kalimat syarat yang kedua, dan induknya masih belum datang. Surah ini menumpuk tiga anak kalimat berturut-turut sebelum menutupnya, dan penumpukan itu memperpanjang jeda yang sudah dibuka sejak kalimat pertama.
Renungan dan Hikmah
- Guncangan bumi disebut Allah sesudah peristiwanya dinamai. Peristiwanya dulu. Tandanya kemudian.
- Bentuk katanya sendiri menegaskan kadarnya. Bukan diguncang. Diguncang sedahsyat-dahsyatnya.
- Gunungnya Allah sebut sesudahnya. Buminya diguncang. Gunungnya jadi debu.
- Bentuk kata kerjanya pasif. Yang tertulis bukan bumi berguncang, melainkan bumi diguncang, dan kata itu tidak dipakai di ayat lain mana pun. Perbedaan tersebut memindahkan seluruh peristiwanya dari gejala alam menjadi perbuatan. Gempa yang kita kenal adalah sesuatu yang terjadi pada bumi karena bumi itu sendiri, dan karena itu ia bisa dipelajari, diukur, dan sedikit banyak diramalkan; ada sebab yang bisa ditelusuri ke belakang. Yang disebut di sini adalah sesuatu yang dikerjakan atasnya, dan sebabnya tidak berada di dalam bumi sama sekali. Allah tidak menyebutkan pelakunya di kalimat ini, tetapi bentuk pasifnya sudah menyatakan bahwa ada pelakunya. Yang tidak punya sebab di dalam dirinya sendiri tidak bisa dicegah dengan mempelajari dirinya. Ilmu bisa meramalkan gempa dari retakan yang sudah ada; guncangan yang disebut ayat ini tidak didahului retakan apa pun, sebab sumbernya bukan dari dalam bumi.
- Yang disebut pertama bukan langit, bukan gunung, melainkan bumi. Pilihan itu masuk akal kalau dipikir pelan. Bumi adalah satu-satunya benda yang tidak pernah masuk hitungan siapa pun sebagai sesuatu yang bisa berubah keadaan. Segala perhitungan manusia, dari rencana lima tahun sampai keputusan membeli sesuatu sore ini, mengandaikan bahwa tempat berpijaknya tetap di tempatnya. Tidak ada orang yang menuliskan andaian itu, sebab tidak ada yang merasa perlu. Yang diguncang lebih dahulu justru andaian tersebut. Dan menariknya, orang yang pernah mengalami gempa besar biasanya menceritakan hal yang sama: yang paling mengguncang bukan kerusakannya, melainkan hilangnya rasa bahwa tanah bisa dipercaya. Guncangan yang dibicarakan ayat ini bukan mengguncang sebagian tanah, melainkan menghabisi seluruh andaian bahwa ada sesuatu yang tetap.
- Kedua kata inti di ayat ini tidak dipakai di ayat lain mana pun, dan hal yang sama berlaku pada ayat sebelumnya. Dua ayat berturut-turut, masing-masing dibangun dari kata yang seluruhnya tidak muncul di tempat lain. Susunan seperti itu jarang, dan ia mengerjakan sesuatu pada pembaca teks aslinya yang tidak bisa dirasakan pembaca terjemahan. Bahasa Al-Qur'an sangat berulang; rangkaian yang sama kembali lagi di puluhan tempat, dan pembacanya terbiasa mengenali kalimat sebelum selesai membacanya. Di sini pengenalan itu berhenti bekerja. Setiap kata terasa asing, dan keasingan tersebut sejalan dengan apa yang sedang digambarkan, yaitu keadaan yang tidak punya bandingan dengan apa pun yang pernah dilihat. Bentuk kalimatnya sendiri ikut menyampaikan isinya, dan itulah yang paling sulit dipindahkan ke bahasa mana pun. Kalau bentuk kalimatnya saja sudah menyampaikan sesuatu yang tak tertampung terjemahan, apa lagi yang belum sampai kepada saya dari halaman yang saya baca setiap hari?