وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا

dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّاwa-bussati l-jibaalu bassandan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَبُسَّتِwa-bussatidan dihancurkan
  2. الْجِبَالُl-jibaalugunung-gunung
  3. بَسًّاbassansehancur-hancurnya

Inti bacaan

Kehancuran elemen yang dianggap paling kokoh: 'gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya', bahkan struktur alam yang paling kuat dan tampak abadi pun tidak luput dari kehancuran total, pengingat bahwa tidak ada yang benar-benar permanen di dunia material.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini mengulang susunan ayat sebelumnya dengan akar kata yang berbeda, dan hasilnya sama: kedua kata intinya tidak dipakai di ayat lain mana pun. Kata (وَبُسَّتِ, wa-bussati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini, dan kata (بَسًّا, bassan) juga muncul 1 kali, di ayat yang sama. Dengan begitu tiga ayat berturut-turut, 56:3 sampai 56:5, seluruh kata intinya tidak muncul di tempat lain.

Susunannya sejajar dengan 56:4: kata kerja pasif disusul kata benda dari akarnya sendiri sebagai penegas kadar. Terjemahan kami memakai bentuk berulang "sehancur-hancurnya", sama seperti "sedahsyat-dahsyatnya" di ayat sebelumnya, supaya kesejajaran itu tetap terlihat oleh pembaca Indonesia.

Akar katanya berarti menghancurkan sampai menjadi serpihan halus, dan dipakai juga untuk mencampur tepung dengan air sampai lumat. Jangkarnya konkret dan sehari-hari, dari dapur, bukan dari medan perang. Terjemahan kami "dihancurkan" menahan diri pada arti yang umum, sebab kata Indonesia yang lebih tepat pada gambaran melumatkan itu akan terdengar terlalu ringan untuk gunung.

Kata (الْجِبَالُ, al-jibaalu) dalam bentuk persis ini muncul 13 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 13:31, 14:46, 19:90, 22:18, 52:10, 56:5, 69:14, 70:9, 73:14, 77:10, 78:20, 81:3, dan 101:5. Sebagian besar kemunculan itu berada di surah-surah yang berbicara tentang hari yang sama, dan di hampir semuanya gunung disebut sebagai yang berubah keadaan, bukan sebagai yang tetap.

Bumi dan gunung disebut terpisah di dua ayat dengan dua kata kerja yang berbeda. Susunan itu berbeda dari 69:14, yang menyebut keduanya sekaligus dalam satu kalimat lalu membenturkannya bersama-sama dengan satu kata kerja. Yang di sana satu peristiwa atas dua benda, di sini dua peristiwa yang bertingkat: buminya diguncang lebih dahulu, gunungnya dihancurkan kemudian.

Huruf sambung di depan kata kerjanya kami terjemahkan "dan", dan itu yang menandai bahwa ayat ini masih bagian dari anak kalimat syarat yang sama dengan 56:4, bukan anak kalimat baru. Tiga tumpukan syarat di pembuka surah ini masih belum ditutup induknya sampai di sini.

Kata untuk gunung berbentuk jamak dan bertakrif, dan terjemahan kami "gunung-gunung" mengikuti bentuk itu, bukan menyingkatnya menjadi tunggal. Bentuk jamaknya penting di sini: yang dibicarakan bukan satu gunung tertentu di satu tempat, melainkan seluruhnya sekaligus, sehingga tidak ada satu pun yang bisa dibayangkan tersisa berdiri sebagai perkecualian.

Satu hal terakhir tentang kesejajaran ketiga ayat ini. Ayat 56:3 menyebut sifat harinya dengan dua kata pelaku, sedangkan 56:4 dan 56:5 menyebut peristiwanya dengan dua kata kerja pasif beserta penegasnya. Jadi yang pertama menerangkan apa hari itu, dan dua berikutnya menerangkan apa yang dikerjakan pada hari itu. Terjemahan kami menjaga perbedaan bentuk tersebut dengan memakai kata sifat berakhiran -kan untuk yang pertama dan kalimat pasif untuk dua berikutnya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan gambaran kehancuran kosmis: gunung yang hancur lebur. Susunannya sejajar dengan ayat sebelumnya, dengan akar kata yang berbeda dan hasil yang sama, yaitu kedua kata intinya tidak dipakai di ayat lain mana pun.

Yang dihancurkan adalah benda yang dipakai orang sebagai ukuran ketetapan. Bukan bangunan, bukan kota, bukan sesuatu yang dibuat manusia dan karena itu wajar rusak. Gunung adalah barang yang dipakai dalam bahasa sehari-hari untuk menerangkan sesuatu yang tidak akan bergeser, dan barang itulah yang disebut hancur.

Akar katanya berarti melumatkan sampai halus, dengan jangkar yang diambil dari dapur, yaitu mencampur tepung dengan air sampai lumat. Jarak antara jangkar sekecil itu dan benda sebesar gunung adalah bagian dari kekuatan kalimatnya. Yang dilumatkan seperti adonan adalah barang yang tidak sanggup digeser seluruh umat manusia bersama-sama.

Urutannya bertingkat. Buminya diguncang lebih dahulu, gunungnya dihancurkan kemudian. Susunan tersebut berbeda dari satu ayat lain yang menyebut bumi dan gunung sekaligus lalu membenturkan keduanya bersama-sama. Di sini keduanya dipisah, dan pemisahan itu memberi pembacanya urutan waktu: ada yang terjadi lebih dahulu, lalu ada yang menyusul.

Tiga ayat berturut-turut yang seluruh kata intinya tidak muncul di tempat lain menghasilkan sesuatu yang hanya bisa dirasakan pembaca teks aslinya. Bahasa yang sangat berulang tiba-tiba berhenti berulang, dan pembacanya kehilangan pegangan yang biasa ia pakai untuk mengenali kalimat sebelum selesai membacanya. Keasingan bunyi itu sejalan dengan apa yang sedang digambarkan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah mengulang kata hancur dalam satu frasa. Dihancurkan. Sehancur-hancurnya.
  • Yang dihancurkan justru yang dipakai orang sebagai ukuran ketetapan. Bukan bangunan. Gunung.
  • Kalimat ini menyusul guncangan bumi. Allah menyusunnya bertingkat. Buminya dulu, gunungnya kemudian.
  • Yang dihancurkan bukan bangunan, bukan kota, bukan sesuatu yang dibuat manusia dan karena itu wajar rusak. Yang disebut adalah gunung, yaitu benda yang dipakai orang dalam bahasa sehari-hari untuk menerangkan sesuatu yang tidak akan bergeser. Kita berkata seseorang teguh seperti gunung, dan kita memakainya justru karena tidak ada yang perlu dibuktikan tentang gunung. Allah memilih benda itu sebagai yang dilumatkan. Yang runtuh di ayat ini bukan hanya bendanya, melainkan juga perbandingan yang kita pakai selama ini untuk menerangkan ketetapan. Sesudah ayat ini, kalimat "teguh seperti gunung" tidak lagi berarti apa yang biasa kita maksudkan, sebab yang dijadikan ukuran ternyata punya batas waktunya sendiri. Ungkapan itu akan tetap bertahan di dalam bahasa, tetapi maknanya sudah berubah bagi siapa pun yang sudah membaca ayat ini.
  • Akar kata yang dipakai berarti melumatkan sampai halus, dan jangkarnya diambil dari dapur, yaitu mencampur tepung dengan air sampai lumat. Kata itu tidak dipakai di ayat lain mana pun. Jarak antara jangkar sekecil itu dan benda sebesar gunung adalah bagian dari kekuatan kalimatnya. Barang yang tidak sanggup digeser seluruh umat manusia bersama-sama disebut dengan kata yang biasa dipakai untuk pekerjaan tangan di dapur. Pilihan tersebut tidak sedang memperbesar peristiwanya dengan kata-kata yang megah; ia justru mengecilkannya menjadi pekerjaan yang ringan. Dan itu lebih menakutkan daripada gambaran yang dahsyat. Sesuatu digambarkan mengerikan ketika pelakunya harus mengerahkan tenaga; ketika pekerjaan sebesar itu disebut dengan kata yang sederhana, yang tersampaikan justru betapa tidak seimbangnya kedua pihak. Tidak ada perlawanan yang tercatat di sini, sebab tidak ada yang sanggup melawan pekerjaan yang bahkan tidak memerlukan tenaga untuk dikerjakan.
  • Tiga ayat berturut-turut, dari 56:3 sampai ayat ini, seluruh kata intinya tidak muncul di tempat lain mana pun. Susunan seperti itu jarang, dan ia mengerjakan sesuatu yang hanya bisa dirasakan pembaca teks aslinya. Bahasa Al-Qur'an sangat berulang; rangkaian yang sama kembali di puluhan tempat, dan pembacanya terbiasa mengenali kalimat sebelum selesai membacanya, seperti orang yang hafal jalan pulang. Di tiga ayat ini pengenalan tersebut berhenti bekerja. Setiap kata terasa asing, tidak ada satu pun yang bisa disandarkan pada ingatan, dan pembacanya harus berjalan pelan. Keasingan bunyi itu sejalan dengan apa yang sedang digambarkan, yaitu keadaan yang tidak punya bandingan dengan apa pun yang pernah dilihat siapa pun. Bentuknya ikut menyampaikan isinya, dan lapisan itulah yang paling sulit dibawa ke bahasa mana pun. Berapa banyak dari yang saya sangka sudah saya pahami sebenarnya hanya bagian yang kebetulan sanggup diseberangkan oleh terjemahan?