Ayat 56:7

وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً

dan kalian menjadi tiga golongan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةًwa-kuntum azwaajan tsalaatsatandan kalian menjadi tiga golongan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَكُنْتُمْwa-kuntumpadahal kalian adalah
  2. أَزْوَاجًاazwaajangolongan
  3. ثَلَاثَةًtsalaatsatantiga

Inti bacaan

Klasifikasi tripartit manusia: 'dan kalian menjadi tiga golongan', pembagian yang jelas dan terstruktur, bukan spektrum samar tanpa batas, dasar bagi kesadaran bahwa pilihan hidup akan berujung pada salah satu dari kategori yang jelas ini.

Penjelasan pilihan kata

Kata (أَزْوَاجًا, azwaajan) muncul 13 kali di 11 surah, antara lain di 2:234, 16:72, 30:21, 35:11, dan 78:8. Surah 20 memuatnya dua kali, di 20:53 dan 20:131, dan itu sebabnya jumlah kemunculannya lebih banyak daripada jumlah surahnya. Di sebagian besar tempat itu artinya pasangan hidup atau berpasang-pasangan, seperti di 30:21 saat Allah menyebut Dia menciptakan pasangan dari diri manusia sendiri agar mereka merasa tenteram, dan di 78:8 saat Dia menyatakan menciptakan manusia berpasang-pasangan.

Hanya di tiga tempat kata itu berarti kelompok atau macam, yaitu di 15:88, 20:53, dan 20:131. Yang di 20:53 menyangkut jenis-jenis tumbuhan. Dua sisanya, 15:88 dan 20:131, hampir sama bunyinya dan dua-duanya tentang golongan manusia yang diberi kenikmatan dunia. Dua ayat itulah pendahulu terdekat bagi pemakaian di sini. Jadi arti yang dipakai 56:7 adalah arti yang jarang, bukan arti yang biasa.

Yang tak terbawa ke bahasa Indonesia adalah akarnya. Akar z-w-j berporos pada keberpasangan, pada dua yang saling melengkapi. Kata itulah yang dipakai untuk menghitung tiga. Sebuah kata yang di dalam dirinya membawa angka dua dipakai untuk menyebut jumlah yang ganjil. Kalau diterjemahkan "golongan", keganjilan itu hilang tanpa jejak, sebab "golongan" dalam bahasa Indonesia tidak membawa muatan pasangan sama sekali. Pembaca teks aslinya mendengar bunyi keberpasangan sambil mendengar angka tiga, dan dua bunyi itu bergesekan.

Gesekan itu tidak sia-sia. Tiga ayat berikutnya menunjukkan bahwa dua dari tiga golongan itu memang berpasangan: kanan di 56:8 dan kiri di 56:9, disusun sejajar dengan bentuk kalimat yang sama persis. Golongan ketiga di 56:10 tidak punya lawan. Ia berdiri tanpa pasangan. Jadi kata yang berakar pada keberpasangan dipakai untuk menghitung dua yang berpasangan ditambah satu yang tidak. Susunannya sendiri sudah menerangkan mengapa kata itu yang dipilih.

Bentuk (كُنْتُمْ, kuntum) juga lampau, sama seperti kata kerja di 56:6. Dua ayat berturut-turut menuturkan yang belum terjadi seolah sudah lewat. Dan sapaannya berpindah. Enam ayat sebelumnya berbicara tentang bumi dan gunung, tanpa menunjuk siapa pun. Di sini kata gantinya tiba-tiba menjadi "kalian". Pembaca yang tadi menonton dari kejauhan mendadak dimasukkan ke dalam gambar.

Kata (ثَلَاثَةً, tsalaatsatan) hadir di sini dalam bentuk yang mengikuti kata sebelumnya, sebagai keterangan jumlah bagi azwaajan, bukan sebagai bilangan yang berdiri sendiri. Susunannya rapat: satu kata benda jamak lalu satu bilangan, tanpa penghubung apa pun di antaranya. Bahasa Indonesia harus menambahkan kata "menjadi" supaya kalimatnya bisa berdiri, dan kata tambahan itu memunculkan kesan proses yang tidak ada dalam susunan aslinya. Dalam teks aslinya tidak ada perubahan bertahap; yang ada hanya pernyataan keadaan.

Tafsiran

Ayat ini beralih ke pembagian manusia pada hari itu menjadi tiga golongan. Peralihannya tajam. Enam ayat sebelumnya seluruhnya tentang alam: peristiwa yang datang, bumi yang diguncang, gunung yang jadi debu. Tidak ada manusia di dalamnya. Lalu satu ayat pendek memindahkan seluruh perhatian, dan yang dibicarakan bukan lagi manusia pada umumnya melainkan "kalian".

Tiga, bukan dua. Ini yang perlu dicatat baik-baik. Cara paling lazim manusia membagi sesamanya adalah dua: baik dan buruk, benar dan salah, kawan dan lawan. Pembagian dua itu nyaman karena mudah dipakai, dan berbahaya karena mudah dipakai untuk diri sendiri. Orang yang membagi dunia jadi dua hampir selalu menaruh dirinya di sisi yang benar. Dengan tiga, kepastian itu goyah. Ada kemungkinan ketiga yang tidak masuk hitungan siapa pun sebelumnya.

Dan ketiganya belum dijelaskan di sini. Ayat ini hanya menyebut jumlahnya. Isi masing-masing baru dibuka di 56:8, 56:9, dan 56:10, lalu dirinci panjang lebar mulai 56:11 sampai hampir seluruh sisa surah. Menahan keterangan seperti ini punya akibat pada pembaca: begitu mendengar angka tiga, orang mulai menimbang dirinya sendiri sebelum tahu ketiganya apa. Pertanyaan yang muncul lebih dulu bukan "apa saja golongannya" melainkan "saya yang mana".

Bahwa pembagian ini disebut sesudah gunung dihancurkan juga bermakna. Pada saat semua penanda luar sudah lenyap, yang tersisa untuk membedakan manusia bukan lagi wilayah, harta, atau kedudukan. Yang tersisa hanya golongan yang ditetapkan pada hari itu, dan penetapannya tidak berdasarkan apa pun yang bisa disusun manusia sesudah peristiwanya datang.

Renungan dan Hikmah

  • Allah membagi manusia menjadi tiga, bukan dua. Bukan hitam putih. Tiga.
  • Pembagian itu disebut sesudah bumi diguncang. Yang tadi kosmik. Yang ini manusia.
  • Ketiga golongan itu dirinci Allah di ayat-ayat berikutnya. Di sini baru jumlahnya. Isinya menyusul.
  • Kata yang dipakai Allah di sini berakar pada keberpasangan, pada dua yang saling melengkapi. Kata itu juga yang dipakai untuk pasangan hidup di 30:21 dan untuk manusia yang diciptakan berpasang-pasangan di 78:8. Tapi di ayat ini ia dipakai untuk menghitung tiga. Sebuah kata yang membawa angka dua di dalam dirinya dipakai menyebut jumlah ganjil. Dan itu bukan kejanggalan yang tak disengaja. Dua dari tiga golongan memang berpasangan, kanan dan kiri, disusun sejajar dengan bentuk kalimat yang sama persis di 56:8 dan 56:9. Golongan ketiga di 56:10 tidak punya lawan. Ia sendirian. Jadi kata berakar pasangan itu tepat menggambarkan dua yang berpasangan ditambah satu yang tidak. Kalau diterjemahkan golongan saja, seluruh ketelitian itu lenyap. Ketelitian itu bukan hiasan bahasa. Ia menyimpan keterangan tentang bentuk pembagiannya sebelum pembagian itu dijelaskan.
  • Cara paling lazim manusia membagi sesamanya adalah dua. Baik dan buruk. Kawan dan lawan. Kita dan mereka. Pembagian dua itu nyaman karena gampang dipakai, dan justru berbahaya karena gampang dipakai untuk diri sendiri. Orang yang membelah dunia jadi dua hampir selalu menempatkan dirinya di sisi yang benar. Allah membaginya tiga. Begitu ada kemungkinan ketiga, kepastian tadi goyah. Sebab yang ketiga ini bukan penengah dan bukan yang setengah-setengah; ia justru yang paling depan. Artinya ada tingkatan di atas tempat yang selama ini kita anggap sudah cukup baik. Kalau pembagiannya cuma dua, siapa pun yang merasa bukan orang jahat sudah bisa tenang. Dengan tiga, ketenangan itu perlu ditanyakan lagi. Kita ini yang mana? Pertanyaan itu tidak dijawab di ayat ini, dan penundaannya disengaja. Kita dibiarkan menimbang diri sendiri lebih dulu.
  • Enam ayat pertama surah ini tidak menyebut manusia sama sekali. Semuanya tentang peristiwa yang datang, bumi yang diguncang, gunung yang jadi debu beterbangan. Pembaca boleh menyimak dari kejauhan seperti menonton sesuatu yang jauh dari dirinya. Di ayat ini kata gantinya mendadak berubah menjadi kalian. Allah menarik pembaca masuk ke dalam gambar yang tadi ia tonton. Perpindahan sapaan seperti ini punya akibat yang nyata saat dibaca berurutan. Yang tadinya kabar tentang alam semesta seketika menjadi kabar tentang orang yang sedang membacanya. Dan sapaan itu datang persis di kalimat yang menyebut penggolongan, bukan di kalimat yang menyebut kehancuran. Yang perlu dirisaukan bukan gunungnya, melainkan kedudukan kita saat gunung itu jatuh. Sebab gunung tidak sedang ditanyai apa pun. Yang ditanyai hanya yang disapa dengan kata kalian.

Ayat 56:8

فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ

maka golongan kanan, alangkah golongan kanan!

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِfa-ashaabu l-maymanatimaka, golongan kanan
  2. مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِmaa ash-haabu l-maymanatialangkah golongan kanan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فَأَصْحَابُfa-ashaabumaka penghuni
  2. الْمَيْمَنَةِl-maymanatisebelah kanan
  3. مَاmaaalangkah
  4. أَصْحَابُash-haabupenghuni
  5. الْمَيْمَنَةِl-maymanatisebelah kanan

Inti bacaan

Golongan pertama yang diberkati: 'golongan kanan, alangkah (mulia) golongan kanan itu', seruan kekaguman yang menegaskan bahwa status ini adalah pencapaian yang patut diperjuangkan, bukan hasil kebetulan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan "(mulia)" tidak dipakai: susunan seru (مَا, maa) sengaja dibiarkan terbuka tanpa menyebut sifat spesifik, membangun ketegangan yang baru dijelaskan ayat-ayat berikutnya. Kata "itu" juga dihapus: frasa (أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ, ashhaabul maymanati) hanya diulang persis, bukan dirujuk dengan demonstratif.

Rangkaian ashhaabul maymanati muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:8 dan 90:18. Dua tempat itu memakainya dengan urutan yang terbalik. Di 90:18 sebutan itu datang sesudah keterangannya: 90:17 lebih dulu melukiskan mereka yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta memberi rahmat, baru sesudah itu dikatakan bahwa merekalah golongan kanan. Di sini kebalikannya. Sebutannya diucapkan lebih dulu, dan siapa mereka baru dibuka jauh sesudahnya, mulai 56:27. Pembaca surah 90 diberi tahu perbuatannya lalu diberi tahu namanya. Pembaca surah ini diberi tahu namanya lalu dibiarkan menunggu perbuatannya.

Susunan seru (مَا أَصْحَابُ, maa ashhaabu) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:8, 56:9, 56:27, dan 56:41. Keempatnya berada di surah ini, dan tidak ada satu pun di luar surah ini. Itu sebabnya jumlah kemunculannya empat sementara surahnya hanya satu. Dua yang pertama ada di ayat pengenalan, dua sisanya muncul lagi saat kedua golongan itu dirinci. Jadi surah ini menyerukan nama keduanya dua kali masing-masing, sekali saat memperkenalkan dan sekali saat menguraikan.

Kata maa pada dasarnya kata tanya. Dipakai begini ia berubah jadi seruan, dan yang menjadikannya bertenaga justru bagian yang tidak diucapkan. Kalimatnya tidak diselesaikan. Tidak ada sifat yang menyusul, tidak ada penjelasan apa yang mengagumkan. Bahasa Indonesia tidak punya bentuk yang menggantung seperti itu, jadi "alangkah" terpaksa berdiri sendiri dan terdengar kurang lengkap. Dalam teks aslinya rasa kurang lengkap itu bukan kekurangan, melainkan yang dituju.

Nama golongan ini juga berganti di dalam surah yang sama. Di sini dipakai (الْمَيْمَنَةِ, al-maymanati), dan di 56:27 dipakai (الْيَمِينِ, al-yamiini). Keduanya berakar y-m-n, tetapi yang pertama menunjuk sisi atau tempat sebelah kanan sekaligus membawa arti keberkahan, sedangkan yang kedua menunjuk tangan kanannya sendiri. Bahasa Indonesia memakai satu kata "kanan" untuk dua-duanya, sehingga pergantian sebutan di dalam satu surah itu tidak terlihat sama sekali oleh pembaca terjemahan.

Perlu dicatat juga bahwa sebutan ini tidak diawali kata penunjuk. Di 90:18 ada kata penunjuk (أُولَٰئِكَ, ulaa-ika) yang merujuk balik kepada orang-orang yang baru dilukiskan. Di sini tidak ada rujukan balik sama sekali, sebab belum ada siapa pun yang dilukiskan untuk dirujuk. Sebutannya berdiri tanpa sandaran, dan itu memang yang dikehendaki susunannya.

Tafsiran

Ayat ini membuka golongan pertama: mereka yang catatan amalnya diterima dengan tangan kanan. Ia dibuka dengan huruf penyambung, yang mengaitkannya langsung dengan penyebutan tiga golongan di ayat sebelumnya. Jadi ini bukan pokok baru melainkan perincian dari yang barusan diumumkan.

Yang menonjol adalah cara memperkenalkannya. Allah tidak menerangkan siapa mereka. Ia menyebut namanya, lalu menyerukan namanya sekali lagi, dan berhenti. Tidak ada sifat, tidak ada perbuatan, tidak ada ganjaran. Hanya nama yang diulang. Sebuah pengenalan yang secara keterangan hampir kosong tetapi secara rasa sangat penuh.

Cara ini bekerja karena menahan. Orang yang mendengar seruan tanpa lanjutan akan mengisinya sendiri. Ketegangan yang terbangun bukan datang dari apa yang disebutkan, melainkan dari apa yang ditunda. Dan penundaannya panjang: perinciannya baru sampai di 56:27 dan seterusnya, sesudah golongan yang lain lebih dulu disinggung.

Ada juga soal urutan. Golongan kanan disebut lebih dulu daripada golongan kiri, dan keduanya disebut sebelum golongan yang paling depan di 56:10. Urutan penyebutan tidak selalu urutan kedudukan. Di sini yang disebut terakhir justru yang tertinggi, dan surah membiarkan pembaca menemukan itu sendiri satu ayat kemudian.

Bagi pembaca, pengenalan yang ditahan seperti ini menimbulkan satu akibat sederhana. Karena tidak diberi tahu apa yang membuat mereka disebut demikian, orang tidak bisa buru-buru mencocokkan dirinya. Ia harus membaca terus.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyeru tanpa menyebutkan apa yang mengagumkan. Alangkah. Kalimatnya sengaja dibiarkan menggantung.
  • Sebutan yang sama diulang dua kali dalam satu baris. Golongan kanan, golongan kanan. Pengulangan itu yang membawa seluruh tenaganya.
  • Allah menyebut mereka lebih dahulu daripada golongan yang lain. Yang pertama dari tiga. Urutannya sendiri sudah keterangan.
  • Sebutan golongan kanan cuma muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 90:18. Dua tempat itu menyusunnya secara terbalik. Di 90:18 keterangannya datang lebih dulu: 90:17 melukiskan mereka yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta memberi rahmat, baru sesudah itu Allah menyebutkan bahwa merekalah golongan kanan. Di sini justru namanya yang diucapkan lebih dulu, dan siapa mereka baru dibuka mulai 56:27. Satu menerangkan lalu menamai, satu menamai lalu menerangkan. Bagi pembaca akibatnya berbeda. Yang pertama mengajak menakar perbuatan sendiri terhadap ukuran yang sudah jelas. Yang kedua menaruh nama yang belum berisi di hadapan kita, lalu membiarkan kita menunggu untuk tahu apakah nama itu bisa jadi nama kita. Nama yang belum berisi itu memaksa satu pertanyaan lebih dulu: kalau kita disebut hari ini, kita masuk ke sebutan yang mana?
  • Susunan seru yang dipakai ayat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, di 56:8, 56:9, 56:27, dan 56:41. Keempatnya berada di dalam surah ini saja, tidak satu pun di luar. Dua di ayat pengenalan, dua lagi saat kedua golongan itu diuraikan. Jadi Allah menyerukan nama masing-masing dua kali: sekali saat memperkenalkan, sekali saat menguraikan. Pengulangan berjarak seperti itu bekerja seperti orang yang menyebut sesuatu di awal cerita lalu menyebutnya lagi persis ketika hendak menjelaskannya. Dan seruan itu tidak pernah diselesaikan kalimatnya. Tidak ada sifat yang menyusul. Yang membuatnya bertenaga justru bagian yang sengaja tidak diucapkan. Apa yang kita bayangkan sendiri sering lebih menggetarkan daripada yang bisa dirinci. Menahan keterangan ternyata cara mengajar yang tidak kalah kuat daripada memberikannya.
  • Sebutan yang dipakai di ayat ini bukan sebutan yang dipakai surah ini seterusnya. Di sini golongan itu dinamai dengan kata yang menunjuk sisi kanan sekaligus membawa arti keberkahan. Di 56:27 Allah menggantinya dengan kata yang menunjuk tangan kanannya sendiri. Dua kata itu seakar, tapi tidak sama. Bahasa Indonesia memakai satu kata kanan untuk keduanya, sehingga pergantian di dalam satu surah itu sama sekali tak terlihat oleh pembaca terjemahan. Padahal pergantiannya berbicara. Saat baru diperkenalkan, yang ditonjolkan keberkahannya. Saat dirinci nanti, yang ditonjolkan tanda lahiriahnya, yaitu tangan yang menerima catatan. Berkahnya disebut lebih dulu, tandanya menyusul. Apa yang membuat seseorang masuk ke sana didahulukan atas bagaimana ia terlihat di sana. Urutan penyebutan itu sendiri semacam nasihat tentang apa yang mesti diutamakan.

Ayat 56:9

وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ

dan golongan kiri, alangkah golongan kiri!

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِwa-ashaabu l-masy'amatidan golongan kiri
  2. مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِmaa ash-haabu l-masy'amatialangkah golongan kiri

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَأَصْحَابُwa-ashaabudan penghuni
  2. الْمَشْأَمَةِl-masy'amatisebelah kiri
  3. مَاmaaalangkah
  4. أَصْحَابُash-haabupenghuni
  5. الْمَشْأَمَةِl-masy'amatisebelah kiri

Inti bacaan

Golongan kedua yang merugi: 'golongan kiri, alangkah (sengsara) golongan kiri itu', kontras tegas dengan golongan sebelumnya, pengingat akan konsekuensi nyata dari pilihan hidup yang mengarah pada kategori ini.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan "(sengsara)" tidak dipakai, konsisten pola 56:8. Kata "itu" juga dihapus dengan alasan yang sama.

Rangkaian (أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ, ashhaabul masy-amati) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:9 dan 90:19. Angka itu sama persis dengan angka pasangannya di ayat sebelumnya, dan tempatnya pun sama: golongan kanan ada di 56:8 dan 90:18, golongan kiri ada di 56:9 dan 90:19. Jadi kedua sebutan ini hanya hidup di dua surah, selalu berdampingan, dan tidak pernah satu pun muncul tanpa yang lain. Keduanya seperti sepasang kata yang tidak bisa dipisahkan dari tempatnya.

Kendati begitu, cara kedua surah memakainya berbeda. Di 90:19 sebutan ini melekat pada keterangan yang sudah lengkap, yaitu mereka yang kufur pada tanda-tanda Allah, dan ayat sesudahnya langsung menyebut api yang tertutup rapat. Di sini tidak ada apa pun yang dilekatkan. Namanya diucapkan, diserukan sekali lagi, lalu berhenti. Perinciannya baru datang di 56:41 dan sesudahnya.

Kata (الْمَشْأَمَةِ, al-masy-amati) berakar sy-'-m. Akar itu menunjuk sisi kiri, dan dalam pemakaian bahasa Arab ia juga membawa rasa kemalangan. Pasangannya di ayat sebelumnya, al-maymanati, berjalan serupa dari arah sebaliknya: menunjuk sisi kanan sekaligus membawa rasa keberkahan. Jadi dua nama ini tidak sekadar menunjuk arah. Masing-masing sudah memuat nasibnya di dalam namanya, sebelum satu pun keterangan diberikan. Bahasa Indonesia menerjemahkan keduanya "kanan" dan "kiri", dan muatan nasib itu tidak ikut terbawa. Pembaca terjemahan menerima dua penunjuk arah yang netral, sementara pembaca teks aslinya sudah mendengar putusannya di dalam sebutannya sendiri.

Nama ini pun berganti di tengah surah, seperti pasangannya. Di 56:41 golongan yang sama disebut dengan (الشِّمَالِ, asy-syimaali), kata yang lazim dipakai untuk kiri tanpa muatan kemalangan itu. Satu perbedaan kecil lagi ada di huruf pembukanya. 56:8 dibuka dengan huruf yang menyatakan urutan akibat, sedangkan ayat ini dibuka dengan huruf penyambung biasa. Yang pertama menyambung dari pembagian tiga golongan sebagai rinciannya yang pertama; yang kedua sekadar menderetkan yang berikutnya.

Ada satu hal lagi yang hilang dalam terjemahan. Kedua sebutan ini dibentuk dengan pola kata yang sama dalam bahasa Arab, sehingga saat dibaca berurutan bunyinya bersajak dan saling menjawab. Kesejajaran bunyinya menguatkan kesejajaran nasibnya yang berlawanan. Dalam bahasa Indonesia "golongan kanan" dan "golongan kiri" tidak memiliki pertalian bunyi apa pun, sehingga yang tersisa hanya perbedaan artinya, tanpa gema yang mengikatnya.

Tafsiran

Ayat ini membuka golongan kedua: mereka yang catatan amalnya diterima dengan tangan kiri. Bentuk kalimatnya disusun sama persis dengan ayat sebelumnya. Sebutan, lalu seruan atas sebutan yang sama, lalu berhenti. Tidak ada yang ditambahkan pada salah satunya untuk membedakan.

Kesejajaran bentuk itu sendiri bermakna. Dua golongan yang nasibnya berlawanan diperkenalkan dengan susunan kalimat yang identik. Tidak ada yang diperpanjang, tidak ada yang dipersingkat, tidak ada nada yang dinaikkan pada salah satunya. Keadilan penyebutannya terasa pada bentuknya sebelum terasa pada isinya.

Yang membedakan hanya namanya. Dan di dalam bahasa Arab, nama itu sudah cukup. Sebutan bagi golongan ini membawa rasa kemalangan di dalam akar katanya, sebagaimana sebutan bagi golongan sebelumnya membawa rasa keberkahan. Jadi dua ayat yang berbentuk sama persis sebenarnya sudah menyampaikan dua nasib yang berlawanan, tanpa satu pun kata sifat ditambahkan.

Seruan yang dibiarkan menggantung terasa berbeda di sini. Pada golongan kanan, ruang kosong sesudah kata seru itu diisi harapan oleh siapa pun yang membacanya. Pada golongan kiri, ruang kosong yang sama diisi kekhawatiran. Kata serunya tidak berubah, yang berubah nama yang mendahuluinya, dan pembaca sendiri yang menyediakan isinya.

Perlu dicatat bahwa sampai di sini surah belum menyebut satu pun perbuatan yang menempatkan seseorang di golongan mana pun. Baru nama, baru pembagian. Perbuatan menyusul jauh kemudian, dan jarak itu memberi pembaca waktu untuk bertanya sebelum diberi jawaban.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut namanya dua kali dalam satu ayat. Golongan kiri. Lalu diulang.
  • Kata alangkah dipakai tanpa dilengkapi. Sifatnya tidak disebut. Yang kosong justru mencekam.
  • Bentuknya sejajar dengan golongan sebelumnya. Allah memakai susunan yang sama. Isinya berlawanan.
  • Sebutan golongan kiri muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di 56:9 dan 90:19. Angkanya sama persis dengan pasangannya, dan tempatnya pun berpasangan: golongan kanan di 56:8 dan 90:18, golongan kiri di 56:9 dan 90:19. Jadi dua sebutan ini cuma hidup di dua surah, selalu bersebelahan, dan tidak pernah salah satunya muncul tanpa yang lain. Allah tidak pernah menyebut yang satu sendirian. Ada sesuatu yang jujur dalam susunan seperti itu. Kabar gembira dan kabar buruk selalu disampaikan berdampingan, tidak pernah dipisah supaya salah satunya lebih mudah diterima. Kita kerap memilih hanya mendengar satu sisi, entah yang menenangkan saja atau yang menakutkan saja. Teksnya sendiri menolak dipenggal seperti itu. Yang mau kita dengar dan yang enggan kita dengar datang dalam satu tarikan napas, dan tidak disediakan pintu untuk mengambil salah satunya saja.
  • Akar kata untuk sebutan golongan ini menunjuk sisi kiri, dan dalam bahasa Arab ia sekaligus membawa rasa kemalangan. Pasangannya di ayat sebelumnya berjalan serupa dari arah sebaliknya, menunjuk sisi kanan sekaligus membawa rasa keberkahan. Jadi kedua nama ini bukan sekadar penunjuk arah. Masing-masing sudah memuat nasibnya di dalam sebutannya sendiri, sebelum satu keterangan pun diberikan Allah. Bahasa Indonesia menerjemahkannya kanan dan kiri, dua penunjuk arah yang netral, dan muatan nasib itu tidak ikut terbawa. Pembaca terjemahan menerima dua arah yang setara; pembaca teks aslinya sudah mendengar putusannya di dalam namanya. Inilah salah satu tempat di mana terjemahan yang paling tepat sekalipun tetap kehilangan sesuatu yang penting. Karena itu membaca terjemahan saja tidak cukup untuk merasakan beratnya, sekalipun artinya sudah tersampaikan dengan benar.
  • Dua golongan yang nasibnya bertolak belakang diperkenalkan Allah dengan susunan kalimat yang sama persis. Tidak ada yang diperpanjang, tidak ada yang dipersingkat, tidak ada nada yang ditinggikan pada salah satunya. Keadilan penyebutannya terasa pada bentuknya sebelum terasa pada isinya. Seruan yang dibiarkan menggantung itu pun tidak berubah bunyinya. Yang berubah cuma nama yang mendahuluinya, dan pembaca sendiri yang menyediakan isi ruang kosongnya. Pada golongan sebelumnya orang mengisinya dengan harapan; di sini orang mengisinya dengan kekhawatiran. Padahal katanya sama. Ini menunjukkan sesuatu tentang cara kita membaca. Sebagian besar rasa yang kita alami saat membaca ayat tidak datang dari kata-katanya, melainkan dari apa yang kita bawa sendiri ke hadapannya. Kita ini sedang mengisinya dengan apa? Menyadari itu mengubah cara kita menilai ketenangan yang kita rasakan saat membaca ayat tentang keselamatan.

Ayat 56:10

وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ

Dan orang-orang yang paling dahulu, merekalah yang paling dahulu,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَالسَّابِقُونَwa-s-saabiquunadan orang-orang yang paling dahulu
  2. السَّابِقُونَas-saabiquunamerekalah yang paling dahulu

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَالسَّابِقُونَwa-s-saabiquunadan orang-orang yang terdahulu
  2. السَّابِقُونَas-saabiquunaorang-orang yang paling dahulu

Inti bacaan

Golongan ketiga yang istimewa: 'dan orang-orang yang paling dahulu, merekalah yang paling dahulu', pengulangan kata yang sama menegaskan keunikan dan keunggulan tak tertandingi golongan ini, sebuah kategori yang berdiri sendiri melampaui klasifikasi kanan-kiri biasa.

Penjelasan pilihan kata

"merekalah" adalah kopula penghubung alami utk susunan pengulangan penegasan Arab, bukan tambahan makna baru.

Bentuk (السَّابِقُونَ, as-saabiquuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:100 dan 56:10. Dua tempat itu memakainya dengan cara yang berbeda jauh. Di 9:100 ia langsung disusul penyifatnya, (الْأَوَّلُونَ, al-awwaluuna), lalu disebutkan siapa saja mereka, dari kalangan mana, dan apa yang disediakan bagi mereka. Semuanya terang dan tuntas dalam satu ayat panjang. Di sini tidak ada penyifat apa pun. Yang menyusul justru sebutan itu sendiri, diulang tanpa ditambahi.

Susunan begini membuat pokok kalimat dan sebutannya menjadi satu benda yang persis. Secara keterangan, kalimatnya tidak menambah apa-apa. Ia menyatakan yang terdepan adalah yang terdepan. Dalam tata bahasa mana pun kalimat semacam itu kosong, sebab tidak ada keterangan baru yang berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Justru kekosongan itulah tenaganya. Ketika sesuatu tidak bisa diterangkan dengan menyebut hal lain, satu-satunya cara menyebutnya adalah mengucapkan namanya dua kali.

Ada satu hal lagi yang membedakan penyebutan ini dari dua yang mendahuluinya. Susunan seru (مَا أَصْحَابُ, maa ashhaabu) dipakai empat kali di surah ini, yaitu di 56:8, 56:9, 56:27, dan 56:41, dan tidak dipakai di ayat ini. Dua kelompok sebelumnya diserukan begitu, dan diserukan lagi saat dirinci. Kelompok yang di ayat ini tidak pernah mendapat seruan itu, tidak di sini maupun di ayat mana pun sesudahnya. Pola yang sudah dibangun dua ayat berturut-turut sengaja diputus tepat pada yang terakhir.

Perbedaan lain ada pada dasar penamaannya. Dua kelompok sebelumnya dinamai menurut arah, memakai kata yang berakar pada sisi kanan dan sisi kiri. Kelompok ini dinamai menurut akar s-b-q, yang berarti mendahului atau memacu diri lebih dulu sampai di depan. Jadi dua dinamai menurut tempat, satu dinamai menurut laju. Ukurannya berlainan jenis, dan itu sebabnya ia tidak punya lawan yang sepadan di antara dua yang lain.

Perlu dicatat bahwa kalimat ini juga yang terpendek di antara tiga pembuka. Dalam bahasa aslinya ia hanya dua patah lafal. Bahasa Indonesia membutuhkan tujuh kata atau lebih untuk memindahkannya, dan sesudah dipindahkan kalimatnya tidak lagi terdengar pendek. Kerapatan itu bagian dari yang disampaikannya, dan ia termasuk yang paling sulit dipertahankan.

Satu catatan lagi tentang huruf pembukanya. Ayat ini dibuka dengan huruf penyambung, sama seperti 56:9, sehingga ketiganya terbaca sebagai satu deretan yang tidak terputus. Tetapi isi deretannya tidak sejenis: dua yang awal sepasang, yang terakhir tunggal. Bahasa Indonesia menyambungnya dengan "dan", dan sambungan itu terdengar rata, seolah ketiganya sederajat jenisnya.

Tafsiran

Ayat ini membuka golongan ketiga: mereka yang paling terdepan dalam kebaikan. Ia datang sesudah dua kelompok lain diperkenalkan dengan susunan yang sejajar, dan ia sengaja tidak mengikuti susunan itu.

Dua sebelumnya dinamai menurut arah, kanan dan kiri, sepasang yang saling berhadapan. Yang ini tidak diberi arah apa pun. Ukurannya bukan letak melainkan laju: siapa yang lebih dulu sampai. Karena ukurannya berlainan jenis, ia tidak bisa ditaruh berhadapan dengan salah satu dari keduanya. Itulah sebabnya jumlahnya tiga dan bukan empat. Yang berpasangan cukup dua, dan yang satu ini memang tidak berpasangan.

Allah juga tidak menyerukan namanya dengan bentuk seru yang dipakai pada dua sebelumnya. Pola yang sudah dibangun berturut-turut diputus tepat di sini. Dan pemutusan itu terasa saat dibaca beruntun. Telinga sudah menyiapkan diri untuk mendengar seruan yang sama untuk kali yang ketiga, lalu seruan itu tidak datang. Yang datang hanya nama, diulang atas dirinya sendiri.

Ada yang jujur pada susunan seperti ini. Untuk dua kelompok yang lain, seruan menahan keterangannya sampai nanti. Untuk yang ini, tidak ada yang ditahan, sebab memang tidak ada yang bisa disandingkan. Menyebut mereka lebih dulu daripada yang lain tidak akan menerangkan apa-apa, karena tidak ada yang mendahului mereka untuk dijadikan pembanding.

Perinciannya menyusul segera. Satu ayat kemudian, di 56:11, dikatakan bahwa merekalah yang didekatkan, dan di 56:12 disebut tempatnya. Jadi kelompok ini disebut terakhir di antara tiga, tetapi keterangannya justru diberikan paling awal. Yang terdepan dalam sebutan bukan yang terdepan dalam kedudukan, dan susunan surah membalikkannya dengan tenang, tanpa sekali pun mengumumkan pembalikannya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah mengulang sebutan yang sama dalam satu kalimat. Yang paling dahulu, merekalah yang paling dahulu. Pengulangannya menjadi penekanan.
  • Golongan ini tidak diberi nama kanan atau kiri. Ia berdiri sendiri. Ukurannya kecepatan, bukan posisi.
  • Kalimatnya paling pendek di antara tiga pembuka. Allah tidak menambahkan keterangan. Yang paling depan disebut paling ringkas.
  • Sebutan ini cuma dipakai dua kali di seluruh Al-Qur'an, di 9:100 dan di sini. Di 9:100 ia langsung disusul penyifatnya, lalu dijelaskan mereka dari kalangan mana dan apa yang disediakan bagi mereka, tuntas dalam satu ayat panjang. Di ayat ini tidak ada penyifat apa pun. Yang menyusul justru sebutan itu lagi, diulang tanpa ditambahi. Secara keterangan kalimatnya tidak menambah apa pun; ia menyatakan yang terdepan adalah yang terdepan. Dalam tata bahasa mana pun susunan begitu kosong. Tapi kekosongan itulah tenaganya. Ada hal yang tidak bisa diterangkan dengan menyandingkannya pada sesuatu yang lain, sebab tidak ada bandingannya. Untuk hal semacam itu, menyebut namanya dua kali justru lebih jujur daripada menguraikannya panjang lebar. Menguraikan terlalu banyak justru kerap menyusutkan hal yang hendak diuraikan.
  • Dua kelompok sebelumnya diperkenalkan Allah dengan bentuk seru yang serupa, dan bentuk itu muncul lagi di 56:27 dan 56:41 saat keduanya dirinci. Empat kali seluruhnya, semuanya di surah ini. Yang di ayat ini tidak pernah mendapat seruan itu, tidak di sini dan tidak di ayat mana pun sesudahnya. Pola yang sudah dipasang dua ayat beruntun diputus persis pada yang terakhir. Pemutusan itu terasa waktu dibaca berurutan. Telinga sudah bersiap menerima bunyi yang ketiga, lalu bunyi itu tidak datang. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenali rasa itu: janji yang selalu ditepati lalu satu kali tidak, kebiasaan yang berjalan lama lalu tiba-tiba berhenti. Yang tidak muncul kadang lebih menarik perhatian daripada yang muncul. Kenapa justru yang tertinggi yang tidak diseru? Yang tidak diucapkan di sini rupanya bagian dari cara menyampaikannya.
  • Dua kelompok yang lain dinamai menurut arah, memakai akar yang menunjuk sisi kanan dan sisi kiri. Yang di ayat ini dinamai menurut akar yang berarti mendahului, memacu diri sampai lebih dulu tiba di depan. Jadi dua dinamai menurut tempat, satu dinamai menurut laju. Karena ukurannya berlainan jenis, ia tidak punya lawan yang setara di antara keduanya, dan itulah sebabnya jumlahnya tiga bukan empat. Perbedaan ukuran ini menyentuh cara kita menilai diri. Letak bisa dipandang sebagai keadaan yang sudah selesai: kita berada di sisi ini atau di sisi itu. Laju tidak pernah selesai selama masih ada waktu tersisa. Selalu ada yang bisa dipercepat hari ini. Allah menaruh satu penilaian yang tidak menunggu keadaan tetap, melainkan menghitung siapa yang bergerak lebih dulu. Selama napas masih ada, penilaian itu belum ditutup, dan usaha hari ini masih menghitung.

Ayat 56:11

أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ

mereka itulah yang didekatkan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَulaa'ika l-muqarrabuunamereka itulah yang didekatkan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  2. الْمُقَرَّبُونَl-muqarrabuunaorang-orang yang didekatkan

Inti bacaan

Kedudukan istimewa golongan terdepan: 'mereka itulah yang didekatkan', kedekatan sebagai bentuk penghargaan tertinggi, menegaskan bahwa pencapaian spiritual sejati diukur dari kedekatan relasional, bukan sekadar ganjaran material.

Penjelasan pilihan kata

Kata tunjuk (أُولَٰئِكَ, ulaa-ika) adalah tunjuk jauh, dan benar diterjemahkan "mereka itulah"; bentuknya sudah dipastikan sebagai kata tunjuk lewat telaah bentuk katanya.

Kata (الْمُقَرَّبُونَ, al-muqarrabuun) muncul 4 kali di 3 surah, yaitu di 4:172, 56:11, 83:21, dan 83:28. Jumlah kemunculannya lebih banyak daripada jumlah surahnya karena surah 83 memuatnya dua kali. Yang perlu diperhatikan adalah tempat pertamanya. Di 4:172 kata ini bukan sebutan bagi manusia melainkan bagi malaikat: "Almasih tidak akan pernah enggan menjadi hamba Allah, begitu pula para malaikat yang paling dekat kepada-Nya." Jadi sebutan yang di sini diberikan kepada golongan terdepan dari manusia adalah sebutan yang di tempat lain menerangkan malaikat yang paling dekat kedudukannya. Bahasa Indonesia menerjemahkan keduanya dengan susunan yang berbeda, sehingga pertautan itu tidak terlihat oleh pembaca terjemahan.

Bentuk katanya penderita, bukan pelaku. Yang dinyatakan bukan mereka mendekat, melainkan mereka didekatkan. Perbedaan ini menentukan seluruh isinya. Kalau bentuknya pelaku, kedekatan itu capaian yang diusahakan dari bawah. Karena bentuknya penderita, kedekatan itu diberikan dari atas. Usaha mereka tetap ada, dan di 56:10 justru laju usaha itu yang dijadikan nama mereka, tetapi hasil akhirnya tidak dinyatakan sebagai buah tangan sendiri.

Ada satu ketegangan halus yang hilang dalam terjemahan. Kata tunjuk yang dipakai adalah tunjuk jauh, yang lazim dipakai untuk sesuatu yang berjarak dari pembicara. Sebutan yang menyusul justru berarti "yang didekatkan". Jadi kalimatnya menunjuk dari kejauhan kepada mereka yang dekat. Dalam bahasa Indonesia "mereka itulah" tidak menyimpan rasa jauh itu sekuat aslinya, sehingga yang tersisa hanya penegasan biasa.

Perlu dicatat pula bahwa rangkaian dua kata ini, tunjuk jauh diikuti sebutan tersebut, tidak dijumpai di ayat lain mana pun; ia hanya ada di 56:11. Dua kata yang masing-masing lazim, tetapi tidak pernah dirangkaikan di tempat lain.

Perlu ditambahkan satu hal tentang akar katanya, yaitu q-r-b. Akar itu memayungi kedekatan dalam arti jarak maupun dalam arti kekerabatan. Yang dipakai di sini bentuk yang menyatakan seseorang didudukkan pada kedekatan itu oleh pihak lain. Bahasa Indonesia "yang didekatkan" sudah tepat memindahkan bentuknya, tetapi ia terdengar seperti keterangan tempat, seolah mereka digeser lebih maju. Dalam teks aslinya yang dimaksud kedudukan, bukan letak. Perbedaannya terasa kalau dibandingkan dengan 56:12 yang justru berbicara tentang tempat: ayat ini menyebut kedudukan, ayat berikutnya menyebut di mana kedudukan itu dijalani.

Tafsiran

Ayat ini menjelaskan golongan pertama, yaitu mereka yang paling dahulu, sebagai mereka yang didekatkan kepada Allah. Ia datang persis sesudah 56:10 yang menyebut mereka tanpa keterangan apa pun. Jadi inilah keterangan pertama yang akhirnya diberikan.

Yang diberikan sebagai balasan adalah kedekatan. Bukan barang, bukan tempat, bukan ganjaran yang bisa dihitung. Ayat sesudahnya baru menyebut taman, dan ayat-ayat sesudah itu menyebut dipan, gelas, dan buah-buahan. Tetapi yang disebut lebih dulu, sebelum semuanya, adalah jaraknya kepada Allah yang dipendekkan.

Susunannya sendiri sudah semacam penilaian. Kalau daftar itu dibalik, kesannya berubah sama sekali: taman lebih dulu lalu kedekatan sebagai tambahan. Dengan susunan seperti sekarang, semua yang menyusul terbaca sebagai keterangan tentang tempat, sementara pokoknya sudah disebut di ayat ini.

Bentuk penderita pada kata sebutannya juga penting bagi cara membaca seluruh surah. Golongan ini dinamai menurut laju di 56:10, seakan seluruhnya soal usaha. Lalu di ayat ini balasannya dinyatakan sebagai sesuatu yang diberikan kepada mereka, bukan yang mereka raih sendiri. Dua ayat berurutan menaruh usaha dan pemberian berdampingan tanpa mempertentangkannya.

Dan sebutan yang dipakai bukan sebutan yang khusus dibuat untuk manusia. Di 4:172 sebutan yang sama menerangkan malaikat yang paling dekat kedudukannya kepada Allah. Menempatkan manusia di bawah sebutan itu, tanpa satu pun kata yang melunakkannya, adalah pernyataan yang jauh lebih besar daripada yang terbaca sepintas.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut upahnya kedekatan, bukan barang. Yang diberikan jarak. Jaraknya dipendekkan.
  • Golongan terdepan diberi keterangan sesingkat itu. Satu kata kerja. Tidak perlu rincian.
  • Frasa mereka itulah menunjuk dari jauh. Allah memakai tunjuk yang berjarak. Yang ditunjuk sudah pergi ke depan.
  • Sebutan yang dipakai di ayat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, tersebar di tiga surah, yaitu di 4:172, 56:11, 83:21, dan 83:28. Yang di 4:172 bukan tentang manusia sama sekali. Di sana Allah memakainya untuk malaikat yang paling dekat kedudukannya kepada-Nya. Jadi sebutan yang di ayat ini diberikan kepada golongan terdepan dari manusia adalah sebutan yang di tempat lain menerangkan malaikat. Tidak ada kata yang melunakkannya, tidak ada keterangan bahwa ini cuma perumpamaan. Bahasa Indonesia menyusun kedua ayat itu dengan cara berbeda, sehingga pertautannya tidak terlihat oleh pembaca terjemahan. Padahal di situlah letak besarnya. Manusia yang berlari lebih dulu ditaruh di bawah sebutan yang sama dengan makhluk yang tidak pernah lalai. Yang dijanjikan ternyata bukan kenaikan derajat sedikit di atas kebiasaan kita, melainkan kedudukan yang selama ini kita bayangkan milik makhluk lain.
  • Bentuk kata sebutannya penderita, bukan pelaku. Yang dinyatakan bukan mereka mendekat, melainkan mereka didekatkan. Perbedaan sekecil itu menentukan seluruh isinya. Kalau bentuknya pelaku, kedekatan itu capaian yang dipanjat dari bawah. Karena bentuknya penderita, kedekatan itu diberikan Allah dari atas. Usaha mereka tidak dihapus; satu ayat sebelumnya justru laju usaha itu yang dijadikan nama mereka. Tapi hasil akhirnya tidak pernah dinyatakan sebagai buah tangan sendiri. Dua ayat berurutan menaruh usaha dan pemberian bersebelahan tanpa mempertentangkan keduanya. Bagi kita yang mudah terjebak antara merasa semua bergantung pada kerja keras sendiri atau merasa usaha tidak ada gunanya, susunan dua ayat ini menolak kedua ujung itu sekaligus. Berlari sekuat tenaga, lalu mengakui bahwa yang menyampaikan kita bukan kaki kita sendiri.
  • Kata tunjuk yang membuka ayat ini adalah tunjuk jauh, yang biasa dipakai untuk sesuatu yang berjarak dari pembicara. Sebutan yang menyusul justru berarti yang didekatkan. Jadi kalimatnya menunjuk dari kejauhan kepada mereka yang dekat. Rangkaian dua kata ini pun tidak dijumpai di ayat lain mana pun. Dalam bahasa Indonesia mereka itulah tidak menyimpan rasa jauh sekuat aslinya, sehingga yang tersisa hanya penegasan biasa. Padahal ketegangan itu berbicara kepada pembaca yang sedang membacanya sekarang. Mereka ditunjuk sebagai yang jauh dari tempat kita berdiri, dan sekaligus disebut sebagai yang paling dekat kepada Allah. Jarak yang mana yang sebenarnya sedang diukur di sini, jarak dari kita atau jarak dari Allah? Kedua jarak itu tidak pernah diukur dengan alat yang sama, dan yang menentukan bukan yang pertama.