وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً
dan kalian menjadi tiga golongan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةًwa-kuntum azwaajan tsalaatsatandan kalian menjadi tiga golongan
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَكُنْتُمْwa-kuntumpadahal kalian adalah
- أَزْوَاجًاazwaajangolongan
- ثَلَاثَةًtsalaatsatantiga
Inti bacaan
Klasifikasi tripartit manusia: 'dan kalian menjadi tiga golongan', pembagian yang jelas dan terstruktur, bukan spektrum samar tanpa batas, dasar bagi kesadaran bahwa pilihan hidup akan berujung pada salah satu dari kategori yang jelas ini.
Penjelasan pilihan kata
Kata (أَزْوَاجًا, azwaajan) muncul 13 kali di 11 surah, antara lain di 2:234, 16:72, 30:21, 35:11, dan 78:8. Surah 20 memuatnya dua kali, di 20:53 dan 20:131, dan itu sebabnya jumlah kemunculannya lebih banyak daripada jumlah surahnya. Di sebagian besar tempat itu artinya pasangan hidup atau berpasang-pasangan, seperti di 30:21 saat Allah menyebut Dia menciptakan pasangan dari diri manusia sendiri agar mereka merasa tenteram, dan di 78:8 saat Dia menyatakan menciptakan manusia berpasang-pasangan.
Hanya di tiga tempat kata itu berarti kelompok atau macam, yaitu di 15:88, 20:53, dan 20:131. Yang di 20:53 menyangkut jenis-jenis tumbuhan. Dua sisanya, 15:88 dan 20:131, hampir sama bunyinya dan dua-duanya tentang golongan manusia yang diberi kenikmatan dunia. Dua ayat itulah pendahulu terdekat bagi pemakaian di sini. Jadi arti yang dipakai 56:7 adalah arti yang jarang, bukan arti yang biasa.
Yang tak terbawa ke bahasa Indonesia adalah akarnya. Akar z-w-j berporos pada keberpasangan, pada dua yang saling melengkapi. Kata itulah yang dipakai untuk menghitung tiga. Sebuah kata yang di dalam dirinya membawa angka dua dipakai untuk menyebut jumlah yang ganjil. Kalau diterjemahkan "golongan", keganjilan itu hilang tanpa jejak, sebab "golongan" dalam bahasa Indonesia tidak membawa muatan pasangan sama sekali. Pembaca teks aslinya mendengar bunyi keberpasangan sambil mendengar angka tiga, dan dua bunyi itu bergesekan.
Gesekan itu tidak sia-sia. Tiga ayat berikutnya menunjukkan bahwa dua dari tiga golongan itu memang berpasangan: kanan di 56:8 dan kiri di 56:9, disusun sejajar dengan bentuk kalimat yang sama persis. Golongan ketiga di 56:10 tidak punya lawan. Ia berdiri tanpa pasangan. Jadi kata yang berakar pada keberpasangan dipakai untuk menghitung dua yang berpasangan ditambah satu yang tidak. Susunannya sendiri sudah menerangkan mengapa kata itu yang dipilih.
Bentuk (كُنْتُمْ, kuntum) juga lampau, sama seperti kata kerja di 56:6. Dua ayat berturut-turut menuturkan yang belum terjadi seolah sudah lewat. Dan sapaannya berpindah. Enam ayat sebelumnya berbicara tentang bumi dan gunung, tanpa menunjuk siapa pun. Di sini kata gantinya tiba-tiba menjadi "kalian". Pembaca yang tadi menonton dari kejauhan mendadak dimasukkan ke dalam gambar.
Kata (ثَلَاثَةً, tsalaatsatan) hadir di sini dalam bentuk yang mengikuti kata sebelumnya, sebagai keterangan jumlah bagi azwaajan, bukan sebagai bilangan yang berdiri sendiri. Susunannya rapat: satu kata benda jamak lalu satu bilangan, tanpa penghubung apa pun di antaranya. Bahasa Indonesia harus menambahkan kata "menjadi" supaya kalimatnya bisa berdiri, dan kata tambahan itu memunculkan kesan proses yang tidak ada dalam susunan aslinya. Dalam teks aslinya tidak ada perubahan bertahap; yang ada hanya pernyataan keadaan.
Tafsiran
Ayat ini beralih ke pembagian manusia pada hari itu menjadi tiga golongan. Peralihannya tajam. Enam ayat sebelumnya seluruhnya tentang alam: peristiwa yang datang, bumi yang diguncang, gunung yang jadi debu. Tidak ada manusia di dalamnya. Lalu satu ayat pendek memindahkan seluruh perhatian, dan yang dibicarakan bukan lagi manusia pada umumnya melainkan "kalian".
Tiga, bukan dua. Ini yang perlu dicatat baik-baik. Cara paling lazim manusia membagi sesamanya adalah dua: baik dan buruk, benar dan salah, kawan dan lawan. Pembagian dua itu nyaman karena mudah dipakai, dan berbahaya karena mudah dipakai untuk diri sendiri. Orang yang membagi dunia jadi dua hampir selalu menaruh dirinya di sisi yang benar. Dengan tiga, kepastian itu goyah. Ada kemungkinan ketiga yang tidak masuk hitungan siapa pun sebelumnya.
Dan ketiganya belum dijelaskan di sini. Ayat ini hanya menyebut jumlahnya. Isi masing-masing baru dibuka di 56:8, 56:9, dan 56:10, lalu dirinci panjang lebar mulai 56:11 sampai hampir seluruh sisa surah. Menahan keterangan seperti ini punya akibat pada pembaca: begitu mendengar angka tiga, orang mulai menimbang dirinya sendiri sebelum tahu ketiganya apa. Pertanyaan yang muncul lebih dulu bukan "apa saja golongannya" melainkan "saya yang mana".
Bahwa pembagian ini disebut sesudah gunung dihancurkan juga bermakna. Pada saat semua penanda luar sudah lenyap, yang tersisa untuk membedakan manusia bukan lagi wilayah, harta, atau kedudukan. Yang tersisa hanya golongan yang ditetapkan pada hari itu, dan penetapannya tidak berdasarkan apa pun yang bisa disusun manusia sesudah peristiwanya datang.
Renungan dan Hikmah
- Allah membagi manusia menjadi tiga, bukan dua. Bukan hitam putih. Tiga.
- Pembagian itu disebut sesudah bumi diguncang. Yang tadi kosmik. Yang ini manusia.
- Ketiga golongan itu dirinci Allah di ayat-ayat berikutnya. Di sini baru jumlahnya. Isinya menyusul.
- Kata yang dipakai Allah di sini berakar pada keberpasangan, pada dua yang saling melengkapi. Kata itu juga yang dipakai untuk pasangan hidup di 30:21 dan untuk manusia yang diciptakan berpasang-pasangan di 78:8. Tapi di ayat ini ia dipakai untuk menghitung tiga. Sebuah kata yang membawa angka dua di dalam dirinya dipakai menyebut jumlah ganjil. Dan itu bukan kejanggalan yang tak disengaja. Dua dari tiga golongan memang berpasangan, kanan dan kiri, disusun sejajar dengan bentuk kalimat yang sama persis di 56:8 dan 56:9. Golongan ketiga di 56:10 tidak punya lawan. Ia sendirian. Jadi kata berakar pasangan itu tepat menggambarkan dua yang berpasangan ditambah satu yang tidak. Kalau diterjemahkan golongan saja, seluruh ketelitian itu lenyap. Ketelitian itu bukan hiasan bahasa. Ia menyimpan keterangan tentang bentuk pembagiannya sebelum pembagian itu dijelaskan.
- Cara paling lazim manusia membagi sesamanya adalah dua. Baik dan buruk. Kawan dan lawan. Kita dan mereka. Pembagian dua itu nyaman karena gampang dipakai, dan justru berbahaya karena gampang dipakai untuk diri sendiri. Orang yang membelah dunia jadi dua hampir selalu menempatkan dirinya di sisi yang benar. Allah membaginya tiga. Begitu ada kemungkinan ketiga, kepastian tadi goyah. Sebab yang ketiga ini bukan penengah dan bukan yang setengah-setengah; ia justru yang paling depan. Artinya ada tingkatan di atas tempat yang selama ini kita anggap sudah cukup baik. Kalau pembagiannya cuma dua, siapa pun yang merasa bukan orang jahat sudah bisa tenang. Dengan tiga, ketenangan itu perlu ditanyakan lagi. Kita ini yang mana? Pertanyaan itu tidak dijawab di ayat ini, dan penundaannya disengaja. Kita dibiarkan menimbang diri sendiri lebih dulu.
- Enam ayat pertama surah ini tidak menyebut manusia sama sekali. Semuanya tentang peristiwa yang datang, bumi yang diguncang, gunung yang jadi debu beterbangan. Pembaca boleh menyimak dari kejauhan seperti menonton sesuatu yang jauh dari dirinya. Di ayat ini kata gantinya mendadak berubah menjadi kalian. Allah menarik pembaca masuk ke dalam gambar yang tadi ia tonton. Perpindahan sapaan seperti ini punya akibat yang nyata saat dibaca berurutan. Yang tadinya kabar tentang alam semesta seketika menjadi kabar tentang orang yang sedang membacanya. Dan sapaan itu datang persis di kalimat yang menyebut penggolongan, bukan di kalimat yang menyebut kehancuran. Yang perlu dirisaukan bukan gunungnya, melainkan kedudukan kita saat gunung itu jatuh. Sebab gunung tidak sedang ditanyai apa pun. Yang ditanyai hanya yang disapa dengan kata kalian.