Ayat 56:8
فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ
maka golongan kanan, alangkah golongan kanan!
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِfa-ashaabu l-maymanatimaka, golongan kanan
- مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِmaa ash-haabu l-maymanatialangkah golongan kanan
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَأَصْحَابُfa-ashaabumaka penghuni
- الْمَيْمَنَةِl-maymanatisebelah kanan
- مَاmaaalangkah
- أَصْحَابُash-haabupenghuni
- الْمَيْمَنَةِl-maymanatisebelah kanan
Inti bacaan
Golongan pertama yang diberkati: 'golongan kanan, alangkah (mulia) golongan kanan itu', seruan kekaguman yang menegaskan bahwa status ini adalah pencapaian yang patut diperjuangkan, bukan hasil kebetulan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan "(mulia)" tidak dipakai: susunan seru (مَا, maa) sengaja dibiarkan terbuka tanpa menyebut sifat spesifik, membangun ketegangan yang baru dijelaskan ayat-ayat berikutnya. Kata "itu" juga dihapus: frasa (أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ, ashhaabul maymanati) hanya diulang persis, bukan dirujuk dengan demonstratif.
Rangkaian ashhaabul maymanati muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:8 dan 90:18. Dua tempat itu memakainya dengan urutan yang terbalik. Di 90:18 sebutan itu datang sesudah keterangannya: 90:17 lebih dulu melukiskan mereka yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta memberi rahmat, baru sesudah itu dikatakan bahwa merekalah golongan kanan. Di sini kebalikannya. Sebutannya diucapkan lebih dulu, dan siapa mereka baru dibuka jauh sesudahnya, mulai 56:27. Pembaca surah 90 diberi tahu perbuatannya lalu diberi tahu namanya. Pembaca surah ini diberi tahu namanya lalu dibiarkan menunggu perbuatannya.
Susunan seru (مَا أَصْحَابُ, maa ashhaabu) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:8, 56:9, 56:27, dan 56:41. Keempatnya berada di surah ini, dan tidak ada satu pun di luar surah ini. Itu sebabnya jumlah kemunculannya empat sementara surahnya hanya satu. Dua yang pertama ada di ayat pengenalan, dua sisanya muncul lagi saat kedua golongan itu dirinci. Jadi surah ini menyerukan nama keduanya dua kali masing-masing, sekali saat memperkenalkan dan sekali saat menguraikan.
Kata maa pada dasarnya kata tanya. Dipakai begini ia berubah jadi seruan, dan yang menjadikannya bertenaga justru bagian yang tidak diucapkan. Kalimatnya tidak diselesaikan. Tidak ada sifat yang menyusul, tidak ada penjelasan apa yang mengagumkan. Bahasa Indonesia tidak punya bentuk yang menggantung seperti itu, jadi "alangkah" terpaksa berdiri sendiri dan terdengar kurang lengkap. Dalam teks aslinya rasa kurang lengkap itu bukan kekurangan, melainkan yang dituju.
Nama golongan ini juga berganti di dalam surah yang sama. Di sini dipakai (الْمَيْمَنَةِ, al-maymanati), dan di 56:27 dipakai (الْيَمِينِ, al-yamiini). Keduanya berakar y-m-n, tetapi yang pertama menunjuk sisi atau tempat sebelah kanan sekaligus membawa arti keberkahan, sedangkan yang kedua menunjuk tangan kanannya sendiri. Bahasa Indonesia memakai satu kata "kanan" untuk dua-duanya, sehingga pergantian sebutan di dalam satu surah itu tidak terlihat sama sekali oleh pembaca terjemahan.
Perlu dicatat juga bahwa sebutan ini tidak diawali kata penunjuk. Di 90:18 ada kata penunjuk (أُولَٰئِكَ, ulaa-ika) yang merujuk balik kepada orang-orang yang baru dilukiskan. Di sini tidak ada rujukan balik sama sekali, sebab belum ada siapa pun yang dilukiskan untuk dirujuk. Sebutannya berdiri tanpa sandaran, dan itu memang yang dikehendaki susunannya.
Tafsiran
Ayat ini membuka golongan pertama: mereka yang catatan amalnya diterima dengan tangan kanan. Ia dibuka dengan huruf penyambung, yang mengaitkannya langsung dengan penyebutan tiga golongan di ayat sebelumnya. Jadi ini bukan pokok baru melainkan perincian dari yang barusan diumumkan.
Yang menonjol adalah cara memperkenalkannya. Allah tidak menerangkan siapa mereka. Ia menyebut namanya, lalu menyerukan namanya sekali lagi, dan berhenti. Tidak ada sifat, tidak ada perbuatan, tidak ada ganjaran. Hanya nama yang diulang. Sebuah pengenalan yang secara keterangan hampir kosong tetapi secara rasa sangat penuh.
Cara ini bekerja karena menahan. Orang yang mendengar seruan tanpa lanjutan akan mengisinya sendiri. Ketegangan yang terbangun bukan datang dari apa yang disebutkan, melainkan dari apa yang ditunda. Dan penundaannya panjang: perinciannya baru sampai di 56:27 dan seterusnya, sesudah golongan yang lain lebih dulu disinggung.
Ada juga soal urutan. Golongan kanan disebut lebih dulu daripada golongan kiri, dan keduanya disebut sebelum golongan yang paling depan di 56:10. Urutan penyebutan tidak selalu urutan kedudukan. Di sini yang disebut terakhir justru yang tertinggi, dan surah membiarkan pembaca menemukan itu sendiri satu ayat kemudian.
Bagi pembaca, pengenalan yang ditahan seperti ini menimbulkan satu akibat sederhana. Karena tidak diberi tahu apa yang membuat mereka disebut demikian, orang tidak bisa buru-buru mencocokkan dirinya. Ia harus membaca terus.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyeru tanpa menyebutkan apa yang mengagumkan. Alangkah. Kalimatnya sengaja dibiarkan menggantung.
- Sebutan yang sama diulang dua kali dalam satu baris. Golongan kanan, golongan kanan. Pengulangan itu yang membawa seluruh tenaganya.
- Allah menyebut mereka lebih dahulu daripada golongan yang lain. Yang pertama dari tiga. Urutannya sendiri sudah keterangan.
- Sebutan golongan kanan cuma muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 90:18. Dua tempat itu menyusunnya secara terbalik. Di 90:18 keterangannya datang lebih dulu: 90:17 melukiskan mereka yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta memberi rahmat, baru sesudah itu Allah menyebutkan bahwa merekalah golongan kanan. Di sini justru namanya yang diucapkan lebih dulu, dan siapa mereka baru dibuka mulai 56:27. Satu menerangkan lalu menamai, satu menamai lalu menerangkan. Bagi pembaca akibatnya berbeda. Yang pertama mengajak menakar perbuatan sendiri terhadap ukuran yang sudah jelas. Yang kedua menaruh nama yang belum berisi di hadapan kita, lalu membiarkan kita menunggu untuk tahu apakah nama itu bisa jadi nama kita. Nama yang belum berisi itu memaksa satu pertanyaan lebih dulu: kalau kita disebut hari ini, kita masuk ke sebutan yang mana?
- Susunan seru yang dipakai ayat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, di 56:8, 56:9, 56:27, dan 56:41. Keempatnya berada di dalam surah ini saja, tidak satu pun di luar. Dua di ayat pengenalan, dua lagi saat kedua golongan itu diuraikan. Jadi Allah menyerukan nama masing-masing dua kali: sekali saat memperkenalkan, sekali saat menguraikan. Pengulangan berjarak seperti itu bekerja seperti orang yang menyebut sesuatu di awal cerita lalu menyebutnya lagi persis ketika hendak menjelaskannya. Dan seruan itu tidak pernah diselesaikan kalimatnya. Tidak ada sifat yang menyusul. Yang membuatnya bertenaga justru bagian yang sengaja tidak diucapkan. Apa yang kita bayangkan sendiri sering lebih menggetarkan daripada yang bisa dirinci. Menahan keterangan ternyata cara mengajar yang tidak kalah kuat daripada memberikannya.
- Sebutan yang dipakai di ayat ini bukan sebutan yang dipakai surah ini seterusnya. Di sini golongan itu dinamai dengan kata yang menunjuk sisi kanan sekaligus membawa arti keberkahan. Di 56:27 Allah menggantinya dengan kata yang menunjuk tangan kanannya sendiri. Dua kata itu seakar, tapi tidak sama. Bahasa Indonesia memakai satu kata kanan untuk keduanya, sehingga pergantian di dalam satu surah itu sama sekali tak terlihat oleh pembaca terjemahan. Padahal pergantiannya berbicara. Saat baru diperkenalkan, yang ditonjolkan keberkahannya. Saat dirinci nanti, yang ditonjolkan tanda lahiriahnya, yaitu tangan yang menerima catatan. Berkahnya disebut lebih dulu, tandanya menyusul. Apa yang membuat seseorang masuk ke sana didahulukan atas bagaimana ia terlihat di sana. Urutan penyebutan itu sendiri semacam nasihat tentang apa yang mesti diutamakan.
Ayat 56:9
وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ
dan golongan kiri, alangkah golongan kiri!
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِwa-ashaabu l-masy'amatidan golongan kiri
- مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِmaa ash-haabu l-masy'amatialangkah golongan kiri
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَأَصْحَابُwa-ashaabudan penghuni
- الْمَشْأَمَةِl-masy'amatisebelah kiri
- مَاmaaalangkah
- أَصْحَابُash-haabupenghuni
- الْمَشْأَمَةِl-masy'amatisebelah kiri
Inti bacaan
Golongan kedua yang merugi: 'golongan kiri, alangkah (sengsara) golongan kiri itu', kontras tegas dengan golongan sebelumnya, pengingat akan konsekuensi nyata dari pilihan hidup yang mengarah pada kategori ini.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan "(sengsara)" tidak dipakai, konsisten pola 56:8. Kata "itu" juga dihapus dengan alasan yang sama.
Rangkaian (أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ, ashhaabul masy-amati) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:9 dan 90:19. Angka itu sama persis dengan angka pasangannya di ayat sebelumnya, dan tempatnya pun sama: golongan kanan ada di 56:8 dan 90:18, golongan kiri ada di 56:9 dan 90:19. Jadi kedua sebutan ini hanya hidup di dua surah, selalu berdampingan, dan tidak pernah satu pun muncul tanpa yang lain. Keduanya seperti sepasang kata yang tidak bisa dipisahkan dari tempatnya.
Kendati begitu, cara kedua surah memakainya berbeda. Di 90:19 sebutan ini melekat pada keterangan yang sudah lengkap, yaitu mereka yang kufur pada tanda-tanda Allah, dan ayat sesudahnya langsung menyebut api yang tertutup rapat. Di sini tidak ada apa pun yang dilekatkan. Namanya diucapkan, diserukan sekali lagi, lalu berhenti. Perinciannya baru datang di 56:41 dan sesudahnya.
Kata (الْمَشْأَمَةِ, al-masy-amati) berakar sy-'-m. Akar itu menunjuk sisi kiri, dan dalam pemakaian bahasa Arab ia juga membawa rasa kemalangan. Pasangannya di ayat sebelumnya, al-maymanati, berjalan serupa dari arah sebaliknya: menunjuk sisi kanan sekaligus membawa rasa keberkahan. Jadi dua nama ini tidak sekadar menunjuk arah. Masing-masing sudah memuat nasibnya di dalam namanya, sebelum satu pun keterangan diberikan. Bahasa Indonesia menerjemahkan keduanya "kanan" dan "kiri", dan muatan nasib itu tidak ikut terbawa. Pembaca terjemahan menerima dua penunjuk arah yang netral, sementara pembaca teks aslinya sudah mendengar putusannya di dalam sebutannya sendiri.
Nama ini pun berganti di tengah surah, seperti pasangannya. Di 56:41 golongan yang sama disebut dengan (الشِّمَالِ, asy-syimaali), kata yang lazim dipakai untuk kiri tanpa muatan kemalangan itu. Satu perbedaan kecil lagi ada di huruf pembukanya. 56:8 dibuka dengan huruf yang menyatakan urutan akibat, sedangkan ayat ini dibuka dengan huruf penyambung biasa. Yang pertama menyambung dari pembagian tiga golongan sebagai rinciannya yang pertama; yang kedua sekadar menderetkan yang berikutnya.
Ada satu hal lagi yang hilang dalam terjemahan. Kedua sebutan ini dibentuk dengan pola kata yang sama dalam bahasa Arab, sehingga saat dibaca berurutan bunyinya bersajak dan saling menjawab. Kesejajaran bunyinya menguatkan kesejajaran nasibnya yang berlawanan. Dalam bahasa Indonesia "golongan kanan" dan "golongan kiri" tidak memiliki pertalian bunyi apa pun, sehingga yang tersisa hanya perbedaan artinya, tanpa gema yang mengikatnya.
Tafsiran
Ayat ini membuka golongan kedua: mereka yang catatan amalnya diterima dengan tangan kiri. Bentuk kalimatnya disusun sama persis dengan ayat sebelumnya. Sebutan, lalu seruan atas sebutan yang sama, lalu berhenti. Tidak ada yang ditambahkan pada salah satunya untuk membedakan.
Kesejajaran bentuk itu sendiri bermakna. Dua golongan yang nasibnya berlawanan diperkenalkan dengan susunan kalimat yang identik. Tidak ada yang diperpanjang, tidak ada yang dipersingkat, tidak ada nada yang dinaikkan pada salah satunya. Keadilan penyebutannya terasa pada bentuknya sebelum terasa pada isinya.
Yang membedakan hanya namanya. Dan di dalam bahasa Arab, nama itu sudah cukup. Sebutan bagi golongan ini membawa rasa kemalangan di dalam akar katanya, sebagaimana sebutan bagi golongan sebelumnya membawa rasa keberkahan. Jadi dua ayat yang berbentuk sama persis sebenarnya sudah menyampaikan dua nasib yang berlawanan, tanpa satu pun kata sifat ditambahkan.
Seruan yang dibiarkan menggantung terasa berbeda di sini. Pada golongan kanan, ruang kosong sesudah kata seru itu diisi harapan oleh siapa pun yang membacanya. Pada golongan kiri, ruang kosong yang sama diisi kekhawatiran. Kata serunya tidak berubah, yang berubah nama yang mendahuluinya, dan pembaca sendiri yang menyediakan isinya.
Perlu dicatat bahwa sampai di sini surah belum menyebut satu pun perbuatan yang menempatkan seseorang di golongan mana pun. Baru nama, baru pembagian. Perbuatan menyusul jauh kemudian, dan jarak itu memberi pembaca waktu untuk bertanya sebelum diberi jawaban.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut namanya dua kali dalam satu ayat. Golongan kiri. Lalu diulang.
- Kata alangkah dipakai tanpa dilengkapi. Sifatnya tidak disebut. Yang kosong justru mencekam.
- Bentuknya sejajar dengan golongan sebelumnya. Allah memakai susunan yang sama. Isinya berlawanan.
- Sebutan golongan kiri muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di 56:9 dan 90:19. Angkanya sama persis dengan pasangannya, dan tempatnya pun berpasangan: golongan kanan di 56:8 dan 90:18, golongan kiri di 56:9 dan 90:19. Jadi dua sebutan ini cuma hidup di dua surah, selalu bersebelahan, dan tidak pernah salah satunya muncul tanpa yang lain. Allah tidak pernah menyebut yang satu sendirian. Ada sesuatu yang jujur dalam susunan seperti itu. Kabar gembira dan kabar buruk selalu disampaikan berdampingan, tidak pernah dipisah supaya salah satunya lebih mudah diterima. Kita kerap memilih hanya mendengar satu sisi, entah yang menenangkan saja atau yang menakutkan saja. Teksnya sendiri menolak dipenggal seperti itu. Yang mau kita dengar dan yang enggan kita dengar datang dalam satu tarikan napas, dan tidak disediakan pintu untuk mengambil salah satunya saja.
- Akar kata untuk sebutan golongan ini menunjuk sisi kiri, dan dalam bahasa Arab ia sekaligus membawa rasa kemalangan. Pasangannya di ayat sebelumnya berjalan serupa dari arah sebaliknya, menunjuk sisi kanan sekaligus membawa rasa keberkahan. Jadi kedua nama ini bukan sekadar penunjuk arah. Masing-masing sudah memuat nasibnya di dalam sebutannya sendiri, sebelum satu keterangan pun diberikan Allah. Bahasa Indonesia menerjemahkannya kanan dan kiri, dua penunjuk arah yang netral, dan muatan nasib itu tidak ikut terbawa. Pembaca terjemahan menerima dua arah yang setara; pembaca teks aslinya sudah mendengar putusannya di dalam namanya. Inilah salah satu tempat di mana terjemahan yang paling tepat sekalipun tetap kehilangan sesuatu yang penting. Karena itu membaca terjemahan saja tidak cukup untuk merasakan beratnya, sekalipun artinya sudah tersampaikan dengan benar.
- Dua golongan yang nasibnya bertolak belakang diperkenalkan Allah dengan susunan kalimat yang sama persis. Tidak ada yang diperpanjang, tidak ada yang dipersingkat, tidak ada nada yang ditinggikan pada salah satunya. Keadilan penyebutannya terasa pada bentuknya sebelum terasa pada isinya. Seruan yang dibiarkan menggantung itu pun tidak berubah bunyinya. Yang berubah cuma nama yang mendahuluinya, dan pembaca sendiri yang menyediakan isi ruang kosongnya. Pada golongan sebelumnya orang mengisinya dengan harapan; di sini orang mengisinya dengan kekhawatiran. Padahal katanya sama. Ini menunjukkan sesuatu tentang cara kita membaca. Sebagian besar rasa yang kita alami saat membaca ayat tidak datang dari kata-katanya, melainkan dari apa yang kita bawa sendiri ke hadapannya. Kita ini sedang mengisinya dengan apa? Menyadari itu mengubah cara kita menilai ketenangan yang kita rasakan saat membaca ayat tentang keselamatan.