فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ

maka golongan kanan, alangkah golongan kanan!

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِfa-ashaabu l-maymanatimaka, golongan kanan
  2. مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِmaa ash-haabu l-maymanatialangkah golongan kanan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فَأَصْحَابُfa-ashaabumaka penghuni
  2. الْمَيْمَنَةِl-maymanatisebelah kanan
  3. مَاmaaalangkah
  4. أَصْحَابُash-haabupenghuni
  5. الْمَيْمَنَةِl-maymanatisebelah kanan

Inti bacaan

Golongan pertama yang diberkati: 'golongan kanan, alangkah (mulia) golongan kanan itu', seruan kekaguman yang menegaskan bahwa status ini adalah pencapaian yang patut diperjuangkan, bukan hasil kebetulan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan "(mulia)" tidak dipakai: susunan seru (مَا, maa) sengaja dibiarkan terbuka tanpa menyebut sifat spesifik, membangun ketegangan yang baru dijelaskan ayat-ayat berikutnya. Kata "itu" juga dihapus: frasa (أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ, ashhaabul maymanati) hanya diulang persis, bukan dirujuk dengan demonstratif.

Rangkaian ashhaabul maymanati muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:8 dan 90:18. Dua tempat itu memakainya dengan urutan yang terbalik. Di 90:18 sebutan itu datang sesudah keterangannya: 90:17 lebih dulu melukiskan mereka yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta memberi rahmat, baru sesudah itu dikatakan bahwa merekalah golongan kanan. Di sini kebalikannya. Sebutannya diucapkan lebih dulu, dan siapa mereka baru dibuka jauh sesudahnya, mulai 56:27. Pembaca surah 90 diberi tahu perbuatannya lalu diberi tahu namanya. Pembaca surah ini diberi tahu namanya lalu dibiarkan menunggu perbuatannya.

Susunan seru (مَا أَصْحَابُ, maa ashhaabu) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:8, 56:9, 56:27, dan 56:41. Keempatnya berada di surah ini, dan tidak ada satu pun di luar surah ini. Itu sebabnya jumlah kemunculannya empat sementara surahnya hanya satu. Dua yang pertama ada di ayat pengenalan, dua sisanya muncul lagi saat kedua golongan itu dirinci. Jadi surah ini menyerukan nama keduanya dua kali masing-masing, sekali saat memperkenalkan dan sekali saat menguraikan.

Kata maa pada dasarnya kata tanya. Dipakai begini ia berubah jadi seruan, dan yang menjadikannya bertenaga justru bagian yang tidak diucapkan. Kalimatnya tidak diselesaikan. Tidak ada sifat yang menyusul, tidak ada penjelasan apa yang mengagumkan. Bahasa Indonesia tidak punya bentuk yang menggantung seperti itu, jadi "alangkah" terpaksa berdiri sendiri dan terdengar kurang lengkap. Dalam teks aslinya rasa kurang lengkap itu bukan kekurangan, melainkan yang dituju.

Nama golongan ini juga berganti di dalam surah yang sama. Di sini dipakai (الْمَيْمَنَةِ, al-maymanati), dan di 56:27 dipakai (الْيَمِينِ, al-yamiini). Keduanya berakar y-m-n, tetapi yang pertama menunjuk sisi atau tempat sebelah kanan sekaligus membawa arti keberkahan, sedangkan yang kedua menunjuk tangan kanannya sendiri. Bahasa Indonesia memakai satu kata "kanan" untuk dua-duanya, sehingga pergantian sebutan di dalam satu surah itu tidak terlihat sama sekali oleh pembaca terjemahan.

Perlu dicatat juga bahwa sebutan ini tidak diawali kata penunjuk. Di 90:18 ada kata penunjuk (أُولَٰئِكَ, ulaa-ika) yang merujuk balik kepada orang-orang yang baru dilukiskan. Di sini tidak ada rujukan balik sama sekali, sebab belum ada siapa pun yang dilukiskan untuk dirujuk. Sebutannya berdiri tanpa sandaran, dan itu memang yang dikehendaki susunannya.

Tafsiran

Ayat ini membuka golongan pertama: mereka yang catatan amalnya diterima dengan tangan kanan. Ia dibuka dengan huruf penyambung, yang mengaitkannya langsung dengan penyebutan tiga golongan di ayat sebelumnya. Jadi ini bukan pokok baru melainkan perincian dari yang barusan diumumkan.

Yang menonjol adalah cara memperkenalkannya. Allah tidak menerangkan siapa mereka. Ia menyebut namanya, lalu menyerukan namanya sekali lagi, dan berhenti. Tidak ada sifat, tidak ada perbuatan, tidak ada ganjaran. Hanya nama yang diulang. Sebuah pengenalan yang secara keterangan hampir kosong tetapi secara rasa sangat penuh.

Cara ini bekerja karena menahan. Orang yang mendengar seruan tanpa lanjutan akan mengisinya sendiri. Ketegangan yang terbangun bukan datang dari apa yang disebutkan, melainkan dari apa yang ditunda. Dan penundaannya panjang: perinciannya baru sampai di 56:27 dan seterusnya, sesudah golongan yang lain lebih dulu disinggung.

Ada juga soal urutan. Golongan kanan disebut lebih dulu daripada golongan kiri, dan keduanya disebut sebelum golongan yang paling depan di 56:10. Urutan penyebutan tidak selalu urutan kedudukan. Di sini yang disebut terakhir justru yang tertinggi, dan surah membiarkan pembaca menemukan itu sendiri satu ayat kemudian.

Bagi pembaca, pengenalan yang ditahan seperti ini menimbulkan satu akibat sederhana. Karena tidak diberi tahu apa yang membuat mereka disebut demikian, orang tidak bisa buru-buru mencocokkan dirinya. Ia harus membaca terus.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyeru tanpa menyebutkan apa yang mengagumkan. Alangkah. Kalimatnya sengaja dibiarkan menggantung.
  • Sebutan yang sama diulang dua kali dalam satu baris. Golongan kanan, golongan kanan. Pengulangan itu yang membawa seluruh tenaganya.
  • Allah menyebut mereka lebih dahulu daripada golongan yang lain. Yang pertama dari tiga. Urutannya sendiri sudah keterangan.
  • Sebutan golongan kanan cuma muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 90:18. Dua tempat itu menyusunnya secara terbalik. Di 90:18 keterangannya datang lebih dulu: 90:17 melukiskan mereka yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta memberi rahmat, baru sesudah itu Allah menyebutkan bahwa merekalah golongan kanan. Di sini justru namanya yang diucapkan lebih dulu, dan siapa mereka baru dibuka mulai 56:27. Satu menerangkan lalu menamai, satu menamai lalu menerangkan. Bagi pembaca akibatnya berbeda. Yang pertama mengajak menakar perbuatan sendiri terhadap ukuran yang sudah jelas. Yang kedua menaruh nama yang belum berisi di hadapan kita, lalu membiarkan kita menunggu untuk tahu apakah nama itu bisa jadi nama kita. Nama yang belum berisi itu memaksa satu pertanyaan lebih dulu: kalau kita disebut hari ini, kita masuk ke sebutan yang mana?
  • Susunan seru yang dipakai ayat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, di 56:8, 56:9, 56:27, dan 56:41. Keempatnya berada di dalam surah ini saja, tidak satu pun di luar. Dua di ayat pengenalan, dua lagi saat kedua golongan itu diuraikan. Jadi Allah menyerukan nama masing-masing dua kali: sekali saat memperkenalkan, sekali saat menguraikan. Pengulangan berjarak seperti itu bekerja seperti orang yang menyebut sesuatu di awal cerita lalu menyebutnya lagi persis ketika hendak menjelaskannya. Dan seruan itu tidak pernah diselesaikan kalimatnya. Tidak ada sifat yang menyusul. Yang membuatnya bertenaga justru bagian yang sengaja tidak diucapkan. Apa yang kita bayangkan sendiri sering lebih menggetarkan daripada yang bisa dirinci. Menahan keterangan ternyata cara mengajar yang tidak kalah kuat daripada memberikannya.
  • Sebutan yang dipakai di ayat ini bukan sebutan yang dipakai surah ini seterusnya. Di sini golongan itu dinamai dengan kata yang menunjuk sisi kanan sekaligus membawa arti keberkahan. Di 56:27 Allah menggantinya dengan kata yang menunjuk tangan kanannya sendiri. Dua kata itu seakar, tapi tidak sama. Bahasa Indonesia memakai satu kata kanan untuk keduanya, sehingga pergantian di dalam satu surah itu sama sekali tak terlihat oleh pembaca terjemahan. Padahal pergantiannya berbicara. Saat baru diperkenalkan, yang ditonjolkan keberkahannya. Saat dirinci nanti, yang ditonjolkan tanda lahiriahnya, yaitu tangan yang menerima catatan. Berkahnya disebut lebih dulu, tandanya menyusul. Apa yang membuat seseorang masuk ke sana didahulukan atas bagaimana ia terlihat di sana. Urutan penyebutan itu sendiri semacam nasihat tentang apa yang mesti diutamakan.