وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ
dan golongan kiri, alangkah golongan kiri!
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِwa-ashaabu l-masy'amatidan golongan kiri
- مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِmaa ash-haabu l-masy'amatialangkah golongan kiri
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَأَصْحَابُwa-ashaabudan penghuni
- الْمَشْأَمَةِl-masy'amatisebelah kiri
- مَاmaaalangkah
- أَصْحَابُash-haabupenghuni
- الْمَشْأَمَةِl-masy'amatisebelah kiri
Inti bacaan
Golongan kedua yang merugi: 'golongan kiri, alangkah (sengsara) golongan kiri itu', kontras tegas dengan golongan sebelumnya, pengingat akan konsekuensi nyata dari pilihan hidup yang mengarah pada kategori ini.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan "(sengsara)" tidak dipakai, konsisten pola 56:8. Kata "itu" juga dihapus dengan alasan yang sama.
Rangkaian (أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ, ashhaabul masy-amati) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:9 dan 90:19. Angka itu sama persis dengan angka pasangannya di ayat sebelumnya, dan tempatnya pun sama: golongan kanan ada di 56:8 dan 90:18, golongan kiri ada di 56:9 dan 90:19. Jadi kedua sebutan ini hanya hidup di dua surah, selalu berdampingan, dan tidak pernah satu pun muncul tanpa yang lain. Keduanya seperti sepasang kata yang tidak bisa dipisahkan dari tempatnya.
Kendati begitu, cara kedua surah memakainya berbeda. Di 90:19 sebutan ini melekat pada keterangan yang sudah lengkap, yaitu mereka yang kufur pada tanda-tanda Allah, dan ayat sesudahnya langsung menyebut api yang tertutup rapat. Di sini tidak ada apa pun yang dilekatkan. Namanya diucapkan, diserukan sekali lagi, lalu berhenti. Perinciannya baru datang di 56:41 dan sesudahnya.
Kata (الْمَشْأَمَةِ, al-masy-amati) berakar sy-'-m. Akar itu menunjuk sisi kiri, dan dalam pemakaian bahasa Arab ia juga membawa rasa kemalangan. Pasangannya di ayat sebelumnya, al-maymanati, berjalan serupa dari arah sebaliknya: menunjuk sisi kanan sekaligus membawa rasa keberkahan. Jadi dua nama ini tidak sekadar menunjuk arah. Masing-masing sudah memuat nasibnya di dalam namanya, sebelum satu pun keterangan diberikan. Bahasa Indonesia menerjemahkan keduanya "kanan" dan "kiri", dan muatan nasib itu tidak ikut terbawa. Pembaca terjemahan menerima dua penunjuk arah yang netral, sementara pembaca teks aslinya sudah mendengar putusannya di dalam sebutannya sendiri.
Nama ini pun berganti di tengah surah, seperti pasangannya. Di 56:41 golongan yang sama disebut dengan (الشِّمَالِ, asy-syimaali), kata yang lazim dipakai untuk kiri tanpa muatan kemalangan itu. Satu perbedaan kecil lagi ada di huruf pembukanya. 56:8 dibuka dengan huruf yang menyatakan urutan akibat, sedangkan ayat ini dibuka dengan huruf penyambung biasa. Yang pertama menyambung dari pembagian tiga golongan sebagai rinciannya yang pertama; yang kedua sekadar menderetkan yang berikutnya.
Ada satu hal lagi yang hilang dalam terjemahan. Kedua sebutan ini dibentuk dengan pola kata yang sama dalam bahasa Arab, sehingga saat dibaca berurutan bunyinya bersajak dan saling menjawab. Kesejajaran bunyinya menguatkan kesejajaran nasibnya yang berlawanan. Dalam bahasa Indonesia "golongan kanan" dan "golongan kiri" tidak memiliki pertalian bunyi apa pun, sehingga yang tersisa hanya perbedaan artinya, tanpa gema yang mengikatnya.
Tafsiran
Ayat ini membuka golongan kedua: mereka yang catatan amalnya diterima dengan tangan kiri. Bentuk kalimatnya disusun sama persis dengan ayat sebelumnya. Sebutan, lalu seruan atas sebutan yang sama, lalu berhenti. Tidak ada yang ditambahkan pada salah satunya untuk membedakan.
Kesejajaran bentuk itu sendiri bermakna. Dua golongan yang nasibnya berlawanan diperkenalkan dengan susunan kalimat yang identik. Tidak ada yang diperpanjang, tidak ada yang dipersingkat, tidak ada nada yang dinaikkan pada salah satunya. Keadilan penyebutannya terasa pada bentuknya sebelum terasa pada isinya.
Yang membedakan hanya namanya. Dan di dalam bahasa Arab, nama itu sudah cukup. Sebutan bagi golongan ini membawa rasa kemalangan di dalam akar katanya, sebagaimana sebutan bagi golongan sebelumnya membawa rasa keberkahan. Jadi dua ayat yang berbentuk sama persis sebenarnya sudah menyampaikan dua nasib yang berlawanan, tanpa satu pun kata sifat ditambahkan.
Seruan yang dibiarkan menggantung terasa berbeda di sini. Pada golongan kanan, ruang kosong sesudah kata seru itu diisi harapan oleh siapa pun yang membacanya. Pada golongan kiri, ruang kosong yang sama diisi kekhawatiran. Kata serunya tidak berubah, yang berubah nama yang mendahuluinya, dan pembaca sendiri yang menyediakan isinya.
Perlu dicatat bahwa sampai di sini surah belum menyebut satu pun perbuatan yang menempatkan seseorang di golongan mana pun. Baru nama, baru pembagian. Perbuatan menyusul jauh kemudian, dan jarak itu memberi pembaca waktu untuk bertanya sebelum diberi jawaban.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut namanya dua kali dalam satu ayat. Golongan kiri. Lalu diulang.
- Kata alangkah dipakai tanpa dilengkapi. Sifatnya tidak disebut. Yang kosong justru mencekam.
- Bentuknya sejajar dengan golongan sebelumnya. Allah memakai susunan yang sama. Isinya berlawanan.
- Sebutan golongan kiri muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di 56:9 dan 90:19. Angkanya sama persis dengan pasangannya, dan tempatnya pun berpasangan: golongan kanan di 56:8 dan 90:18, golongan kiri di 56:9 dan 90:19. Jadi dua sebutan ini cuma hidup di dua surah, selalu bersebelahan, dan tidak pernah salah satunya muncul tanpa yang lain. Allah tidak pernah menyebut yang satu sendirian. Ada sesuatu yang jujur dalam susunan seperti itu. Kabar gembira dan kabar buruk selalu disampaikan berdampingan, tidak pernah dipisah supaya salah satunya lebih mudah diterima. Kita kerap memilih hanya mendengar satu sisi, entah yang menenangkan saja atau yang menakutkan saja. Teksnya sendiri menolak dipenggal seperti itu. Yang mau kita dengar dan yang enggan kita dengar datang dalam satu tarikan napas, dan tidak disediakan pintu untuk mengambil salah satunya saja.
- Akar kata untuk sebutan golongan ini menunjuk sisi kiri, dan dalam bahasa Arab ia sekaligus membawa rasa kemalangan. Pasangannya di ayat sebelumnya berjalan serupa dari arah sebaliknya, menunjuk sisi kanan sekaligus membawa rasa keberkahan. Jadi kedua nama ini bukan sekadar penunjuk arah. Masing-masing sudah memuat nasibnya di dalam sebutannya sendiri, sebelum satu keterangan pun diberikan Allah. Bahasa Indonesia menerjemahkannya kanan dan kiri, dua penunjuk arah yang netral, dan muatan nasib itu tidak ikut terbawa. Pembaca terjemahan menerima dua arah yang setara; pembaca teks aslinya sudah mendengar putusannya di dalam namanya. Inilah salah satu tempat di mana terjemahan yang paling tepat sekalipun tetap kehilangan sesuatu yang penting. Karena itu membaca terjemahan saja tidak cukup untuk merasakan beratnya, sekalipun artinya sudah tersampaikan dengan benar.
- Dua golongan yang nasibnya bertolak belakang diperkenalkan Allah dengan susunan kalimat yang sama persis. Tidak ada yang diperpanjang, tidak ada yang dipersingkat, tidak ada nada yang ditinggikan pada salah satunya. Keadilan penyebutannya terasa pada bentuknya sebelum terasa pada isinya. Seruan yang dibiarkan menggantung itu pun tidak berubah bunyinya. Yang berubah cuma nama yang mendahuluinya, dan pembaca sendiri yang menyediakan isi ruang kosongnya. Pada golongan sebelumnya orang mengisinya dengan harapan; di sini orang mengisinya dengan kekhawatiran. Padahal katanya sama. Ini menunjukkan sesuatu tentang cara kita membaca. Sebagian besar rasa yang kita alami saat membaca ayat tidak datang dari kata-katanya, melainkan dari apa yang kita bawa sendiri ke hadapannya. Kita ini sedang mengisinya dengan apa? Menyadari itu mengubah cara kita menilai ketenangan yang kita rasakan saat membaca ayat tentang keselamatan.