Ayat 56:10
وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ
Dan orang-orang yang paling dahulu, merekalah yang paling dahulu,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَالسَّابِقُونَwa-s-saabiquunadan orang-orang yang paling dahulu
- السَّابِقُونَas-saabiquunamerekalah yang paling dahulu
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَالسَّابِقُونَwa-s-saabiquunadan orang-orang yang terdahulu
- السَّابِقُونَas-saabiquunaorang-orang yang paling dahulu
Inti bacaan
Golongan ketiga yang istimewa: 'dan orang-orang yang paling dahulu, merekalah yang paling dahulu', pengulangan kata yang sama menegaskan keunikan dan keunggulan tak tertandingi golongan ini, sebuah kategori yang berdiri sendiri melampaui klasifikasi kanan-kiri biasa.
Penjelasan pilihan kata
"merekalah" adalah kopula penghubung alami utk susunan pengulangan penegasan Arab, bukan tambahan makna baru.
Bentuk (السَّابِقُونَ, as-saabiquuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:100 dan 56:10. Dua tempat itu memakainya dengan cara yang berbeda jauh. Di 9:100 ia langsung disusul penyifatnya, (الْأَوَّلُونَ, al-awwaluuna), lalu disebutkan siapa saja mereka, dari kalangan mana, dan apa yang disediakan bagi mereka. Semuanya terang dan tuntas dalam satu ayat panjang. Di sini tidak ada penyifat apa pun. Yang menyusul justru sebutan itu sendiri, diulang tanpa ditambahi.
Susunan begini membuat pokok kalimat dan sebutannya menjadi satu benda yang persis. Secara keterangan, kalimatnya tidak menambah apa-apa. Ia menyatakan yang terdepan adalah yang terdepan. Dalam tata bahasa mana pun kalimat semacam itu kosong, sebab tidak ada keterangan baru yang berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Justru kekosongan itulah tenaganya. Ketika sesuatu tidak bisa diterangkan dengan menyebut hal lain, satu-satunya cara menyebutnya adalah mengucapkan namanya dua kali.
Ada satu hal lagi yang membedakan penyebutan ini dari dua yang mendahuluinya. Susunan seru (مَا أَصْحَابُ, maa ashhaabu) dipakai empat kali di surah ini, yaitu di 56:8, 56:9, 56:27, dan 56:41, dan tidak dipakai di ayat ini. Dua kelompok sebelumnya diserukan begitu, dan diserukan lagi saat dirinci. Kelompok yang di ayat ini tidak pernah mendapat seruan itu, tidak di sini maupun di ayat mana pun sesudahnya. Pola yang sudah dibangun dua ayat berturut-turut sengaja diputus tepat pada yang terakhir.
Perbedaan lain ada pada dasar penamaannya. Dua kelompok sebelumnya dinamai menurut arah, memakai kata yang berakar pada sisi kanan dan sisi kiri. Kelompok ini dinamai menurut akar s-b-q, yang berarti mendahului atau memacu diri lebih dulu sampai di depan. Jadi dua dinamai menurut tempat, satu dinamai menurut laju. Ukurannya berlainan jenis, dan itu sebabnya ia tidak punya lawan yang sepadan di antara dua yang lain.
Perlu dicatat bahwa kalimat ini juga yang terpendek di antara tiga pembuka. Dalam bahasa aslinya ia hanya dua patah lafal. Bahasa Indonesia membutuhkan tujuh kata atau lebih untuk memindahkannya, dan sesudah dipindahkan kalimatnya tidak lagi terdengar pendek. Kerapatan itu bagian dari yang disampaikannya, dan ia termasuk yang paling sulit dipertahankan.
Satu catatan lagi tentang huruf pembukanya. Ayat ini dibuka dengan huruf penyambung, sama seperti 56:9, sehingga ketiganya terbaca sebagai satu deretan yang tidak terputus. Tetapi isi deretannya tidak sejenis: dua yang awal sepasang, yang terakhir tunggal. Bahasa Indonesia menyambungnya dengan "dan", dan sambungan itu terdengar rata, seolah ketiganya sederajat jenisnya.
Tafsiran
Ayat ini membuka golongan ketiga: mereka yang paling terdepan dalam kebaikan. Ia datang sesudah dua kelompok lain diperkenalkan dengan susunan yang sejajar, dan ia sengaja tidak mengikuti susunan itu.
Dua sebelumnya dinamai menurut arah, kanan dan kiri, sepasang yang saling berhadapan. Yang ini tidak diberi arah apa pun. Ukurannya bukan letak melainkan laju: siapa yang lebih dulu sampai. Karena ukurannya berlainan jenis, ia tidak bisa ditaruh berhadapan dengan salah satu dari keduanya. Itulah sebabnya jumlahnya tiga dan bukan empat. Yang berpasangan cukup dua, dan yang satu ini memang tidak berpasangan.
Allah juga tidak menyerukan namanya dengan bentuk seru yang dipakai pada dua sebelumnya. Pola yang sudah dibangun berturut-turut diputus tepat di sini. Dan pemutusan itu terasa saat dibaca beruntun. Telinga sudah menyiapkan diri untuk mendengar seruan yang sama untuk kali yang ketiga, lalu seruan itu tidak datang. Yang datang hanya nama, diulang atas dirinya sendiri.
Ada yang jujur pada susunan seperti ini. Untuk dua kelompok yang lain, seruan menahan keterangannya sampai nanti. Untuk yang ini, tidak ada yang ditahan, sebab memang tidak ada yang bisa disandingkan. Menyebut mereka lebih dulu daripada yang lain tidak akan menerangkan apa-apa, karena tidak ada yang mendahului mereka untuk dijadikan pembanding.
Perinciannya menyusul segera. Satu ayat kemudian, di 56:11, dikatakan bahwa merekalah yang didekatkan, dan di 56:12 disebut tempatnya. Jadi kelompok ini disebut terakhir di antara tiga, tetapi keterangannya justru diberikan paling awal. Yang terdepan dalam sebutan bukan yang terdepan dalam kedudukan, dan susunan surah membalikkannya dengan tenang, tanpa sekali pun mengumumkan pembalikannya.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengulang sebutan yang sama dalam satu kalimat. Yang paling dahulu, merekalah yang paling dahulu. Pengulangannya menjadi penekanan.
- Golongan ini tidak diberi nama kanan atau kiri. Ia berdiri sendiri. Ukurannya kecepatan, bukan posisi.
- Kalimatnya paling pendek di antara tiga pembuka. Allah tidak menambahkan keterangan. Yang paling depan disebut paling ringkas.
- Sebutan ini cuma dipakai dua kali di seluruh Al-Qur'an, di 9:100 dan di sini. Di 9:100 ia langsung disusul penyifatnya, lalu dijelaskan mereka dari kalangan mana dan apa yang disediakan bagi mereka, tuntas dalam satu ayat panjang. Di ayat ini tidak ada penyifat apa pun. Yang menyusul justru sebutan itu lagi, diulang tanpa ditambahi. Secara keterangan kalimatnya tidak menambah apa pun; ia menyatakan yang terdepan adalah yang terdepan. Dalam tata bahasa mana pun susunan begitu kosong. Tapi kekosongan itulah tenaganya. Ada hal yang tidak bisa diterangkan dengan menyandingkannya pada sesuatu yang lain, sebab tidak ada bandingannya. Untuk hal semacam itu, menyebut namanya dua kali justru lebih jujur daripada menguraikannya panjang lebar. Menguraikan terlalu banyak justru kerap menyusutkan hal yang hendak diuraikan.
- Dua kelompok sebelumnya diperkenalkan Allah dengan bentuk seru yang serupa, dan bentuk itu muncul lagi di 56:27 dan 56:41 saat keduanya dirinci. Empat kali seluruhnya, semuanya di surah ini. Yang di ayat ini tidak pernah mendapat seruan itu, tidak di sini dan tidak di ayat mana pun sesudahnya. Pola yang sudah dipasang dua ayat beruntun diputus persis pada yang terakhir. Pemutusan itu terasa waktu dibaca berurutan. Telinga sudah bersiap menerima bunyi yang ketiga, lalu bunyi itu tidak datang. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenali rasa itu: janji yang selalu ditepati lalu satu kali tidak, kebiasaan yang berjalan lama lalu tiba-tiba berhenti. Yang tidak muncul kadang lebih menarik perhatian daripada yang muncul. Kenapa justru yang tertinggi yang tidak diseru? Yang tidak diucapkan di sini rupanya bagian dari cara menyampaikannya.
- Dua kelompok yang lain dinamai menurut arah, memakai akar yang menunjuk sisi kanan dan sisi kiri. Yang di ayat ini dinamai menurut akar yang berarti mendahului, memacu diri sampai lebih dulu tiba di depan. Jadi dua dinamai menurut tempat, satu dinamai menurut laju. Karena ukurannya berlainan jenis, ia tidak punya lawan yang setara di antara keduanya, dan itulah sebabnya jumlahnya tiga bukan empat. Perbedaan ukuran ini menyentuh cara kita menilai diri. Letak bisa dipandang sebagai keadaan yang sudah selesai: kita berada di sisi ini atau di sisi itu. Laju tidak pernah selesai selama masih ada waktu tersisa. Selalu ada yang bisa dipercepat hari ini. Allah menaruh satu penilaian yang tidak menunggu keadaan tetap, melainkan menghitung siapa yang bergerak lebih dulu. Selama napas masih ada, penilaian itu belum ditutup, dan usaha hari ini masih menghitung.
Ayat 56:11
أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ
mereka itulah yang didekatkan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَulaa'ika l-muqarrabuunamereka itulah yang didekatkan
Terjemahan per kata (2 kata)
- أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
- الْمُقَرَّبُونَl-muqarrabuunaorang-orang yang didekatkan
Inti bacaan
Kedudukan istimewa golongan terdepan: 'mereka itulah yang didekatkan', kedekatan sebagai bentuk penghargaan tertinggi, menegaskan bahwa pencapaian spiritual sejati diukur dari kedekatan relasional, bukan sekadar ganjaran material.
Penjelasan pilihan kata
Kata tunjuk (أُولَٰئِكَ, ulaa-ika) adalah tunjuk jauh, dan benar diterjemahkan "mereka itulah"; bentuknya sudah dipastikan sebagai kata tunjuk lewat telaah bentuk katanya.
Kata (الْمُقَرَّبُونَ, al-muqarrabuun) muncul 4 kali di 3 surah, yaitu di 4:172, 56:11, 83:21, dan 83:28. Jumlah kemunculannya lebih banyak daripada jumlah surahnya karena surah 83 memuatnya dua kali. Yang perlu diperhatikan adalah tempat pertamanya. Di 4:172 kata ini bukan sebutan bagi manusia melainkan bagi malaikat: "Almasih tidak akan pernah enggan menjadi hamba Allah, begitu pula para malaikat yang paling dekat kepada-Nya." Jadi sebutan yang di sini diberikan kepada golongan terdepan dari manusia adalah sebutan yang di tempat lain menerangkan malaikat yang paling dekat kedudukannya. Bahasa Indonesia menerjemahkan keduanya dengan susunan yang berbeda, sehingga pertautan itu tidak terlihat oleh pembaca terjemahan.
Bentuk katanya penderita, bukan pelaku. Yang dinyatakan bukan mereka mendekat, melainkan mereka didekatkan. Perbedaan ini menentukan seluruh isinya. Kalau bentuknya pelaku, kedekatan itu capaian yang diusahakan dari bawah. Karena bentuknya penderita, kedekatan itu diberikan dari atas. Usaha mereka tetap ada, dan di 56:10 justru laju usaha itu yang dijadikan nama mereka, tetapi hasil akhirnya tidak dinyatakan sebagai buah tangan sendiri.
Ada satu ketegangan halus yang hilang dalam terjemahan. Kata tunjuk yang dipakai adalah tunjuk jauh, yang lazim dipakai untuk sesuatu yang berjarak dari pembicara. Sebutan yang menyusul justru berarti "yang didekatkan". Jadi kalimatnya menunjuk dari kejauhan kepada mereka yang dekat. Dalam bahasa Indonesia "mereka itulah" tidak menyimpan rasa jauh itu sekuat aslinya, sehingga yang tersisa hanya penegasan biasa.
Perlu dicatat pula bahwa rangkaian dua kata ini, tunjuk jauh diikuti sebutan tersebut, tidak dijumpai di ayat lain mana pun; ia hanya ada di 56:11. Dua kata yang masing-masing lazim, tetapi tidak pernah dirangkaikan di tempat lain.
Perlu ditambahkan satu hal tentang akar katanya, yaitu q-r-b. Akar itu memayungi kedekatan dalam arti jarak maupun dalam arti kekerabatan. Yang dipakai di sini bentuk yang menyatakan seseorang didudukkan pada kedekatan itu oleh pihak lain. Bahasa Indonesia "yang didekatkan" sudah tepat memindahkan bentuknya, tetapi ia terdengar seperti keterangan tempat, seolah mereka digeser lebih maju. Dalam teks aslinya yang dimaksud kedudukan, bukan letak. Perbedaannya terasa kalau dibandingkan dengan 56:12 yang justru berbicara tentang tempat: ayat ini menyebut kedudukan, ayat berikutnya menyebut di mana kedudukan itu dijalani.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan golongan pertama, yaitu mereka yang paling dahulu, sebagai mereka yang didekatkan kepada Allah. Ia datang persis sesudah 56:10 yang menyebut mereka tanpa keterangan apa pun. Jadi inilah keterangan pertama yang akhirnya diberikan.
Yang diberikan sebagai balasan adalah kedekatan. Bukan barang, bukan tempat, bukan ganjaran yang bisa dihitung. Ayat sesudahnya baru menyebut taman, dan ayat-ayat sesudah itu menyebut dipan, gelas, dan buah-buahan. Tetapi yang disebut lebih dulu, sebelum semuanya, adalah jaraknya kepada Allah yang dipendekkan.
Susunannya sendiri sudah semacam penilaian. Kalau daftar itu dibalik, kesannya berubah sama sekali: taman lebih dulu lalu kedekatan sebagai tambahan. Dengan susunan seperti sekarang, semua yang menyusul terbaca sebagai keterangan tentang tempat, sementara pokoknya sudah disebut di ayat ini.
Bentuk penderita pada kata sebutannya juga penting bagi cara membaca seluruh surah. Golongan ini dinamai menurut laju di 56:10, seakan seluruhnya soal usaha. Lalu di ayat ini balasannya dinyatakan sebagai sesuatu yang diberikan kepada mereka, bukan yang mereka raih sendiri. Dua ayat berurutan menaruh usaha dan pemberian berdampingan tanpa mempertentangkannya.
Dan sebutan yang dipakai bukan sebutan yang khusus dibuat untuk manusia. Di 4:172 sebutan yang sama menerangkan malaikat yang paling dekat kedudukannya kepada Allah. Menempatkan manusia di bawah sebutan itu, tanpa satu pun kata yang melunakkannya, adalah pernyataan yang jauh lebih besar daripada yang terbaca sepintas.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut upahnya kedekatan, bukan barang. Yang diberikan jarak. Jaraknya dipendekkan.
- Golongan terdepan diberi keterangan sesingkat itu. Satu kata kerja. Tidak perlu rincian.
- Frasa mereka itulah menunjuk dari jauh. Allah memakai tunjuk yang berjarak. Yang ditunjuk sudah pergi ke depan.
- Sebutan yang dipakai di ayat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, tersebar di tiga surah, yaitu di 4:172, 56:11, 83:21, dan 83:28. Yang di 4:172 bukan tentang manusia sama sekali. Di sana Allah memakainya untuk malaikat yang paling dekat kedudukannya kepada-Nya. Jadi sebutan yang di ayat ini diberikan kepada golongan terdepan dari manusia adalah sebutan yang di tempat lain menerangkan malaikat. Tidak ada kata yang melunakkannya, tidak ada keterangan bahwa ini cuma perumpamaan. Bahasa Indonesia menyusun kedua ayat itu dengan cara berbeda, sehingga pertautannya tidak terlihat oleh pembaca terjemahan. Padahal di situlah letak besarnya. Manusia yang berlari lebih dulu ditaruh di bawah sebutan yang sama dengan makhluk yang tidak pernah lalai. Yang dijanjikan ternyata bukan kenaikan derajat sedikit di atas kebiasaan kita, melainkan kedudukan yang selama ini kita bayangkan milik makhluk lain.
- Bentuk kata sebutannya penderita, bukan pelaku. Yang dinyatakan bukan mereka mendekat, melainkan mereka didekatkan. Perbedaan sekecil itu menentukan seluruh isinya. Kalau bentuknya pelaku, kedekatan itu capaian yang dipanjat dari bawah. Karena bentuknya penderita, kedekatan itu diberikan Allah dari atas. Usaha mereka tidak dihapus; satu ayat sebelumnya justru laju usaha itu yang dijadikan nama mereka. Tapi hasil akhirnya tidak pernah dinyatakan sebagai buah tangan sendiri. Dua ayat berurutan menaruh usaha dan pemberian bersebelahan tanpa mempertentangkan keduanya. Bagi kita yang mudah terjebak antara merasa semua bergantung pada kerja keras sendiri atau merasa usaha tidak ada gunanya, susunan dua ayat ini menolak kedua ujung itu sekaligus. Berlari sekuat tenaga, lalu mengakui bahwa yang menyampaikan kita bukan kaki kita sendiri.
- Kata tunjuk yang membuka ayat ini adalah tunjuk jauh, yang biasa dipakai untuk sesuatu yang berjarak dari pembicara. Sebutan yang menyusul justru berarti yang didekatkan. Jadi kalimatnya menunjuk dari kejauhan kepada mereka yang dekat. Rangkaian dua kata ini pun tidak dijumpai di ayat lain mana pun. Dalam bahasa Indonesia mereka itulah tidak menyimpan rasa jauh sekuat aslinya, sehingga yang tersisa hanya penegasan biasa. Padahal ketegangan itu berbicara kepada pembaca yang sedang membacanya sekarang. Mereka ditunjuk sebagai yang jauh dari tempat kita berdiri, dan sekaligus disebut sebagai yang paling dekat kepada Allah. Jarak yang mana yang sebenarnya sedang diukur di sini, jarak dari kita atau jarak dari Allah? Kedua jarak itu tidak pernah diukur dengan alat yang sama, dan yang menentukan bukan yang pertama.