أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ

mereka itulah yang didekatkan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَulaa'ika l-muqarrabuunamereka itulah yang didekatkan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  2. الْمُقَرَّبُونَl-muqarrabuunaorang-orang yang didekatkan

Inti bacaan

Kedudukan istimewa golongan terdepan: 'mereka itulah yang didekatkan', kedekatan sebagai bentuk penghargaan tertinggi, menegaskan bahwa pencapaian spiritual sejati diukur dari kedekatan relasional, bukan sekadar ganjaran material.

Penjelasan pilihan kata

Kata tunjuk (أُولَٰئِكَ, ulaa-ika) adalah tunjuk jauh, dan benar diterjemahkan "mereka itulah"; bentuknya sudah dipastikan sebagai kata tunjuk lewat telaah bentuk katanya.

Kata (الْمُقَرَّبُونَ, al-muqarrabuun) muncul 4 kali di 3 surah, yaitu di 4:172, 56:11, 83:21, dan 83:28. Jumlah kemunculannya lebih banyak daripada jumlah surahnya karena surah 83 memuatnya dua kali. Yang perlu diperhatikan adalah tempat pertamanya. Di 4:172 kata ini bukan sebutan bagi manusia melainkan bagi malaikat: "Almasih tidak akan pernah enggan menjadi hamba Allah, begitu pula para malaikat yang paling dekat kepada-Nya." Jadi sebutan yang di sini diberikan kepada golongan terdepan dari manusia adalah sebutan yang di tempat lain menerangkan malaikat yang paling dekat kedudukannya. Bahasa Indonesia menerjemahkan keduanya dengan susunan yang berbeda, sehingga pertautan itu tidak terlihat oleh pembaca terjemahan.

Bentuk katanya penderita, bukan pelaku. Yang dinyatakan bukan mereka mendekat, melainkan mereka didekatkan. Perbedaan ini menentukan seluruh isinya. Kalau bentuknya pelaku, kedekatan itu capaian yang diusahakan dari bawah. Karena bentuknya penderita, kedekatan itu diberikan dari atas. Usaha mereka tetap ada, dan di 56:10 justru laju usaha itu yang dijadikan nama mereka, tetapi hasil akhirnya tidak dinyatakan sebagai buah tangan sendiri.

Ada satu ketegangan halus yang hilang dalam terjemahan. Kata tunjuk yang dipakai adalah tunjuk jauh, yang lazim dipakai untuk sesuatu yang berjarak dari pembicara. Sebutan yang menyusul justru berarti "yang didekatkan". Jadi kalimatnya menunjuk dari kejauhan kepada mereka yang dekat. Dalam bahasa Indonesia "mereka itulah" tidak menyimpan rasa jauh itu sekuat aslinya, sehingga yang tersisa hanya penegasan biasa.

Perlu dicatat pula bahwa rangkaian dua kata ini, tunjuk jauh diikuti sebutan tersebut, tidak dijumpai di ayat lain mana pun; ia hanya ada di 56:11. Dua kata yang masing-masing lazim, tetapi tidak pernah dirangkaikan di tempat lain.

Perlu ditambahkan satu hal tentang akar katanya, yaitu q-r-b. Akar itu memayungi kedekatan dalam arti jarak maupun dalam arti kekerabatan. Yang dipakai di sini bentuk yang menyatakan seseorang didudukkan pada kedekatan itu oleh pihak lain. Bahasa Indonesia "yang didekatkan" sudah tepat memindahkan bentuknya, tetapi ia terdengar seperti keterangan tempat, seolah mereka digeser lebih maju. Dalam teks aslinya yang dimaksud kedudukan, bukan letak. Perbedaannya terasa kalau dibandingkan dengan 56:12 yang justru berbicara tentang tempat: ayat ini menyebut kedudukan, ayat berikutnya menyebut di mana kedudukan itu dijalani.

Tafsiran

Ayat ini menjelaskan golongan pertama, yaitu mereka yang paling dahulu, sebagai mereka yang didekatkan kepada Allah. Ia datang persis sesudah 56:10 yang menyebut mereka tanpa keterangan apa pun. Jadi inilah keterangan pertama yang akhirnya diberikan.

Yang diberikan sebagai balasan adalah kedekatan. Bukan barang, bukan tempat, bukan ganjaran yang bisa dihitung. Ayat sesudahnya baru menyebut taman, dan ayat-ayat sesudah itu menyebut dipan, gelas, dan buah-buahan. Tetapi yang disebut lebih dulu, sebelum semuanya, adalah jaraknya kepada Allah yang dipendekkan.

Susunannya sendiri sudah semacam penilaian. Kalau daftar itu dibalik, kesannya berubah sama sekali: taman lebih dulu lalu kedekatan sebagai tambahan. Dengan susunan seperti sekarang, semua yang menyusul terbaca sebagai keterangan tentang tempat, sementara pokoknya sudah disebut di ayat ini.

Bentuk penderita pada kata sebutannya juga penting bagi cara membaca seluruh surah. Golongan ini dinamai menurut laju di 56:10, seakan seluruhnya soal usaha. Lalu di ayat ini balasannya dinyatakan sebagai sesuatu yang diberikan kepada mereka, bukan yang mereka raih sendiri. Dua ayat berurutan menaruh usaha dan pemberian berdampingan tanpa mempertentangkannya.

Dan sebutan yang dipakai bukan sebutan yang khusus dibuat untuk manusia. Di 4:172 sebutan yang sama menerangkan malaikat yang paling dekat kedudukannya kepada Allah. Menempatkan manusia di bawah sebutan itu, tanpa satu pun kata yang melunakkannya, adalah pernyataan yang jauh lebih besar daripada yang terbaca sepintas.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut upahnya kedekatan, bukan barang. Yang diberikan jarak. Jaraknya dipendekkan.
  • Golongan terdepan diberi keterangan sesingkat itu. Satu kata kerja. Tidak perlu rincian.
  • Frasa mereka itulah menunjuk dari jauh. Allah memakai tunjuk yang berjarak. Yang ditunjuk sudah pergi ke depan.
  • Sebutan yang dipakai di ayat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, tersebar di tiga surah, yaitu di 4:172, 56:11, 83:21, dan 83:28. Yang di 4:172 bukan tentang manusia sama sekali. Di sana Allah memakainya untuk malaikat yang paling dekat kedudukannya kepada-Nya. Jadi sebutan yang di ayat ini diberikan kepada golongan terdepan dari manusia adalah sebutan yang di tempat lain menerangkan malaikat. Tidak ada kata yang melunakkannya, tidak ada keterangan bahwa ini cuma perumpamaan. Bahasa Indonesia menyusun kedua ayat itu dengan cara berbeda, sehingga pertautannya tidak terlihat oleh pembaca terjemahan. Padahal di situlah letak besarnya. Manusia yang berlari lebih dulu ditaruh di bawah sebutan yang sama dengan makhluk yang tidak pernah lalai. Yang dijanjikan ternyata bukan kenaikan derajat sedikit di atas kebiasaan kita, melainkan kedudukan yang selama ini kita bayangkan milik makhluk lain.
  • Bentuk kata sebutannya penderita, bukan pelaku. Yang dinyatakan bukan mereka mendekat, melainkan mereka didekatkan. Perbedaan sekecil itu menentukan seluruh isinya. Kalau bentuknya pelaku, kedekatan itu capaian yang dipanjat dari bawah. Karena bentuknya penderita, kedekatan itu diberikan Allah dari atas. Usaha mereka tidak dihapus; satu ayat sebelumnya justru laju usaha itu yang dijadikan nama mereka. Tapi hasil akhirnya tidak pernah dinyatakan sebagai buah tangan sendiri. Dua ayat berurutan menaruh usaha dan pemberian bersebelahan tanpa mempertentangkan keduanya. Bagi kita yang mudah terjebak antara merasa semua bergantung pada kerja keras sendiri atau merasa usaha tidak ada gunanya, susunan dua ayat ini menolak kedua ujung itu sekaligus. Berlari sekuat tenaga, lalu mengakui bahwa yang menyampaikan kita bukan kaki kita sendiri.
  • Kata tunjuk yang membuka ayat ini adalah tunjuk jauh, yang biasa dipakai untuk sesuatu yang berjarak dari pembicara. Sebutan yang menyusul justru berarti yang didekatkan. Jadi kalimatnya menunjuk dari kejauhan kepada mereka yang dekat. Rangkaian dua kata ini pun tidak dijumpai di ayat lain mana pun. Dalam bahasa Indonesia mereka itulah tidak menyimpan rasa jauh sekuat aslinya, sehingga yang tersisa hanya penegasan biasa. Padahal ketegangan itu berbicara kepada pembaca yang sedang membacanya sekarang. Mereka ditunjuk sebagai yang jauh dari tempat kita berdiri, dan sekaligus disebut sebagai yang paling dekat kepada Allah. Jarak yang mana yang sebenarnya sedang diukur di sini, jarak dari kita atau jarak dari Allah? Kedua jarak itu tidak pernah diukur dengan alat yang sama, dan yang menentukan bukan yang pertama.