فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ

di dalam taman-taman kenikmatan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِfii jannaati n-na'iimidi dalam taman-taman kenikmatan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فِيfiidi dalam
  2. جَنَّاتِjannaatitaman-taman
  3. النَّعِيمِn-na'iimikenikmatan

Inti bacaan

Tujuan akhir golongan terdepan: 'di dalam surga-surga kenikmatan', hasil konkret dari kedekatan yang telah diperoleh, kenikmatan yang menjadi buah dari perjuangan menjadi yang terdepan dalam kebaikan.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (جَنَّاتِ النَّعِيمِ, jannaatin-na'iim) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an dalam 6 surah, yaitu di 5:65, 10:9, 22:56, 37:43, 56:12, dan 68:34. Susunannya dua kata benda yang bersandar, dan yang kedua menerangkan yang pertama. Yang perlu diperhatikan, kata keduanya bukan nama tempat dan bukan nama pemiliknya. Ia nama keadaannya. Jadi tamannya tidak dinamai menurut di mana ia berada atau siapa yang memilikinya, melainkan menurut apa yang dirasakan di dalamnya.

Bahasa Indonesia menerjemahkannya "taman-taman kenikmatan", dan susunan itu masih terbaca seolah kenikmatan adalah isi yang ditaruh di dalam taman. Dalam susunan aslinya hubungannya lebih rapat daripada itu. Kenikmatan bukan barang yang ada di dalamnya, melainkan sifat yang menjadikannya taman itu. Kalau kenikmatannya diangkat, tidak tersisa taman yang kosong; yang tersisa bukan apa-apa.

Bentuk kata pertamanya jamak, bukan tunggal. Bukan satu taman melainkan taman-taman. Bahasa Indonesia harus mengulang katanya untuk menandai jamak, dan pengulangan itu terdengar lebih berat daripada penanda jamak dalam bahasa Arab yang cukup lewat perubahan bentuk kata.

Ada satu hal yang menarik kalau ayat ini dibaca berdampingan dengan 37:43. Di sana rangkaian yang sama dipakai, dan ayat sesudahnya langsung menyebut dipan-dipan. Di sini rangkaian yang sama dipakai, tetapi dipan baru muncul di 56:15, sesudah dua ayat menyelipkan keterangan tentang siapa saja yang ada di sana. Unsurnya sama, urutannya sama, tetapi jaraknya berbeda. Surah 37 merapatkan keduanya; surah ini menahan pembaca dua ayat lebih lama sebelum memperlihatkan tempat duduknya.

Dan penyebutan (النَّعِيمِ, an-na'iim) di sini bertakrif, artinya bukan sembarang kenikmatan melainkan kenikmatan yang sudah dikenali. Bahasa Indonesia tidak punya penanda takrif, sehingga "kenikmatan" terbaca umum, sementara aslinya menunjuk sesuatu yang tertentu.

Satu catatan lagi tentang bentuk jamaknya. Kata pertamanya jamak, dan jamak dalam bahasa Arab di sini tidak sekadar menandai "lebih dari satu". Ia membuka kemungkinan bahwa yang dimaksud beragam, bukan satu tempat luas yang diberi nama jamak. Bahasa Indonesia mengulang katanya menjadi "taman-taman", dan pengulangan itu menandai banyaknya tetapi tidak menandai beragamnya. Yang hilang bukan jumlahnya melainkan keanekaannya.

Perlu dicatat juga bahwa ayat ini seluruhnya berupa keterangan tempat, tanpa satu pun kata kerja. Susunannya menyambung langsung ke ayat sebelumnya, sehingga keduanya terbaca sebagai satu kalimat yang dipotong menjadi dua. Bahasa Indonesia menutup 56:11 dengan tanda baca lalu memulai kalimat baru, dan pemotongan itu membuat keduanya terasa lebih terpisah daripada aslinya.

Tafsiran

Ayat ini menempatkan golongan yang didekatkan itu di taman-taman penuh kenikmatan. Ia menyusul persis sesudah kedudukan mereka disebut, dan urutan itu yang perlu dibaca lebih dulu.

Di 56:11 yang diberikan adalah kedekatan. Di sini baru tempatnya. Jadi tempat disebut sesudah kedudukan, bukan sebaliknya. Kalau dibalik, seluruh nadanya berubah: taman lebih dulu, lalu kedekatan sebagai tambahan yang menyertainya. Dengan urutan seperti sekarang, taman terbaca sebagai keterangan tentang di mana kedekatan itu berlangsung.

Nama tamannya sendiri sudah menyimpan keterangan. Ia tidak dinamai menurut letaknya, tidak menurut luasnya, dan tidak menurut apa yang ada di dalamnya. Ia dinamai menurut apa yang dirasakan di sana. Cara menamai seperti ini berbeda dari cara manusia menamai tempat yang bagus. Kita biasa menyebut tempat menurut pemandangannya, harganya, atau siapa yang memilikinya. Di sini ukurannya satu saja, yaitu keadaan orang yang berada di dalamnya.

Perlu dicatat bahwa ayat ini pendek dan tidak merinci apa pun. Rinciannya baru datang belakangan, mulai 56:15 tentang dipan, lalu gelas, lalu buah-buahan. Yang di sini hanya penunjukan tempat. Susunan bertahap seperti itu memberi pembaca gambaran menyeluruh lebih dulu sebelum bagian-bagiannya, sehingga rincian yang menyusul tidak dibaca sebagai daftar barang melainkan sebagai isi dari satu keadaan yang sudah disebut namanya.

Dan karena kenikmatan di sini bertakrif, yang ditunjuk bukan kenikmatan mana saja, melainkan yang sudah dikenali sebagai kenikmatan sesungguhnya.

Renungan dan Hikmah

  • Tempatnya disebut Allah sesudah kedudukannya. Mereka didekatkan. Lalu di taman kenikmatan.
  • Yang disebut kenikmatannya, bukan luasnya. Bukan seberapa. Untuk apa.
  • Jumlah mereka disebut Allah di ayat sesudahnya. Tempatnya dulu. Segolongan besar kemudian.
  • Rangkaian dua kata ini muncul enam kali di seluruh Al-Qur'an, tersebar di enam surah, yaitu di 5:65, 10:9, 22:56, 37:43, 56:12, dan 68:34. Yang menarik cara menamainya. Kata keduanya bukan nama tempat dan bukan nama pemiliknya, melainkan nama keadaannya. Jadi Allah menamai taman itu menurut apa yang dirasakan di dalamnya, bukan menurut letaknya, luasnya, atau isinya. Cara ini berbeda sekali dari cara kita menamai tempat yang kita anggap bagus. Kita menyebutnya menurut pemandangannya, harganya, atau siapa yang memilikinya. Ukuran yang dipakai di sini cuma satu: keadaan orang yang berada di sana. Kalau ukuran itu kita pakai hari ini untuk menilai tempat yang kita kejar, berapa banyak yang masih pantas dikejar? Ukuran yang dipakai Allah menyingkirkan hampir semua alasan yang biasa kita pakai untuk mengejar sebuah tempat. Itu bagian dari cara surah ini mengatur langkah pembacanya.
  • Bahasa Indonesia menerjemahkannya taman-taman kenikmatan, dan susunan itu masih terbaca seolah kenikmatan adalah barang yang ditaruh di dalam taman. Dalam susunan aslinya hubungannya jauh lebih rapat. Kenikmatan bukan isi yang ditempatkan di sana, melainkan sifat yang menjadikannya taman itu. Kalau kenikmatannya diangkat, yang tersisa bukan taman yang kosong; yang tersisa bukan apa-apa. Perbedaan itu halus tapi mengubah cara memahaminya. Kita terbiasa memisahkan tempat dari rasa: ada rumah, lalu ada bahagia di dalamnya, dan keduanya bisa dipisah. Rumah bisa tetap berdiri sementara bahagianya pergi. Yang digambarkan Allah di sini tidak bisa dipisah seperti itu. Tempat dan rasanya satu benda, dan itulah sebabnya ia tak bisa hilang sebagian. Dan itu sebabnya kenikmatan di sana tidak pernah digambarkan sebagai sesuatu yang bisa berkurang sedikit demi sedikit. Itu bagian dari cara surah ini mengatur langkah pembacanya.
  • Kalau ayat ini dibaca berdampingan dengan 37:43, ada sesuatu yang terlihat. Di sana rangkaian yang sama dipakai, dan ayat sesudahnya langsung menyebut dipan-dipan. Di sini rangkaian yang sama dipakai, tetapi dipan baru muncul di 56:15, sesudah dua ayat menyelipkan keterangan tentang siapa saja yang ada di sana. Unsurnya sama, urutannya sama, jaraknya berbeda. Surah 37 merapatkan keduanya; surah ini menahan pembaca dua ayat lebih lama. Dan yang diselipkan Allah di celah itu bukan hiasan, melainkan jumlah: berapa banyak dari yang terdahulu dan berapa dari yang kemudian. Jadi sebelum memperlihatkan tempat duduknya, pembaca lebih dulu diberi tahu betapa sedikit orang yang duduk di sana dari zamannya sendiri. Penundaan itu bukan gaya bercerita belaka; ia menaruh angka di hadapan pembaca sebelum menaruh kenyamanan. Itu bagian dari cara surah ini mengatur langkah pembacanya.