ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ
Segolongan besar dari orang-orang terdahulu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَtsullatun mina l-awwaliinasegolongan besar dari orang-orang terdahulu
Terjemahan per kata (3 kata)
- ثُلَّةٌtsullatunsegolongan besar
- مِنَminadari
- الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu
Inti bacaan
Komposisi historis golongan terdepan: 'segolongan besar dari orang-orang terdahulu', pengakuan bahwa mayoritas dari kategori istimewa ini berasal dari generasi awal, penilaian yang realistis tanpa menutup kemungkinan bagi generasi berikutnya.
Penjelasan pilihan kata
Kata (ثُلَّةٌ, tsullah) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:13, 56:39, dan 56:40. Ketiganya berada di surah ini, dan tidak satu pun di luar surah ini. Itu sebabnya jumlah kemunculannya tiga sementara surahnya hanya satu. Kata ini menyatakan kelompok besar, sekumpulan orang banyak, bukan sekadar sebagian.
Rangkaian (ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ, tsullatun minal-awwaliin) muncul 2 kali, yaitu di 56:13 dan 56:39, dan keduanya pun di surah ini. Yang pertama tentang golongan yang paling dahulu, yang kedua tentang golongan kanan. Jadi kalimat yang sama persis dipakai untuk dua golongan yang berbeda kedudukannya.
Di sinilah letak yang paling perlu diperhatikan. Untuk golongan yang paling dahulu, kalimat ini disusul 56:14 yang menyebut "sedikit dari orang-orang yang kemudian". Untuk golongan kanan, kalimat yang sama disusul 56:40 yang menyebut "segolongan besar dari orang-orang yang kemudian". Baris pertamanya identik huruf demi huruf; baris keduanya berbeda pada satu kata saja. Perbedaan satu kata itu yang memisahkan dua gambaran: dari umat belakangan, yang mencapai barisan terdepan sedikit, sedangkan yang masuk golongan kanan banyak.
Kata (الْأَوَّلِينَ, al-awwaliin) sendiri muncul 32 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 15:10, 23:24, 26:26, dan 56:13. Menariknya, pemakaian yang paling sering adalah pemakaian yang merendahkan: sembilan kali di antaranya berada dalam rangkaian yang diucapkan para pengingkar untuk menyebut wahyu sebagai dongeng orang terdahulu, yaitu di 6:25, 8:31, 16:24, 23:83, 25:5, 27:68, 46:17, 68:15, dan 83:13. Di ayat ini kata yang sama justru menandai kehormatan. Sebutan yang di mulut pengingkar dipakai untuk mengejek, di sini dipakai untuk memuji.
Bahasa Indonesia menerjemahkan kata pertamanya "segolongan besar", dan itu sudah setia. Yang tak terbawa adalah kelangkaannya. Pembaca teks aslinya menemui sebuah kata yang tidak pernah ia jumpai di surah mana pun selain ini, dan keasingan itu sendiri menandai bahwa yang sedang dihitung bukan kelompok biasa.
Satu hal lagi tentang susunan bilangannya. Kata pertamanya berdiri tanpa penyandang, tanpa kata kerja, dan tanpa penghubung ke kalimat sebelumnya. Ia sekadar disebut, seperti orang menyebutkan hasil hitungan. Bahasa Indonesia perlu menambahkan tanda baca dan memberi jeda supaya kalimatnya bisa dibaca, dan tambahan itu membuatnya terdengar seperti keterangan yang menyusul. Dalam teks aslinya ia lebih menyerupai catatan angka yang ditaruh begitu saja sesudah gambaran taman, tanpa dijembatani apa pun.
Tafsiran
Ayat ini merinci susunan golongan yang paling dahulu: sebagian besarnya dari umat terdahulu. Ia datang sesudah kedudukan dan tempat mereka disebutkan, jadi yang dibicarakan sekarang bukan lagi apa yang mereka terima melainkan siapa saja mereka.
Yang disebut lebih dulu adalah asal zamannya, bukan amalnya. Ini pilihan yang perlu dicatat. Sesudah dua ayat tentang kedekatan dan taman, pembaca mungkin menunggu keterangan tentang perbuatan apa yang membawa mereka ke sana. Yang datang justru keterangan tentang dari zaman mana mereka berasal. Perbuatannya baru muncul jauh kemudian di surah ini.
Kata yang dipakai untuk menghitung mereka tidak dipakai di tempat lain mana pun dalam Al-Qur'an. Ia hanya hidup di surah ini, dan seluruhnya tiga kali. Kelangkaan itu bukan hal kecil. Ketika sebuah kelompok dihitung dengan kata yang tidak dipakai untuk menghitung kelompok lain di seluruh kitab, penghitungannya sendiri sudah menandai bahwa yang dihitung bukan perkara biasa.
Dan angka ini tidak berdiri sendiri. Ia setengah dari sebuah perbandingan yang baru lengkap di ayat berikutnya. Membacanya terpisah akan menyesatkan, sebab yang dimaksud bukan sekadar "banyak dari yang dahulu" melainkan "banyak dari yang dahulu, dan sedikit dari yang kemudian". Timpangnya perbandingan itulah isi sebenarnya.
Perlu juga dicatat bahwa kalimat yang persis sama nanti dipakai untuk golongan kanan di 56:39. Jadi pada bagian pertamanya, kedua golongan disamakan. Yang membedakan hanya bagian keduanya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut asalnya, bukan jumlahnya saja. Segolongan besar. Dari orang-orang terdahulu.
- Yang lebih dahulu disebut lebih banyak. Bukan merata. Berat ke generasi awal.
- Kalimat ini berpasangan dengan yang tentang orang kemudian. Allah menyusun keduanya. Yang banyak dulu, yang sedikit kemudian.
- Kata yang dipakai Allah untuk menghitung mereka muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya di surah ini: 56:13, 56:39, dan 56:40. Tidak ada satu pun di luar surah ini. Kelangkaan itu bukan perkara kecil. Ketika sekumpulan manusia dihitung memakai kata yang tidak dipakai untuk menghitung siapa pun di tempat lain dalam kitab ini, cara menghitungnya sendiri sudah menandai bahwa yang dihitung tidak biasa. Pembaca teks aslinya menemui kata yang belum pernah ia jumpai, lalu menjumpainya dua kali lagi dalam surah yang sama, dan tidak pernah lagi sesudahnya. Bahasa Indonesia menerjemahkannya segolongan besar, setia pada artinya tetapi tidak bisa membawa keasingan bunyinya. Yang hilang justru rasa bahwa penghitungan ini disediakan khusus. Penghitungan yang disediakan khusus untuk satu perkara menandakan perkara itu tidak ada bandingannya di tempat lain.
- Kalimat ayat ini muncul lagi persis sama di 56:39, tetapi di sana ia berbicara tentang golongan kanan, bukan tentang barisan terdepan. Bedanya ada pada kalimat yang menyusul. Di sini yang menyusul 56:14: sedikit dari umat yang datang belakangan. Di sana yang menyusul 56:40: segolongan besar dari umat yang datang belakangan. Baris pertamanya sama huruf demi huruf; baris keduanya berselisih satu kata saja. Dan satu kata itulah yang memisahkan dua gambaran. Dari umat yang datang kemudian, yang menembus barisan terdepan cuma sedikit, sedangkan yang masuk golongan kanan banyak. Allah menyusun dua pasang kalimat yang hampir kembar, lalu meletakkan seluruh perbedaannya pada satu kata. Ketelitian sehalus itu mudah lewat begitu saja saat dibaca cepat. Padahal di situlah seluruh keterangannya berada, bukan pada kalimat yang panjang melainkan pada satu kata yang berbeda.
- Kata untuk umat terdahulu di ayat ini muncul 32 kali dalam Al-Qur'an, antara lain di 15:10, 23:24, dan 26:26. Yang menarik, pemakaian tersering justru merendahkan: sembilan kali ia berada dalam rangkaian yang diucapkan para pengingkar untuk menyebut wahyu sebagai dongeng umat terdahulu, di 6:25, 8:31, 16:24, 23:83, 25:5, 27:68, 46:17, 68:15, dan 83:13. Di ayat ini kata yang sama menandai kehormatan. Sebutan yang di mulut pengingkar dipakai mengejek, di sini dipakai memuji. Satu kata bisa menanggung dua muatan yang berlawanan tergantung siapa yang mengucapkannya dan untuk apa. Kalau begitu, apakah yang menentukan nilai sebuah sebutan terletak pada katanya sendiri, atau pada niat orang yang memakainya? Yang mengejek dan yang memuji memakai kata yang sama, dan hanya salah satunya yang benar menilai.