وَقَلِيلٌ مِنَ الْآخِرِينَ

dan sedikit dari orang-orang yang kemudian,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَقَلِيلٌ مِنَ الْآخِرِينَwa-qaliilun mina l-aakhiriinadan sedikit dari orang-orang yang kemudian

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَقَلِيلٌwa-qaliilundan sedikit
  2. مِنَminadari
  3. الْآخِرِينَl-aakhiriinaorang-orang yang kemudian

Inti bacaan

Kelangkaan dari generasi kemudian: 'dan sedikit dari orang-orang yang kemudian', pengakuan jujur bahwa jumlah yang mencapai status ini dari generasi belakangan lebih sedikit, bukan untuk menyurutkan semangat tetapi menegaskan bahwa pencapaian ini tetap terbuka meski menjadi lebih menantang seiring waktu.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْآخِرِينَ, al-aakhiriin) muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 26:84, 37:78, 37:108, 37:119, 37:129, 56:14, 56:40, 56:49, dan 77:17. Dari sembilan itu, empat berada di surah 37 dan tiga di surah ini. Jadi lebih dari tiga perempat kemunculannya berkumpul di dua surah saja.

Rangkaian ayat ini melengkapi 56:13, dan keduanya harus dibaca sebagai satu perbandingan. Yang sebelumnya menyebut segolongan besar dari umat terdahulu; yang di sini menyebut sedikit dari umat yang datang kemudian. Membaca salah satunya sendirian akan menyesatkan, sebab isi sebenarnya bukan pada masing-masing angkanya melainkan pada timpangnya.

Yang paling perlu diperhatikan adalah pasangan kalimat ini di tempat lain dalam surah yang sama. Di 56:39 dan 56:40, dua ayat berurutan memakai susunan yang sejajar untuk golongan kanan: "segolongan besar dari orang-orang terdahulu" lalu "dan segolongan besar dari orang-orang yang kemudian". Baris pertamanya sama persis dengan 56:13. Baris keduanya berbeda dari ayat ini pada satu kata: di sana dipakai kata yang berarti kelompok besar, di sini dipakai (وَقَلِيلٌ, wa-qaliil) yang berarti sedikit. Seluruh perbedaan antara dua gambaran itu bertumpu pada satu kata.

Akibatnya jelas ketika dua pasangan itu dijajarkan. Dari umat yang datang kemudian, yang menembus barisan terdepan hanya sedikit, sedangkan yang masuk golongan kanan tetap banyak. Jadi ayat ini tidak sedang menutup pintu bagi umat sesudahnya. Ia sedang membedakan dua pintu: yang satu tetap lapang, yang satu memang sempit.

Bahasa Indonesia menerjemahkan kata terakhirnya "orang-orang yang kemudian", dan itu setia. Yang tak terbawa adalah pertaliannya dengan lawan katanya di ayat sebelumnya. Dalam bahasa Arab, kata untuk "yang terdahulu" dan kata untuk "yang kemudian" dibentuk dengan pola yang sepadan, sehingga keduanya terdengar berpasangan begitu diucapkan berurutan. Dalam terjemahan, "terdahulu" dan "kemudian" tidak memiliki pertalian bunyi apa pun, sehingga pasangan itu hanya terasa pada artinya.

Ada baiknya diperhatikan pula bahwa keempat kemunculan di surah 37 berada pada susunan yang mirip satu sama lain, dipakai untuk menyebut apa yang ditinggalkan bagi para utusan di kalangan umat sesudah mereka. Di sana kata ini menandai orang-orang yang datang belakangan sebagai penerima kenangan baik. Di ayat ini kata yang sama menandai mereka sebagai kelompok yang sedikit menyumbang ke barisan terdepan. Satu kata, dua kedudukan yang berlainan sama sekali, dan yang menentukan bukan katanya melainkan apa yang dilekatkan padanya.

Bentuk (وَقَلِيلٌ, wa-qaliil) di sini tanpa penanda takrif dan berdiri sebagai penyandang kalimat. Susunannya sejajar benar dengan kata pembuka 56:13, sehingga dua ayat itu terbaca seperti dua kolom sebuah daftar. Bahasa Indonesia menambahkan kata sambung dan tanda baca supaya keduanya mengalir sebagai kalimat, dan tambahan itu menyamarkan kesan daftar yang ada pada aslinya.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi susunan golongan yang paling dahulu: sebagian kecil dari umat yang datang kemudian. Ia sepenuhnya bergantung pada ayat sebelumnya, dan tidak bisa berdiri sendiri tanpa berubah maknanya.

Angka yang disebut tidak dilembutkan. Tidak ada kata yang menyertainya untuk meredakan kesan, tidak ada janji penghiburan yang ditempelkan di belakangnya. Sedikit, dan kalimatnya selesai. Cara menyampaikan seperti ini jarang kita temui dalam percakapan manusia, yang biasanya buru-buru menambahkan sesuatu supaya kabar yang berat tidak terasa terlalu berat.

Tetapi keterusterangan itu tidak berarti penutupan. Dua ayat kemudian dalam surah yang sama, di 56:39 dan 56:40, susunan yang sejajar dipakai untuk golongan kanan, dan di sana umat yang datang kemudian justru disebut banyak. Jadi kabar di ayat ini bukan tentang zaman yang tertutup, melainkan tentang satu barisan tertentu yang memang tidak ramai.

Perbedaan itu bermakna bagi siapa pun yang membaca sekarang, sebab pembacanya termasuk yang datang kemudian. Ayat ini menaruh dua hal sekaligus di hadapannya: barisan terdepan memang sukar dijangkau dari zamannya, dan golongan kanan tetap terbuka lebar. Yang pertama menahan agar tidak menganggap enteng, yang kedua menahan agar tidak putus asa.

Perlu dicatat bahwa perbandingan ini tidak disertai sebab. Tidak dikatakan mengapa umat terdahulu lebih banyak mengisi barisan itu. Yang direkam hanya keadaannya, tanpa keterangan penyebabnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut jumlahnya sedikit, tanpa dilembutkan. Dari yang kemudian. Sedikit.
  • Yang terdahulu disebut banyak, yang kemudian sedikit. Perbandingannya jujur. Tidak diseimbangkan.
  • Angka itu direkam Allah bukan untuk menyurutkan. Pintunya tetap terbuka. Cuma memang tidak ramai.
  • Ayat ini punya pasangan di surah yang sama. Di 56:39 dan 56:40, dua ayat berurutan memakai susunan yang sejajar untuk golongan kanan: segolongan besar dari umat terdahulu, lalu segolongan besar dari umat yang datang kemudian. Baris pertamanya sama persis dengan 56:13. Baris keduanya berbeda dari ayat ini pada satu kata saja: di sana dipakai kata yang berarti kelompok besar, di sini dipakai kata yang berarti sedikit. Seluruh selisih antara dua gambaran itu bertumpu pada satu kata. Dan akibatnya besar. Dari umat yang datang kemudian, yang menembus barisan terdepan cuma sedikit, sedangkan yang masuk golongan kanan tetap banyak. Jadi Allah tidak sedang menutup satu zaman. Ia sedang membedakan dua pintu, yang satu lapang dan yang satu sempit. Dua ayat sependek ini menyimpan takaran yang tidak mudah ditiru dalam ucapan sehari-hari. Ketelitian seperti itu baru terlihat kalau dua bagiannya dibaca berdampingan.
  • Jumlahnya disebut Allah apa adanya. Tidak ada kata yang menyertainya untuk meredakan kesan, tidak ada penghiburan yang ditempelkan di belakangnya. Sedikit, lalu kalimatnya selesai. Cara menyampaikan seperti itu jarang kita jumpai di antara manusia. Kita biasanya buru-buru menambahkan sesuatu supaya kabar yang berat tidak terasa terlalu berat, dan tambahan itu sering justru mengaburkan kabarnya. Di sini tidak ada yang diaburkan. Yang berat dibiarkan terasa berat. Tapi keterusterangan bukan penutupan, dan itu yang mudah salah dibaca. Dua ayat kemudian pintu yang lain disebut lapang. Menyampaikan kabar sulit tanpa melunakkannya, lalu menyediakan jalan lain tanpa membatalkan yang sulit tadi, adalah dua hal yang biasanya sukar kita lakukan bersamaan. Dua ayat sependek ini menyimpan takaran yang tidak mudah ditiru dalam ucapan sehari-hari. Ketelitian seperti itu baru terlihat kalau dua bagiannya dibaca berdampingan.
  • Siapa pun yang membaca ayat ini hari ini termasuk umat yang datang kemudian. Jadi kalimat ini bukan keterangan tentang kelompok jauh yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembacanya. Ia keterangan tentang kelompok tempat pembacanya berada. Dan Allah menaruh dua hal sekaligus di hadapannya. Barisan terdepan memang sukar dijangkau dari zaman ini, dan golongan kanan tetap terbuka lebar. Yang pertama menahan supaya tidak menganggap enteng; yang kedua menahan supaya tidak putus asa. Dua penahan itu bekerja ke arah berlawanan, dan justru karena itu keduanya diperlukan bersamaan. Kalau cuma yang pertama, orang menyerah. Kalau cuma yang kedua, orang berhenti berusaha. Kita sedang condong ke sisi yang mana? Dua ayat sependek ini menyimpan takaran yang tidak mudah ditiru dalam ucapan sehari-hari. Ketelitian seperti itu baru terlihat kalau dua bagiannya dibaca berdampingan.