عَلَىٰ سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ
di atas dipan-dipan yang bertatah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَلَىٰ سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ'alaa sururin mawdhuunatindi atas dipan-dipan yang bertatah
Terjemahan per kata (3 kata)
- عَلَىٰ'alaaatas
- سُرُرٍsururindipan-dipan
- مَوْضُونَةٍmawdhuunatinyang bertatah
Inti bacaan
Kemewahan detail tempat duduk: 'di atas dipan-dipan yang bertatah', perhatian pada detail material (tatahan permata) menegaskan bahwa kenikmatan digambarkan secara konkret dan mewah, bukan abstraksi kosong.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مَوْضُونَةٍ, mawdhuunah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, hanya di 56:15. Akarnya w-d-n, yang berporos pada menganyam dan menyusun rapat sampai bagian-bagiannya saling mengunci, seperti mata rantai yang dijalin menjadi baju besi. Jadi yang dinyatakan bukan sesuatu yang ditempelkan di permukaan, melainkan cara benda itu dibuat: dijalin, bukan dilapisi.
Bahasa Indonesia "bertatah" memindahkan kesan mewahnya dengan baik, tetapi mengalihkan gambarannya. Bertatah menunjuk hiasan yang dibenamkan pada permukaan sesuatu yang sudah jadi. Yang di ayat ini justru menyangkut susunan bendanya sendiri. Bedanya seperti perbedaan antara kain bersulam dan kain tenun: yang pertama dihias sesudah jadi, yang kedua indah karena cara ia dijalin.
Kata (سُرُرٍ, surur) muncul juga di 15:47, 37:44, dan 52:20, dan tiap tempat menyertakan keterangan yang berlainan jenis. Di 15:47 dan 37:44 yang diterangkan cara orangnya duduk, yaitu berhadap-hadapan. Di 52:20 yang diterangkan cara dipannya diatur, yaitu tersusun berderet. Di sini yang diterangkan cara dipannya dibuat. Tiga sudut pandang yang berbeda atas satu benda yang sama: bagaimana orang duduk padanya, bagaimana ia ditata, dan bagaimana ia dijalin.
Dan surah ini tidak berhenti pada satu sudut pandang. Ayat berikutnya, 56:16, menambahkan bahwa mereka bersandar di atasnya sambil berhadap-hadapan. Jadi dua ayat berurutan menyatukan keterangan yang di surah lain tersebar: cara benda itu dibuat lebih dulu, lalu cara orang duduk padanya. Yang di 15:47 dan 37:44 hanya separuh, di sini dilengkapi.
Perlu dicatat bentuk kata pertamanya jamak dan tanpa penanda takrif, sehingga yang disebut bukan dipan tertentu yang sudah dikenal, melainkan dipan-dipan begitu saja. Bahasa Indonesia mengulang katanya untuk menandai jamak, dan pengulangan itu membuatnya terdengar lebih ditekankan daripada dalam susunan aslinya yang mengalir tanpa penekanan.
Perlu ditambahkan bahwa ayat ini seluruhnya keterangan tempat, tanpa kata kerja, persis seperti 56:12. Dua ayat itu sama-sama menunjuk di mana, dan keduanya menyandar pada kalimat sebelumnya untuk mendapatkan pelakunya. Susunan berlapis begitu membuat gambaran bertambah sedikit demi sedikit: taman lebih dulu, lalu dipan di dalam taman, lalu cara duduk di atas dipan. Tiap ayat menambah satu lapis tanpa mengulang lapis sebelumnya.
Akar kata dipannya sendiri, s-r-r, bertaut dengan akar yang memayungi kegembiraan dalam bahasa Arab. Pertautan bunyi seperti itu tidak bisa dipindahkan ke bahasa Indonesia, sebab "dipan" tidak beriringan dengan kata apa pun yang berarti senang. Yang tersisa hanya bendanya, tanpa gema kata yang menyertainya.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan tempat bersandar golongan yang paling dahulu di taman itu. Sesudah kedudukan mereka disebut di 56:11, tempatnya di 56:12, dan susunan mereka di 56:13 sampai 56:14, barulah perinciannya dimulai, dan yang pertama dirinci adalah tempat duduknya.
Pilihan untuk memulai dari sini patut diperhatikan. Yang dirinci lebih dulu bukan makanannya, bukan minumannya, bukan pemandangannya, melainkan tempat mereka bersandar. Dalam gambaran manusia tentang kenyamanan, tempat bersandar memang yang paling dasar. Orang yang lelah tidak lebih dulu mencari hidangan; ia mencari tempat merebahkan diri.
Yang disebut pun bukan sekadar keberadaannya melainkan cara pembuatannya. Kata yang dipakai untuk menerangkannya tidak dipakai di ayat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an. Untuk menerangkan satu perabot, dipilih kata yang tidak pernah dipakai untuk apa pun yang lain. Ini pola yang sudah beberapa kali muncul di surah ini, dan setiap kali arahnya sama: yang digambarkan memang tidak punya bandingan dalam pengalaman siapa pun, sehingga kata yang lazim tidak disediakan untuknya.
Perlu juga dicatat bahwa gambaran ini jasmani, bukan samar. Ada dipan, ada cara ia dijalin, dan di ayat berikutnya ada cara duduknya. Al-Qur'an tidak menggambarkan balasan sebagai keadaan yang tak berbentuk. Ia memakai benda yang dikenal manusia, lalu menerangkannya dengan kata yang tidak dikenal manusia. Yang dikenal menjadi pintu masuknya; yang tidak dikenal menjaga agar pembaca tidak menyangka sudah tahu persis rupanya.
Renungan dan Hikmah
- Perabotnya disebut Allah bertatah, bukan sekadar ada. Bukan tempat duduk. Yang dihias.
- Yang dirinci tempat bersandarnya, bukan luas tamannya. Bukan seberapa lebar. Di mana duduknya.
- Cara duduknya Allah sebut di ayat sesudahnya. Dipannya dulu. Berhadap-hadapan kemudian.
- Kata yang menerangkan dipan di ayat ini cuma dipakai sekali di seluruh Al-Qur'an, hanya di sini. Akarnya berporos pada menganyam dan menyusun rapat sampai bagiannya saling mengunci, seperti mata rantai yang dijalin menjadi baju besi. Jadi yang dinyatakan Allah bukan sesuatu yang ditempelkan pada permukaan benda yang sudah jadi, melainkan cara benda itu dibuat sejak awal. Bahasa Indonesia bertatah memindahkan kesan indahnya dengan baik, tetapi mengalihkan gambarannya, sebab bertatah menunjuk hiasan yang dibenamkan belakangan. Bedanya seperti kain bersulam dibanding kain tenun: yang satu dihias sesudah jadi, yang satu indah karena cara ia dijalin. Keindahan yang berasal dari susunannya sendiri tidak bisa dilepas, sebab melepasnya berarti membongkar bendanya. Cara surah ini melukiskan sesuatu ternyata sama pentingnya dengan apa yang dilukiskannya. Bentuk penyampaian di sini ikut menanggung sebagian isinya.
- Dipan disebut juga di 15:47, 37:44, dan 52:20, dan tiap tempat menyertakan keterangan yang berlainan jenis. Di 15:47 dan 37:44 yang diterangkan cara orangnya duduk, yaitu berhadap-hadapan. Di 52:20 yang diterangkan cara dipannya ditata, yaitu tersusun berderet. Di ayat ini yang diterangkan cara dipannya dibuat. Tiga sudut pandang atas satu benda yang sama. Dan surah ini tidak berhenti di satu sudut: 56:16 menambahkan bahwa mereka bersandar sambil berhadap-hadapan. Jadi dua ayat berurutan di sini menyatukan keterangan yang di surah lain tersebar terpisah. Cara benda itu dijalin lebih dulu, lalu cara orang duduk padanya. Yang di tempat lain hanya separuh, di sini dilengkapi menjadi gambaran yang utuh. Cara surah ini melukiskan sesuatu ternyata sama pentingnya dengan apa yang dilukiskannya. Bentuk penyampaian di sini ikut menanggung sebagian isinya.
- Gambaran di ayat ini jasmani, bukan samar. Ada dipan, ada cara ia dijalin, dan sebentar lagi ada cara duduknya. Allah tidak melukiskan balasan sebagai keadaan yang tak berbentuk. Yang dipakai justru benda yang dikenal manusia, lalu diterangkan dengan kata yang tidak dipakai untuk apa pun yang lain di seluruh kitab ini. Susunan itu bekerja dua arah sekaligus. Yang dikenal menjadi pintu masuknya, sehingga pembaca punya pegangan. Yang asing menjaga supaya pembaca tidak menyangka sudah tahu persis rupanya. Kita sering terjebak di salah satu ujung: membayangkannya persis seperti barang mewah di dunia, atau menganggapnya kiasan yang tidak berwujud. Cara ayat ini disusun menolak kedua ujung itu. Lalu bagaimana semestinya kita membayangkannya? Cara surah ini melukiskan sesuatu ternyata sama pentingnya dengan apa yang dilukiskannya. Bentuk penyampaian di sini ikut menanggung sebagian isinya.