مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ
bersandar di atasnya, berhadap-hadapan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَmuttaki'iina 'alayhaa mutaqaabiliinabersandar di atasnya, berhadap-hadapan
Terjemahan per kata (3 kata)
- مُتَّكِئِينَmuttaki'iinabersandar
- عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
- مُتَقَابِلِينَmutaqaabiliinaberhadap-hadapan
Inti bacaan
Pengaturan sosial yang intim: 'bersandar di atasnya, berhadap-hadapan', posisi berhadapan menegaskan nilai interaksi dan kebersamaan yang hidup, bukan isolasi individual meski dalam kenikmatan pribadi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مُتَّكِئِينَ, muttaki-iin) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 18:31, 38:51, 52:20, 55:54, 55:76, 56:16, dan 76:13. Jumlah kemunculannya lebih banyak daripada jumlah surahnya karena surah 55 memuatnya dua kali. Bentuknya menyatakan keadaan yang sedang berlangsung, bukan perbuatan yang dilakukan sekali lalu selesai. Jadi yang dilukiskan bukan mereka menyandarkan diri pada satu saat tertentu, melainkan keadaan bersandar yang terus berlangsung.
Kata (مُتَقَابِلِينَ, mutaqaabiliin) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 15:47, 37:44, 44:53, dan 56:16. Tiga di antaranya menyertai dipan, yaitu di 15:47, 37:44, dan ayat ini. Yang di 44:53 berbeda: di sana yang disebut pakaian sutra, dan berhadap-hadapan menyertainya tanpa menyebut tempat duduk sama sekali. Jadi keadaan saling berhadapan itu tidak terikat pada perabotnya; ia disebut berulang sebagai keadaan tersendiri.
Bentuk katanya juga perlu diperhatikan. Pola yang dipakai menandai perbuatan yang berbalasan, yang dilakukan dua pihak satu sama lain. Karena itu artinya bukan sekadar "menghadap" melainkan "saling menghadap". Bahasa Indonesia "berhadap-hadapan" sudah menangkapnya, dan pengulangan suku katanya kebetulan sepadan dengan pola berbalasan dalam bahasa Arab. Ini salah satu tempat di mana kedua bahasa bertemu dengan cara yang sama.
Yang tak terbawa adalah kerapatan susunannya. Aslinya tiga kata saja: keadaan bersandar, keterangan tempat, keadaan berhadapan. Tidak ada kata kerja, tidak ada penghubung, tidak ada penyandang yang disebut. Pelakunya diambil dari ayat sebelumnya. Bahasa Indonesia membutuhkan tanda baca dan jeda untuk menyusunnya, sehingga yang aslinya satu tarikan menjadi dua bagian yang dipisah koma.
Perlu dicatat bahwa ayat ini melengkapi 56:15. Di sana yang disebut cara dipannya dibuat; di sini cara orangnya duduk. Di 15:47 dan 37:44 kedua hal itu tidak dipisah: dipan dan berhadap-hadapan berada dalam satu ayat. Surah ini memecahnya menjadi dua ayat, dan pemecahan itu memberi ruang bagi keterangan tentang jalinan dipannya yang tidak ada di tempat lain.
Ada satu hal lagi yang layak dicatat. Kata keterangan tempatnya, "di atasnya", memakai kata ganti perempuan tunggal yang merujuk balik kepada dipan-dipan di ayat sebelumnya. Rujukan itu yang menyambung dua ayat menjadi satu gambaran; tanpa 56:15, ayat ini menggantung tanpa diketahui di atas apa mereka bersandar. Bahasa Indonesia menerjemahkannya "di atasnya" dan menyalin rujukan itu dengan setia, tetapi karena kalimatnya sudah dipisah oleh tanda baca, pertautannya terasa lebih longgar daripada dalam susunan aslinya yang mengalir tanpa jeda.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan keadaan kebersamaan: saling berhadapan sambil bersandar. Ia melanjutkan 56:15 yang baru menyebut dipannya, dan bersama-sama keduanya melengkapi satu gambaran.
Yang disebut di sini arah duduk, bukan lagi perabotnya. Dan arah duduk bukan keterangan sepele. Orang yang duduk berjajar menghadap satu arah sedang menonton sesuatu di depan; orang yang duduk berhadapan sedang bersama satu sama lain. Yang pertama menaruh perhatian pada tontonan, yang kedua pada temannya. Al-Qur'an memilih yang kedua.
Berhadapan juga berarti tidak ada yang dibelakangi. Dalam susunan duduk mana pun yang tidak melingkar, selalu ada orang yang punggungnya menghadap orang lain. Keterangan ini meniadakan hal itu. Tidak ada yang berada di belakang siapa pun, tidak ada yang terlewat dari pandangan, tidak ada tempat yang lebih buruk daripada tempat lain.
Bentuk kata bersandarnya menyatakan keadaan yang terus berlangsung, bukan sekali duduk lalu berdiri. Jadi yang dilukiskan bukan satu peristiwa melainkan cara mereka berada di sana. Ini berbeda dari cara kita biasa membayangkan kenyamanan sebagai selingan di antara kesibukan. Di sini tidak ada kesibukan yang diselingi.
Perlu dicatat bahwa sampai ayat ini, seluruh yang disebutkan masih tentang keadaan mereka sendiri: kedudukan, tempat, susunan, tempat duduk, dan sekarang arah duduk. Belum ada satu pun benda yang dihidangkan. Hidangan baru mulai disebut di 56:17 dan sesudahnya. Susunan seperti ini menaruh keadaan lebih dulu daripada isi, dan yang dilayani lebih dulu daripada yang melayani.
Renungan dan Hikmah
- Arah duduknya disebut Allah, bukan cuma tempatnya. Bersandar. Berhadap-hadapan.
- Berhadapan berarti tak ada yang dibelakangi. Bukan berjajar. Saling melihat.
- Dipannya disebut Allah lebih dulu. Dipan bertatah. Lalu cara duduknya.
- Kata berhadap-hadapan di ayat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 15:47, 37:44, 44:53, dan 56:16. Tiga di antaranya menyertai dipan; yang di 44:53 justru menyertai pakaian sutra, tanpa menyebut tempat duduk sama sekali. Jadi keadaan saling berhadapan tidak terikat pada perabotnya. Allah menyebutnya berulang sebagai keadaan tersendiri, bukan sebagai keterangan tambahan bagi benda apa pun. Bentuk katanya pun memakai pola yang menandai perbuatan berbalasan, yang dilakukan dua pihak satu sama lain, sehingga artinya bukan sekadar menghadap melainkan saling menghadap. Yang dijanjikan bukan cuma tempat yang nyaman, melainkan cara berada bersama orang lain yang tidak menyisakan siapa pun di luar pandangan. Kalimat sependek ini menyimpan keterangan tentang cara hidup bersama, bukan sekadar tentang perabot. Yang dijanjikan menyangkut hubungan, bukan cuma tempat dan perlengkapannya.
- Arah duduk bukan keterangan sepele. Orang yang duduk berjajar menghadap satu arah sedang menonton sesuatu di depan; orang yang duduk berhadapan sedang bersama satu sama lain. Yang pertama menaruh perhatian pada tontonan, yang kedua pada temannya. Allah memilih yang kedua untuk melukiskan keadaan mereka. Dan berhadapan berarti tidak ada yang dibelakangi. Dalam susunan duduk mana pun yang tidak melingkar, selalu ada orang yang punggungnya menghadap orang lain, dan selalu ada tempat yang dianggap kurang baik. Keterangan ini meniadakan semuanya. Kalau kita ukur pertemuan-pertemuan yang kita hadiri hari ini dengan ukuran itu, berapa banyak yang benar-benar tidak membelakangi siapa pun? Ukuran itu sederhana dan tidak memerlukan perlengkapan apa pun untuk dijalankan hari ini juga. Menoleh kepada yang duduk di samping kita sudah merupakan sebagian dari jawabannya.
- Di 15:47 dan 37:44, dipan dan keadaan berhadapan berada dalam satu ayat yang sama, tidak dipisah. Surah ini memecahnya menjadi dua ayat: 56:15 tentang cara dipannya dijalin, lalu ayat ini tentang cara orangnya duduk. Pemecahan itu bukan pemborosan kata. Ia membuka ruang bagi keterangan tentang jalinan dipan yang tidak disebutkan Allah di tempat lain mana pun. Jadi yang di surah lain disampaikan sekali jalan, di sini dilambatkan dan diberi lapisan tambahan. Pola melambatkan seperti ini sudah beberapa kali muncul sejak awal surah. Setiap kali arahnya sama: pembaca ditahan sedikit lebih lama pada satu hal sebelum diizinkan melihat hal berikutnya, dan penahanan itu bagian dari cara surah ini bekerja. Membaca perlahan ternyata bukan pilihan gaya belaka; susunan surahnya sendiri yang meminta demikian. Apa yang terlewat saat membaca cepat sering justru bagian yang paling ingin disampaikan.