يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ

Berkeliling melayani mereka anak-anak muda yang kekal,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَyathuufu 'alayhim wildaanun mukhalladuunaberkeliling melayani mereka anak-anak muda yang kekal

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. يَطُوفُyathuufumengelilingi
  2. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  3. وِلْدَانٌwildaanunanak-anak muda
  4. مُخَلَّدُونَmukhalladuunayang tetap muda

Inti bacaan

Pelayanan berkelanjutan tanpa henti: 'berkeliling melayani mereka anak-anak muda yang kekal', gambaran pelayanan yang tidak pernah usang atau menua, kontras dengan keterbatasan pelayanan di dunia yang selalu dibatasi waktu dan tenaga.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ, wildaanun mukhalladuun) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:17 dan 76:19. Dua tempat itu menyebut hal yang sama dengan penekanan yang berbeda. Di 76:19 yang dilukiskan rupa mereka: "apabila engkau melihat mereka, engkau mengira mereka mutiara yang bertaburan." Di sini yang dilukiskan pekerjaan mereka: berkeliling membawa wadah minuman. Satu menerangkan bagaimana mereka terlihat, satu lagi menerangkan apa yang mereka kerjakan.

Kata (مُخَلَّدُونَ, mukhalladuun) berbentuk penderita, dari akar kh-l-d yang berporos pada kekekalan. Jadi yang dinyatakan bukan mereka bertahan dengan sendirinya, melainkan mereka dikekalkan. Bahasa Indonesia "yang kekal" tepat pada artinya tetapi kehilangan bentuk penderitanya, sehingga kekekalan itu terbaca sebagai sifat bawaan, bukan sebagai sesuatu yang diberikan.

Kata kerjanya juga perlu diperhatikan. Di sini dipakai bentuk pelaku: merekalah yang berkeliling. Bandingkan dengan 37:45 yang memakai bentuk penderita, sehingga yang dinyatakan minuman itu diedarkan kepada mereka tanpa menyebut siapa yang mengedarkan. Dua surah melukiskan peristiwa yang sama, dan yang satu menamai pelayannya sementara yang lain membiarkannya tak disebut.

Bentuk kata kerjanya juga menyatakan perbuatan yang berlangsung terus, bukan yang sudah selesai. Berkeliling di sini bukan sekali putaran melainkan gerak yang tidak berhenti. Akarnya t-w-f, akar yang sama yang memayungi gerak mengelilingi sesuatu secara berulang. Bahasa Indonesia "berkeliling melayani" sudah memindahkan geraknya, tetapi kata "melayani" adalah tambahan penjelas yang tidak ada dalam susunan aslinya; di sana hanya ada gerak mengelilingi, dan apa yang dibawa baru disebut di ayat berikutnya.

Perlu dicatat bahwa yang disebut lebih dulu adalah pelayannya, baru wadahnya di 56:18. Jadi urutannya orang, lalu benda. Dalam gambaran manusia tentang jamuan, biasanya yang lebih dulu disebut hidangannya. Di sini yang lebih dulu justru yang membawanya.

Perlu ditambahkan bahwa kata (وِلْدَانٌ, wildaan) tanpa penanda takrif di sini, sehingga yang disebut bukan kelompok tertentu yang sudah dikenali melainkan anak-anak muda begitu saja. Bahasa Indonesia tidak memiliki penanda takrif, sehingga perbedaan antara "anak-anak muda" dan "anak-anak muda itu" tidak muncul dalam terjemahan sama sekali. Yang hilang bukan artinya melainkan kadar pengenalannya: pembaca teks aslinya tahu bahwa mereka sedang diperkenalkan, bukan diingatkan kembali kepada sesuatu yang sudah disebut.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan pelayanan oleh anak-anak muda yang kekal keremajaannya. Ia membuka bagian baru: sesudah lima ayat tentang keadaan mereka sendiri, sekarang muncul pihak lain yang datang kepada mereka.

Yang disebut lebih dulu bukan hidangannya melainkan yang membawanya. Ini pilihan yang perlu dicatat. Dalam gambaran jamuan yang biasa kita kenal, yang menarik perhatian pertama adalah makanannya, dan orang yang membawa dianggap latar belakang. Di sini urutannya dibalik.

Kata kerjanya menyatakan gerak yang terus berlangsung, bukan sekali datang lalu pergi. Jadi yang dilukiskan bukan pelayanan yang menunggu diminta, melainkan yang mendatangi tanpa dipanggil. Perbedaannya terasa bagi siapa pun yang pernah menunggu sesuatu yang seharusnya datang: menunggu itu sendiri melelahkan, bahkan ketika yang ditunggu akhirnya tiba.

Bentuk penderita pada kata kekalnya juga bermakna. Mereka tidak bertahan muda dengan kekuatan sendiri; mereka dikekalkan. Di taman itu tidak ada satu pun yang mempertahankan keadaannya dengan usahanya sendiri, termasuk yang melayani.

Ada satu hal lagi yang muncul kalau ayat ini dibaca berdampingan dengan 37:45. Di sana peristiwa yang sama disebut dengan bentuk penderita: minuman diedarkan kepada mereka, tanpa menyebut siapa yang mengedarkan. Surah ini menyebutkan pelakunya. Dua surah melukiskan satu perkara, dan yang satu memberi wajah kepada pelayannya sementara yang lain membiarkannya kosong. Membaca keduanya berdampingan membuat perbedaan itu terlihat, dan perbedaan itu bukan pertentangan melainkan dua sudut atas satu keadaan.

Renungan dan Hikmah

  • Pelayannya disebut Allah tidak menua. Bukan bergantian. Yang sama terus.
  • Kata berkeliling menggambarkan gerak yang tidak berhenti. Bukan menunggu dipanggil. Mendatangi.
  • Yang di dunia habis oleh waktu, di sana tidak. Allah menyebutnya kekal. Usianya tidak bertambah.
  • Rangkaian yang menyebut para pelayan ini muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di 56:17 dan 76:19. Dua tempat itu menyebut hal yang sama dengan penekanan berbeda. Di 76:19 yang dilukiskan rupa mereka: apabila engkau melihat mereka, engkau mengira mereka mutiara yang bertaburan. Di ayat ini yang dilukiskan pekerjaan mereka, yaitu berkeliling membawa wadah minuman. Satu menerangkan bagaimana mereka terlihat, satu lagi apa yang mereka kerjakan. Allah tidak mengulang keterangan yang sama di dua tempat; Ia menambahkan sisi yang belum disebut. Membaca kedua ayat itu berdampingan memberi kesan menyeluruh yang tidak bisa didapat dari salah satunya saja, dan itu berlaku untuk banyak pasangan ayat lain di dalam kitab ini. Adakah pasangan ayat lain yang selama ini kita baca sendiri-sendiri padahal keduanya dimaksudkan saling melengkapi?
  • Kata yang menerangkan keremajaan mereka berbentuk penderita. Yang dinyatakan bukan mereka bertahan belia dengan kekuatan sendiri, melainkan mereka dikekalkan oleh Allah. Bahasa Indonesia yang kekal tepat pada artinya tetapi kehilangan bentuk penderitanya, sehingga kekekalan itu terbaca sebagai sifat bawaan. Padahal bentuk penderita di sini menyambung pola yang sudah muncul di 56:11, ketika golongan terdepan disebut sebagai yang didekatkan, bukan yang mendekat. Di taman itu tidak ada satu pun yang mempertahankan keadaannya dengan usahanya sendiri, termasuk yang mengantarkan hidangan. Segalanya bersandar pada satu sumber. Di dunia kita terbiasa menganggap apa yang bertahan lama pasti kuat dengan sendirinya, dan anggapan itu yang justru ditiadakan di sini. Yang bertahan paling lama justru yang paling bergantung, dan itu kebalikan dari kesimpulan yang biasa kita ambil.
  • Kata kerjanya menyatakan gerak yang berlangsung terus, bukan sekali datang lalu pergi. Jadi yang dilukiskan bukan layanan yang menanti diminta, melainkan yang mendatangi tanpa dipanggil. Perbedaannya terasa bagi siapa pun yang tahu rasanya menunggu sesuatu yang semestinya datang. Menunggu itu sendiri melelahkan, bahkan ketika yang ditunggu akhirnya tiba, sebab yang menguras bukan lamanya melainkan ketidakpastiannya. Di sini ketidakpastian itu tidak ada. Dan yang disebut Allah lebih dulu bukan hidangannya melainkan yang membawanya. Dalam gambaran jamuan yang biasa kita kenal, makanannya yang menarik perhatian pertama dan orang yang membawa dianggap latar belakang. Urutan di sini dibalik. Siapa yang melayani ternyata disebut sebelum apa yang dilayankan. Susunan itu menaruh penghargaan pada pihak yang di dunia paling sering luput dari perhatian.