بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ
dengan gelas, kendi, dan piala dari sumber yang mengalir,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍbi-akwaabin wa-abaariiqa wa-ka'sin min ma'iinindengan gelas, kendi, dan piala dari sumber yang mengalir
Terjemahan per kata (5 kata)
- بِأَكْوَابٍbi-akwaabindengan gelas-gelas
- وَأَبَارِيقَwa-abaariiqadan kendi-kendi
- وَكَأْسٍwa-ka'sindan gelas
- مِنْmindari
- مَعِينٍma'iininyang mengalir
Inti bacaan
Detail perlengkapan minuman: 'dengan gelas, kendi, dan piala dari sumber yang mengalir', kelengkapan sarana yang detail menegaskan kualitas penyajian yang diperhatikan hingga hal-hal kecil.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَأَبَارِيقَ, wa-abaariiqa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, hanya di 56:18. Ia bentuk jamak dari wadah bertutup dan berpegangan yang dipakai untuk menuang. Karena kata ini tidak dipakai di ayat lain mana pun, tidak ada tempat pembanding untuk menakar gambarannya, dan pembaca teks aslinya berhadapan dengan sebutan yang baru sama sekali.
Rangkaian (كَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ, ka-sin min ma'iin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 37:45 dan 56:18. Kata (مَعِينٍ, ma'iin) sendiri muncul 4 kali, yaitu di 23:50, 37:45, 56:18, dan 67:30. Dua di antaranya menyangkut air di dunia: 23:50 tentang tempat berteduh yang berair mengalir, dan 67:30 tentang pertanyaan siapa yang akan mendatangkan air mengalir seandainya air surut ke dalam bumi. Dua sisanya menyangkut minuman di taman. Jadi kata yang sama menyeberang antara air yang menghidupi manusia di bumi dan minuman yang disuguhkan di sana.
Yang paling perlu diperhatikan adalah kesejajaran ayat ini dengan surah 37. Di sana urutannya: taman-taman kenikmatan di 37:43, dipan-dipan berhadap-hadapan di 37:44, lalu gelas dari mata air di 37:45. Di sini urutan yang sama muncul: taman-taman kenikmatan di 56:12, dipan dan berhadap-hadapan di 56:15 dan 56:16, lalu wadah minuman di ayat ini. Empat unsur yang sama, dalam urutan yang sama, di dua surah yang berbeda.
Bedanya pada kelengkapannya. Surah 37 menyebut satu wadah saja; ayat ini menyebut tiga, yaitu gelas, kendi, dan piala. Surah 37 memakai bentuk penderita sehingga pengedarnya tidak disebut; surah ini menamai pengedarnya di 56:17. Sebaliknya surah 37 melukiskan rupa minumannya di 37:46, yaitu putih dan lezat, sedangkan surah ini tidak menyebut rupanya sama sekali. Jadi keduanya saling melengkapi: yang satu merinci minumannya, yang lain merinci wadah dan pembawanya.
Perlu dicatat bahwa ketiga wadah disebut tanpa penanda takrif dan tanpa keterangan bahan. Bahasa Indonesia menambahkan "dengan" di awal untuk menyambungkannya ke ayat sebelumnya, dan sambungan itu memang ada dalam aslinya berupa satu huruf yang melekat pada kata pertamanya.
Ada satu hal lagi pada susunan ketiga wadah itu. Dua yang pertama disebut dalam bentuk jamak, sedangkan yang ketiga dalam bentuk tunggal. Jadi bukan tiga jenis yang sejajar seluruhnya: dua di antaranya banyak, dan yang terakhir disebut satuan. Bahasa Indonesia menerjemahkan ketiganya dengan bentuk yang sama rata, sehingga perbedaan itu larut. Dalam susunan aslinya, perubahan bentuk pada kata ketiga menyiapkan telinga untuk keterangan yang menyusul, sebab yang diterangkan sesudahnya memang bukan wadahnya melainkan asal isinya.
Tafsiran
Ayat ini merinci wadah minuman yang disuguhkan dari sumber yang terus mengalir. Ia melanjutkan 56:17, dan bersama ayat itu membentuk satu kalimat: para pelayan berkeliling, dan inilah yang mereka bawa.
Tiga wadah disebut berturut-turut. Penyebutan tiga jenis untuk satu keperluan menandakan kelimpahan, bukan sekadar tersedianya minuman. Kalau yang dimaksud hanya bahwa mereka diberi minum, satu kata sudah cukup. Menyebut tiga berarti menyebut keleluasaan.
Sumbernya disebut mata air yang mengalir, bukan wadah simpanan. Perbedaan itu berarti. Yang disimpan pasti berkurang setiap kali diambil, dan orang yang meminum dari simpanan selalu menyimpan hitungan di kepalanya, meski tidak disadarinya. Yang mengalir tidak menimbulkan hitungan seperti itu.
Bahwa kata untuk mata air ini juga dipakai untuk air di dunia, di 23:50 dan 67:30, membuat gambarannya bertaut dengan pengalaman yang dikenal pembaca. Air mengalir bukan barang asing bagi manusia. Yang asing justru kendinya, sebab kata untuk wadah itu tidak dipakai di ayat lain mana pun. Satu unsur dikenal, satu unsur tidak, dan keduanya berdiri berdampingan dalam satu kalimat.
Ada pula yang perlu dibaca dari susunannya. Setelah tiga wadah disebut, kalimat tidak berhenti pada bendanya melainkan berlanjut ke asalnya. Yang ditutup bukan daftar perkakas melainkan sumbernya. Jadi penekanannya bukan pada kemewahan alatnya, melainkan pada apa yang dituangkan ke dalamnya dan dari mana ia datang.
Renungan dan Hikmah
- Tiga wadah disebut Allah sekaligus. Gelas. Kendi. Dan piala.
- Sumbernya disebut mengalir, bukan tersimpan. Bukan dituang dari botol. Dari mata air.
- Akibat buruknya Allah sangkal di ayat sesudahnya. Diminum. Tidak pening. Tidak mabuk.
- Kalau bagian surah ini dijajarkan dengan surah 37, susunannya sejajar. Di sana taman-taman kenikmatan disebut di 37:43, dipan berhadap-hadapan di 37:44, lalu gelas dari mata air di 37:45. Di sini urutan yang sama muncul: taman-taman kenikmatan di 56:12, dipan dan berhadap-hadapan di 56:15 dan 56:16, lalu wadah minuman di ayat ini. Empat unsur yang sama, dalam urutan yang sama, di dua surah berbeda. Tapi kelengkapannya berlainan. Surah 37 menyebut satu wadah; Allah menyebut tiga di sini. Surah 37 melukiskan rupa minumannya di 37:46; surah ini tidak menyebut rupanya sama sekali dan justru menamai pembawanya di 56:17. Jadi keduanya saling melengkapi, bukan saling mengulang. Ketelitian sebesar ini tidak muncul dari kebetulan; ia bagian dari cara surah ini disusun. Membandingkan dua tempat yang berbicara tentang hal sama sering memperlihatkan apa yang sengaja ditahan di masing-masingnya.
- Sumbernya disebut mata air yang mengalir, bukan tempat penyimpanan. Perbedaan itu berarti, dan terasa oleh siapa pun yang pernah menakar persediaan. Yang disimpan pasti berkurang setiap kali diambil, dan orang yang minum dari simpanan selalu menyimpan hitungan di kepalanya meski tidak disadarinya. Hitungan itu menempel pada setiap tegukan. Yang mengalir tidak menimbulkan hitungan semacam itu. Menariknya, kata yang dipakai Allah untuk mata air ini juga dipakai untuk air di dunia, di 23:50 dan 67:30, dan yang di 67:30 justru berupa pertanyaan: siapa yang akan mendatangkan air mengalir seandainya air surut ke dalam bumi? Kata yang sama, sekali untuk air yang bisa hilang dan sekali untuk yang tidak. Ketelitian sebesar ini tidak muncul dari kebetulan; ia bagian dari cara surah ini disusun. Membandingkan dua tempat yang berbicara tentang hal sama sering memperlihatkan apa yang sengaja ditahan di masing-masingnya.
- Kata untuk kendi di ayat ini, (وَأَبَارِيقَ, wa-abaariiqa), cuma dipakai 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:18. Tidak ada tempat pembanding untuk menakar gambarannya, sehingga pembaca teks aslinya berhadapan dengan sebutan yang baru sama sekali. Padahal di kalimat yang sama ada mata air, benda yang dikenal siapa pun. Satu unsur akrab, satu unsur belum pernah dijumpai, dan Allah menaruh keduanya berdampingan dalam satu napas. Pola ini sudah beberapa kali muncul di surah ini. Yang akrab menjadi pijakan supaya pembaca tidak kehilangan arah; yang asing menjaga supaya ia tidak menyangka sudah tahu persis rupanya. Membayangkan terlalu jelas dan menolak membayangkan sama sekali sama-sama meleset, dan susunan seperti ini menutup kedua jalan itu. Ketelitian sebesar ini tidak muncul dari kebetulan; ia bagian dari cara surah ini disusun. Membandingkan dua tempat yang berbicara tentang hal sama sering memperlihatkan apa yang sengaja ditahan di masing-masingnya.