لَا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُونَ

mereka tidak pening karenanya dan tidak mabuk,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. لَا يُصَدَّعُونَ عَنْهَاlaa yushadda'uuna 'anhaamereka tidak pening karenanya
  2. وَلَا يُنْزِفُونَwa-laa yunzifuunadan tidak mabuk

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. لَاlaatidak
  2. يُصَدَّعُونَyushadda'uunamereka pening
  3. عَنْهَا'anhaadarinya
  4. وَلَاwa-laadan tidak pula
  5. يُنْزِفُونَyunzifuunamereka mabuk

Inti bacaan

Kenikmatan tanpa efek samping: 'mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk', kontras eksplisit dengan minuman keras dunia yang selalu disertai konsekuensi negatif, penegasan bahwa kenikmatan sejati tidak perlu mengorbankan kesehatan atau kesadaran.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan "(pula)" tidak dipakai.

Kata kerja (يُصَدَّعُونَ, yushadda'uuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, hanya di 56:19. Akarnya sh-d-', yang berporos pada terbelah atau retak. Dari akar itu terbentuk kata untuk sakit kepala, sebab kepala yang nyeri terasa seperti terbelah. Bahasa Indonesia "pening" memindahkan akibatnya, tetapi tidak membawa gambaran terbelah yang ada di dalam akarnya.

Kata kerja (يُنْزِفُونَ, yunzifuuna) juga muncul 1 kali, hanya di 56:19. Akarnya n-z-f, yang berporos pada terkurasnya sesuatu sampai habis. Dari akar itu lahir arti hilangnya akal karena mabuk, yaitu keadaan ketika kesadaran seseorang terkuras keluar. Bahasa Indonesia "mabuk" tepat pada akibatnya, tetapi kehilangan gambaran terkuras yang ada di dalam akar katanya.

Yang paling perlu diperhatikan adalah pembandingnya di 37:47. Ayat itu menutup rangkaian yang sejajar dengan bagian surah ini, dan ia juga meniadakan dua hal. Tetapi keduanya berbeda dari yang ditiadakan di sini. Di sana disebut (غَوْلٌ, ghaulun), kata yang juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, hanya di 37:47, dan artinya sesuatu yang merusak diam-diam di dalam minuman itu. Lalu kata kerja keduanya di sana (يُنْزَفُونَ, yunzafuuna), yang muncul 1 kali dan hanya di 37:47, berbeda barisnya dari kata kerja di ayat ini meski seakar.

Perbedaannya terletak pada arah penyangkalan. Surah 37 menyangkal sesuatu yang ada di dalam minumannya, yaitu tidak ada yang merusak di dalamnya. Surah ini menyangkal sesuatu yang terjadi pada peminumnya, yaitu kepala mereka tidak terbelah dan kesadaran mereka tidak terkuras. Satu berbicara tentang isi cawan, satu lagi tentang keadaan orang. Bahasa Indonesia menerjemahkan keduanya dengan susunan yang mirip, sehingga perbedaan sudut itu hampir tidak terlihat.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut rasa minumannya sama sekali. Yang dijamin bukan nikmatnya, melainkan tidak adanya akibat buruk.

Perlu ditambahkan bahwa kedua kata kerja di ayat ini berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan bukan mereka tidak melakukan sesuatu melainkan sesuatu tidak menimpa mereka. Bahasa Indonesia "tidak pening" dan "tidak mabuk" terbaca seolah keadaan itu milik mereka sendiri. Dalam susunan aslinya, keduanya adalah hal yang datang dari luar dan tidak diizinkan sampai. Bentuk penderita ini menyambung pola yang sudah muncul beberapa kali di surah ini, mulai dari golongan yang didekatkan di 56:11 sampai para pelayan yang dikekalkan di 56:17. Di taman itu hampir semua yang penting dinyatakan sebagai sesuatu yang dikerjakan atas mereka, bukan oleh mereka.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kemurnian minuman di taman itu: tidak menimbulkan akibat buruk seperti minuman yang dikenal manusia. Ia menutup rangkaian yang dimulai di 56:17, dan menutupnya bukan dengan pujian melainkan dengan penyangkalan.

Yang disangkal dua hal, dan keduanya menyangkut orangnya, bukan minumannya. Kepala mereka tidak terbelah oleh nyeri, dan kesadaran mereka tidak terkuras habis. Dua akibat yang paling dikenal manusia dari minuman yang memabukkan, dan dua-duanya dinyatakan tidak ada.

Cara menjamin seperti ini perlu dicatat. Ayat ini tidak berkata minumannya enak. Ia berkata akibat buruknya tidak ada. Kedua hal itu berbeda. Menyebut enaknya akan mengundang pembaca membandingkan dengan rasa yang pernah ia kenal, dan perbandingan itu selalu meleset. Menyebut hilangnya akibat buruk tidak menuntut perbandingan rasa sama sekali; ia cukup meniadakan sesuatu yang sudah dikenal setiap orang.

Ada juga yang tersirat di sini. Perbandingan dengan minuman dunia tidak diucapkan, tetapi hadir di setiap kata. Pembaca yang mengenal akibat mabuk akan langsung menangkap apa yang sedang ditiadakan, tanpa perlu diberi tahu. Menyampaikan sesuatu dengan menyebut apa yang tidak ada adalah cara yang menuntut pembacanya ikut bekerja.

Dan penyangkalan ini memilih sudut yang berbeda dari 37:47, yang menutup rangkaian sejajar di surah lain. Di sana yang disangkal ada di dalam minumannya; di sini yang disangkal terjadi pada peminumnya. Dua sudut atas satu jaminan, dan hanya dengan membaca keduanya jaminan itu terlihat utuh: tidak ada yang buruk di dalamnya, dan tidak ada yang buruk menimpa mereka.

Renungan dan Hikmah

  • Dua akibat ditiadakan Allah sekaligus. Tidak pening. Tidak mabuk.
  • Yang dijamin bukan rasanya, melainkan akibatnya. Enaknya tidak disebut. Akibat buruknya yang dihapus.
  • Perbandingannya dengan minuman dunia dibiarkan tersirat. Allah tidak menyebutnya. Yang membaca sudah tahu bedanya.
  • Kata kerja pertamanya, (يُصَدَّعُونَ, yushadda'uuna), muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:19. Kata kerja keduanya, (يُنْزِفُونَ, yunzifuuna), juga muncul 1 kali, yaitu di 56:19. Yang pertama berakar pada terbelah atau retak, dan dari akar itulah lahir sebutan untuk sakit kepala, sebab kepala yang nyeri terasa seperti terbelah. Yang kedua berakar pada terkurasnya sesuatu sampai habis, dan dari sana lahir arti hilangnya akal karena mabuk, yaitu keadaan ketika kesadaran seseorang terkuras keluar. Bahasa Indonesia pening dan mabuk tepat pada akibatnya, tetapi kedua gambaran di dalam akarnya tidak ikut terbawa. Yang hilang bukan artinya melainkan rupanya. Pembaca teks aslinya melihat kepala yang terbelah dan kesadaran yang terkuras, dua gambar yang jauh lebih tajam daripada dua kata yang tenang. Allah menyusun jaminan itu dengan cara yang menuntut pembacanya ikut berpikir, bukan sekadar menerima.
  • Ayat ini tidak berkata minumannya enak. Ia berkata akibat buruknya tidak ada. Dua hal itu berbeda, dan perbedaannya disengaja. Menyebut enaknya akan mengundang pembaca membandingkan dengan rasa yang pernah ia kenal, dan perbandingan semacam itu selalu meleset karena bahan bandingannya terbatas pada pengalamannya sendiri. Menyebut hilangnya akibat buruk tidak menuntut perbandingan rasa sama sekali; cukup meniadakan sesuatu yang sudah dikenal setiap orang. Cara menjamin seperti ini menuntut pembacanya ikut bekerja, sebab perbandingan dengan minuman dunia tidak pernah diucapkan meski hadir di setiap katanya. Kalau yang baik digambarkan dengan menyebut apa yang tidak ada padanya, apa saja yang selama ini kita kejar justru karena kita belum menghitung akibatnya? Allah menyusun jaminan itu dengan cara yang menuntut pembacanya ikut berpikir, bukan sekadar menerima.
  • Ayat 37:47 menutup rangkaian yang sejajar dengan bagian surah ini, dan ia juga meniadakan dua hal. Tetapi yang ditiadakan berbeda. Di sana disebut (غَوْلٌ, ghaulun), sesuatu yang merusak diam-diam di dalam minumannya, kata yang muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 37:47. Di sini yang ditiadakan justru apa yang terjadi pada peminumnya: kepala tidak terbelah, kesadaran tidak terkuras. Satu berbicara tentang isi cawan, satu lagi tentang keadaan orang. Bahkan kata kerja keduanya, meski seakar, berbeda barisnya di dua ayat itu. Jadi jaminan itu baru terlihat utuh kalau keduanya dibaca bersama: tidak ada yang buruk di dalamnya, dan tidak ada yang buruk menimpa mereka. Dua sisi yang di dunia jarang bisa dijamin sekaligus. Allah menyusun jaminan itu dengan cara yang menuntut pembacanya ikut berpikir, bukan sekadar menerima.