وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ

dan buah-buahan yang mereka pilih,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَwa-faakihatin mimmaa yatakhayyaruunadan buah-buahan yang mereka pilih

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَفَاكِهَةٍwa-faakihatindan buah
  2. مِمَّاmimmaadari apa yang
  3. يَتَخَيَّرُونَyatakhayyaruunamereka pilih

Inti bacaan

Kebebasan memilih yang penuh: 'dan buah-buahan yang mereka pilih', penekanan pada otonomi dan preferensi pribadi yang dihormati sepenuhnya, kontras dengan keterbatasan pilihan yang sering dialami di dunia.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (يَتَخَيَّرُونَ, yatakhayyaruuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, hanya di 56:20. Akarnya kh-y-r, akar yang memayungi kebaikan sekaligus pemilihan, sebab memilih pada dasarnya mengambil yang lebih baik. Bentuk yang dipakai di sini menyatakan pemilihan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk diri sendiri, bukan sekadar mengambil apa yang tersedia. Bahasa Indonesia "yang mereka pilih" sudah setia pada artinya, tetapi tidak membawa kesan menimbang yang ada dalam bentuk aslinya.

Yang perlu diperhatikan, kata bendanya disebut lebih dulu lalu disusul keterangan tentang cara memperolehnya. Susunannya bukan "mereka memilih buah" melainkan "buah, dari apa yang mereka pilih". Jadi yang dijadikan pokok kalimat adalah buahnya, dan pemilihan itu diterangkan sebagai sifat yang melekat padanya. Perbedaan susunan ini halus tetapi mengubah tekanan: yang dijanjikan bukan hak memilih, melainkan buah yang sifatnya dipilih sendiri.

Kata (وَفَاكِهَةٍ, wa-faakihatin) dalam bentuk ini dipakai juga di 56:32, jadi dua-duanya di surah ini. Yang di 56:32 disertai keterangan banyaknya, sedangkan yang di sini disertai keterangan cara memilihnya. Satu menyebut jumlah, satu menyebut kebebasan. Dan keduanya berbicara tentang golongan yang berbeda: yang di sini untuk golongan terdepan, yang di 56:32 untuk golongan kanan.

Perlu dicatat bahwa buah disebut sebagai hidangan pertama, mendahului daging burung di 56:21. Urutan ini kebalikan dari kebiasaan jamuan manusia, yang menaruh hidangan berat lebih dulu dan buah sebagai penutup. Al-Qur'an menyebut yang ringan lebih dulu.

Bentuk kata buahnya tunggal tanpa penanda takrif, meski maksudnya mencakup banyak jenis. Bahasa Indonesia mengulang katanya menjadi "buah-buahan" untuk menandai keberagaman itu, dan pengulangan tersebut menambahkan kesan jamak yang dalam aslinya tidak ditandai secara lahiriah melainkan dipahami dari keterangan yang menyusulnya.

Perlu ditambahkan satu hal tentang huruf pembukanya. Ayat ini dibuka dengan huruf penyambung yang mengaitkannya langsung ke daftar sebelumnya, sehingga buah terbaca sebagai lanjutan dari wadah minuman di 56:18, bukan sebagai pokok baru. Rangkaian itu berlanjut lagi ke daging burung di 56:21 dengan huruf penyambung yang sama. Jadi seluruh hidangan disusun sebagai satu deretan panjang tanpa jeda, dan tiap anggotanya ditambahkan dengan huruf yang sama. Bahasa Indonesia memisahkan tiap ayat dengan tanda baca dan memulai baris baru, sehingga kesan deretan yang mengalir itu berubah menjadi daftar yang terpisah-pisah.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan buah-buahan yang mereka pilih sendiri sebagai bagian dari hidangan. Ia membuka rangkaian hidangan sesudah minuman selesai disebut di 56:18 dan dijamin di 56:19.

Yang menonjol bukan buahnya melainkan cara memperolehnya. Kata kerja yang dipakai untuk memilih tidak dipakai di ayat lain mana pun dalam Al-Qur'an. Untuk menerangkan satu perbuatan sesederhana memilih buah, dipilih kata yang tidak pernah dipakai untuk apa pun yang lain. Ini pola yang berulang di surah ini, dan tiap kali menandai bahwa yang dilukiskan tidak punya bandingan yang setara dalam pengalaman siapa pun.

Memilih sendiri berbeda dari diberi. Orang yang diberi menerima apa yang dianggap baik oleh pemberinya; orang yang memilih menerima apa yang ia sendiri kehendaki. Perbedaan itu terasa bahkan pada hal kecil. Hidangan yang paling mewah pun terasa kurang kalau seseorang tidak menyukai jenisnya, dan hidangan sederhana yang dipilih sendiri terasa pas.

Bahwa buah disebut lebih dulu daripada daging di 56:21 juga patut diperhatikan. Kebiasaan jamuan manusia menaruh yang berat lebih dulu dan buah sebagai penutup. Di sini urutannya terbalik. Yang ringan mendahului, dan hidangan tidak disusun menurut nilainya melainkan menurut ringannya.

Perlu dicatat bahwa bentuk kata yang sama muncul lagi di 56:32 untuk golongan kanan, dan di sana yang disebut banyaknya, bukan cara memilihnya. Dua golongan, dua keterangan yang berbeda atas benda yang sama. Yang satu diberi tahu jumlahnya berlimpah, yang lain diberi tahu pilihannya di tangan sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Pilihannya diserahkan Allah kepada mereka. Bukan disodorkan. Dipilih sendiri.
  • Yang ditekankan memilihnya, bukan buahnya. Bukan jenisnya. Kebebasannya.
  • Rangkaian hidangan itu dimulai Allah dari buah. Yang paling ringan dulu. Yang lain menyusul.
  • Kata kerja untuk memilih di ayat ini, (يَتَخَيَّرُونَ, yatakhayyaruuna), muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:20. Akarnya memayungi kebaikan sekaligus pemilihan, sebab memilih pada dasarnya mengambil yang lebih baik. Bentuk yang dipakai menyatakan pemilihan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk diri sendiri, bukan sekadar mengambil apa yang kebetulan tersedia. Untuk menerangkan perbuatan sesederhana memilih buah, Allah memakai kata yang tidak pernah dipakai untuk apa pun yang lain di seluruh kitab ini. Pola semacam itu berulang di surah ini, dan tiap kali menandai hal yang tidak punya bandingan setara dalam pengalaman siapa pun. Bahkan perkara sekecil mengambil buah pun tidak disamakan dengan mengambil buah yang kita kenal di dunia. Kalau perkara sekecil itu saja diberi kata tersendiri, seberapa jauh sebenarnya jarak antara yang dijanjikan dan yang bisa kita bayangkan? Perkara kecil pun disebut dengan pertimbangan.
  • Memilih sendiri berbeda dari diberi. Orang yang diberi menerima apa yang dianggap baik oleh pemberinya; orang yang memilih menerima apa yang ia sendiri kehendaki. Perbedaan itu terasa bahkan pada hal kecil. Hidangan paling mewah pun terasa kurang kalau seseorang tidak menyukai jenisnya, dan hidangan sederhana yang dipilih sendiri terasa pas di badan. Yang dijanjikan Allah di sini bukan sekadar tersedianya buah, melainkan bahwa yang sampai ke tangan mereka adalah yang mereka kehendaki. Menariknya, susunan kalimatnya menaruh buah sebagai pokok dan memilih sebagai sifat yang melekat padanya, bukan sebaliknya. Jadi yang dijanjikan bukan hak memilih sebagai kewenangan, melainkan buah yang memang sifatnya dipilih sendiri. Yang dijanjikan menyentuh keinginan yang paling pribadi, bukan sekadar tersedianya barang. Perkara kecil pun disebut dengan pertimbangan.
  • Bentuk kata buah yang dipakai di ayat ini muncul lagi di 56:32, dan dua-duanya di surah ini. Tetapi keterangannya berbeda. Yang di 56:32 disertai keterangan banyaknya; yang di sini disertai keterangan cara memilihnya. Satu menyebut jumlah, satu menyebut kebebasan. Dan keduanya berbicara tentang golongan yang berlainan: ayat ini untuk golongan terdepan, yang di 56:32 untuk golongan kanan. Perbedaan sekecil itu menyimpan keterangan yang tidak diucapkan. Kepada yang satu disebut berlimpahnya, kepada yang lain disebut bahwa pilihannya di tangan sendiri. Kalau kita ditanya mana yang lebih kita inginkan, banyaknya atau haknya menentukan, jawaban kita mungkin memberi tahu sesuatu tentang diri kita sendiri. Dua keterangan itu tidak bertingkat; keduanya sama-sama pemberian, hanya berbeda sisi yang ditonjolkan. Perkara kecil pun disebut dengan pertimbangan.