Ayat 56:22

وَحُورٌ عِينٌ

Dan bidadari yang bermata elok,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَحُورٌ عِينٌwa-huurun 'iinundan bidadari yang bermata elok

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَحُورٌwa-huurundan bidadari
  2. عِينٌ'iinunbermata jeli

Inti bacaan

Pendamping yang digambarkan indah: 'dan bidadari yang bermata indah', detail spesifik (mata indah) menunjukkan perhatian pada keindahan personal yang konkret, bukan gambaran generik tanpa karakter.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (وَحُورٌ عِينٌ, wa-huurun 'iinun) di ayat ini berbentuk nominatif, dan bentuk itu tidak sama dengan bentuknya di dua tempat lain yang memuat rangkaian serupa. Di 44:54 dan 52:20 rangkaian itu datang dalam bentuk (بِحُورٍ, bi-huurin) sesudah kata depan, didahului kata kerja (وَزَوَّجْنَاهُمْ, wa-zawwajnaahum) yang menyatakan bahwa mereka dipasangkan dengannya. Di sini tidak ada kata depan dan tidak ada kata kerja semacam itu. Kata ini disambungkan langsung ke deretan sebelumnya dengan huruf penyambung yang sama seperti buah di 56:20 dan daging di 56:21.

Akibat susunan itu, di ayat ini yang disebut berdiri sejajar dengan anggota deretan sebelumnya, bukan sebagai sesuatu yang dinyatakan diberikan lewat satu perbuatan tertentu. Di 44:54 dan 52:20 susunannya menyebutkan perbuatan memasangkan; di sini susunannya sekadar menderetkan. Bahasa Indonesia menerjemahkan ketiganya dengan susunan yang mirip, dan perbedaan tata bahasa itu tidak muncul dalam terjemahan sama sekali.

Kata (عِينٌ, 'iinun) berasal dari akar '-y-n dan menerangkan mata yang lebar. Yang disebut hanya satu sifat, dan sifat itu terletak pada matanya. Tidak ada keterangan tentang bagian lain, tidak ada keterangan tentang perawakan, tidak ada keterangan tentang pakaian. Satu sifat saja yang diambil, lalu ayat berikutnya beralih ke perumpamaan.

Bahasa Indonesia menerjemahkannya "bermata elok", dan itu memerlukan dua kata untuk satu kata dalam aslinya. Yang tak terbawa adalah kerapatannya: dalam bahasa Arab, sifat itu satu kata yang berdiri langsung di belakang kata bendanya, tanpa penghubung apa pun.

Perlu dicatat bahwa kedua kata di ayat ini sama-sama tanpa penanda takrif. Yang disebut karena itu bukan pihak tertentu yang sudah dikenali sebelumnya, melainkan sebutan yang baru diperkenalkan di sini. Dan seluruh ayat ini hanya terdiri atas dua kata ditambah satu huruf penyambung, sehingga ia termasuk ayat terpendek dalam rangkaian ini. Bahasa Indonesia membutuhkan lima kata atau lebih untuk memindahkannya.

Perlu ditambahkan bahwa ayat ini memakai bentuk jamak tanpa menyebutkan jumlah. Tidak ada bilangan, tidak ada keterangan banyak atau sedikit. Bahasa Indonesia "bidadari" tanpa penanda jamak justru terbaca lebih dekat ke bentuk tunggal, sehingga pembaca terjemahan bisa menangkap gambaran yang berbeda dari susunan aslinya. Ini salah satu tempat di mana ketiadaan penanda jamak dalam bahasa Indonesia berakibat langsung pada apa yang terbayang, bukan sekadar pada bentuk kalimatnya.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebutkan satu pun kata kerja, sehingga ia menggantung pada kalimat sebelumnya untuk memperoleh kedudukannya.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan pasangan sebagai bagian dari kenikmatan golongan yang paling dahulu. Yang disebut hanya satu sifat, dan sifat itu pada matanya. Ini pilihan yang perlu diperhatikan. Ketika manusia melukiskan keelokan, biasanya yang disebut banyak hal sekaligus, dan makin banyak disebut makin kabur gambarannya. Di sini cukup satu, lalu berhenti.

Menyebut mata juga berbeda dari menyebut bagian lain. Mata adalah bagian yang dipakai untuk memandang dan dipandang, bagian yang dipakai orang untuk bertemu satu sama lain. Di ayat sebelumnya sudah disebut bahwa mereka duduk berhadap-hadapan. Satu ayat menyebutkan arah duduk yang saling menghadap, ayat ini menyebutkan mata. Keduanya menyangkut pertemuan pandangan.

Susunan kalimatnya juga bermakna. Di dua surah lain yang memuat sebutan serupa, susunannya menyatakan perbuatan memasangkan. Di sini tidak. Sebutannya sekadar dideretkan bersama buah dan daging sebelumnya, dengan huruf penyambung yang sama. Perbedaan ini tidak mengubah pokok kabarnya, tetapi mengubah cara kabarnya disampaikan.

Perlu juga dicatat bahwa ayat ini tidak berdiri sendiri. Perumpamaannya baru datang di 56:23, dan tanpa ayat itu keterangannya berhenti pada satu sifat saja. Menahan perumpamaan sampai ayat berikutnya membuat pembaca melewati satu jeda pendek di antara sebutan dan gambarannya, dan jeda itu bagian dari cara surah ini mengatur langkah.

Renungan dan Hikmah

  • Yang disebut Allah matanya, bukan seluruh rupanya. Bukan digambarkan lengkap. Satu sifat.
  • Yang disebut sesudah hidangan pendampingnya. Buahnya dulu. Dagingnya. Lalu temannya.
  • Perumpamaannya baru Allah sebut di ayat sesudahnya. Disebut dulu. Diumpamakan kemudian.
  • Sebutan di ayat ini muncul juga di 44:54 dan 52:20, tetapi dengan susunan tata bahasa yang berbeda. Di dua tempat itu ia datang sesudah kata depan, dalam kalimat yang menyatakan bahwa mereka dipasangkan dengannya. Di ayat ini tidak ada kata depan dan tidak ada kata kerja semacam itu. Allah menyambungkannya langsung ke deretan sebelumnya dengan huruf yang sama seperti buah di 56:20 dan daging di 56:21. Akibatnya, di sini yang disebut berdiri sejajar dengan anggota deretan sebelumnya, bukan sebagai sesuatu yang dinyatakan lewat satu perbuatan tertentu. Bahasa Indonesia menerjemahkan ketiganya dengan susunan yang mirip, sehingga perbedaan itu tidak muncul sama sekali dalam terjemahan. Yang hilang bukan kabarnya, melainkan cara kabar itu dibawakan. Yang membawakan sebuah kabar ternyata ikut menentukan bagaimana kabar itu diterima. Yang ringkas belum tentu yang sedikit isinya.
  • Yang disebut Allah hanya satu sifat, dan sifat itu terletak pada matanya. Tidak ada keterangan tentang bagian lain, tidak ada tentang perawakan, tidak ada tentang pakaian. Satu saja, lalu ayatnya selesai. Ketika manusia melukiskan keelokan, biasanya yang disebut banyak hal sekaligus, dan anehnya makin banyak yang disebut justru makin kabur gambarannya. Daftar panjang membuat pembaca sibuk menyusun dan kehilangan kesan menyeluruh. Satu sifat yang tepat bekerja lebih kuat daripada sepuluh sifat yang bertumpuk. Ini berlaku juga di luar ayat ini. Dalam menerangkan apa pun kepada orang lain, godaan terbesar adalah menyebut segalanya supaya lengkap, padahal yang membuat sesuatu terbayang justru satu penanda yang dipilih dengan cermat. Menyebut sedikit dengan tepat lebih menolong daripada menyebut banyak dengan asal. Yang ringkas belum tentu yang sedikit isinya.
  • Menyebut mata berbeda dari menyebut bagian tubuh yang lain. Mata dipakai untuk memandang sekaligus untuk dipandang; ia bagian yang dengannya orang bertemu satu sama lain. Beberapa ayat sebelumnya sudah disebutkan bahwa mereka duduk berhadap-hadapan. Satu ayat menyebut arah duduk yang saling menghadap, ayat ini menyebut mata, dan dua keterangan itu menyangkut hal yang sama, yaitu bertemunya pandangan. Rangkaian di surah ini rupanya tidak menumpuk keterangan yang berdiri sendiri-sendiri; beberapa di antaranya saling menyambung meski dipisah beberapa ayat. Kalau kita ingat berapa banyak pertemuan hari ini yang berlangsung tanpa seorang pun benar-benar saling menatap, keterangan sesederhana ini terasa lebih berat daripada kelihatannya. Sudahkah kita benar-benar menatap orang yang duduk di hadapan kita hari ini? Yang ringkas belum tentu yang sedikit isinya.

Ayat 56:23

كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

laksana mutiara yang tersimpan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِka-amtsaali l-lu'lu'i l-maknuunilaksana mutiara yang tersimpan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. كَأَمْثَالِka-amtsaaliseperti
  2. اللُّؤْلُؤِl-lu'lu'imutiara
  3. الْمَكْنُونِl-maknuuniyang tersimpan

Inti bacaan

Perumpamaan kemurnian berharga: 'laksana mutiara yang tersimpan', citra sesuatu yang dijaga dan dilindungi dari kerusakan, menekankan nilai kemurnian dan keterjagaan sebagai kualitas yang dihargai tinggi.

Penjelasan pilihan kata

Susunan (كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ, ka-amtsaalil-lu'lu'il-maknuuni) memuat dua penanda perumpamaan sekaligus. Huruf pertamanya sudah berarti "seperti", lalu disusul kata yang berarti "serupa-serupa". Jadi yang tersusun bukan "seperti mutiara" melainkan "seperti perumpamaan-perumpamaan mutiara". Lapisan ganda ini menjauhkan gambarannya satu langkah lagi: yang dibandingkan bukan langsung dengan mutiaranya, melainkan dengan hal-hal yang menyerupainya. Bahasa Indonesia "laksana mutiara" memampatkan dua lapis itu menjadi satu, dan jarak yang sengaja dibuat itu hilang.

Kata (الْمَكْنُونِ, al-maknuuni) berasal dari akar k-n-n, yang berporos pada menyimpan dan menutupi supaya terlindung. Bentuk ini penderita, sehingga yang dinyatakan bukan mutiara yang menyembunyikan diri melainkan yang disimpan oleh pihak lain. Bentuk serupa dipakai juga di 37:49 dan 52:24. Yang di 37:49 mengumpamakan pendamping dengan telur yang tersimpan, dan yang di 52:24 mengumpamakan anak-anak muda yang melayani dengan mutiara yang tersimpan.

Perbandingan dengan 52:24 itu yang paling perlu diperhatikan. Di sana perumpamaan mutiara tersimpan dipakai untuk yang melayani; di sini untuk yang menemani. Perumpamaan yang sama, dua pihak yang berbeda. Dan ada satu lagi yang berlawanan arah: di 76:19 anak-anak muda yang melayani diumpamakan dengan mutiara yang bertaburan. Jadi satu benda yang sama, yaitu mutiara, dipakai dengan dua keadaan yang bertolak belakang, yaitu ditaburkan dan disimpan. Yang bertaburan tampak dan tersebar; yang tersimpan terjaga dan tak terlihat.

Yang tersimpan berbeda dari yang dipajang. Mutiara yang dipajang sudah tersentuh banyak tangan dan sudah dinilai banyak mata. Mutiara yang masih tersimpan belum. Sifat yang diambil dari perumpamaan ini bukan kilaunya, melainkan keterjagaannya.

Perlu dicatat bahwa yang diumpamakan di sini orangnya, bukan tempatnya. Sepanjang rangkaian ini taman tidak pernah diumpamakan dengan apa pun. Perumpamaan disimpan sampai giliran menyebut pendampingnya.

Satu hal lagi tentang penanda takrifnya. Berbeda dari ayat sebelumnya yang kedua katanya tanpa penanda takrif, di sini kata mutiara dan sifatnya sama-sama bertakrif. Jadi yang disebut bukan sembarang mutiara tersimpan, melainkan mutiara tersimpan yang sudah dikenali sebagai gambaran. Perbedaan itu berarti: pendampingnya diperkenalkan sebagai sesuatu yang baru, sedangkan pembandingnya diambil dari benda yang sudah dikenal siapa pun. Bahasa Indonesia tidak memiliki penanda takrif, sehingga kedua ayat terbaca dengan kadar pengenalan yang sama rata, padahal aslinya berbeda. Yang baru dan yang sudah dikenal ditaruh berdampingan, dan justru itulah cara perumpamaan bekerja.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan keindahan pasangan itu, diumpamakan seindah mutiara yang terjaga. Perumpamaan yang dipilih menyangkut sesuatu yang tersimpan, bukan sesuatu yang bercahaya. Ini patut diperhatikan, sebab mutiara paling mudah diumpamakan lewat kilaunya. Yang diambil justru keadaannya: terjaga, belum tersentuh, belum dinilai siapa pun. Sifat yang ditonjolkan bukan yang terlihat melainkan yang justru tidak terlihat.

Dan susunannya berlapis dua. Ada penanda perumpamaan, lalu ada lagi kata yang berarti serupa-serupa. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa mereka seperti mutiara, melainkan seperti hal-hal yang menyerupai mutiara. Lapisan tambahan itu menjaga jarak. Ia mencegah pembaca menyimpulkan bahwa gambaran yang ada di kepalanya sudah tepat.

Ada satu hal yang muncul kalau ayat ini dibaca bersama 52:24 dan 76:19. Perumpamaan mutiara dipakai di kedua tempat itu untuk anak-anak muda yang melayani, dan salah satunya berlawanan arah dengan ayat ini: di 76:19 mutiara itu bertaburan, di sini tersimpan. Satu benda, dua keadaan yang bertolak belakang, dipakai untuk melukiskan dua pihak yang berbeda di dalam taman yang sama. Yang melayani digambarkan tersebar karena memang berkeliling; yang menemani digambarkan terjaga karena memang tidak berpindah-pindah.

Perlu dicatat bahwa sepanjang rangkaian panjang ini, perumpamaan baru muncul di sini. Taman tidak diumpamakan, dipan tidak diumpamakan, minuman tidak diumpamakan. Semua disebut dengan kata benda langsung. Perumpamaan disimpan sampai giliran menyebut manusia.

Renungan dan Hikmah

  • Mutiaranya disebut Allah tersimpan, bukan dipajang. Bukan dipamerkan. Disimpan.
  • Yang diumpamakan pendampingnya, bukan tempatnya. Bukan tamannya. Orangnya.
  • Perumpamaan yang sama dipakai Allah di surah lain. Di sana untuk yang melayani. Di sini untuk yang menemani.
  • Susunan ayat ini memuat dua penanda perumpamaan sekaligus. Huruf pertamanya sudah berarti seperti, lalu disusul kata yang berarti serupa-serupa. Jadi yang tersusun bukan seperti mutiara, melainkan seperti hal-hal yang menyerupai mutiara. Lapisan ganda itu menjauhkan gambarannya satu langkah lagi, dan penjauhan itu disengaja. Ia mencegah pembaca menyimpulkan bahwa apa yang sudah terbayang di kepalanya sudah tepat. Bahasa Indonesia laksana mutiara memampatkan dua lapis menjadi satu, dan jarak yang sengaja dibuat itu hilang. Padahal jarak itulah yang menjaga kejujuran gambarannya. Allah melukiskan sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun, lalu menaruh penanda bahwa lukisan itu sendiri pun cuma pendekatan. Berapa sering kita merasa sudah paham sesuatu padahal yang kita pegang baru serupa-serupanya? Membaca dua ayat berdampingan sering memperlihatkan pilihan yang tak terlihat kalau dibaca sendiri-sendiri.
  • Mutiara paling mudah diumpamakan lewat kilaunya, dan itu yang biasa kita ambil kalau menyebut mutiara. Yang diambil Allah justru keadaannya: tersimpan, terjaga, belum tersentuh. Bentuk katanya pun penderita, sehingga yang dinyatakan bukan mutiara yang menyembunyikan diri melainkan yang disimpan oleh pihak lain. Sifat yang ditonjolkan bukan yang terlihat, melainkan justru yang tidak terlihat. Mutiara yang dipajang sudah tersentuh banyak tangan dan sudah dinilai banyak mata; yang masih tersimpan belum. Ukuran nilai di sini terbalik dari ukuran yang biasa kita pakai. Kita menilai sesuatu dari seberapa banyak orang mengakuinya, dan makin banyak yang mengakui makin tinggi kita menaruhnya. Ayat ini menaruh nilainya justru pada yang belum melewati penilaian siapa pun. Membaca dua ayat berdampingan sering memperlihatkan pilihan yang tak terlihat kalau dibaca sendiri-sendiri.
  • Perumpamaan mutiara dipakai juga di 52:24 dan 76:19, dan dua-duanya untuk anak-anak muda yang melayani, bukan untuk yang menemani. Yang di 52:24 memakai keadaan yang sama dengan ayat ini, yaitu tersimpan. Yang di 76:19 justru berlawanan arah: di sana mereka diumpamakan mutiara yang bertaburan. Jadi satu benda yang sama dipakai Allah dengan dua keadaan yang bertolak belakang, ditaburkan dan disimpan, untuk melukiskan dua pihak berbeda di dalam taman yang sama. Yang bertaburan tampak dan tersebar, sesuai dengan kerjanya yang berkeliling. Yang tersimpan terjaga dan tak terlihat, sesuai dengan keadaannya yang tidak berpindah-pindah. Perumpamaan yang sama bisa berbunyi berlawanan tergantung keadaan apa yang diambil darinya. Membaca dua ayat berdampingan sering memperlihatkan pilihan yang tak terlihat kalau dibaca sendiri-sendiri.