وَحُورٌ عِينٌ

Dan bidadari yang bermata elok,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَحُورٌ عِينٌwa-huurun 'iinundan bidadari yang bermata elok

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَحُورٌwa-huurundan bidadari
  2. عِينٌ'iinunbermata jeli

Inti bacaan

Pendamping yang digambarkan indah: 'dan bidadari yang bermata indah', detail spesifik (mata indah) menunjukkan perhatian pada keindahan personal yang konkret, bukan gambaran generik tanpa karakter.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (وَحُورٌ عِينٌ, wa-huurun 'iinun) di ayat ini berbentuk nominatif, dan bentuk itu tidak sama dengan bentuknya di dua tempat lain yang memuat rangkaian serupa. Di 44:54 dan 52:20 rangkaian itu datang dalam bentuk (بِحُورٍ, bi-huurin) sesudah kata depan, didahului kata kerja (وَزَوَّجْنَاهُمْ, wa-zawwajnaahum) yang menyatakan bahwa mereka dipasangkan dengannya. Di sini tidak ada kata depan dan tidak ada kata kerja semacam itu. Kata ini disambungkan langsung ke deretan sebelumnya dengan huruf penyambung yang sama seperti buah di 56:20 dan daging di 56:21.

Akibat susunan itu, di ayat ini yang disebut berdiri sejajar dengan anggota deretan sebelumnya, bukan sebagai sesuatu yang dinyatakan diberikan lewat satu perbuatan tertentu. Di 44:54 dan 52:20 susunannya menyebutkan perbuatan memasangkan; di sini susunannya sekadar menderetkan. Bahasa Indonesia menerjemahkan ketiganya dengan susunan yang mirip, dan perbedaan tata bahasa itu tidak muncul dalam terjemahan sama sekali.

Kata (عِينٌ, 'iinun) berasal dari akar '-y-n dan menerangkan mata yang lebar. Yang disebut hanya satu sifat, dan sifat itu terletak pada matanya. Tidak ada keterangan tentang bagian lain, tidak ada keterangan tentang perawakan, tidak ada keterangan tentang pakaian. Satu sifat saja yang diambil, lalu ayat berikutnya beralih ke perumpamaan.

Bahasa Indonesia menerjemahkannya "bermata elok", dan itu memerlukan dua kata untuk satu kata dalam aslinya. Yang tak terbawa adalah kerapatannya: dalam bahasa Arab, sifat itu satu kata yang berdiri langsung di belakang kata bendanya, tanpa penghubung apa pun.

Perlu dicatat bahwa kedua kata di ayat ini sama-sama tanpa penanda takrif. Yang disebut karena itu bukan pihak tertentu yang sudah dikenali sebelumnya, melainkan sebutan yang baru diperkenalkan di sini. Dan seluruh ayat ini hanya terdiri atas dua kata ditambah satu huruf penyambung, sehingga ia termasuk ayat terpendek dalam rangkaian ini. Bahasa Indonesia membutuhkan lima kata atau lebih untuk memindahkannya.

Perlu ditambahkan bahwa ayat ini memakai bentuk jamak tanpa menyebutkan jumlah. Tidak ada bilangan, tidak ada keterangan banyak atau sedikit. Bahasa Indonesia "bidadari" tanpa penanda jamak justru terbaca lebih dekat ke bentuk tunggal, sehingga pembaca terjemahan bisa menangkap gambaran yang berbeda dari susunan aslinya. Ini salah satu tempat di mana ketiadaan penanda jamak dalam bahasa Indonesia berakibat langsung pada apa yang terbayang, bukan sekadar pada bentuk kalimatnya.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebutkan satu pun kata kerja, sehingga ia menggantung pada kalimat sebelumnya untuk memperoleh kedudukannya.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan pasangan sebagai bagian dari kenikmatan golongan yang paling dahulu. Yang disebut hanya satu sifat, dan sifat itu pada matanya. Ini pilihan yang perlu diperhatikan. Ketika manusia melukiskan keelokan, biasanya yang disebut banyak hal sekaligus, dan makin banyak disebut makin kabur gambarannya. Di sini cukup satu, lalu berhenti.

Menyebut mata juga berbeda dari menyebut bagian lain. Mata adalah bagian yang dipakai untuk memandang dan dipandang, bagian yang dipakai orang untuk bertemu satu sama lain. Di ayat sebelumnya sudah disebut bahwa mereka duduk berhadap-hadapan. Satu ayat menyebutkan arah duduk yang saling menghadap, ayat ini menyebutkan mata. Keduanya menyangkut pertemuan pandangan.

Susunan kalimatnya juga bermakna. Di dua surah lain yang memuat sebutan serupa, susunannya menyatakan perbuatan memasangkan. Di sini tidak. Sebutannya sekadar dideretkan bersama buah dan daging sebelumnya, dengan huruf penyambung yang sama. Perbedaan ini tidak mengubah pokok kabarnya, tetapi mengubah cara kabarnya disampaikan.

Perlu juga dicatat bahwa ayat ini tidak berdiri sendiri. Perumpamaannya baru datang di 56:23, dan tanpa ayat itu keterangannya berhenti pada satu sifat saja. Menahan perumpamaan sampai ayat berikutnya membuat pembaca melewati satu jeda pendek di antara sebutan dan gambarannya, dan jeda itu bagian dari cara surah ini mengatur langkah.

Renungan dan Hikmah

  • Yang disebut Allah matanya, bukan seluruh rupanya. Bukan digambarkan lengkap. Satu sifat.
  • Yang disebut sesudah hidangan pendampingnya. Buahnya dulu. Dagingnya. Lalu temannya.
  • Perumpamaannya baru Allah sebut di ayat sesudahnya. Disebut dulu. Diumpamakan kemudian.
  • Sebutan di ayat ini muncul juga di 44:54 dan 52:20, tetapi dengan susunan tata bahasa yang berbeda. Di dua tempat itu ia datang sesudah kata depan, dalam kalimat yang menyatakan bahwa mereka dipasangkan dengannya. Di ayat ini tidak ada kata depan dan tidak ada kata kerja semacam itu. Allah menyambungkannya langsung ke deretan sebelumnya dengan huruf yang sama seperti buah di 56:20 dan daging di 56:21. Akibatnya, di sini yang disebut berdiri sejajar dengan anggota deretan sebelumnya, bukan sebagai sesuatu yang dinyatakan lewat satu perbuatan tertentu. Bahasa Indonesia menerjemahkan ketiganya dengan susunan yang mirip, sehingga perbedaan itu tidak muncul sama sekali dalam terjemahan. Yang hilang bukan kabarnya, melainkan cara kabar itu dibawakan. Yang membawakan sebuah kabar ternyata ikut menentukan bagaimana kabar itu diterima. Yang ringkas belum tentu yang sedikit isinya.
  • Yang disebut Allah hanya satu sifat, dan sifat itu terletak pada matanya. Tidak ada keterangan tentang bagian lain, tidak ada tentang perawakan, tidak ada tentang pakaian. Satu saja, lalu ayatnya selesai. Ketika manusia melukiskan keelokan, biasanya yang disebut banyak hal sekaligus, dan anehnya makin banyak yang disebut justru makin kabur gambarannya. Daftar panjang membuat pembaca sibuk menyusun dan kehilangan kesan menyeluruh. Satu sifat yang tepat bekerja lebih kuat daripada sepuluh sifat yang bertumpuk. Ini berlaku juga di luar ayat ini. Dalam menerangkan apa pun kepada orang lain, godaan terbesar adalah menyebut segalanya supaya lengkap, padahal yang membuat sesuatu terbayang justru satu penanda yang dipilih dengan cermat. Menyebut sedikit dengan tepat lebih menolong daripada menyebut banyak dengan asal. Yang ringkas belum tentu yang sedikit isinya.
  • Menyebut mata berbeda dari menyebut bagian tubuh yang lain. Mata dipakai untuk memandang sekaligus untuk dipandang; ia bagian yang dengannya orang bertemu satu sama lain. Beberapa ayat sebelumnya sudah disebutkan bahwa mereka duduk berhadap-hadapan. Satu ayat menyebut arah duduk yang saling menghadap, ayat ini menyebut mata, dan dua keterangan itu menyangkut hal yang sama, yaitu bertemunya pandangan. Rangkaian di surah ini rupanya tidak menumpuk keterangan yang berdiri sendiri-sendiri; beberapa di antaranya saling menyambung meski dipisah beberapa ayat. Kalau kita ingat berapa banyak pertemuan hari ini yang berlangsung tanpa seorang pun benar-benar saling menatap, keterangan sesederhana ini terasa lebih berat daripada kelihatannya. Sudahkah kita benar-benar menatap orang yang duduk di hadapan kita hari ini? Yang ringkas belum tentu yang sedikit isinya.