كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

laksana mutiara yang tersimpan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِka-amtsaali l-lu'lu'i l-maknuunilaksana mutiara yang tersimpan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. كَأَمْثَالِka-amtsaaliseperti
  2. اللُّؤْلُؤِl-lu'lu'imutiara
  3. الْمَكْنُونِl-maknuuniyang tersimpan

Inti bacaan

Perumpamaan kemurnian berharga: 'laksana mutiara yang tersimpan', citra sesuatu yang dijaga dan dilindungi dari kerusakan, menekankan nilai kemurnian dan keterjagaan sebagai kualitas yang dihargai tinggi.

Penjelasan pilihan kata

Susunan (كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ, ka-amtsaalil-lu'lu'il-maknuuni) memuat dua penanda perumpamaan sekaligus. Huruf pertamanya sudah berarti "seperti", lalu disusul kata yang berarti "serupa-serupa". Jadi yang tersusun bukan "seperti mutiara" melainkan "seperti perumpamaan-perumpamaan mutiara". Lapisan ganda ini menjauhkan gambarannya satu langkah lagi: yang dibandingkan bukan langsung dengan mutiaranya, melainkan dengan hal-hal yang menyerupainya. Bahasa Indonesia "laksana mutiara" memampatkan dua lapis itu menjadi satu, dan jarak yang sengaja dibuat itu hilang.

Kata (الْمَكْنُونِ, al-maknuuni) berasal dari akar k-n-n, yang berporos pada menyimpan dan menutupi supaya terlindung. Bentuk ini penderita, sehingga yang dinyatakan bukan mutiara yang menyembunyikan diri melainkan yang disimpan oleh pihak lain. Bentuk serupa dipakai juga di 37:49 dan 52:24. Yang di 37:49 mengumpamakan pendamping dengan telur yang tersimpan, dan yang di 52:24 mengumpamakan anak-anak muda yang melayani dengan mutiara yang tersimpan.

Perbandingan dengan 52:24 itu yang paling perlu diperhatikan. Di sana perumpamaan mutiara tersimpan dipakai untuk yang melayani; di sini untuk yang menemani. Perumpamaan yang sama, dua pihak yang berbeda. Dan ada satu lagi yang berlawanan arah: di 76:19 anak-anak muda yang melayani diumpamakan dengan mutiara yang bertaburan. Jadi satu benda yang sama, yaitu mutiara, dipakai dengan dua keadaan yang bertolak belakang, yaitu ditaburkan dan disimpan. Yang bertaburan tampak dan tersebar; yang tersimpan terjaga dan tak terlihat.

Yang tersimpan berbeda dari yang dipajang. Mutiara yang dipajang sudah tersentuh banyak tangan dan sudah dinilai banyak mata. Mutiara yang masih tersimpan belum. Sifat yang diambil dari perumpamaan ini bukan kilaunya, melainkan keterjagaannya.

Perlu dicatat bahwa yang diumpamakan di sini orangnya, bukan tempatnya. Sepanjang rangkaian ini taman tidak pernah diumpamakan dengan apa pun. Perumpamaan disimpan sampai giliran menyebut pendampingnya.

Satu hal lagi tentang penanda takrifnya. Berbeda dari ayat sebelumnya yang kedua katanya tanpa penanda takrif, di sini kata mutiara dan sifatnya sama-sama bertakrif. Jadi yang disebut bukan sembarang mutiara tersimpan, melainkan mutiara tersimpan yang sudah dikenali sebagai gambaran. Perbedaan itu berarti: pendampingnya diperkenalkan sebagai sesuatu yang baru, sedangkan pembandingnya diambil dari benda yang sudah dikenal siapa pun. Bahasa Indonesia tidak memiliki penanda takrif, sehingga kedua ayat terbaca dengan kadar pengenalan yang sama rata, padahal aslinya berbeda. Yang baru dan yang sudah dikenal ditaruh berdampingan, dan justru itulah cara perumpamaan bekerja.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan keindahan pasangan itu, diumpamakan seindah mutiara yang terjaga. Perumpamaan yang dipilih menyangkut sesuatu yang tersimpan, bukan sesuatu yang bercahaya. Ini patut diperhatikan, sebab mutiara paling mudah diumpamakan lewat kilaunya. Yang diambil justru keadaannya: terjaga, belum tersentuh, belum dinilai siapa pun. Sifat yang ditonjolkan bukan yang terlihat melainkan yang justru tidak terlihat.

Dan susunannya berlapis dua. Ada penanda perumpamaan, lalu ada lagi kata yang berarti serupa-serupa. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa mereka seperti mutiara, melainkan seperti hal-hal yang menyerupai mutiara. Lapisan tambahan itu menjaga jarak. Ia mencegah pembaca menyimpulkan bahwa gambaran yang ada di kepalanya sudah tepat.

Ada satu hal yang muncul kalau ayat ini dibaca bersama 52:24 dan 76:19. Perumpamaan mutiara dipakai di kedua tempat itu untuk anak-anak muda yang melayani, dan salah satunya berlawanan arah dengan ayat ini: di 76:19 mutiara itu bertaburan, di sini tersimpan. Satu benda, dua keadaan yang bertolak belakang, dipakai untuk melukiskan dua pihak yang berbeda di dalam taman yang sama. Yang melayani digambarkan tersebar karena memang berkeliling; yang menemani digambarkan terjaga karena memang tidak berpindah-pindah.

Perlu dicatat bahwa sepanjang rangkaian panjang ini, perumpamaan baru muncul di sini. Taman tidak diumpamakan, dipan tidak diumpamakan, minuman tidak diumpamakan. Semua disebut dengan kata benda langsung. Perumpamaan disimpan sampai giliran menyebut manusia.

Renungan dan Hikmah

  • Mutiaranya disebut Allah tersimpan, bukan dipajang. Bukan dipamerkan. Disimpan.
  • Yang diumpamakan pendampingnya, bukan tempatnya. Bukan tamannya. Orangnya.
  • Perumpamaan yang sama dipakai Allah di surah lain. Di sana untuk yang melayani. Di sini untuk yang menemani.
  • Susunan ayat ini memuat dua penanda perumpamaan sekaligus. Huruf pertamanya sudah berarti seperti, lalu disusul kata yang berarti serupa-serupa. Jadi yang tersusun bukan seperti mutiara, melainkan seperti hal-hal yang menyerupai mutiara. Lapisan ganda itu menjauhkan gambarannya satu langkah lagi, dan penjauhan itu disengaja. Ia mencegah pembaca menyimpulkan bahwa apa yang sudah terbayang di kepalanya sudah tepat. Bahasa Indonesia laksana mutiara memampatkan dua lapis menjadi satu, dan jarak yang sengaja dibuat itu hilang. Padahal jarak itulah yang menjaga kejujuran gambarannya. Allah melukiskan sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun, lalu menaruh penanda bahwa lukisan itu sendiri pun cuma pendekatan. Berapa sering kita merasa sudah paham sesuatu padahal yang kita pegang baru serupa-serupanya? Membaca dua ayat berdampingan sering memperlihatkan pilihan yang tak terlihat kalau dibaca sendiri-sendiri.
  • Mutiara paling mudah diumpamakan lewat kilaunya, dan itu yang biasa kita ambil kalau menyebut mutiara. Yang diambil Allah justru keadaannya: tersimpan, terjaga, belum tersentuh. Bentuk katanya pun penderita, sehingga yang dinyatakan bukan mutiara yang menyembunyikan diri melainkan yang disimpan oleh pihak lain. Sifat yang ditonjolkan bukan yang terlihat, melainkan justru yang tidak terlihat. Mutiara yang dipajang sudah tersentuh banyak tangan dan sudah dinilai banyak mata; yang masih tersimpan belum. Ukuran nilai di sini terbalik dari ukuran yang biasa kita pakai. Kita menilai sesuatu dari seberapa banyak orang mengakuinya, dan makin banyak yang mengakui makin tinggi kita menaruhnya. Ayat ini menaruh nilainya justru pada yang belum melewati penilaian siapa pun. Membaca dua ayat berdampingan sering memperlihatkan pilihan yang tak terlihat kalau dibaca sendiri-sendiri.
  • Perumpamaan mutiara dipakai juga di 52:24 dan 76:19, dan dua-duanya untuk anak-anak muda yang melayani, bukan untuk yang menemani. Yang di 52:24 memakai keadaan yang sama dengan ayat ini, yaitu tersimpan. Yang di 76:19 justru berlawanan arah: di sana mereka diumpamakan mutiara yang bertaburan. Jadi satu benda yang sama dipakai Allah dengan dua keadaan yang bertolak belakang, ditaburkan dan disimpan, untuk melukiskan dua pihak berbeda di dalam taman yang sama. Yang bertaburan tampak dan tersebar, sesuai dengan kerjanya yang berkeliling. Yang tersimpan terjaga dan tak terlihat, sesuai dengan keadaannya yang tidak berpindah-pindah. Perumpamaan yang sama bisa berbunyi berlawanan tergantung keadaan apa yang diambil darinya. Membaca dua ayat berdampingan sering memperlihatkan pilihan yang tak terlihat kalau dibaca sendiri-sendiri.