جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَjazaa'an bi-maa kaanuu ya'maluunasebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- جَزَاءًjazaa'anbalasan
- بِمَاbi-maaatas apa yang
- كَانُواkaanuumereka selalu
- يَعْمَلُونَya'maluunamereka kerjakan
Inti bacaan
Prinsip keadilan yang eksplisit: 'sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan', penegasan langsung bahwa seluruh kenikmatan yang disebutkan bukan pemberian acak, melainkan konsekuensi proporsional dari amal yang telah dilakukan, dasar bagi motivasi berbuat baik dengan kesadaran penuh akan hasil yang menyertainya.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ, jazaa-an bimaa kaanuu ya'maluun) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 32:17, 46:14, dan 56:24. Ketiganya menutup keterangan tentang balasan, tetapi apa yang ditutupnya berbeda jauh.
Yang paling menarik adalah 32:17. Di sana rangkaian ini menutup kalimat yang menyatakan tidak ada satu jiwa pun mengetahui apa yang disembunyikan bagi mereka berupa penyejuk mata. Jadi di sana penutup ini datang sesudah pernyataan bahwa balasannya tidak diketahui siapa pun. Di sini penutup yang sama datang sesudah dua belas ayat yang merincinya satu per satu: taman, dipan, cara duduk, pelayan, wadah minuman, jaminan atas minumannya, buah, daging, dan pendamping. Rangkaian penutup yang identik, sekali menutup yang dirahasiakan dan sekali menutup yang dibeberkan.
Kedua ayat itu tidak bertentangan. Yang dirinci di sini adalah bentuk-bentuk yang dikenali manusia, dan yang dinyatakan tersembunyi di 32:17 adalah kadar sebenarnya. Dirinci bukan berarti terjangkau; disebutkan bukan berarti terbayangkan. Membaca keduanya berdampingan menjaga pembaca dari dua kekeliruan sekaligus, yaitu mengira gambaran ini kiasan belaka, dan mengira gambaran ini sudah memadai.
Bentuk (كَانُوا يَعْمَلُونَ, kaanuu ya'maluun) menggabungkan kata kerja lampau dengan kata kerja sedang berlangsung. Susunan semacam itu dalam bahasa Arab menyatakan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang sepanjang waktu, bukan satu perbuatan yang terjadi sekali. Bahasa Indonesia "apa yang mereka kerjakan" tidak membawa kesan berulang itu; ia terdengar seperti menunjuk sekumpulan perbuatan tanpa keterangan tentang kebiasaannya.
Perlu dicatat bahwa yang disebut perbuatan, bukan keyakinan atau perasaan. Kata (يَعْمَلُونَ, ya'maluun) berasal dari akar '-m-l yang berporos pada kerja dan perbuatan nyata. Dan kata (جَزَاءً, jazaa-an) berbentuk keterangan sebab, sehingga seluruh daftar sebelumnya dinyatakan berkedudukan sebagai balasan, bukan sebagai pemberian yang berdiri sendiri.
Perlu ditambahkan bahwa kata pertamanya berbentuk keterangan yang menerangkan kedudukan seluruh kalimat sebelumnya, bukan kata benda yang berdiri sendiri. Dalam bahasa Arab bentuk semacam itu menyatakan alasan atau kedudukan bagi apa yang baru saja disebut. Jadi yang diterangkan bukan satu ayat terakhir saja, melainkan seluruh deretan sejak 56:12. Bahasa Indonesia menyambungkannya dengan kata "sebagai", dan sambungan itu memang menangkap kedudukannya, tetapi jangkauannya terbaca lebih pendek, seolah cuma menerangkan kalimat yang tepat mendahuluinya. Dalam susunan aslinya jangkauan itu membentang jauh ke belakang, menutup seluruh rangkaian sekaligus dengan satu kata.
Tafsiran
Ayat ini menutup seluruh rangkaian tentang golongan yang paling dahulu dengan menyebut sebabnya. Sesudah dua belas ayat yang merinci apa yang mereka terima, satu kalimat pendek menerangkan mengapa.
Perbandingan panjangnya patut diperhatikan. Rinciannya panjang, alasannya satu baris. Susunan seperti itu menaruh tekanan pada rinciannya, tetapi menutup kemungkinan salah paham yang bisa muncul darinya. Tanpa ayat ini, daftar panjang tadi bisa terbaca sebagai pemberian yang datang begitu saja.
Yang disebut sebagai sebab adalah perbuatan, bukan keyakinan atau perasaan. Dan bentuk kata kerjanya menyatakan perbuatan yang berulang sepanjang waktu, bukan satu perbuatan besar yang terjadi sekali. Jadi yang dibalas bukan puncak amal seseorang melainkan kebiasaannya. Ini penting, sebab manusia cenderung menakar dirinya dari perbuatan terbaiknya, sementara ukuran di sini adalah apa yang dikerjakannya berulang-ulang.
Ada juga yang perlu dijaga agar tidak salah dibaca. Menyebut balasan tidak membatalkan apa yang sudah dinyatakan sebelumnya, bahwa kedudukan mereka diberikan, bukan diraih sendiri. Di 56:11 mereka disebut sebagai yang didekatkan, dalam bentuk penderita. Dua keterangan itu berdampingan tanpa saling meniadakan: perbuatan mereka nyata dan diperhitungkan, dan sekaligus hasilnya tetap pemberian.
Perlu dicatat bahwa rangkaian penutup yang sama dipakai di 32:17 untuk menutup pernyataan bahwa balasan itu tidak diketahui siapa pun. Satu tempat menutup yang dirahasiakan, satu tempat menutup yang dibeberkan. Keduanya memakai kalimat penutup yang persis sama, dan justru karena itu keduanya saling menerangkan.
Renungan dan Hikmah
- Allah menutup daftar kenikmatan dengan menyebut sebabnya. Bukan pemberian acak. Balasan.
- Kalimatnya pendek sesudah rincian yang panjang. Daftarnya berhalaman. Alasannya satu baris.
- Frasa mereka kerjakan dipakai, bukan mereka yakini. Allah menyebut perbuatan. Yang dibalas yang dilakukan.
- Rangkaian penutup ayat ini muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 32:17, 46:14, dan 56:24. Yang di 32:17 paling menarik. Di sana ia menutup kalimat yang menyatakan tidak ada satu jiwa pun mengetahui apa yang disembunyikan bagi mereka berupa penyejuk mata. Jadi penutup itu datang sesudah pernyataan bahwa balasannya tidak diketahui siapa pun. Di sini penutup yang sama datang sesudah dua belas ayat yang merincinya satu per satu. Kalimat penutup yang identik, sekali menutup yang dirahasiakan dan sekali menutup yang dibeberkan. Keduanya tidak bertentangan: yang dirinci di sini bentuk-bentuk yang dikenali manusia, sedangkan yang tersembunyi di 32:17 kadar sebenarnya. Dirinci bukan berarti terjangkau, dan disebutkan bukan berarti terbayangkan. Dua ayat itu saling menjaga pembacanya dari dua arah yang berlawanan.
- Bentuk kata kerjanya menggabungkan bentuk lampau dengan bentuk yang sedang berlangsung, dan susunan semacam itu menyatakan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang sepanjang waktu, bukan satu perbuatan yang terjadi sekali. Jadi yang dibalas Allah bukan puncak amal seseorang melainkan kebiasaannya. Ini menyentuh cara kita menakar diri sendiri. Manusia cenderung mengingat perbuatan terbaiknya dan menjadikannya ukuran, sebab yang menonjol paling mudah diingat. Sedekah terbesar, malam paling khusyuk, keputusan paling berat. Padahal yang disebut di sini justru yang berulang, yang begitu biasa sampai kita sendiri tidak mencatatnya. Bahasa Indonesia apa yang mereka kerjakan tidak membawa kesan berulang itu, sehingga ukuran yang sebenarnya dipakai justru tidak terlihat dalam terjemahan. Yang paling sering kita lakukan ternyata yang paling menentukan.
- Menyebut balasan tidak membatalkan apa yang sudah dinyatakan sebelumnya. Di 56:11 kedudukan mereka disebut dalam bentuk penderita: mereka didekatkan, bukan mendekat. Sekarang di penutup ini seluruh daftar tadi dinyatakan sebagai balasan atas perbuatan mereka. Dua keterangan itu berdampingan tanpa saling meniadakan. Perbuatan mereka nyata dan diperhitungkan Allah, dan sekaligus hasilnya tetap pemberian. Kita mudah tergelincir ke salah satu ujung: merasa segalanya bergantung pada kerja keras sendiri sehingga hasil yang kurang selalu terasa sebagai kegagalan pribadi, atau merasa usaha tidak menentukan apa-apa sehingga tidak ada alasan bersungguh-sungguh. Surah ini menaruh keduanya berdampingan tanpa mempertentangkan, dan tanpa menjelaskan bagaimana keduanya berpadu. Keduanya dibiarkan berdiri tanpa dipertemukan dalam satu rumusan. Lalu di mana sebetulnya kita mesti berdiri di antara dua ujung itu?