Ayat 56:25

لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا

Mereka tidak mendengar di sana percakapan yang sia-sia dan tidak percakapan yang menimbulkan dosa,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًاlaa yasma'uuna fiihaa laghwanmereka tidak mendengar di sana percakapan yang sia-sia
  2. وَلَا تَأْثِيمًاwa-laa ta'tsiimandan tidak percakapan yang menimbulkan dosa

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. لَاlaatidak
  2. يَسْمَعُونَyasma'uunamendengar
  3. فِيهَاfiihaadi sana
  4. لَغْوًاlaghwanperkataan sia-sia
  5. وَلَاwa-laadan tidak pula
  6. تَأْثِيمًاta'tsiimanperbuatan dosa

Inti bacaan

Lingkungan sosial yang bersih: 'di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia dan tidak pula percakapan yang menimbulkan dosa', gambaran ideal komunikasi tanpa gosip atau ucapan merugikan, standar yang layak diusahakan bahkan dalam interaksi sosial di dunia.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan "(pula)" tidak dipakai.

Rangkaian (لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا, laa yasma'uuna fiihaa laghwan) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 19:62, 56:25, dan 78:35. Tiga tempat itu membuka dengan kalimat yang sama persis lalu menutupnya dengan cara yang berbeda-beda. Di 19:62 lanjutannya berupa pengecualian: kecuali salam. Di 78:35 lanjutannya berupa penambahan: dan tidak pula dusta. Di ayat ini lanjutannya juga penambahan, tetapi dengan kata yang lain: dan tidak pula ucapan yang menimbulkan dosa.

Perbedaan itu bukan hiasan. Yang di 19:62 menyebutkan apa yang justru terdengar, sehingga pembaca tidak dibiarkan membayangkan kesunyian. Dua yang lain tidak menyebutkan apa pun yang terdengar; keduanya menambah satu lagi yang tidak terdengar. Jadi dari tiga tempat yang membuka sama, satu memberi isi dan dua meniadakan lebih banyak.

Kata (تَأْثِيمًا, ta'tsiiman) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:25. Bentuk lainnya, (تَأْثِيمٌ, ta'tsiimun), juga muncul 1 kali, yaitu di 52:23. Jadi kata ini hanya hidup di dua ayat, dan dua-duanya berbicara tentang keadaan di taman. Yang di 52:23 menarik dibandingkan: di sana pasangan kata yang sama, yaitu ucapan sia-sia dan ucapan berdosa, disebut sebagai sesuatu yang tidak ada di dalam gelas yang mereka saling ulurkan. Di sini pasangan yang sama disebut sebagai sesuatu yang tidak mereka dengar. Satu menyangkut minumannya, satu menyangkut telinganya.

Akar kata keduanya juga berbeda arah. Kata pertama, dari akar l-gh-w, menyangkut ucapan yang tidak berisi, yang tidak merugikan siapa pun tetapi juga tidak berguna. Kata kedua, dari akar a-ts-m, menyangkut ucapan yang membuat orang berdosa. Yang pertama kosong, yang kedua melukai. Bahasa Indonesia memerlukan beberapa kata untuk masing-masing, sedangkan aslinya cukup satu kata untuk satu jenis.

Perlu dicatat bahwa kedua kata itu tanpa penanda takrif, sehingga yang ditiadakan bukan ucapan tertentu melainkan seluruh jenisnya.

Ada satu hal lagi pada bentuk kata kerjanya. Ia berbentuk sedang berlangsung, sehingga yang dinyatakan bukan sekali tidak mendengar melainkan keadaan yang terus-menerus demikian. Bahasa Indonesia "tidak mendengar" tidak menandai lamanya, sehingga kalimatnya bisa terbaca sebagai keterangan tentang satu saat tertentu. Dalam susunan aslinya ia keterangan tentang keadaan yang tidak berubah. Perbedaan ini penting, sebab yang dijanjikan bukan satu majelis yang tenang melainkan tidak adanya seluruh jenis ucapan itu sepanjang mereka berada di sana.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kemurnian taman: bebas dari percakapan sia-sia maupun berdosa. Dan keterangannya berupa peniadaan. Tidak dikatakan apa yang mereka dengar, melainkan apa yang tidak mereka dengar. Dua jenis ucapan ditiadakan sekaligus: yang kosong dan yang melukai. Keduanya mencakup hampir seluruh cara ucapan bisa merusak. Ucapan yang menyakiti sudah jelas rusaknya; ucapan yang sia-sia tidak menyakiti siapa pun, tetapi menghabiskan waktu dan menumpulkan perhatian tanpa meninggalkan apa-apa.

Menyebut keduanya sekaligus berarti menutup dua celah yang biasanya tidak ditutup bersamaan. Orang yang menjaga diri dari menyakiti masih bisa menghabiskan hari dalam obrolan yang tak berisi. Sebaliknya orang yang setiap kata-katanya berbobot bisa saja tajam dan melukai. Di sini dua-duanya tidak ada.

Ada satu hal yang layak dibandingkan dengan 19:62. Di sana kalimat pembukanya sama persis, tetapi lanjutannya menyebutkan apa yang justru terdengar, yaitu salam. Ayat ini tidak menyebutkannya. Yang satu memberi tahu pembaca bahwa di sana tetap ada suara, yang lain membiarkannya tidak dikatakan. Membaca keduanya bersama menutup kemungkinan salah paham bahwa yang dimaksud adalah kesunyian.

Perlu dicatat bahwa keterangan ini datang persis sesudah penutup di 56:24. Jadi ia bukan bagian dari daftar balasan tadi, melainkan keterangan baru yang ditambahkan sesudah daftarnya ditutup. Yang ditambahkan sesudah penutupan biasanya yang tidak ingin dilewatkan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut yang tidak terdengar, bukan yang terdengar. Bukan sia-sia. Bukan yang berdosa.
  • Dua jenis ucapan ditutup sekaligus. Yang kosong. Dan yang melukai.
  • Kenikmatan digambarkan Allah lewat ketiadaan. Bukan apa yang ada. Apa yang tidak ada.
  • Kalimat pembuka ayat ini muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 19:62, 56:25, dan 78:35, dan tiga tempat itu menutupnya dengan cara berbeda-beda. Di 19:62 lanjutannya berupa pengecualian, yaitu kecuali salam. Di 78:35 lanjutannya penambahan, yaitu dan tidak pula dusta. Di ayat ini lanjutannya juga penambahan, tetapi dengan kata yang lain, yaitu ucapan yang menimbulkan dosa. Jadi dari tiga tempat yang membuka sama persis, satu menyebutkan apa yang justru terdengar dan dua meniadakan lebih banyak lagi. Yang di 19:62 menjaga pembaca dari mengira taman itu sunyi. Yang dua lagi memperluas apa yang tidak ada di sana. Allah tidak mengulang kalimat yang sama untuk menyampaikan hal yang sama; tiap pengulangan membawa muatan yang belum disebut di tempat lain. Allah menutup dua celah sekaligus, dan di dunia kita jarang berhasil menutup keduanya bersamaan.
  • Dua jenis ucapan ditiadakan sekaligus, dan akar kedua katanya berbeda arah. Yang pertama menyangkut ucapan yang tidak berisi, yang tidak merugikan siapa pun tetapi juga tidak berguna. Yang kedua menyangkut ucapan yang membuat orang berdosa. Satu kosong, satu melukai. Menyebut keduanya bersamaan berarti menutup dua celah yang biasanya tidak tertutup sekaligus. Orang yang menjaga diri dari menyakiti masih bisa menghabiskan seharian dalam obrolan tak berisi, dan merasa aman karena tidak menyinggung siapa pun. Sebaliknya orang yang setiap ucapannya berbobot bisa saja tajam dan melukai, lalu membenarkan diri karena merasa yang dikatakannya penting. Dua-duanya tidak ada di sana. Kalau ucapan kita hari ini ditakar dengan dua ukuran itu sekaligus, berapa banyak yang tersisa? Allah menutup dua celah sekaligus, dan di dunia kita jarang berhasil menutup keduanya bersamaan.
  • Kata untuk ucapan berdosa di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 56:25. Bentuk lainnya, (تَأْثِيمٌ, ta'tsiimun), juga muncul 1 kali, yaitu di 52:23. Jadi kata ini cuma hidup di dua ayat, dan dua-duanya berbicara tentang keadaan di taman. Yang di 52:23 menarik dibandingkan. Di sana pasangan kata yang sama, ucapan sia-sia dan ucapan berdosa, disebut sebagai sesuatu yang tidak ada di dalam gelas yang mereka saling ulurkan. Di sini pasangan yang sama disebut sebagai sesuatu yang tidak mereka dengar. Satu menyangkut minumannya, satu menyangkut telinganya. Dua sudut atas jaminan yang sama, dan keduanya diperlukan: yang diminum tidak menerbitkan ucapan buruk, dan yang terdengar pun tidak memuatnya. Allah menutup dua celah sekaligus, dan di dunia kita jarang berhasil menutup keduanya bersamaan.

Ayat 56:26

إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا

kecuali ucapan, “Salam, salam.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِلَّا قِيلًاillaa qiilankecuali ucapan
  2. سَلَامًا سَلَامًاsalaaman salaamansalam, salam

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِلَّاillaakecuali
  2. قِيلًاqiilanucapan
  3. سَلَامًاsalaamankesejahteraan
  4. سَلَامًاsalaamankesejahteraan

Inti bacaan

Kecukupan tanpa berlebihan: 'إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا', pesan terpenting kadang tidak butuh kalimat rumit atau uraian bertele-tele, cukup diucapkan pendek dan tulus, prinsip berharga bagi cara berkomunikasi sehari-hari yang sering justru dipenuhi basa-basi tak perlu.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menyambung larangan yang baru disebut sebelumnya. Yang ditiadakan di 56:25 adalah dua jenis percakapan sekaligus, yang sia-sia dan yang berdosa. Ayat ini menyebut satu pengecualian dari peniadaan itu, dan pengecualian itu sendiri diberi dua lapis penegasan yang tak ditemukan di ayat sejenis mana pun sepanjang Al-Qur'an. Kutipan yang disebutkannya dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, tidak menyambung ke ayat sebelum atau sesudahnya.

Rangkaian (إِلَّا قِيلًا, illaa qiilan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini sendiri. Bandingkan dengan pembuka kalimat yang sama persis di 19:62, tempat kalimat "mereka tidak mendengar di sana percakapan yang sia-sia" muncul kata demi kata sama seperti di 56:25: pengecualiannya di sana cuma satu kata, (إِلَّا سَلَامًا, illaa salaaman), "kecuali salam." Ayat ini menambah satu kata sebelum kata itu. Bukan "kecuali salam," melainkan "kecuali ucapan: salam." Kata (قِيلًا, qiilan) berasal dari akar yang berarti berkata, dan kedudukannya di sini adalah kata benda yang berdiri sendiri, belum berisi apa pun sampai kata berikutnya menjelaskan isinya.

Kata (قِيلًا, qiilan) itu sendiri, dilepas dari ayat ini, muncul lagi hanya di dua tempat lain sepanjang Al-Qur'an dengan kedudukan yang sama sebagai kata benda berdiri sendiri: di 4:122, dalam kalimat "wa man ashdaqu minallahi qiilan", "dan siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah", dan di 73:6, dalam kalimat "wa aqwamu qiilan", "dan lebih tegak ucapannya." Di dua tempat itu kata yang sama dibiarkan tanpa isi. Ia dipakai untuk membandingkan siapa yang ucapannya paling benar atau paling tegak, tanpa pernah menyebutkan sendiri ucapan apa yang dimaksud. Ayat ini satu-satunya tempat kata itu langsung diberi isi, dan isinya cuma satu patah kata.

Isi itu diucapkan dua kali berturut-turut: (سَلَامًا سَلَامًا, salaaman salaaman). Pengulangan sepatah kata langsung berturut seperti ini, tanpa kata penghubung apa pun di antara keduanya, tidak ditemukan di tempat lain sepanjang Al-Qur'an. Kata salam sendiri muncul di banyak ayat lain, hampir selalu sebagai satu kata berdiri sendiri atau sebagai bagian dari kalimat yang lebih panjang. Di sini ia hadir dua kali, berdampingan, tanpa tambahan apa pun di antaranya.

Kedua kata (سَلَامًا) itu tanpa penanda takrif, kata benda yang berdiri sendiri, bukan sebutan yang menunjuk sesuatu yang sudah dikenal sebelumnya. Yang diucapkan bukan rumusan tetap yang diulang dari ingatan, melainkan kata yang tetap terdengar penuh meskipun diucapkan dua kali beruntun.

Ada satu ayat lain yang memakai pola serupa dan patut dibandingkan: 36:58, "salaamun qawlan min rabbin rahiim", "salam, sebagai ucapan dari Tuhan yang pengasih." Di sana kata untuk ucapan berasal dari bentuk yang berbeda tetapi akar yang sama dengan (قِيلًا) di ayat ini, dan ia dinyatakan eksplisit berasal dari Tuhan. Ayat ini tidak menyebutkan sumbernya seeksplisit itu, tetapi memakai akar kata yang sama untuk membingkai salam sebagai sebuah ucapan, bukan sekadar keadaan yang berlangsung tanpa pengucap.

Jadi susunan dua ayat ini bertingkat. Yang ditiadakan disebut lebih dulu, dua jenisnya sekaligus. Yang dikecualikan disebut sesudahnya, dan yang dikecualikan itu bukan kalimat panjang, melainkan satu kata, diberi bingkai oleh kata "ucapan" sebelum kata itu, dan diberi penekanan lewat pengulangan sesudahnya. Semakin sedikit yang tersisa untuk didengar, semakin jelas kata yang tersisa itu terdengar.

Tafsiran

Ayat ini menutup gambaran suasana di taman dengan menyebut satu-satunya yang terdengar di sana. Sesudah dua jenis ucapan ditiadakan di ayat sebelumnya, ayat ini tidak membiarkan pembaca membayangkan kesunyian. Ada yang tetap terdengar, dan yang terdengar itu disebut secara langsung, bukan disamarkan.

Yang menarik adalah caranya disebut. Bukan cuma "kecuali salam," melainkan "kecuali ucapan: salam, salam." Dua tambahan diberikan pada kata yang paling sederhana yang bisa diucapkan. Tambahan pertama membingkainya sebagai sebuah ucapan yang sengaja disampaikan, bukan suara latar yang kebetulan ada. Tambahan kedua mengulangnya, dan pengulangan sepatah kata langsung berturut seperti ini tidak dipakai di tempat lain sepanjang Al-Qur'an untuk menggambarkan taman. Seluruh kemungkinan bicara, dengan segala kompleksitas sosialnya, direduksi Allah menjadi satu kata yang damai, sebuah pengurangan yang drastis namun tidak terasa kurang; justru pengurangan itulah yang membuatnya bernilai dan gampang diingat, pengingat bahwa komunikasi yang tulus tidak selalu menuntut banyak makna terucap sekaligus.

Satu kata yang sama, diulang, ternyata cukup untuk menutup gambaran tentang tempat yang penuh kenikmatan. Tidak ada kalimat panjang yang menyusul, tidak ada percakapan yang berkembang menjadi topik lain. Yang tersisa sesudah dua peniadaan itu hanyalah satu kata yang diberi ruang untuk didengar dua kali, seolah cukup diucapkan dua kali dan tidak perlu ditambah lagi.

Perlu dicatat perbandingannya dengan 36:58, ayat lain yang memakai akar kata yang sama untuk membingkai salam sebagai sebuah ucapan yang datang dari suatu sumber, di sana disebutkan eksplisit dari Tuhan yang pengasih. Ayat ini tidak seeksplisit itu tentang sumbernya, tetapi pilihan kata yang sama, kata benda yang menunjuk pada tindakan berkata, membuat salam di sini terdengar bukan sebagai suasana yang mengambang, melainkan sebagai sesuatu yang disampaikan.

Ayat ini juga menutup rangkaian sejak 56:25 dengan pola yang bisa ditelusuri: dua hal ditiadakan lebih dulu, satu hal dikecualikan sesudahnya, dan yang dikecualikan itu diberi penekanan berlipat justru karena ia satu-satunya yang tersisa. Semakin sempit sesuatu, semakin jelas ia bisa disorot. Ayat pendek ini menunjukkan bahwa kesederhanaan bukan berarti kekurangan penekanan; sebaliknya, penekanan di sini justru datang lewat pengulangan kata yang paling sederhana yang mungkin diucapkan.

Renungan dan Hikmah

  • Satu-satunya yang terdengar di sana disebut Allah secara langsung. Salam. Salam.
  • Allah menyebut pengecualian lebih dulu, bukan isi. Yang tidak terdengar disebut dulu. Yang tersisa cuma ini.
  • Allah mengulang kata itu dua kali dalam ayat sependek ini. Bukan kalimat panjang. Sepatah, diulang.
  • Ayat ini tidak berhenti di 'kecuali salam.' Ada satu kata tambahan sebelum kata itu, kata yang berarti ucapan, sehingga yang dikecualikan bukan sekadar suasana yang mengambang melainkan sesuatu yang sengaja disampaikan. Bandingkan dengan 19:62, tempat pembuka kalimat yang sama persis, kata demi kata, berhenti pada 'kecuali salam' tanpa tambahan itu. Dua ayat menutup peniadaan yang sama dengan cara yang hampir sama, tetapi ayat ini memilih menambah satu kata yang mengubah kesan keseluruhannya: bukan lagi hanya apa yang terdengar, melainkan bahwa ada yang berbicara. Perbedaan sekecil satu kata benda ini gampang dilewatkan kalau dua ayat itu dibaca terpisah, dan baru terlihat justru karena bagian sebelumnya sama persis. Kalau seluruh kalimat pembuka identik lalu tiba-tiba satu ayat menambah satu kata, kata tambahan itu bukan kebetulan; itu satu-satunya tempat perbedaan diletakkan, dan perbedaan yang sengaja ditaruh di satu titik biasanya membawa muatan yang tidak boleh terlewat.
  • Kata yang dipakai untuk membingkai salam sebagai ucapan itu muncul lagi hanya di dua tempat lain, dan di kedua tempat itu ia dibiarkan tanpa isi. Satu tempat membandingkan siapa yang ucapannya paling benar, satu tempat lagi membandingkan ucapan yang paling tegak. Keduanya bertanya tentang mutu sebuah ucapan tanpa pernah menyebutkan ucapan itu sendiri; pembaca diminta membayangkan sendiri seperti apa ucapan yang paling benar atau paling tegak itu. Ayat ini satu-satunya tempat kata yang sama langsung diberi isi, dan isinya sesederhana satu patah kata yang diulang. Pertanyaan tentang ucapan mana yang paling benar dan paling tegak, yang di dua tempat lain dibiarkan terbuka, di sini justru dijawab bukan dengan uraian panjang, melainkan dengan menunjukkan langsung seperti apa bunyinya. Tiga ayat memakai kata yang sama untuk tiga keperluan berbeda, dua bertanya dan satu menjawab, dan yang menjawab memilih jawaban paling pendek yang mungkin diberikan.
  • Ada ayat lain, 36:58, yang memakai akar kata serupa untuk menyebut salam sebagai ucapan yang datang dari suatu sumber, dan di sana sumbernya disebut eksplisit, Tuhan yang pengasih. Ayat ini tidak sejelas itu menyebut sumbernya, tetapi pilihan katanya sudah mengarah ke sana: salam bukan cuaca yang kebetulan menyelimuti tempat itu, melainkan sesuatu yang disampaikan, dan sesuatu yang disampaikan selalu mengandaikan ada yang menyampaikan. Dua ayat yang letaknya jauh berbeda di dalam mushaf ternyata memilih kata yang berasal dari akar yang sama untuk keperluan yang sama, membingkai kedamaian di taman bukan sebagai keadaan tanpa asal-usul melainkan sebagai sesuatu yang datang dari arah tertentu. Kalau seluruh kebisingan dunia, baik yang sia-sia maupun yang menyakiti, akhirnya disaring sampai tersisa satu kata saja yang layak didengar terus-menerus, kata apa yang tersisa untuk didengar dari lingkungan yang selama ini mengelilingi seseorang, dan dari arah mana kata itu sebenarnya datang?