لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ
yang tidak sejuk dan tidak menyenangkan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍlaa baaridin wa-laa kariiminyang tidak sejuk dan tidak menyenangkan
Terjemahan per kata (4 kata)
- لَاlaatidak
- بَارِدٍbaaridinyang sejuk
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- كَرِيمٍkariiminyang mulia
Inti bacaan
Bukan tambahan siksaan, melainkan penghapusan harapan: 'لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ', dua kata 'tidak' yang menutup rapat setiap celah kelegaan yang mungkin masih terbayang, sebuah pengingat bahwa kadang yang paling menyakitkan bukan derita yang ditambahkan, melainkan penghiburan yang sepenuhnya dirampas.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menutup rangkaian tiga unsur nasib golongan kiri yang dimulai di 56:42 dengan dua peniadaan sekaligus: tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Berbeda dari dua ayat sebelumnya yang menambahkan unsur baru satu demi satu, angin, air, naungan, ayat ini tidak menambahkan unsur apa pun. Ia justru menghapus setiap kemungkinan kelegaan yang mungkin masih terbayang dari naungan yang baru saja disebut.
Kata (بَارِدٍ, baaridin), sejuk, muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: di 38:42 dan di ayat ini. Di 38:42, kata yang sama menyebut air yang diperintahkan Allah kepada Ayyub, "hadzaa mughtasalun baaridun wa syaraab", inilah air sejuk untuk mandi dan untuk minum, sebuah karunia dan pemulihan sesudah penderitaan panjang. Ayat ini adalah satu-satunya tempat lain kata ini dipakai, kali ini dinegasikan sepenuhnya: naungan asap hitam yang baru saja disebut bukanlah sejuk seperti yang diberikan kepada Ayyub, melainkan kebalikannya. Dua kemunculan, satu sebagai karunia yang diberikan, satu lagi sebagai kesejukan yang justru ditiadakan.
Kata (كَرِيمٍ, kariimin) jauh lebih sering dipakai, muncul 30 kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 27:29 menyifati sebuah surat yang mulia, di 23:116 menyifati singgasana yang mulia, dan lagi kemudian di surah ini sendiri, di 56:77, menyifati Al-Qur'an sendiri sebagai "qur'aanun kariim". Kata ini membawa makna yang luas, tidak sekadar mulia, melainkan mencakup segala yang pantas, yang baik, yang menyenangkan dan pantas disyukuri. Di dalam surah ini sendiri, kata yang sama hanya dipakai 2 kali: di ayat ini, dinegasikan sepenuhnya sebagai sifat naungan asap hitam, dan di 56:77, jauh kemudian, menegaskan kemuliaan Al-Qur'an itu sendiri. Dua kemunculan, satu meniadakan segala kebaikan, satu lagi menegaskan kemuliaan tertinggi, keduanya dalam surah yang sama.
Dua peniadaan yang disusun berturut, "laa baaridin wa laa kariim", tidak sejuk dan tidak menyenangkan, tidak menambah unsur siksaan baru. Keduanya justru menghapus setiap kemungkinan kelegaan yang bisa dibayangkan dari sebuah naungan. Naungan biasanya membawa keteduhan, ayat sebelumnya sudah menegaskan bahwa naungan ini tidak membawanya. Naungan biasanya juga membawa sesuatu yang menyenangkan, sekadar tempat berteduh yang nyaman, ayat ini menegaskan bahwa itu pun tidak ada. Dua kata sifat ini, disusun sejajar tanpa hierarki lewat pengulangan kata "tidak", menutup rapat setiap celah yang mungkin masih menyisakan harapan.
Ketiadaan ini tidak menyisakan kenyamanan sekecil apa pun, sebuah penegasan bahwa bahkan elemen minimal dari kenyamanan pun tidak tersedia, kontras total dengan kelimpahan kenikmatan yang sudah dilimpahkan bagi golongan kanan.
Struktur kalimat yang seluruhnya negatif ini berbeda dari tiga ayat sebelumnya yang seluruhnya positif dalam bentuknya, menyebutkan unsur demi unsur secara langsung. Ayat ini, sebagai penutup rangkaian, memilih bentuk yang berlawanan: bukan menambahkan sesuatu, melainkan menegaskan ketiadaan sesuatu. Pergantian bentuk dari afirmatif ke negatif inilah yang menandai bahwa daftar unsur lingkungan sudah selesai, dan ayat berikutnya akan berpindah dari menggambarkan tempat menuju menjelaskan sebab.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian tiga ayat yang menggambarkan lingkungan golongan kiri dengan cara yang berbeda dari ketiganya: bukan menambahkan unsur baru, melainkan meniadakan dua kemungkinan kelegaan sekaligus, kesejukan dan kenyamanan.
Kata "sejuk" yang dipakai di sini hanya muncul di satu tempat lain sepanjang Al-Qur'an, di kisah Ayyub, sebagai air yang menjadi karunia pemulihan sesudah penderitaan panjangnya. Kontras ini terasa tajam: apa yang menjadi pemulihan bagi seorang nabi yang diuji, di sini justru dinyatakan tidak ada sama sekali bagi golongan yang justru pantas mendapatkannya karena pilihannya sendiri.
Kata "menyenangkan" yang dipakai di sini membawa makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kata sifat biasa, mencakup segala hal yang pantas dan baik. Di dalam surah ini sendiri, kata yang sama muncul lagi jauh kemudian untuk menyifati Al-Qur'an sendiri sebagai sesuatu yang mulia. Dua pemakaian dalam satu surah, satu meniadakan segala kebaikan pada naungan siksaan, satu lagi menegaskan kemuliaan tertinggi pada kitab yang menyampaikan seluruh kisah ini, sebuah jarak makna yang seluas mungkin dijembatani oleh kata yang sama persis.
Dua peniadaan yang disusun berturut ini menutup setiap celah harapan yang mungkin masih tersisa dari naungan yang baru disebut di ayat sebelumnya. Bukan penambahan siksaan baru, melainkan penghapusan setiap kemungkinan kelegaan, sebuah cara menegaskan bahwa lingkungan ini benar-benar tidak menyisakan satu pun unsur yang bisa meringankan.
Renungan dan Hikmah
- Tidak sejuk. Tidak pula menyenangkan. Allah menutup rangkaian ini bukan dengan tambahan, melainkan dua peniadaan sekaligus.
- Ayat ini tidak menambah unsur baru. Ia menghapus kemungkinan lega yang mungkin masih terbayang dari naungan.
- Kata 'menyenangkan' di ayat ini mencakup segala yang pantas dan baik. Allah meniadakannya sepenuhnya, tanpa sisa.
- Kata 'sejuk' di ayat ini muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: di ayat ini dan di 38:42, kisah Ayyub. Di sana, kata yang sama menyebut air yang diperintahkan Allah sebagai karunia pemulihan, 'inilah air sejuk untuk mandi dan untuk minum', sesudah penderitaan panjang yang dijalani seorang nabi yang teruji kesabarannya. Di ayat ini, kata yang sama justru dinegasikan sepenuhnya, menegaskan bahwa naungan asap hitam yang baru saja disebut tidak membawa kesejukan semacam itu. Dua kemunculan yang berjarak jauh dalam mushaf namun berhadapan langsung dalam makna: satu sebagai anugerah yang diberikan kepada yang teruji sabar, satu lagi sebagai kesejukan yang justru ditiadakan dari golongan yang memilih jalannya sendiri. Ayyub, yang diuji dengan penderitaan panjang sebelum karunia itu diberikan, akhirnya mendapatkan kesejukan sebagai balasan atas kesabarannya; golongan yang disebut di ayat ini justru kehilangan kesejukan yang sama karena pilihan yang mereka ambil sendiri, sebuah kontras yang menegaskan bahwa kata yang sama bisa menjadi pemulihan bagi satu pihak dan ketiadaan bagi pihak yang lain.
- Kata 'menyenangkan' dipakai 30 kali di seluruh Al-Qur'an, jauh melampaui delapan, untuk menyifati hal-hal yang mulia dan pantas disyukuri, misalnya surat yang mulia di 27:29 atau singgasana yang mulia di 23:116. Namun di dalam surah ini sendiri, kata yang sama hanya dipakai 2 kali: di ayat ini, dinegasikan sepenuhnya sebagai sifat naungan siksaan, dan jauh kemudian di 56:77, menegaskan kemuliaan Al-Qur'an itu sendiri sebagai 'qur'aanun kariim'. Dua pemakaian yang berjarak puluhan ayat dalam surah yang sama, satu meniadakan segala kebaikan, satu lagi menegaskan kemuliaan tertinggi, seolah surah ini sendiri menyimpan jarak makna terjauh yang bisa dijembatani sebuah kata tunggal. Pembaca yang menandai kedua tempat ini akan menemukan bahwa surah yang sama menyimpan penyangkalan total pada satu ujungnya dan pengakuan tertinggi pada ujung yang lain, keduanya memakai kata yang sama persis sebagai jembatannya.
- Tiga ayat sebelum ini seluruhnya berbentuk afirmatif, menyebutkan unsur demi unsur secara langsung: angin, air, naungan. Ayat ini memilih bentuk yang berlawanan, seluruhnya negatif, menegaskan ketiadaan alih-alih menambahkan kehadiran. Pergantian bentuk kalimat inilah yang menandai bahwa daftar unsur lingkungan sudah tuntas, sebuah penutup yang menyegel rangkaian sebelum ayat berikutnya berpindah dari menggambarkan tempat menuju menjelaskan sebab. Apakah pemilihan bentuk negatif untuk menutup rangkaian ini, alih-alih menambahkan satu unsur siksaan lagi, justru menjadi cara yang lebih telak untuk menegaskan bahwa tidak ada satu pun celah kelegaan yang tersisa? Pembaca yang menelusuri urutan empat ayat ini, tiga afirmatif lalu satu negatif, akan menemukan bahwa penutup semacam ini justru meninggalkan kesan yang lebih dalam daripada jika seluruh rangkaian dibiarkan afirmatif dari awal hingga akhir.