إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُتْرَفِينَ

Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُتْرَفِينَinnahum kaanuu qabla dzaalika mutrafiinasesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
  2. كَانُواkaanuumereka adalah
  3. قَبْلَqablasebelum
  4. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  5. مُتْرَفِينَmutrafiinaorang-orang yang bermewah

Inti bacaan

Empat kata pendek menjembatani dua dunia yang berjauhan: 'إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُتْرَفِينَ', akhirat dijelaskan lewat rujukan langsung ke dunia, tanpa jeda atau uraian panjang, susunan sesingkat ini justru menegaskan betapa lurus garis penghubung antara pilihan hidup dan hasil yang diterimanya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menutup rangkaian gambaran lingkungan golongan kiri yang dimulai di 56:42 sekaligus membuka rangkaian baru: penjelasan sebab. Sesudah empat ayat berturut menggambarkan tempat, angin, air, naungan, ketiadaan kesejukan dan kenyamanan, ayat ini berpindah dari menggambarkan apa yang dialami menuju menjelaskan mengapa mereka mengalaminya.

Kata (قَبْلَ ذَٰلِكَ, qabla dzaalika), "sebelum itu", menandai titik balik yang jelas. Kata tunjuk "itu" merujuk kembali kepada seluruh gambaran yang baru saja disebutkan, angin panas, air mendidih, naungan asap yang tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Ayat ini menyatakan bahwa sebelum nasib itu menimpa mereka, di dunia, mereka sudah menjalani sesuatu yang menjadi sebabnya.

Kata (كَانُوا, kaanuu), bentuk lampau dari "menjadi" atau "adalah", disandingkan dengan kata benda "mutrafiin" bukan dengan kata kerja. Susunan semacam ini dalam bahasa Arab menandai keadaan yang menetap, bukan perbuatan sesaat yang dilakukan sekali lalu berhenti. Mereka bukan sekadar pernah bermewah-mewah pada suatu waktu, melainkan hidup dalam keadaan itu secara terus-menerus, sebuah watak yang melekat, bukan kejadian yang lewat.

Kata (مُتْرَفِينَ, mutrafiina), bermewah-mewah, dalam bentuk persis seperti tertulis di ayat ini, muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini saja. Namun akar dan bentuk dasarnya, tanpa kata ganti kepunyaan yang menempel, dipakai berulang di tempat lain dengan makna yang serupa: di 17:16, sebagai "mutrafiihaa", orang-orang mewah suatu negeri yang diperintahkan lalu berbuat fasik; di 23:64, sebagai "mutrafiihim", orang-orang mewah yang berteriak minta tolong ketika siksaan menimpa; di 34:34 dan di 43:23, keduanya sebagai "mutrafuuhaa", orang-orang mewah yang menolak peringatan setiap kali seorang pemberi peringatan diutus ke suatu negeri. Empat kemunculan lain, semuanya menyandang kata ganti kepunyaan yang menempatkan mereka sebagai bagian dari suatu negeri atau suatu kaum. Di ayat ini, kata yang sama muncul tanpa kata ganti kepunyaan sama sekali, sebab tidak ada lagi keterangan kepemilikan yang diperlukan: merekalah sendiri yang dimaksud secara langsung.

Pola yang berulang di keempat ayat lain itu selalu sama: kemewahan yang membuahkan penolakan terhadap peringatan atau pesan yang datang. Ayat ini tidak langsung menyebutkan penolakan semacam itu, namun ayat-ayat berikutnya akan menyusul dengan pola yang serupa, dosa besar yang terus-menerus dilakukan di 56:46, lalu penolakan terhadap kebangkitan di 56:47-48. Ketiga ayat ini bersama membentuk rangkaian sebab yang sama seperti pola di empat ayat lain tersebut: kemewahan yang menumbuhkan keangkuhan, keangkuhan yang menumbuhkan penolakan.

Ayat ini mengidentifikasi penyebab konkret di balik konsekuensi yang diterima golongan ini: kemewahan yang melalaikan tanggung jawab moral, sebuah peringatan bahwa kekayaan yang tidak diimbangi kesadaran spiritual bisa menjadi jalan menuju kehancuran, bukan jaminan keselamatan. Sebab yang diungkap di sini bukan identifikasi sebab tunggal, melainkan pola yang berulang: akar kata mutrafiin, kemewahan yang melalaikan, mengantar pada kebinasaan, sebagaimana terlihat pula (cf. 34:34, 43:23, 17:16).

Kata (إِنَّهُمْ, innahum), "sesungguhnya mereka", yang membuka ayat ini dengan penegasan, menandai peralihan nada dari penggambaran menuju penjelasan dengan kepastian penuh. Bukan dugaan atau kemungkinan, melainkan pernyataan yang ditegaskan: nasib yang baru saja digambarkan bukan kesewenangan tanpa sebab, melainkan konsekuensi dari keadaan yang mereka jalani sendiri sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini adalah titik balik surah dari menggambarkan tempat menuju menjelaskan sebab. Sesudah empat ayat berturut menyusun lingkungan penuh siksaan bagi golongan kiri, ayat ini menjawab pertanyaan yang mulai muncul di benak pembaca: mengapa nasib ini menimpa mereka?

Jawabannya diletakkan pada satu kata yang menandai keadaan, bukan perbuatan sesaat: mereka "adalah" orang-orang yang bermewah-mewah, sebuah watak yang menetap sepanjang hidup mereka di dunia, bukan kesalahan sekali yang kebetulan terjadi. Susunan kalimat yang memakai kata kerja "menjadi" disandingkan kata benda, alih-alih kata kerja aktif, menegaskan bahwa yang dipersoalkan bukan tindakan tunggal, melainkan cara hidup yang dijalani terus-menerus.

Kata "mutrafiin" yang dipakai di sini, meski dalam bentuk persisnya hanya muncul sekali, berasal dari akar yang sama dengan empat kemunculan lain yang selalu membawa pola serupa: kemewahan yang berujung pada penolakan terhadap peringatan. Keempat ayat lain itu semuanya menempatkan kata ini dengan kata ganti kepunyaan, sebagai penanda suatu kaum atau suatu negeri. Di sini, tanpa kata ganti kepunyaan, kata yang sama langsung menunjuk golongan yang sedang dibicarakan, tanpa perantara.

Ayat ini menutup satu rangkaian dan membuka rangkaian lain. Ia menutup gambaran lingkungan yang dimulai di 56:42, dan membuka penjelasan sebab yang akan berlanjut hingga penolakan mereka terhadap kebangkitan di ayat-ayat berikutnya. Kemewahan yang menjadi watak, bukan sekadar kekayaan, melainkan kelalaian yang tumbuh darinya, menjadi benang yang menyambungkan nasib mereka di akhirat dengan pilihan yang mereka jalani sendiri semasa hidup.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menjelaskan sebabnya. Sebelum nasib ini menimpa, mereka hidup bermewah-mewah. Bukan takdir buta, melainkan konsekuensi.
  • Kata yang dipakai Allah bukan 'pernah berbuat'. Melainkan 'adalah'. Sebuah keadaan yang menetap, bukan kejadian sesaat.
  • Empat ayat menggambarkan tempat siksaan. Kini Allah mulai menjawab mengapa. Jawabannya dimulai di sini.
  • Kata 'bermewah-mewah' dalam bentuk persis seperti di ayat ini hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an. Namun akar dan bentuk dasarnya dipakai berulang di tempat lain dengan pola yang serupa: di 17:16 dan 23:64, orang-orang mewah suatu negeri yang berbuat fasik lalu berteriak minta tolong ketika siksaan menimpa; di 34:34 dan 43:23, orang-orang mewah yang menolak setiap pemberi peringatan yang diutus kepada mereka. Empat kemunculan itu semuanya menyandang kata ganti kepunyaan, menandai mereka sebagai bagian dari suatu kaum. Di ayat ini, tanpa kata ganti kepunyaan, kata yang sama langsung menunjuk golongan yang sedang dibicarakan sendiri, sebab tidak ada lagi perantara kepemilikan yang diperlukan untuk menjelaskan siapa yang dimaksud. Lima kemunculan kata ini, satu bare dan empat berimbuhan, sama-sama mengaitkan kemewahan dengan sikap yang berujung buruk, sebuah pola yang cukup konsisten untuk dianggap bukan kebetulan susunan kata semata.
  • Kata 'sebelum itu' di ayat ini menunjuk kembali kepada seluruh gambaran yang baru saja disebutkan Allah: angin panas, air mendidih, naungan asap hitam yang tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Ayat ini menegaskan bahwa jauh sebelum semua itu menimpa mereka, di dunia, mereka sudah menjalani keadaan yang menjadi sebabnya. Peran kata tunjuk ini sebagai jembatan antara dua rangkaian, gambaran lingkungan yang baru selesai dan penjelasan sebab yang baru dimulai, menjadikan ayat ini titik pertautan yang menyatukan apa yang dialami dengan mengapa itu dialami. Tanpa kata tunjuk ini, pembaca bisa saja mengira gambaran lingkungan dan penjelasan sebab adalah dua hal yang berdiri sendiri-sendiri; dengan kata tunjuk ini, keduanya secara eksplisit dirangkai menjadi satu alur sebab-akibat yang utuh.
  • Ayat ini tidak berdiri sendiri sebagai penjelasan sebab. Ia membuka rangkaian yang akan berlanjut: dosa besar yang terus-menerus dilakukan di 56:46, lalu penolakan mereka terhadap kebangkitan di 56:47-48. Pola yang sama seperti empat kemunculan lain kata 'mutrafiin', kemewahan yang menumbuhkan penolakan terhadap peringatan, kini terulang dalam susunan yang lebih panjang: kemewahan menumbuhkan dosa yang terus-menerus, dan dosa yang terus-menerus menumbuhkan penolakan terhadap kebangkitan itu sendiri. Apakah kemewahan yang disebut Allah di sini adalah sebab tunggal, ataukah ia sekadar pintu pertama dari rangkaian sebab yang lebih panjang, yang baru akan terlihat utuh sesudah ayat-ayat berikutnya dibaca bersama? Susunan tiga ayat berturut, kemewahan lalu dosa besar lalu penolakan kebangkitan, membentuk semacam anak tangga sebab-akibat yang masing-masing anak tangganya menjelaskan mengapa anak tangga sesudahnya bisa terjadi.