وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيمِ

Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang agung.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيمِwa-kaanuu yushirruuna 'alaa l-hintsi l-'azhiimidan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang agung

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَكَانُواwa-kaanuudan mereka selalu
  2. يُصِرُّونَyushirruunamereka terus-menerus
  3. عَلَى'alaaatas
  4. الْحِنْثِl-hintsidosa
  5. الْعَظِيمِl-'azhiimiyang agung

Inti bacaan

Kata kerja yang dipilih di sini tidak menyebut satu tindakan, melainkan sebuah pola yang berjalan tanpa henti: 'يُصِرُّونَ', bentuk tata bahasanya sendiri sudah membawa gagasan bahwa waktu berlalu tanpa mengubah arah, jauh sebelum makna kalimatnya sempat ditafsirkan pembaca.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menyambung penjelasan sebab yang dimulai di 56:45 dengan unsur kedua: sesudah disebutkan bahwa golongan ini hidup bermewah-mewah, kini disebutkan bahwa mereka juga terus-menerus mengerjakan dosa yang agung. Huruf sambung (وَ, wa) yang membuka ayat ini menandainya sebagai unsur tambahan dalam daftar sebab yang sama, bukan sebab baru yang berdiri sendiri.

Kedua ayat, 56:45 dan 56:46, sama-sama memakai kata (كَانُوا, kaanuu), "mereka adalah", di awal kalimatnya, namun disandingkan kata yang berbeda jenisnya. Di 56:45, kata ini disandingkan kata benda, "mutrafiin", menandai watak atau identitas yang menetap. Di ayat ini, kata yang sama disandingkan kata kerja bentuk sedang berlangsung, (يُصِرُّونَ, yushirruuna), "mereka terus-menerus". Dua susunan berbeda ini sama-sama menyampaikan sesuatu yang berkelanjutan, tetapi dari sudut yang berbeda: yang pertama tentang siapa mereka, yang kedua tentang apa yang terus mereka lakukan.

Kata (يُصِرُّونَ, yushirruuna), berakar dari kata yang sama dengan (أَصَرُّوا, ashharruu), muncul dalam bentuk serupa 4 kali di seluruh Al-Qur'an: di 3:135, di 45:8, di ayat ini, dan di 71:7. Yang menarik dari empat kemunculan ini adalah tiga di antaranya menyifati mereka yang menolak kebenaran, sementara satu justru menegasikannya. Di 3:135, kata ini muncul dengan huruf peniadaan di depannya, menyifati orang-orang beriman yang berbuat dosa lalu bertobat, "dan mereka tidak terus-menerus atas apa yang mereka perbuat itu, sedang mereka mengetahui". Di 45:8, kata ini menyifati seseorang yang mendengar ayat-ayat Allah dibacakan lalu tetap menyombongkan diri seakan tidak mendengarnya. Di 71:7, kata ini menyifati kaum Nuh yang menyumbat telinga mereka setiap kali diseru. Ayat ini menjadi kemunculan ketiga dari pola penolakan itu, dan satu-satunya yang menegasikannya justru menjadi definisi tentang apa artinya bertobat: berhenti dari keterus-menerusan.

Kata (الْحِنْثِ, al-hintsi), "dosa", berbentuk seperti tertulis di ayat ini, hanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya, h-n-ts, dipakai di satu tempat lain, di 38:44, namun dengan makna yang berbeda: di sana, Ayyub diperintahkan mengambil seikat rumput dan memukulkannya, "dan janganlah engkau melanggar sumpah", memakai bentuk kata kerja dari akar yang sama. Di 38:44, akar ini menyangkut pelanggaran sumpah; di ayat ini, akar yang sama dipakai untuk dosa secara umum. Satu akar, dua makna yang berdekatan namun tak sama persis: keduanya menyangkut sesuatu yang mengikat lalu dilanggar, entah sumpah yang diucapkan atau batasan moral yang semestinya dijaga.

Kata (الْعَظِيمِ, al-'azhiim), "yang agung", adalah kata sifat yang sangat sering dipakai di seluruh Al-Qur'an untuk menyifati sesuatu yang besar kadarnya, misalnya menyifati 'Arsy di 9:129, menyifati kemenangan di 48:5, atau menyifati kesabaran yang dituntut di 42:43. Di ayat ini, kata yang sama menyifati dosa, bukan sesuatu yang mulia melainkan sesuatu yang buruk dalam kadar yang besar, menegaskan bahwa dosa yang dimaksud bukan kesalahan kecil yang lumrah, melainkan pelanggaran yang berat.

Akar kata (الْعَظِيمِ), dari kata dasar 'azhuma, "menjadi besar", ternyata berkerabat dekat dengan kata (عِظَامًا, 'izhaaman), "tulang-belulang", yang akan disebut Allah satu ayat kemudian di 56:47. Satu akar yang sama melahirkan dua kata yang tampak jauh berbeda maknanya: satu menyifati kadar sesuatu yang besar dan agung, satu lagi menamai kerangka tulang yang menopang tubuh. Jangkar konkret dari makna abstrak "agung" bertumpu pada gambaran fisik yang nyata: tulang, unsur tubuh yang paling keras dan paling besar bobotnya dibanding daging di sekelilingnya. Pertalian akar semacam ini tidak kentara dalam terjemahan Indonesia, sebab "agung" dan "tulang" terdengar sama sekali tidak berkerabat, padahal keduanya berasal dari rumpun kata yang satu.

Konvensi menerjemahkan akar ini konsisten sepanjang proyek ini: (الْعَظِيمِ, al-'azhiim) diterjemahkan "yang agung", takrifnya "Sang Agung", bentuk lebih (أَعْظَمُ, a'zham) diterjemahkan "lebih agung", dan bentuk kata kerjanya, "mengagungkan", meneruskan pemakaian akar yang sama. Menurut KBBI, "agung" pada makna dasarnya berarti besar, mulia, luhur, tiga gagasan yang saling melengkapi: besar dalam ukuran, mulia dalam nilai, luhur dalam kedudukan. Kata ini perlu dibedakan dari kerabat dekatnya yang lain: (كَبِيرٌ, kabiir), "besar", berakar berbeda dan kelak juga dipakai sebagai sebutan tersendiri; (مَجِيدٌ, majiid) diterjemahkan "luhur"; (كَرِيمٌ, kariim) diterjemahkan "mulia"; dan kata "aziiz" diterjemahkan "digdaya". Kelimanya menempati ranah makna yang berdekatan namun tidak sepenuhnya bertukar tempat, masing-masing membawa nuansa yang sedikit berbeda meski sama-sama menyifati kadar yang tinggi.

Objek yang disifati kata "agung" di ayat ini bernada negatif, dosa, bukan sesuatu yang mulia. Kata sifat yang sama bekerja untuk menyifati objek yang bernada positif maupun negatif; skalanya besar, tetapi konteks di sekitarnya yang menentukan apakah kebesaran itu sesuatu yang patut dibanggakan atau sesuatu yang patut disesali. Identifikasi pola perilaku bermasalah golongan ini menjadi jelas lewat kata "terus-menerus": masalahnya bukan kesalahan sesekali, melainkan pola yang dipertahankan secara sadar, perbedaan penting antara kekhilafan yang manusiawi dan kebiasaan buruk yang dipelihara. Ayat ini menambahkan sebab kedua bagi keteguhan mereka, terutama sebagai fondasi bagi pengingkaran kebangkitan yang akan diucapkan di dua ayat berikutnya.

Susunan ayat ini, sesudah 56:45 yang menyebut kemewahan sebagai keadaan yang menetap, kini menambahkan bahwa keadaan itu disertai perbuatan yang terus-menerus diulang. Kemewahan saja bukan dosa; yang menjadikannya sebab siksaan adalah watak yang lahir darinya, keterus-menerusan dalam pelanggaran besar yang tidak pernah dihentikan sepanjang hidup mereka.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan penjelasan sebab yang dimulai di 56:45 dengan unsur kedua: bukan hanya hidup bermewah-mewah, mereka juga terus-menerus mengerjakan dosa yang agung. Dua ayat ini bersama membentuk satu rangkaian sebab yang saling menguatkan, kemewahan sebagai keadaan dan dosa sebagai perbuatan yang lahir darinya.

Kata "terus-menerus" yang dipakai di sini muncul dalam bentuk serupa di tiga tempat lain, dan pola pemakaiannya mengungkapkan sesuatu yang penting: kata ini nyaris selalu menyifati mereka yang menolak kebenaran meski sudah mendengarnya, kecuali satu tempat yang justru menegasikannya untuk mendefinisikan pertobatan. Ayat ini menempatkan golongan kiri dalam pola penolakan itu, bukan dalam pengecualian yang bertobat.

Kata "dosa" yang dipakai di sini adalah kata yang hanya sekali dipakai dalam bentuk ini di seluruh Al-Qur'an, namun akarnya menyimpan jejak makna yang menarik: di tempat lain, akar yang sama menyangkut pelanggaran sumpah. Dosa yang dimaksud di sini bisa dipahami sebagai sesuatu yang serupa, pelanggaran atas ikatan moral yang semestinya dijaga, bukan sekadar kesalahan yang lumrah dilakukan siapa saja.

Kata "yang agung" yang menyertainya menegaskan bahwa dosa yang dimaksud bukan pelanggaran kecil. Kata sifat yang sama biasa dipakai untuk menyifati hal-hal yang besar kadarnya, dan di sini ia dipakai untuk menegaskan besarnya pelanggaran, bukan kemuliaannya. Bersama 56:45, ayat ini menyusun gambaran tentang bagaimana kemewahan yang tak terkendali bisa melahirkan watak yang terus-menerus melanggar tanpa jeda.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menambahkan unsur kedua bagi sebab nasib mereka. Bukan cuma mewah. Mereka terus-menerus berbuat dosa besar.
  • 56:45 bicara tentang siapa mereka. Ayat ini bicara tentang apa yang terus mereka lakukan. Dua sisi dari sebab yang sama.
  • Dosa yang disebut di sini bukan kesalahan kecil. Allah menyifatinya agung. Pelanggaran berat, bukan kekhilafan lumrah.
  • Kata 'terus-menerus' di ayat ini muncul dalam bentuk serupa di 4 tempat: 3:135, 45:8, di ayat ini, dan 71:7. Tiga di antaranya menyifati penolakan terhadap kebenaran, sementara satu justru menegasikannya. Di 3:135, kata ini disandingkan huruf peniadaan untuk menyifati orang beriman yang berbuat dosa lalu segera bertobat, tidak terus-menerus atasnya padahal mengetahui. Di 45:8, kata ini menyifati orang yang mendengar ayat Allah lalu tetap menyombongkan diri. Di 71:7, kata ini menyifati kaum Nuh yang menyumbat telinga setiap kali diseru kepada ampunan. Pola ini menunjukkan bahwa keterus-menerusan bukan sekadar mengulang kesalahan, melainkan penolakan aktif terhadap kesempatan untuk berhenti, dan satu-satunya pengecualian justru mendefinisikan pertobatan sebagai lawannya: berhenti dari keterus-menerusan itu sendiri.
  • Kata 'dosa' yang dipakai Allah di ayat ini, dalam bentuk persis seperti tertulis, hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an. Namun akarnya dipakai lagi di satu tempat lain, di 38:44, dengan makna yang berdekatan: di sana, Ayyub diperintahkan agar tidak melanggar sumpah yang pernah diucapkannya. Akar yang sama, satu menyangkut pelanggaran sumpah yang terucap, satu lagi menyangkut dosa secara umum, keduanya menyimpan gagasan tentang ikatan yang dilanggar. Pertalian akar semacam ini mengisyaratkan bahwa dosa yang dimaksud bukan sekadar kesalahan acak, melainkan pelanggaran atas sesuatu yang semestinya dijaga erat, sebuah batasan moral yang diingkari berulang kali tanpa jeda. Kelangkaan bentuk persis kata ini, hanya sekali dipakai di seluruh mushaf, sejalan dengan sifat dosa yang disifatinya: sesuatu yang berat dan khusus, bukan pelanggaran ringan yang lumrah disebut berulang dengan kata yang sama.
  • Ayat ini disambungkan langsung dari 56:45 lewat huruf penghubung yang sama, menegaskan bahwa kemewahan dan keterus-menerusan berbuat dosa bukan dua sebab yang terpisah, melainkan satu rangkaian yang saling menumbuhkan. Kemewahan yang dijalani sebagai keadaan menetap, tanpa kesadaran untuk menahan diri, cenderung melahirkan watak yang merasa bebas mengulang pelanggaran tanpa merasa perlu berhenti. Pola ini terlihat pula pada tiga dari empat kemunculan kata 'terus-menerus' yang lain, semuanya menyifati mereka yang mendengar kebenaran namun memilih tidak mengindahkannya. Apakah kemewahan tanpa batas selalu berujung pada watak semacam ini, ataukah yang menentukan justru bagaimana seseorang memilih meresponsnya begitu kebenaran sampai kepadanya? Dua ayat berturut, 56:45 dan ayat ini, menyusun jawabannya secara bertahap: bukan kemewahan itu sendiri yang menjadi sebab tunggal, melainkan watak yang lahir darinya ketika kesempatan untuk berhenti terus-menerus diabaikan.