Ayat 56:47
وَكَانُوا يَقُولُونَ أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ
Dan mereka berkata, “Apabila kami telah mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan?
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَكَانُوا يَقُولُونَwa-kaanuu yaquuluunadan mereka berkata
- أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًاa-idzaa mitnaa wa-kunnaa turaaban wa-izhaamanapabila kami telah mati dan menjadi tanah dan tulang-belulang
- أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَa-innaa la-mab'uutsuunaapakah kami benar-benar akan dibangkitkan
Aplikasi
Keraguan terhadap kebangkitan yang diungkapkan terang-terangan: 'apabila kami telah mati menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan (kembali)?', pertanyaan retoris yang menyiratkan ketidakpercayaan, sikap yang akan segera dibantah dengan argumen logis pada ayat-ayat berikutnya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
azhiim diterjemahkan 'agung' (indefinit, tanpa Maha; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama pemakaian diteruskan. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja. akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.
Ayat 56:48
أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ
Apakah nenek moyang kami yang terdahulu?”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَa-wa-aabaa'unaa l-awwaluunaapakah nenek moyang kami yang terdahulu
Aplikasi
Argumen banding kepada tradisi leluhur: 'apakah nenek moyang kami yang terdahulu (juga)?', penambahan skeptisisme berdasarkan skala waktu yang lebih luas, pola pikir yang menganggap sesuatu mustahil karena belum pernah terlihat sebelumnya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar a-b-w, a-w-l): a-wa aabaa'unaa l-awwaluun diterjemahkan 'apakah nenek moyang kami terdahulu' (akar '-b-w + akar '-w-l, penolakan kebangkitan). gloss '(akan dibangkitkan pula)' dibuang.