عَلَىٰ أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لَا تَعْلَمُونَ

untuk mengubah bentuk kalian dan menciptakan kalian dalam keadaan yang tidak kalian ketahui.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. عَلَىٰ أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثَالَكُمْ'alaa an nubaddila amtsaalakumuntuk mengubah bentuk kalian
  2. وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لَا تَعْلَمُونَwa-nunsyi'akum fii maa laa ta'lamuunadan menciptakan kalian dalam keadaan yang tidak kalian ketahui

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. عَلَىٰ'alaaatas
  2. أَنْanuntuk
  3. نُبَدِّلَnubaddilaKami mengganti
  4. أَمْثَالَكُمْamtsaalakumseperti kalian
  5. وَنُنْشِئَكُمْwa-nunsyi'akumdan Kami menumbuhkan kalian
  6. فِيfiidalam
  7. مَاmaaapa yang
  8. لَاlaatidak
  9. تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui

Inti bacaan

Kemampuan transformasi yang melampaui pemahaman: 'untuk mengubah bentuk kalian dan menciptakan kalian kelak dalam keadaan yang tidak kalian ketahui', pengakuan keterbatasan pemahaman manusia terhadap bentuk eksistensi masa depan, dorongan untuk percaya pada kemampuan yang melampaui imajinasi saat ini.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini secara tata bahasa adalah sambungan langsung dari 56:60. Frasa pembukanya, (عَلَىٰ أَنْ, 'alaa an), "atas hal", melekat pada kata (مَسْبُوقِينَ, masbuuqiin) di ayat sebelumnya: Allah tidak dapat didahului dalam hal mengubah bentuk kalian. Batas ayat memisahkan keduanya secara bacaan, tetapi bukan secara kalimat; keduanya satu pernyataan utuh yang terbelah letaknya, bukan dua pernyataan yang berdiri sendiri-sendiri.

Kata kerja (نُبَدِّلَ, nubaddila) berasal dari akar ب-د-ل (b-d-l), bentuk kedua, "mengubah/menggantikan". Objeknya, (أَمْثَالَكُمْ, amtsaalakum), dari akar م-ث-ل (m-th-l), berarti "bentuk-bentuk/rupa-rupa kalian", bentuk jamak dari kata yang biasa dipakai untuk perumpamaan atau keserupaan. Di sini ia menunjuk wujud lahiriah yang bisa diganti, bukan diri atau identitas yang berganti. Bentuk persis ini, dengan akhiran -kum, hanya muncul di ayat ini dan di 47:38, yang memakainya dalam konteks berbeda, tentang orang yang enggan berinfak digantikan dengan kaum lain.

Kata kedua, (وَنُنْشِئَكُمْ, wa nunsyi'akum), dari akar ن-ش-أ (n-sh-A), bentuk keempat, "dan Kami menciptakan kalian". Akar yang sama akan muncul lagi belakangan di surah ini pada kata (الْمُنْشِئُونَ, al-munsyi'uun), tetapi dalam konteks yang berbeda sama sekali, tentang pohon yang menyalakan api. Kemunculan akar yang sama dalam dua konteks berbeda, penciptaan ulang manusia dan penciptaan pohon, tidak ditandai Al-Qur'an sebagai kesengajaan; yang bisa dicatat cuma bahwa akar yang sama dipakai dua kali di surah yang sama.

Ayat ditutup dengan (فِي مَا لَا تَعْلَمُونَ, fii maa laa ta'lamuuna), "dalam apa yang tidak kalian ketahui", dari akar ع-ل-م ('-l-m) yang dinegasikan. Ketidaktahuan di sini bukan disamarkan atau dihindari, melainkan dinyatakan terbuka sebagai bagian dari pernyataannya sendiri: bentuk barunya memang di luar jangkauan pengetahuan yang ditanya.

Tambahan (di hari Kiamat) dan kelak tidak dipakai pada kata kerja (نُبَدِّلَ, nubaddila) dan (نُنْشِئَكُمْ, nunsyi'akum): konteks waktu tidak disebut eksplisit dalam teks Arab ayat ini. Bentuk kata kerja sekarang/akan datang, mudhari', pada keduanya sudah cukup menyiratkan sesuatu yang belum terjadi, tanpa perlu ditambah keterangan waktu yang tidak ada dalam teksnya.

Akar م-ث-ل (m-th-l) sendiri, di luar bentuk persis yang dipakai di sini, adalah salah satu akar yang paling sering dipakai Al-Qur'an untuk perumpamaan, tetapi di ayat ini ia dipakai bukan untuk perumpamaan melainkan untuk wujud fisik yang berulang, rupa yang serupa dari waktu ke waktu. Pemakaian akar perumpamaan untuk menunjuk wujud jasmani menegaskan bahwa bentuk tubuh yang dikenal sekarang, betapa pun terasa tetap dan pasti, sesungguhnya hanya satu dari kemungkinan rupa yang bisa digantikan oleh yang menciptakannya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kuasa Allah mengubah wujud manusia menjadi bentuk baru yang tak terbayangkan, melengkapi pernyataan yang dimulai di 56:60 dengan menyebutkan objek yang sebelumnya ditahan: Allah tidak dapat didahului dalam mengubah bentuk manusia dan menciptakan mereka dalam wujud yang belum diketahui. Ketegangan yang dibangun di akhir ayat sebelumnya kini dilepaskan.

Yang diubah bukan keberadaan, melainkan bentuk. Kata (أَمْثَالَكُمْ, amtsaalakum) menunjuk wujud lahiriah, sehingga perubahan yang dimaksud adalah penggantian rupa, bukan peniadaan diri. Orang yang sama tetap ada, tetapi dalam bentuk yang berbeda dari yang dikenalnya sekarang.

Ayat ini menutup dengan pernyataan ketidaktahuan yang dibiarkan terbuka: wujud baru itu ada dalam apa yang tidak diketahui pendengarnya. Alih-alih merinci seperti apa bentuknya, Allah membiarkan batas pengetahuan manusia berhenti di situ. Cara ini menutup rangkaian argumen 56:57-61 dengan menegaskan bahwa kekuasaan Allah tidak hanya meliputi apa yang bisa dibayangkan manusia, penciptaan yang sudah dikenal, kematian yang pasti terjadi, tetapi juga meliputi apa yang berada sepenuhnya di luar jangkauan bayangannya.

Ketidaktahuan yang dinyatakan terbuka di akhir ayat ini juga menutup pintu bagi siapa pun untuk mengklaim tahu persis seperti apa wujud sesudahnya. Batas itu bukan kekurangan penjelasan, melainkan bagian dari penjelasannya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut bentuk baru yang tidak kita ketahui. Tidak dirinci seperti apa. Ketidaktahuan itu justru dinyatakan, bukan disembunyikan atau dilewatkan begitu saja. Menyatakan batas pengetahuan secara terbuka berbeda dari sekadar diam tentangnya; yang satu mengakui ada sesuatu di luar jangkauan, yang lain seolah tidak ada apa-apa di sana yang perlu diakui. Batas yang dinyatakan terbuka seperti ini justru memberi ruang tenang bagi yang membacanya, sebab tidak dituntut membayangkan sesuatu yang memang belum bisa dibayangkan oleh siapa pun yang masih hidup.
  • Yang diganti wujudnya, bukan keberadaannya. Orangnya tetap. Rupanya yang ditukar. Perbedaan ini penting: bukan peniadaan yang dijanjikan, melainkan perubahan bentuk atas diri yang sama, sesuatu yang lebih dekat dengan pergantian pakaian daripada dengan kematian yang sesungguhnya menghapuskan seseorang dari keberadaan. Kesinambungan diri di balik perubahan wujud ini menjawab kekhawatiran yang mungkin muncul dari gambaran perubahan total: yang berganti hanya rupa lahiriahnya, bukan siapa yang sesungguhnya menjalani perubahan itu.
  • Kalimat itu berhenti pada batas pengetahuan manusia. Allah tidak melanjutkan keterangannya. Yang tak terjangkau dibiarkan tak terjangkau, bukan dipaksakan penjelasan yang sebenarnya tidak tersedia dalam teksnya sendiri, sebuah kejujuran batas yang jarang ditemukan dalam gambaran tentang hal-hal yang belum pernah dialami siapa pun. Kejujuran semacam ini berbeda dari kebiasaan mengarang detail demi terdengar meyakinkan; ayat memilih berhenti tepat di batas yang bisa dipertanggungjawabkan.
  • Ayat sebelumnya berhenti sebelum menyebut objeknya, dan ayat ini yang menyelesaikannya. Pengalaman menunggu jawaban yang tertunda satu ayat ini kecil, tetapi mengingatkan pada pengalaman yang lebih besar: hidup sering menyisakan pertanyaan yang jawabannya baru datang belakangan, kadang jauh belakangan, dan kesabaran menunggunya adalah bagian dari menerima susunan yang sudah ditetapkan sejak awal. Cara penundaan ini disusun, satu ayat menahan, satu ayat berikutnya melepaskan, memperlihatkan bahwa jeda dalam mendapat jawaban bukan tanda sesuatu yang terlupakan, melainkan bagian dari susunan yang memang disengaja.
  • Ketetapan yang tidak bisa didahului bukan hanya soal kapan kematian tiba, tetapi juga soal bagaimana bentuk sesudahnya. Dua hal yang biasanya dipikirkan terpisah, waktu kematian dan wujud sesudahnya, disatukan Allah dalam satu pernyataan kuasa yang sama, tanpa memberi celah bagi siapa pun untuk mengaturnya sendiri atau menawar bentuknya. Menyatukan dua ranah kekuasaan yang biasanya dipikirkan terpisah dalam satu pernyataan yang sama menegaskan bahwa tidak ada titik dalam perjalanan seseorang, dari kematian sampai apa yang menyusulnya, yang lepas dari kendali yang sama.
  • Rangkaian yang dimulai dari pertanyaan siapa yang menciptakan kini berakhir pada pernyataan tentang siapa yang berkuasa mengubah wujud sesudah kematian. Dari titik awal keberadaan sampai titik yang belum diketahui bentuknya, kekuasaan yang sama dipegang oleh satu pihak. Kalau seluruh rentang itu, dari yang paling dikenal sampai yang paling tidak diketahui, ada di tangan yang sama, bagian mana dari keberadaan seseorang yang sebenarnya masih berada di luar kendali-Nya? Rentang kekuasaan yang membentang dari titik paling dikenal sampai titik paling tidak diketahui inilah yang menutup seluruh argumen 56:57-61 dengan pernyataan yang tidak menyisakan ruang kosong sedikit pun.