وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْأَةَ الْأُولَىٰ فَلَوْلَا تَذَكَّرُونَ

Sungguh, kalian benar-benar telah mengetahui penciptaan yang pertama. Mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْأَةَ الْأُولَىٰwa-la-qad 'alimtumu n-nasy'ata l-uulaasungguh, kalian benar-benar telah mengetahui penciptaan yang pertama
  2. فَلَوْلَا تَذَكَّرُونَfa-lawlaa tadzakkaruunamengapa kalian tidak mengambil pelajaran

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. عَلِمْتُمُ'alimtumukalian telah mengetahui
  3. النَّشْأَةَn-nasy'atapenciptaan
  4. الْأُولَىٰl-uulaayang terdahulu
  5. فَلَوْلَاfa-lawlaamaka seandainya bukan karena
  6. تَذَكَّرُونَtadzakkaruunakalian mengambil pelajaran

Inti bacaan

Argumen berbasis pengalaman langsung: 'sungguh kalian benar-benar telah mengetahui penciptaan yang pertama; mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?', penggunaan bukti empiris yang sudah dialami sendiri (kelahiran pertama) sebagai dasar keyakinan terhadap kemungkinan penciptaan kedua, logika konsistensi yang sulit dibantah.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلَقَدْ, wa laqad), gabungan huruf penghubung (وَ, wa), huruf penegas (لَ, la), dan partikel kepastian (قَدْ, qad) yang menyertai kata kerja lampau untuk menandai sesuatu yang sudah pasti terjadi, "dan sungguh telah". Kata kerjanya, (عَلِمْتُمُ, 'alimtumu), dari akar ع-ل-م ('-l-m), "kalian telah mengetahui", ditujukan langsung kepada kalian dalam bentuk lampau kedua jamak. Ayat 56:58 dan 56:63 memakai kata kerja (رَأَيْتُمْ, ra'aytum) dari akar ر-أ-ي (r-A-y), "melihat/memperhatikan"; ayat ini beralih dari melihat ke mengetahui, dari mengajak memperhatikan sesuatu yang sedang berlangsung ke menegaskan sesuatu yang sudah menjadi pengetahuan yang dimiliki sejak sebelum ayat ini diucapkan.

Objeknya, (النَّشْأَةَ الْأُولَىٰ, an-nasy'ata-l-uulaa), "penciptaan yang pertama", berasal dari akar ن-ش-أ (n-sy-A), akar yang sama dengan kata kerja (نُنْشِئَكُمْ, nunsyi'akum) di 56:61, "Kami menciptakan kalian". Ayat 56:61 memakainya sebagai kata kerja untuk penciptaan yang akan datang; ayat ini memakainya sebagai kata benda untuk penciptaan yang sudah terjadi. Keduanya membingkai rangkaian 56:57-62: dibuka dengan (خَلَقْنَاكُمْ, khalaqnaakum) di 56:57, "Kami menciptakan kalian", ditutup dengan (النَّشْأَةَ الْأُولَىٰ) di sini, akar yang berbeda untuk gagasan yang sama, penciptaan sebagai fakta yang sudah terjadi pada diri mereka sendiri.

Kata (الْأُولَىٰ, al-uulaa), "yang pertama", dari akar أ-و-ل (A-w-l), hanya bermakna kalau ada yang kedua. Al-Qur'an memakai akar ن-ش-أ yang sama untuk menyebut penciptaan yang kedua di dua tempat lain: 29:20 memasangkannya dengan (بَدَأَ الْخَلْقَ, bada'a-l-khalqa, "memulai penciptaan") lalu menyebut (النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ, an-nasy'ata-l-aakhirata, "penciptaan yang akhir"), dan 53:47 menyebut (النَّشْأَةَ الْأُخْرَىٰ, an-nasy'ata-l-ukhraa, "penciptaan yang lain"), keduanya merujuk kebangkitan sesudah kematian. Ayat ini tidak menyebutkan penciptaan kedua itu secara eksplisit, tetapi kata "pertama" saja sudah menuntut ada yang kedua, seperti menyebut "anak pertama" tanpa perlu menegaskan bahwa akan ada anak berikutnya; kemungkinan itu sudah tersimpan dalam kata itu sendiri, bukan ditambahkan dari luar teks.

Penutup ayat, (فَلَوْلَا تَذَكَّرُونَ, fa lawlaa tadzakkaruuna), memakai partikel yang sama persis dengan pembuka rangkaian ini di 56:57, (فَلَوْلَا تُصَدِّقُونَ, fa lawlaa tushaddiquuna), salah satu dari tiga belas kemunculan (فَلَوْلَا) di seluruh Al-Qur'an. Tetapi kata kerja sesudahnya berbeda. Di 56:57, yang dituntut (تُصَدِّقُونَ, tushaddiquuna) dari akar ص-د-ق (sh-d-q), "membenarkan", menagih pengakuan atas klaim yang baru diajukan. Di sini, (تَذَكَّرُونَ, tadzakkaruuna) dari akar ذ-ك-ر (dz-k-r), bentuk kelima, "mengingat kembali/mengambil pelajaran", muncul dua puluh tujuh kali di seluruh Al-Qur'an, dan tidak menuntut pengakuan atas sesuatu yang baru, melainkan menuntut mengingat kembali sesuatu yang sudah diketahui, persis kata kerja yang membuka ayat ini sendiri (عَلِمْتُمُ). Pergeseran dari menuntut pembenaran ke menuntut ingatan ini menutup rangkaian 56:57-62 dengan gerakan berlawanan arah dari pembukaannya: bukan lagi meminta menerima sesuatu yang baru, melainkan meminta mengakui sesuatu yang sebenarnya sudah dipegang sejak lama.

Ayat ini menutup argumen tentang penciptaan yang dimulai di 56:57 sekaligus membuka jalan bagi argumen berikutnya. Ayat sesudahnya, 56:63, memakai formula (أَفَرَأَيْتُمْ, afara'aytum) yang persis sama dengan pembuka 56:58, memulai bukti kedua tentang tanaman dengan struktur pertanyaan yang identik. Rangkaian pertama selesai dengan menagih ingatan; rangkaian kedua akan dimulai lagi dengan menagih perhatian, mengulangi pola yang sama untuk bukti yang berbeda.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian argumen tentang penciptaan yang dimulai di 56:57 dengan cara yang berbeda dari cara ia dibuka. Argumen dimulai dengan menagih pengakuan atas fakta penciptaan; ia ditutup dengan menagih ingatan atas pengetahuan yang sudah dimiliki. Perubahan tuntutan ini menunjukkan bahwa seluruh rangkaian bukan sedang mengajarkan sesuatu yang benar-benar baru, melainkan menyingkap kembali sesuatu yang sebenarnya sudah tersimpan sejak awal, sesuatu yang hanya perlu diakui, bukan dipelajari dari nol.

Kata "penciptaan yang pertama" menaruh ayat ini pada posisi penting dalam alur surah. Surah ini dibuka dengan menggambarkan peristiwa besar, (الْوَاقِعَةُ, al-waaqi'atu), yang memisahkan manusia ke dalam beberapa golongan menurut bagaimana mereka menghadapi kematian dan apa yang datang sesudahnya. Argumen penciptaan di 56:57-61 dan penutupnya di ayat ini menyiapkan dasar bagi tema itu: kalau penciptaan yang pertama sudah diketahui dan tidak diragukan, maka penciptaan yang kedua, sesuatu yang tersirat justru dari kata "pertama" itu sendiri, semestinya tidak lebih sulit diterima daripada yang pertama.

Ayat ini tidak menyebutkan penciptaan kedua secara langsung. Ia berhenti pada penciptaan pertama saja, membiarkan pembaca sendiri menarik kesimpulannya: kalau yang pertama sudah pasti dan sudah diketahui, mengapa yang kedua terasa begitu sulit dipercaya? Pertanyaan penutup, "mengapa kalian tidak mengambil pelajaran", bukan pertanyaan tentang informasi yang kurang, melainkan pertanyaan tentang kesimpulan yang belum ditarik dari informasi yang sudah lengkap sejak awal.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat-ayat sebelumnya mengajak memperhatikan, mengarahkan mata ke bukti yang sedang ada di depan. Ayat ini melangkah lebih jauh: Allah tidak lagi mengajak melihat, melainkan menegaskan bahwa pengetahuannya sudah dimiliki sejak lama. Pergeseran dari mengajak memperhatikan ke menegaskan sudah mengetahui ini menutup ruang untuk berpura-pura belum tahu. Seseorang bisa menghindar dari ajakan melihat dengan cara memalingkan muka, tetapi tidak bisa menghindar dari pernyataan bahwa ia sudah mengetahui, sebab itu bukan permintaan untuk melakukan sesuatu, melainkan pernyataan tentang keadaan yang sudah terjadi pada dirinya sendiri.
  • Ayat ini hanya menyebut penciptaan yang pertama, tidak menyebut penciptaan yang kedua sama sekali. Tetapi kata "pertama" membawa kemungkinan yang kedua di dalam dirinya sendiri, tanpa perlu diucapkan terpisah. Cara menyampaikan seperti ini membiarkan pembaca sendiri yang menyusun kesimpulannya, bukan disodori jawaban jadi. Ada perbedaan antara diberi tahu langsung bahwa kematian bukan akhir, dengan dibiarkan menemukan sendiri bahwa kata yang baru saja didengarnya sudah mengandung kemungkinan itu sejak awal, dan yang kedua biasanya membekas lebih dalam daripada yang pertama.
  • Rangkaian ini dibuka dengan Allah menagih pembenaran atas klaim yang baru disampaikan, dan ditutup dengan menagih ingatan atas sesuatu yang sudah diketahui. Dua tuntutan yang terasa beda beratnya: membenarkan sesuatu yang baru menuntut kepercayaan pada pihak yang menyampaikan, sedangkan mengingat sesuatu yang sudah diketahui hanya menuntut kejujuran pada diri sendiri. Kalau seseorang gagal pada tuntutan yang kedua ini, kegagalannya bukan lagi soal kurang informasi, melainkan soal enggan mengakui apa yang sebenarnya sudah dipegangnya sendiri sejak sebelum ayat ini diturunkan.
  • Rangkaian ini dibuka di 56:57 dengan kata kerja "Kami menciptakan kalian" dan ditutup di sini dengan kata benda "penciptaan yang pertama", dua akar kata yang berbeda untuk gagasan yang sama, penciptaan sebagai fakta yang melekat pada diri pendengarnya. Bingkai semacam ini membuat rangkaian 56:57-62 terasa selesai dengan sendirinya sebelum ayat berikutnya membuka rangkaian baru. Pembaca yang mengikuti dari awal akan merasakan sesuatu telah tuntas dibicarakan, bukan sekadar berhenti di tengah, sebelum diajak lagi memperhatikan bukti yang lain.
  • Ada celah antara mengetahui sesuatu dan menyadari sepenuhnya apa yang dituntut oleh pengetahuan itu. Allah menegaskan bahwa mereka sudah tahu penciptaan yang pertama, tetapi lalu bertanya mengapa mereka tidak mengambil pelajaran darinya, seolah pengetahuan itu sudah lama dimiliki tanpa pernah benar-benar diolah menjadi kesadaran. Berapa banyak hal yang sesungguhnya sudah diketahui seseorang, tetapi belum pernah diizinkan mengubah caranya memandang dirinya sendiri?
  • Ayat ini menutup satu rangkaian pertanyaan sekaligus menyiapkan pembaca untuk rangkaian berikutnya, yang akan dibuka lagi dengan formula pertanyaan yang serupa tentang bukti yang berbeda. Kalau bukti pertama, penciptaan diri sendiri, sudah cukup untuk menagih ingatan, apa yang membuat pembaca berpikir bukti kedua yang akan segera diajukan tidak akan menuntut hal yang sama?