أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ

Maka, apakah kalian memperhatikan apa yang kalian tanam?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَa-fa-ra'aytum maa tahrutsuunamaka, apakah kalian memperhatikan apa yang kalian tanam

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَفَرَأَيْتُمْa-fa-ra'aytumapakah kalian memperhatikan
  2. مَاmaaapa yang
  3. تَحْرُثُونَtahrutsuunakalian tanam

Inti bacaan

Pertanyaan dilema-penciptaan kedua, tentang pertanian: 'apakah kalian memperhatikan apa yang kalian tanam?', pengalihan fokus ke aktivitas sehari-hari yang dianggap biasa (bertani), mengundang refleksi terhadap proses yang selama ini dilewati tanpa perenungan mendalam.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَفَرَأَيْتُمْ, afara'aytum), formula pertanyaan yang sudah dibahas di 56:58, muncul kembali persis sama untuk membuka bukti kedua dalam rangkaian ini. Sesudah rangkaian pertama tentang penciptaan diri ditutup di 56:62 dengan menagih ingatan, ayat ini membuka rangkaian kedua dengan menagih perhatian lagi, kali ini pada objek yang berbeda: hasil tanam.

Kata (تَحْرُثُونَ, tahrutsuuna) dari akar ح-ر-ث (h-r-ts), "kalian bercocok tanam/membajak", muncul dalam bentuk persis ini hanya di ayat ini, tetapi akarnya sendiri muncul sebelas kali di seluruh Al-Qur'an dengan cakupan makna yang lebih luas daripada sekadar pekerjaan bertani. Di 2:223, (حَرْثٌ, hartsun) dipakai sebagai kiasan untuk istri, "ladang bagi kalian", menunjukkan bahwa akar ini bisa dipakai untuk sesuatu yang ditanam demi hasil di masa depan, bukan cuma tanaman secara harfiah. Di 42:20, akar yang sama membedakan (حَرْثَ الدُّنْيَا, hartsa-d-dunyaa) dan (حَرْثَ الْآخِرَةِ, hartsa-l-aakhirati), "ladang dunia" dan "ladang akhirat", memakai citra bercocok tanam untuk menggambarkan usaha yang hasilnya dipetik nanti. Ayat ini memakainya secara harfiah, tanaman sungguhan, tetapi akar yang sama juga membawa gagasan tentang menabur sesuatu sekarang untuk dipanen kemudian, gagasan yang relevan dengan tema besar surah ini tentang apa yang menyusul sesudah kehidupan sekarang.

Objek pertanyaannya, (مَا, maa), "apa yang", sekali lagi dibiarkan umum, persis seperti pola di 56:58. Ayat berikutnya, 56:64, baru mempertajam pertanyaannya menjadi soal siapa pelaku sesungguhnya di balik pertumbuhan itu. Pola dua ayat, pertanyaan umum lalu pertanyaan tajam, berulang persis sama seperti pasangan 56:58-59 sebelumnya.

Perhatikan pergeseran objek dari rangkaian pertama ke rangkaian kedua. Bukti pertama, di 56:58, menunjuk sesuatu yang paling pribadi dan tersembunyi, proses reproduksi dalam tubuh sendiri. Bukti kedua ini menunjuk sesuatu yang sebaliknya, pekerjaan sehari-hari yang dilakukan di luar tubuh dan bisa dilihat semua orang, bercocok tanam. Dari bukti yang paling dalam ke bukti yang paling terbuka, rangkaian ini bergerak menyapu dua wilayah pengalaman manusia yang berlawanan letaknya, dari yang tersembunyi di dalam diri ke yang terpampang di ladang.

Ayat ini pendek, hanya tiga kata, sama seperti 56:58 sebelumnya. Kesamaan panjang ini bukan kebetulan tunggal; keduanya berfungsi sebagai pembuka yang mengarahkan perhatian dulu ke satu tindakan sehari-hari, sebelum ayat sesudahnya menajamkannya menjadi pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya berkuasa di baliknya.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian argumen kedua dalam deretan bukti penciptaan yang menyusun bagian tengah surah ini. Kalau rangkaian pertama, 56:57-62, mengambil bukti dari dalam diri manusia sendiri, rangkaian ini mengambil bukti dari sesuatu yang mereka kerjakan setiap hari di luar diri mereka: menanam.

Yang menarik dari pilihan bukti ini adalah kedekatannya dengan usaha manusia. Bercocok tanam melibatkan kerja nyata, membajak tanah, menabur benih, merawatnya. Dari semua pekerjaan manusia, ini salah satu yang paling terasa seperti hasil jerih payah sendiri. Justru karena itu bukti ini dipilih: ayat ini akan segera mempersoalkan, di 56:64, apakah usaha menanam itu sama dengan menumbuhkan, dua hal yang mudah tertukar seolah-olah satu.

Ayat ini sendiri belum sampai pada pertanyaan itu. Ia baru mengajak memperhatikan, sebelum pertanyaan yang lebih tajam diajukan sesudahnya. Cara menyusun argumen bertahap seperti ini, satu ayat mengajak melihat dan ayat berikutnya baru mempertajam, mengulangi pola yang sama persis dengan rangkaian sebelumnya tentang penciptaan diri.

Pengulangan pola antar rangkaian ini juga mengajarkan sesuatu tentang cara membaca surah ini secara keseluruhan. Begitu satu pola pertanyaan dikenali, kemunculannya yang kedua tidak lagi mengejutkan, tetapi justru menegaskan bahwa yang sedang dibangun bukan kumpulan bukti lepas-lepas, melainkan satu metode berpikir yang sengaja diulang pada bukti yang berbeda-beda, supaya pembaca sendiri yang menemukan bahwa metodenya berlaku luas, bukan cuma kebetulan berhasil sekali pada penciptaan diri.

Renungan dan Hikmah

  • Allah tidak memilih bukti yang jauh atau langka untuk membuka rangkaian ini. Yang dipilih justru pekerjaan yang berulang tiap musim, sesuatu yang begitu biasa sampai jarang lagi dipandang sebagai bukti apa pun. Kedekatan dan keseringan sebuah hal justru sering membuatnya luput dari perhatian, padahal yang paling sering diulang semestinya paling mudah diperiksa, bukan paling mudah dilupakan. Ladang yang dilewati tiap hari menyimpan pertanyaan yang sama beratnya dengan pertanyaan tentang asal usul diri sendiri, hanya saja jarang ditanyakan karena sudah terlalu akrab untuk dicurigai.
  • Pertanyaan ayat ini masih terbuka, belum menyodorkan kesimpulan apa pun. Allah baru mengajak memperhatikan, membiarkan pembaca menyiapkan jawabannya sendiri sebelum pertanyaan berikutnya datang mempertajam. Cara membuka argumen seperti ini berbeda dari cara langsung menyodorkan simpulan; ia memberi jeda untuk berpikir, sebelum menuntun pikiran itu ke arah yang lebih tegas. Jeda semacam ini terasa seperti diberi ruang, bukan didesak, meski arah pertanyaannya sendiri sudah cukup jelas ke mana ia hendak menuju.
  • Berbeda dari bukti pertama yang menunjuk pada keberadaan diri sendiri, bukti ini menunjuk pada sesuatu yang dikerjakan dengan tangan sendiri, hasil usaha yang terasa seperti miliknya sepenuhnya. Justru karena pekerjaan menanam melibatkan keringat dan waktu, ia lebih mudah disalahpahami sebagai pencapaian pribadi murni, dibandingkan sesuatu seperti keberadaan diri yang jelas-jelas tidak diminta atau diusahakan. Bukti yang melibatkan usaha nyata inilah yang justru paling perlu diperiksa ulang: seberapa banyak dari hasil itu benar-benar berasal dari tangan yang menanamnya?
  • Rangkaian bukti pertama mengambil sesuatu yang tersembunyi di dalam tubuh, sesuatu yang jarang dibicarakan terbuka. Rangkaian ini mengambil sesuatu yang terpampang di luar, terlihat semua orang yang lewat. Dua bukti yang letaknya berlawanan, satu di dalam dan satu di luar, sama-sama dipakai Allah untuk menagih pertanyaan yang sama. Tidak ada wilayah dalam kehidupan manusia yang dibiarkan lolos dari pertanyaan ini, baik yang tersembunyi maupun yang terbuka, keduanya sama-sama membawa jejak yang sama.
  • Kata yang dipakai untuk bercocok tanam di ayat ini, di tempat lain dalam Al-Qur'an, juga dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang ditanam sekarang demi hasil yang dipetik nanti, bahkan sampai membedakan ladang dunia dan ladang akhirat. Kata yang sama, dipakai untuk pekerjaan yang paling harian sekaligus untuk gagasan tentang menabur bagi masa depan, menyiratkan bahwa ayat yang tampak berbicara tentang tanaman sungguhan ini berdiri di persimpangan antara bukti yang harfiah dan bahasa yang biasa dipakai untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar panen musim ini.
  • Ayat ini sangat pendek, hanya tiga kata, dan objek pertanyaannya sengaja dibiarkan umum, belum menyebut siapa yang sebenarnya dipersoalkan. Kependekan dan ketidaklengkapan ini bukan kekurangan, melainkan jeda yang disengaja sebelum ayat berikutnya menajamkan pertanyaannya. Kalau ayat sependek ini saja sudah cukup membuka pertanyaan tentang siapa yang berkuasa di balik hasil tanam, apa yang akan terjadi ketika pertanyaannya dipertegas satu langkah lagi?