أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ
Apakah kalian yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُa-antum tazra'uunahuapakah kalian yang menumbuhkannya
- أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَam nahnu z-zaari'uunaatau Kami yang menumbuhkan
Terjemahan per kata (5 kata)
- أَأَنْتُمْa-antumapakah kalian
- تَزْرَعُونَهُtazra'uunahukalian menumbuhkannya
- أَمْamatau
- نَحْنُnahnuKami
- الزَّارِعُونَz-zaari'uunayang menumbuhkan
Inti bacaan
Konfrontasi logis tentang pertumbuhan tanaman: 'apakah kalian yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan?', pengakuan bahwa manusia hanya menanam benih, sedangkan proses pertumbuhan sesungguhnya berada di luar kendali langsung, batas nyata antara usaha manusia dan kekuatan yang menggerakkan hasilnya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memakai struktur dilema yang sama dengan 56:59: pertanyaan yang dibuka hamzah tanya dan disambung (أَمْ, am), "atau", yang menyodorkan dua pihak dan menutup kemungkinan jawaban ketiga. Pilihan pertama, (تَزْرَعُونَهُ, tazra'uunahu), kata kerja bentuk sekarang dari akar ز-ر-ع (z-r-'), "kalian menumbuhkannya", dengan akhiran objek -hu yang menunjuk kembali ke tanaman yang disebut ayat sebelumnya. Pilihan kedua, (نَحْنُ الزَّارِعُونَ, naHnu-z-zaari'uuna), "Kami yang menumbuhkan", bukan kata kerja melainkan kalimat nominal, (نَحْنُ, naHnu) sebagai subjek dan (الزَّارِعُونَ, az-zaari'uuna) sebagai sebutannya, kata benda pelaku bentuk jamak dari akar yang sama.
Pola ini, kata kerja untuk pihak yang ditanya dan kalimat nominal berisi kata benda pelaku untuk Allah, sudah dijelaskan penuh di 56:59, ayat pertama yang memakainya, untuk penciptaan dengan (الْخَالِقُونَ, al-khaaliquuna). Ayat ini adalah kemunculan kedua dari empat kali formula yang sama dipakai berturut dalam surah ini, sebelum muncul lagi di 56:69 untuk air dengan (الْمُنْزِلُونَ, al-munziluuna) dan di 56:72 untuk api dengan (الْمُنْشِئُونَ, al-munsyi'uuna). Kata kerja menunjukkan tindakan yang bisa dibayangkan sedang berlangsung; kalimat nominal menunjukkan sifat yang melekat sebagai jati diri, bukan perbuatan sesekali. Empat kali formula ini berulang untuk empat bukti berbeda, masing-masing menutup dengan penegasan yang sama.
Akar ز-ر-ع (z-r-') sendiri muncul dua belas kali di seluruh Al-Qur'an. Di 6:141, Allah disebut sebagai (الَّذِي أَنْشَأَ, alladzii ansya'a) kebun-kebun dan (الزَّرْعَ, az-zar'a), "tanaman", dengan buah yang beraneka rasa. Di 48:29, dipakai perumpamaan (كَزَرْعٍ, ka-zar'in) yang mengeluarkan tunasnya lalu menguatkannya sampai berdiri tegak di batangnya, membuat kagum (الزُّرَّاعَ, az-zurraa'a), "para penanam", sendiri. Perumpamaan itu justru menegaskan hal yang sama dengan pertanyaan di ayat ini: proses tanaman tumbuh dari tunas lemah menjadi tegak kuat adalah sesuatu yang membuat kagum orang yang menanamnya sendiri, bukan sesuatu yang bisa mereka klaim sebagai kendali penuh atas prosesnya.
Kata ganti (أَنْتُمْ, antum), "kalian", berdiri sendiri sebagai subjek pertanyaan, penegasan yang sama seperti di 56:59, menaruh pendengar langsung berhadapan dengan pertanyaannya, berpasangan dengan (نَحْنُ, naHnu) yang juga ditegaskan di pihak jawaban. Dua kata ganti yang sama-sama ditegaskan ini mengulangi kembali nada konfrontasi langsung yang sudah terbentuk di 56:59, kali ini untuk bukti yang berbeda.
Ayat ini menutup dengan pertanyaan yang sudah menuntut jawaban jelas, tetapi belum menyebut apa yang akan terjadi kalau jawabannya diabaikan. Ayat berikutnya, 56:65, baru mengangkat kemungkinan itu: bahwa tanaman yang sedang dipersoalkan ini bisa saja dihancurkan seketika.
Tafsiran
Ayat ini mempertegas pertanyaan yang dibuka di 56:63 dengan mengubahnya dari sekadar mengajak memperhatikan menjadi menuntut jawaban tegas tentang siapa pelaku sesungguhnya di balik pertumbuhan tanaman. Pola ini persis mengulangi apa yang terjadi di rangkaian pertama, ketika 56:58 mengajak memperhatikan lalu 56:59 mempertajamnya menjadi pertanyaan tentang siapa pencipta.
Yang membedakan tanaman dari penciptaan diri adalah keterlibatan usaha manusia yang lebih terlihat. Manusia memang membajak, menabur, dan merawat, tindakan nyata yang mudah dianggap sebagai sebab tunggal tanaman itu tumbuh. Ayat ini memisahkan dua hal yang mudah tertukar: menanam adalah tindakan manusia, tetapi menumbuhkan, mengubah benih menjadi tunas lalu tanaman dewasa, bukan sesuatu yang berada dalam kendali tangan yang menaburnya.
Pemisahan ini tidak meniadakan usaha manusia; ia hanya menempatkannya pada porsinya. Ayat ini bukan menyangkal bahwa manusia bekerja di ladang, melainkan mempertanyakan klaim bahwa kerja itu sendiri yang menyebabkan tanaman hidup dan tumbuh. Antara menabur benih dan benih itu berkecambah ada jarak yang tidak bisa dijembatani oleh usaha manusia semata, dan jarak itulah yang dipertanyakan ayat ini.
Renungan dan Hikmah
- Berapa banyak orang yang benar-benar berhenti sejenak di tengah kesibukan bertani untuk bertanya bagian mana dari hasil itu betul-betul buatannya sendiri? Pertanyaan seperti ini nyaris tidak pernah muncul secara wajar, sebab kerja fisik yang dilakukan tangan sendiri, keringat yang bercucuran di ladang, terasa begitu nyata sampai gampang dikira sebagai penyebab satu-satunya. Allah memaksa jeda yang biasanya tidak pernah diambil, menempatkan pertanyaan yang jarang muncul sendiri tepat di depan orang yang paling sibuk bekerja, justru pada saat ia paling yakin bahwa hasil itu miliknya penuh.
- Kata ganti kalian dan Kami sama-sama berdiri sendiri di ayat ini, ditegaskan, saling berhadapan seperti dua pihak dalam perdebatan langsung. Bukan lagi cerita tentang siapa yang melakukan apa dari kejauhan, melainkan pertanyaan yang menunjuk langsung ke pembacanya sendiri, menaruhnya di salah satu sisi pertanyaan itu tanpa jalan keluar untuk menonton dari luar. Siapa pun yang membaca pertanyaan ini akan mendapati dirinya sudah ditunjuk sebagai salah satu pihak yang harus menjawab, bukan sekadar pengamat yang kebetulan lewat.
- Di tempat lain, Al-Qur'an menggambarkan tanaman yang tumbuh dari tunas lemah menjadi batang yang kokoh sebagai sesuatu yang mengagumkan bahkan bagi orang yang menanamnya sendiri. Kalau proses itu benar-benar sepenuhnya hasil kendali manusia, semestinya tidak ada yang mengagumkan darinya bagi si penanam, sebab ia hanya menyaksikan hasil kerjanya sendiri berjalan sesuai rencana. Rasa kagum yang justru muncul pada orang yang paling dekat dengan prosesnya adalah tanda bahwa sesuatu di luar kendalinya sedang bekerja di sana.
- Susunan kata kerja untuk manusia dan kalimat nominal untuk Allah ini akan terulang lagi dua kali sesudah ayat ini, untuk air dan untuk api, masing-masing dengan sebutan yang berbeda. Pengulangan pola yang sama untuk bukti yang berbeda-beda ini bukan kemalasan menyusun kalimat, melainkan cara menegaskan bahwa apa yang berlaku pada tanaman berlaku juga pada wilayah kehidupan lain yang tampaknya tidak berhubungan sama sekali. Kalau pola yang sama muncul berulang untuk hal-hal yang begitu berbeda, kemungkinan besar polanya memang berlaku umum, bukan kebetulan yang terjadi satu kali pada tanaman saja.
- Dari semua bukti yang diajukan dalam rangkaian ini, tanaman adalah yang paling melibatkan jerih payah nyata, keringat dan waktu yang dihabiskan di ladang. Justru karena keterlibatan usaha itulah pertanyaan ini paling mudah salah dijawab: seseorang yang lelah bekerja seharian di ladangnya wajar merasa hasil panen adalah miliknya sepenuhnya, buah dari kerja kerasnya sendiri. Ayat ini tidak menyangkal kerasnya usaha itu, tetapi mempertanyakan lompatan diam-diam dari "saya yang bekerja" menjadi "saya yang menumbuhkan", dua klaim yang terdengar mirip tetapi sesungguhnya sangat berbeda.
- Allah menutup ayat ini dengan jawaban yang sudah jelas arahnya, tetapi belum menyebut apa yang dipertaruhkan kalau jawabannya diabaikan. Ayat berikutnya baru mengangkat kemungkinan bahwa tanaman yang sedang dipersoalkan ini bisa dihancurkan begitu saja. Kalau kekuasaan menumbuhkan itu sepenuhnya di tangan yang lain, apa yang membuat siapa pun yakin bahwa hasil tanam yang sedang dinikmatinya sekarang tidak bisa dicabut kembali secepat ia diberikan?