لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ
Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami jadikan ia hancur, sehingga kalian tercengang,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًاlaw nasyaa'u la-ja'alnaahu huthaamansekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami jadikan ia hancur
- فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَfa-zhaltum tafakkahuunasehingga kalian tercengang
Terjemahan per kata (6 kata)
- لَوْlawsekiranya
- نَشَاءُnasyaa'uKami kehendaki
- لَجَعَلْنَاهُla-ja'alnaahusungguh Kami akan menjadikannya
- حُطَامًاhuthaamanhancur
- فَظَلْتُمْfa-zhaltummaka jadilah kalian
- تَفَكَّهُونَtafakkahuunakalian tercengang
Inti bacaan
Peringatan tentang kerapuhan hasil kerja: 'sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami jadikan ia hancur, sehingga kalian tercengang', pengingat bahwa hasil usaha yang dianggap pasti bisa lenyap seketika, dasar bagi kerendahan hati terhadap pencapaian yang dianggap sudah aman di tangan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (لَوْ نَشَاءُ, law nasyaa'u), "sekiranya Kami menghendaki", dari akar ش-ي-أ (sy-y-A). Frasa ini muncul delapan kali di seluruh Al-Qur'an: 7:100, 8:31, 36:66, 36:67, 43:60, 47:30, 56:65, dan 56:70, yang disebut terakhir kembali persis dalam surah yang sama, kelak untuk objek yang berbeda, air. Kemunculan yang berulang dalam surah yang sama ini menunjukkan bahwa ancaman semacam ini bukan sekali pakai untuk tanaman saja, melainkan pola yang akan diulang lagi pada bukti berikutnya dalam rangkaian yang sama.
Kata kerja (لَجَعَلْنَاهُ, laja'alnaahu), "niscaya Kami jadikan ia", dari akar ج-ع-ل (j-'-l), diikuti (حُطَامًا, huthaaman), "hancur berkeping-keping", dari akar ح-ط-م (h-th-m). Bentuk persis ini muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an: di sini, di 39:21 yang juga menggambarkan tanaman yang menguning lalu hancur, dan di 57:20 yang memakainya untuk menggambarkan kehidupan dunia yang pada akhirnya menjadi (حُطَامًا) juga. Tiga pemakaian yang sama-sama berbicara tentang sesuatu yang tampak subur dan mapan, lalu berakhir hancur, entah itu tanaman satu musim atau kehidupan dunia secara keseluruhan.
Kata (فَظَلْتُمْ, fa-zhaltum), "lalu kalian menjadi", dari akar ظ-ل-ل (zh-l-l), kata kerja bantu yang biasa dipakai untuk menandai keadaan yang berlanjut, muncul tiga puluh satu kali di seluruh Al-Qur'an, misalnya di 2:57, 2:210, 4:57, dan 7:160. Kata ini menghubungkan pengandaian di awal ayat dengan reaksi yang disebutkan sesudahnya, menyatakan bahwa reaksi itu bukan sekejap lalu selesai, melainkan keadaan yang berlanjut.
Reaksi itu sendiri, (تَفَكَّهُونَ, tafakkahuuna), dari akar ف-ك-ه (f-k-h), bentuk kelima. Akar ini muncul sembilan belas kali di seluruh Al-Qur'an, dan sebagian besar dipakai untuk buah-buahan surga, kesenangan yang dinikmati para penghuninya, termasuk dua kali lebih awal dalam surah ini sendiri, di 56:20 dan 56:32, sama-sama menggambarkan kelezatan yang dinikmati golongan yang didekatkan. Di sini, akar yang sama, bentuk kelima, dipakai justru untuk reaksi orang-orang yang tanamannya baru saja dihancurkan. Kemunculan yang sama di dalam surah yang sama, sekali untuk kenikmatan sungguhan dan sekali untuk keadaan yang justru kebalikannya, menaruh ironi yang tajam: kata yang di tempat lain berarti bersenang-senang dengan buah, di sini dipakai untuk keadaan tercengang kehilangan hasil tanam, gema pahit dari kata yang di ayat lain membawa kenikmatan.
Ayat ini berbentuk pengandaian, bukan pernyataan tentang sesuatu yang sudah terjadi. (لَوْ, law) menandai sesuatu yang tidak diwujudkan, sebuah ancaman yang ditahan, bukan hukuman yang dijatuhkan. Bentuk pengandaian ini justru memperkuat pesannya: tanaman yang sekarang tumbuh subur tidak hancur bukan karena mustahil dihancurkan, melainkan karena kehendak yang menahannya tetap tumbuh.
Tafsiran
Ayat ini mengangkat kemungkinan yang belum disebut di dua ayat sebelumnya: bahwa kekuasaan untuk menumbuhkan yang dipersoalkan di 56:64 juga membawa kekuasaan untuk sebaliknya, menghancurkan. Kalau ayat sebelumnya bertanya siapa yang menumbuhkan, ayat ini menjawabnya secara tidak langsung lewat ancaman: pihak yang berkuasa menumbuhkan adalah pihak yang sama yang bisa menghancurkan kapan saja dikehendaki.
Yang ditekankan bukan kehancurannya sendiri, sebab kehancuran itu tidak benar-benar terjadi dalam ayat ini, melainkan kerapuhan yang tersembunyi di balik tanaman yang tampak kokoh dan mapan. Sesuatu yang setiap musim dianggap wajar tumbuh sebenarnya bergantung penuh pada kehendak yang bisa membalikkannya seketika, tanpa proses panjang, tanpa peringatan bertahap.
Kata yang dipakai untuk menggambarkan reaksi mereka, kata yang di tempat lain justru menandai kenikmatan surga, menaruh ironi di jantung ayat ini. Kesenangan yang biasa dikaitkan dengan kata itu berbalik menjadi kepahitan ketika sumber kesenangannya, tanaman yang mereka andalkan, tiba-tiba dicabut. Ironi semacam ini mengingatkan bahwa kenikmatan apa pun yang bergantung pada sesuatu yang bisa dihancurkan sewaktu-waktu sesungguhnya rapuh sejak awal, betapapun mapan ia terasa selama masih berdiri.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan sebelumnya mempersoalkan siapa yang menumbuhkan; ayat ini menjawabnya secara tidak langsung dengan menunjukkan bahwa Allah, pihak yang sama, juga berkuasa menghancurkan. Dua kekuasaan yang berlawanan arah ini ternyata berada di tangan yang sama, tidak terpisah pada dua pihak berbeda. Siapa pun yang mengira dirinya cukup dekat dengan yang menumbuhkan sehingga aman dari yang menghancurkan sedang keliru memahami bahwa keduanya sesungguhnya satu kekuasaan yang sama, hanya berbeda arah yang sedang dipilihnya.
- Ayat ini berbentuk pengandaian, bukan cerita tentang kehancuran yang sungguh-sungguh terjadi. Tetapi kekuatan sebuah ancaman tidak selalu bergantung pada terjadi atau tidaknya, melainkan pada seberapa nyata kemungkinannya dirasakan. Tanaman yang masih berdiri subur di ladang tidak berubah wujud apa pun sesudah ayat ini diucapkan, tetapi cara memandangnya bisa berubah total begitu kerapuhannya disadari, dari sesuatu yang pasti aman menjadi sesuatu yang sebenarnya digantung oleh kehendak yang menahan diri untuk tidak menghancurkannya.
- Kata yang dipakai untuk menggambarkan reaksi mereka, di tempat lain dalam surah yang sama, dipakai untuk menggambarkan kenikmatan menyantap buah-buahan surga. Kata yang sama, dua kali sebelumnya membawa kelezatan, di sini membawa kepahitan. Gema semacam ini menaruh pertanyaan yang lebih dalam: seberapa banyak kesenangan yang sekarang dinikmati sesungguhnya menyimpan kerapuhan yang sama, siap berbalik pahit begitu sumbernya dicabut, hanya belum pernah diuji sampai sejauh itu?
- Tanaman yang tumbuh subur tiap musim mudah terasa seperti kepastian, sesuatu yang bisa diandalkan berulang tanpa perlu dipertanyakan lagi. Ayat ini membalik anggapan itu: kesuburan yang berulang bukan bukti bahwa ia akan terus berulang, melainkan bukti bahwa kehendak yang menahannya tetap tumbuh belum berubah pikiran. Sesuatu yang tampak paling mapan justru sering yang paling jarang dicurigai bergantung pada kehendak yang bisa berubah, tepat karena keteraturannya selama ini membuatnya terasa seperti hukum alam yang pasti, bukan pemberian yang bisa ditarik kembali.
- Kata pengandaian yang membuka ayat ini menandai sesuatu yang tidak diwujudkan, bukan hukuman yang sungguh dijatuhkan Allah. Ayat ini bukan cerita tentang tanaman yang sungguh hancur, melainkan pengingat tentang kemungkinan yang sedang ditahan agar tidak terjadi. Ada perbedaan besar antara hidup di bawah ancaman yang benar-benar jatuh dengan hidup di bawah ancaman yang sengaja ditahan; yang kedua justru menuntut rasa syukur yang lebih besar, sebab yang dinikmati sekarang bukan karena mustahil dicabut, melainkan karena sengaja dibiarkan tetap ada.
- Allah berhenti pada gambaran keadaan mereka, tercengang, tanpa merekam kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Ayat berikutnya baru mengutip apa yang akan mereka ucapkan seandainya hal ini sungguh terjadi. Jeda antara keadaan yang digambarkan di sini dan kata-kata yang akan dikutip sesudahnya memberi ruang membayangkan sendiri, sebelum diberi tahu persis bagaimana keluhan itu akan berbunyi ketika sesuatu yang selama ini dianggap pasti tiba-tiba dicabut begitu saja?