لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ
Seandainya Kami berkehendak, Kami menjadikannya asin. Mengapa kalian tidak bersyukur?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًاlaw nasyaa'u ja'alnaahu ujaajanseandainya Kami berkehendak, Kami menjadikannya asin
- فَلَوْلَا تَشْكُرُونَfa-lawlaa tasykuruunamengapa kalian tidak bersyukur
Terjemahan per kata (6 kata)
- لَوْlawsekiranya
- نَشَاءُnasyaa'uKami kehendaki
- جَعَلْنَاهُja'alnaahuKami menjadikannya
- أُجَاجًاujaajanasin
- فَلَوْلَاfa-lawlaamaka seandainya bukan karena
- تَشْكُرُونَtasykuruunabersyukur
Inti bacaan
Peringatan tentang kerapuhan sumber daya vital: 'seandainya Kami berkehendak, Kami menjadikannya asin; mengapa kalian tidak bersyukur?', pengingat bahwa air tawar yang mudah diakses bisa berubah menjadi tidak berguna dalam sekejap, dasar bagi rasa syukur yang aktif atas kualitas sumber daya yang selama ini dianggap sudah semestinya begitu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (لَوْ نَشَاءُ, law nasyaa'u), "sekiranya Kami menghendaki", frasa yang sudah dijelaskan penuh di 56:65, muncul lagi persis sama, salah satu dari delapan kemunculannya di seluruh Al-Qur'an. Kalau di 56:65 ancaman ini ditujukan pada tanaman, di sini ditujukan pada air yang baru saja disebut sumbernya di ayat sebelumnya.
Kata kerja (جَعَلْنَاهُ, ja'alnaahu), "Kami menjadikannya", diikuti (أُجَاجًا, ujaajan), "asin/pahit", dari akar أ-ج-ج (A-j-j). Akar ini muncul hanya tiga kali di seluruh Al-Qur'an: di sini, dan di dua ayat lain, 25:53 dan 35:12, yang keduanya menggambarkan perbandingan dua laut, satu (عَذْبٌ, 'adzbun) tawar dan segar, satu lagi (مِلْحٌ أُجَاجٌ, milHun ujaajun) asin dan pahit. Ancaman di ayat ini bukan mengarang sesuatu yang mustahil; ia menunjuk sesuatu yang sudah nyata ada di alam, air laut yang asin, sebagai bukti bahwa rasa tawar air yang diminum sehari-hari bukan keharusan alami, melainkan pemberian yang bisa saja tidak diberikan.
Berbeda dari 56:65 yang mengancam meniadakan tanaman sepenuhnya menjadi (حُطَامًا, huthaaman), hancur berkeping, ancaman di sini tidak meniadakan airnya. Air itu tetap ada, tetap bisa dilihat dan disentuh, hanya saja rasanya diubah menjadi sesuatu yang tak lagi bisa diminum. Dua jenis ancaman yang berbeda: yang satu meniadakan wujudnya, yang satu membiarkan wujudnya tetap ada tetapi merusak satu-satunya sifat yang membuatnya berguna.
Penutup ayat, (فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ, fa lawlaa tasykuruuna), memakai partikel (فَلَوْلَا) yang sama dengan penutup rangkaian pertama di 56:62, tetapi dengan kata kerja ketiga yang berbeda: sesudah menagih pembenaran (تُصَدِّقُونَ) di 56:57 dan menagih ingatan (تَذَكَّرُونَ) di 56:62, di sini menagih syukur, (تَشْكُرُونَ, tasykuruuna), dari akar ش-ك-ر (sy-k-r). Menariknya, 35:12, salah satu dari dua ayat lain yang memakai (أُجَاجٌ) untuk laut asin, juga ditutup dengan kata yang sama, (تَشْكُرُونَ, tasykuruuna), setelah menyebutkan manfaat dua laut sebagai karunia. Dua ayat berbeda surah, sama-sama menghubungkan gagasan tentang air asin dengan tuntutan bersyukur.
Tiga penutup rangkaian yang sudah dilalui sejauh ini, membenarkan, mengingat, dan sekarang bersyukur, membentuk tangga tuntutan yang meningkat kedekatannya dengan pengalaman langsung. Membenarkan masih berurusan dengan akal, menerima atau menolak sebuah klaim. Mengingat sedikit lebih dekat, memanggil kembali sesuatu yang sudah dimiliki. Bersyukur paling dekat dari semuanya, sebab ia dituntut tepat pada saat kenikmatan itu sedang dirasakan, bukan direnungkan dari jarak jauh sesudahnya.
Perhatikan juga bahwa Allah tidak menjelaskan bagaimana caranya air bisa berubah menjadi asin. Ayat ini berhenti pada pernyataan bahwa perubahan itu mungkin terjadi kalau dikehendaki, tanpa merinci mekanismenya. Ketiadaan penjelasan mekanisme ini bukan kekurangan; ia menegaskan bahwa yang dipersoalkan bukan bagaimana caranya, melainkan siapa yang memegang kendali atas kemungkinan itu, sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan rincian proses untuk bisa dijawab.
Tafsiran
Ayat ini mengangkat kemungkinan yang sama dengan 56:65, kini untuk air: bahwa kekuasaan menurunkan yang dipersoalkan di ayat sebelumnya membawa kekuasaan untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang tak lagi berguna. Berbeda dari ancaman terhadap tanaman yang meniadakan wujudnya sepenuhnya, ancaman di sini lebih halus: airnya tetap ada, hanya rasanya yang diubah, cukup untuk membuatnya tak lagi bisa diminum.
Ancaman ini bukan sekadar andaian kosong. Ia menunjuk sesuatu yang sudah nyata ada di alam: air laut yang asin, berdampingan dengan air sungai yang tawar. Kenyataan bahwa dua jenis air ini sama-sama ada membuktikan bahwa rasa tawar bukan sifat yang harus melekat pada air, melainkan sesuatu yang bisa saja tidak diberikan. Yang selama ini dianggap sebagai sifat alami air ternyata adalah pemberian yang dijaga tetap seperti itu.
Ayat ini menutup dengan tuntutan syukur, bukan tuntutan pembenaran atau ingatan seperti dua penutup sebelumnya. Pergeseran tuntutan ini sejalan dengan sifat buktinya sendiri: air yang diminum setiap hari lebih dekat dengan pengalaman rasa syukur langsung daripada renungan abstrak tentang penciptaan, sesuatu yang dirasakan tubuh setiap kali diminum, bukan sekadar dipikirkan.
Renungan dan Hikmah
- Ancaman terhadap tanaman meniadakannya sepenuhnya; ancaman terhadap air di sini lebih halus, membiarkan wujudnya tetap ada tetapi merusak satu-satunya sifat yang membuatnya berguna. Kehilangan yang tidak menghilangkan wujud, hanya mengubah gunanya, sering kali lebih sulit disadari daripada kehilangan total, sebab sesuatu yang masih terlihat ada mudah dikira masih baik-baik saja, padahal yang membuatnya berarti sudah dicabut diam-diam. Allah memilih jenis ancaman yang berbeda untuk tiap bukti, seolah menunjukkan bahwa kendali-Nya bekerja dalam banyak cara, bukan hanya satu pola kehancuran yang berulang.
- Air laut yang asin dan air sungai yang tawar sama-sama ada di alam, berdampingan. Kenyataan ini membuktikan bahwa rasa tawar bukan sifat yang harus melekat pada air, melainkan pemberian yang bisa saja tidak diberikan. Sesuatu yang setiap hari dirasakan sebagai hal biasa, air yang enak diminum, ternyata bukan keharusan alami sama sekali, melainkan pengecualian yang dijaga tetap berlaku, dikelilingi oleh kemungkinan lain, air asin, yang sesungguhnya jauh lebih luas di permukaan bumi.
- Berbeda dari dua penutup rangkaian sebelumnya yang menagih pembenaran dan ingatan, penutup ayat ini menagih syukur, sesuatu yang lebih dekat dengan pengalaman langsung daripada renungan abstrak. Setiap kali air diminum dan terasa segar di tenggorokan, itulah momen paling nyata untuk menyadari bahwa rasa itu bukan keniscayaan. Allah menaruh tuntutan syukur tepat pada bukti yang paling sering dirasakan tubuh, bukan pada bukti yang hanya bisa direnungkan pikiran.
- Allah menyebut kemungkinan yang tidak terjadi, air yang tidak diasinkan, sebagai cara menegaskan bahwa yang terjadi sekarang, air yang tawar, adalah pilihan, bukan kebetulan. Cara mengingatkan seperti ini, dengan menyebut apa yang bisa saja terjadi tetapi tidak, sering lebih membekas daripada sekadar diberi tahu bahwa sesuatu itu nikmat, sebab ia memaksa membayangkan sendiri seandainya nikmat itu tidak ada.
- Di tempat lain, Al-Qur'an menyandingkan air tawar dan air asin sebagai dua laut yang berdampingan, lalu menutup penyebutannya dengan tuntutan bersyukur yang sama persis dengan penutup ayat ini. Gema ini menunjukkan bahwa gagasan tentang air tawar sebagai karunia yang layak disyukuri bukan sekali pakai dalam Al-Qur'an, melainkan pola yang muncul lagi di konteks berbeda, memperkuat bahwa hubungan antara air tawar dan syukur ini bukan kebetulan sekali sebut.
- Rangkaian tentang air ditutup di sini dengan tuntutan syukur, mengikuti pola penutup yang berbeda-beda untuk tiap rangkaian, ingatan untuk penciptaan, keluhan hipotetis untuk tanaman, dan sekarang syukur untuk air. Satu rangkaian lagi masih tersisa dalam deretan empat bukti besar surah ini. Kalau tiga bukti yang sudah diajukan sejauh ini masing-masing menuntut respons yang berbeda, apa yang akan dituntut oleh bukti terakhir yang belum diajukan?