أَأَنْتُمْ أَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنْشِئُونَ

Apakah kalian yang menumbuhkan pohonnya atau Kami yang menumbuhkan?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَأَنْتُمْ أَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَاa-antum ansya'tum syajaratahaaapakah kalian yang menumbuhkan pohonnya
  2. أَمْ نَحْنُ الْمُنْشِئُونَam nahnu l-munsyi'uunaatau Kami yang menumbuhkan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. أَأَنْتُمْa-antumapakah kalian
  2. أَنْشَأْتُمْansya'tumkalian menumbuhkan
  3. شَجَرَتَهَاsyajaratahaapohonnya
  4. أَمْamatau
  5. نَحْنُnahnuKami
  6. الْمُنْشِئُونَl-munsyi'uunayang menumbuhkan

Inti bacaan

Puncak deret pertanyaan: 'apakah kalian yang menumbuhkan pohonnya atau Kami yang menumbuhkan?', bahkan sumber kayu bakar untuk api yang tampak sepenuhnya buatan manusia, ternyata berasal dari pohon yang pertumbuhannya di luar kendali manusia, penutup logis rangkaian argumen tentang keterbatasan kendali manusia atas hal-hal paling mendasar sekalipun.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menutup satu set pertanyaan yang dibuka di 56:58, sekaligus menjadi yang keempat dan terakhir dari bentuk (أَأَنْتُمْ, a-antum) ... (أَمْ, am) ... (نَحْنُ, naHnu) di dalam surah ini. Keempatnya tersusun rapi: 56:59 tentang penciptaan diri, 56:64 tentang tanaman, 56:69 tentang air hujan, dan 56:72 tentang api. Masing-masing set dibuka lebih dulu oleh seruan (أَفَرَأَيْتُم, afara'aytum), "tidakkah kalian perhatikan", di 56:58, 56:63, 56:68, dan 56:71. Set api sedikit menyimpang dari set tanaman dan set air: dua set itu masing-masing disusul ancaman berbentuk (لَوْ نَشَاءُ, lau nasyaa'u), "sekiranya Kami menghendaki", di 56:65 dan 56:70, sedangkan set api tidak. Jawaban untuk set api justru datang sebagai pernyataan maksud di 56:73 lalu perintah bertasbih di 56:74.

Kata (شَجَرَتَهَا, syajaratahaa), "pohonnya", memuat akhiran -haa yang menunjuk kembali ke (النَّار, an-naar), "api", di 56:71. Karena rujukan itu sudah terbawa oleh akhiran, terjemahan tidak menambah frasa lepas seperti "(api itu)"; cukup "-nya" yang melekat pada "pohon". Yang ditanyakan bukan pohon secara umum, melainkan pohon yang berdiri di balik api tadi, yakni sumber kayu yang dibakar.

Bentuk kata kerjanya bergeser dari ayat sebelumnya. Di 56:71 dipakai (تُورُونَ, tuuruuna), "kalian nyalakan", kata kerja orang kedua yang mengakui perbuatan manusia. Di 56:72, (أَنْشَأْتُمْ, ansya'tum), "kalian adakan" atau "kalian tumbuhkan", dijawab dengan (الْمُنْشِئُونَ, al-munsyi'uun), kata benda pelaku dari akar ن-ش-أ (n-sy-'), dalam susunan (نَحْنُ, naHnu) yang ditegaskan lalu disambung bentuk takrif. Susunan itu tidak menyatakan satu tindakan yang sudah lewat, melainkan sifat yang tetap: "Kami-lah yang mengadakan". Kontras antara kata kerja manusia yang selesai dan sifat ilahi yang berlaku terus itulah inti ayat ini.

Kata (الْمُنْشِئُونَ, al-munsyi'uun) hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Namun akar ن-ش-أ yang menyusunnya berulang tiga kali di dalam surah yang sama: (نُنْشِئَكُمْ, nunsyi'akum), "Kami tumbuhkan kalian", di 56:61; (النَّشْأَةَ الْأُولَىٰ, an-nasy'ah al-uulaa), "penciptaan yang pertama", di 56:62; dan (أَنْشَأْنَاهُنَّ, ansya'naahunna), "Kami adakan mereka", di 56:35. Kuasa yang menumbuhkan pohon di ayat ini disebut dengan akar yang sama seperti kuasa yang membentuk manusia pertama kali dan yang kelak membentuknya ulang.

Terjemahan mempertahankan "menumbuhkan" untuk (أَنْشَأْتُمْ) maupun (الْمُنْشِئُونَ), sejajar dengan (تَزْرَعُونَ, tazra'uuna) di 56:64, meski akar ن-ش-أ lebih dekat ke "mengadakan" atau "memulai". Karena objeknya pohon, "menumbuhkan" adalah pasangan kata yang wajar dalam bahasa Indonesia, dan kesamaan bentuk dengan ayat tanaman memang disengaja supaya keempat pertanyaan terbaca sebagai satu deret yang utuh, bukan empat pertanyaan lepas.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa pohon penghasil api sepenuhnya kuasa Allah, bukan manusia. Api terasa sebagai benda paling buatan tangan sendiri di antara empat hal yang dibahas deret ini: dipantik, dijaga, dibesarkan, dipindahkan sesuka pemakainya. Tepat pada titik yang paling mudah diklaim itulah ayat ini menarik rantai sebabnya satu langkah ke belakang. Sebelum ada nyala ada kayu, dan sebelum ada kayu ada pohon, dan pertumbuhan pohon bukan sesuatu yang dinyalakan siapa pun.

Deret ini dimulai dari benih manusia sendiri di 56:58, berpindah ke tanaman di ladang di 56:63, lalu ke air yang diminum di 56:68, dan berakhir di api di 56:71. Urutannya bergerak dari yang paling melekat pada diri menuju yang paling terasa sebagai keterampilan, dan di setiap langkah jawabannya sama: bahan mentahnya diadakan Allah. Ayat 56:71 sudah berkata "api yang kalian nyalakan", membiarkan perbuatan itu berdiri sebagai milik manusia. Ayat 56:72 tidak membantah soal menyalakannya; ia bertanya soal menumbuhkannya. Itulah garis antara apa yang dikerjakan seseorang dan apa yang disediakan untuknya supaya bisa dikerjakan.

Berbeda dari giliran tanaman dan giliran air, surah ini tidak menjawab pertanyaan terakhir ini dengan ancaman baru. Sebagai gantinya, 56:73 menyebutkan untuk apa api itu diadakan, dan 56:74 mengubah seluruh rangkaian menjadi perintah bertasbih. Argumen sepanjang enam belas ayat ini ditutup bukan dengan vonis, melainkan dengan ibadah.

Renungan dan Hikmah

  • Allah tidak berhenti pada percikan yang menyala, melainkan menelusurinya mundur sampai ke batang yang jadi kayunya. Yang dipersoalkan bukan nyala yang terlihat di depan mata, melainkan dari mana benda yang terbakar itu tumbuh. Seseorang boleh sangat cakap memantik dan merawat api, tetapi kecakapan itu bekerja pada sesuatu yang sudah tersedia, dan yang tersedia itu tumbuh lewat proses yang tidak pernah ia mulai. Menelusuri mundur satu langkah seperti ini membuat kalimat "ini kerja tangan saya" berhenti tepat di batas antara merawat dan mengadakan.
  • Ayat sebelumnya menyebut "api yang kalian nyalakan" tanpa membantahnya, lalu ayat ini bertanya siapa yang menumbuhkan pohonnya. Perbuatan menyalakan dibiarkan berdiri sebagai milik manusia; yang diangkat justru bagian yang tidak pernah bisa diklaim. Pemisahan ini halus tetapi menentukan: mengakui bahwa seseorang memang memantik api bukan berarti mengakui bahwa ia mengadakan apa pun yang membuat api itu mungkin. Allah menaruh pertanyaannya persis di sela antara dua hal yang gampang tertukar itu.
  • Dari empat hal yang ditanyakan deret ini, benih diri, tanaman, air, dan api, apilah yang paling terasa dikuasai penuh oleh yang memakainya: dinyalakan sekehendak hati, dibesar-kecilkan, dipadamkan, dibawa ke mana pun. Rasa menguasai itu paling tebal di sini, dan di sinilah pertanyaan ditekan paling dalam. Kalau batang yang dibakar tadi tumbuh sendiri tanpa seorang pun memantiknya, tinggal berapa besar bagian nyala itu yang sungguh lahir dari kehendak orang yang menyalakannya?
  • Jawaban atas "apakah kalian yang menumbuhkan" bukan kata kerja yang setara, melainkan sebutan: "Kami-lah yang mengadakan". Bentuknya kata benda pelaku, bukan kata kerja yang sudah lewat, sehingga yang dinyatakan bukan satu peristiwa di masa lampau melainkan sifat yang terus berlaku. Manusia menumbuhkan sekali, di satu tempat, dengan hasil yang tidak pasti; Allah disebut sebagai pihak yang mengadakan sebagai keadaan tetap, bukan sebagai catatan tentang sesuatu yang pernah terjadi lalu selesai.
  • Kata "yang mengadakan" di ayat ini dibangun dari akar yang sama dengan tiga tempat lain di surah ini: "Kami tumbuhkan kalian" di 56:61, "penciptaan yang pertama" di 56:62, dan "Kami adakan mereka" di 56:35. Satu akar kata dipakai untuk pertumbuhan pohon kayu bakar, untuk pembentukan manusia pertama kali, dan untuk pembentukannya kembali sesudah mati. Allah seakan menandai bahwa kuasa yang menumbuhkan sebatang pohon dan kuasa yang menghidupkan ulang seorang manusia bukan dua hal yang berbeda, melainkan satu, disebut dengan kata yang sama.
  • Giliran tanaman dan giliran air masing-masing ditutup dengan ancaman, "sekiranya Kami menghendaki, Kami jadikan ia hancur" di 56:65 dan "Kami jadikan ia asin" di 56:70. Giliran api tidak mendapat ancaman semacam itu. Sebagai gantinya, ayat berikutnya menyebut untuk apa api diadakan, dan ayat sesudahnya memerintahkan bertasbih. Deret enam belas ayat yang penuh pertanyaan ini berakhir pada perintah memuji Allah, bukan pada satu putusan yang menyudutkan. Nadanya berbalik dari menuntut pengakuan menjadi mengarahkan pada ibadah.