فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ
Maka, bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Sang Agung.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِfa-sabbih bi-smi rabbika l-'azhiimimaka, bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Sang Agung
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَسَبِّحْfa-sabbihmaka bertasbihlah
- بِاسْمِbi-smidengan nama
- رَبِّكَrabbikaTuhanmu
- الْعَظِيمِl-'azhiimiyang agung
Inti bacaan
Respons yang dituntut setelah rangkaian bukti: 'maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Sang Agung', setelah serangkaian argumen logis tentang keterbatasan manusia, kesimpulan praktisnya adalah tindakan ibadah nyata, bukan sekadar pengakuan intelektual.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan "(menyebut)" tidak dipakai: (بِاسْمِ, bi-smi), "dengan nama", sudah lengkap tanpa kata kerja tambahan. (الْعَظِيمِ, al-'azhiimi) bentuk takrif tetap memakai gelar "Sang", konsisten disiplin proyek untuk sifat yang bertakrif.
Kata sambung "fa-", "maka", di awal ayat mengikat perintah ini pada seluruh yang mendahuluinya. Enam belas ayat berisi pertanyaan sejak 56:58, dan yang muncul sebagai jawaban bukan sebuah dalil untuk disetujui, melainkan sebuah perbuatan untuk dikerjakan. Secara susunan, perintah ini juga melunasi tiga teguran berbentuk (فَلَوْلَا, fa-lau-laa): "mengapa kalian tidak membenarkan" di 56:57, "mengapa kalian tidak mengambil pelajaran" di 56:62, dan "mengapa kalian tidak bersyukur" di 56:70. Tiga "mengapa tidak" itu berujung pada satu perintah yang tegas: maka bertasbihlah.
Perintah itu juga berpindah orang. Empat pertanyaan sebelumnya memakai bentuk "kalian", ditujukan kepada khalayak yang mengingkari. Ayat ini memakai bentuk tunggal, ditujukan kepada Nabi seorang. Rangkaian yang mula-mula menghadapi banyak orang dengan pertanyaan ditutup dengan satu perintah kepada satu orang: yang dibela argumen ini melakukan tasbihnya lebih dulu, di depan mereka yang belum menjawab.
Kata (سَبِّحْ, sabbiH) dari akar س-ب-ح (s-b-H) mengandung gambar menjauh dengan cepat, seperti berenang menepi; dalam bentuk ini ia berarti menyucikan, menyatakan Dia jauh dari sekutu mana pun dalam mengadakan benih, tanaman, air, dan api, yaitu persis yang ditekan keempat pertanyaan tadi. Bertasbih "dengan nama Tuhanmu" berarti memegang nama itu sambil menyatakan bahwa semua tadi bukan kerja pihak lain. Yang diucapkan bukan pengakuan tentang diri sendiri, melainkan penegasan tentang Dia.
Kata (الْعَظِيمِ, al-'azhiimi), "Sang Agung", bertakrif dan bisa menyifati "nama" atau menyifati "Tuhanmu"; di sini diambil menyifati "Tuhanmu". Akarnya, ع-ظ-م ('-zh-m), berjangkar pada kata (عَظْم, 'azhm), yaitu tulang, kerangka besar yang menopang tubuh. Bentuk bertakrif dengan lam di depan menandai sifat yang tetap, bukan penilaian sesaat; karena itu ia diberi gelar "Sang". Sesudah serangkaian daftar tentang karya-Nya, yang diperintahkan diagungkan bukan daftar itu, melainkan nama-Nya.
Kalimat (فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ) yang persis sama muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an: di sini, di 56:96 yang merupakan ayat penutup surah ini, dan di 69:52. Di dalam surah ini, dua kemunculannya, 56:74 dan 56:96, mengapit bagian penutup surah: perintah yang sama membuka bagian itu dan menutupnya. Kata "agung" sendiri muncul empat kali dalam surah ini (56:46, 56:74, 56:76, dan 56:96), pertama kali justru melekat pada "dosa yang besar" milik para pengingkar di 56:46, lalu tiga kali berikutnya pada nama-Nya dan pada sumpah-Nya.
Tafsiran
Ayat ini memerintahkan tasbih sebagai respons atas seluruh tanda kebesaran yang telah dipaparkan. Bertasbih di sini berarti menyatakan Dia jauh di atas sekutu mana pun dalam mengadakan benih, tanaman, air, dan api, yakni persis klaim yang ditekan oleh empat pertanyaan sebelumnya. Bertasbih "dengan nama-Nya" berarti memegang nama itu sambil menegaskan bahwa tidak satu pun dari semua tadi adalah kerja pihak lain.
Rangkaian ini bisa saja ditutup dengan "maka kalian harus mengakui bahwa Kami-lah yang mengadakan". Ia justru ditutup dengan perintah yang ditujukan kepada Nabi. Penutup yang pas bagi sebuah argumen tentang Sang Pencipta adalah ibadah, bukan sebuah pengakuan yang ditandatangani.
Tiga teguran sebelumnya, "kalian tidak membenarkan" di 56:57, "kalian tidak mengambil pelajaran" di 56:62, dan "kalian tidak bersyukur" di 56:70, semuanya berbentuk kekurangan. Di sini kekurangan itu dijawab oleh perbuatannya sendiri: bertasbihlah. Itulah bentuk positif yang sejak awal dituju seluruh rangkaian.
"Tuhanmu Sang Agung": sesudah daftar tentang karya-Nya, perhatian diarahkan melewati daftar itu menuju nama-Nya. Yang diagungkan adalah Dia, bukan kehebatan hujan atau api. Kalimat yang sama nanti kembali sebagai ayat terakhir surah ini, sehingga apa yang diminta oleh bagian penutup surah dipasang sekali di kepalanya dan sekali di kakinya, dan pembaca melewati bagian itu di antara dua perintah bertasbih yang identik.
Renungan dan Hikmah
- Enam belas ayat yang penuh tanya berakhir bukan pada "akuilah", melainkan pada "maka bertasbihlah". Allah tidak meminta sepucuk pernyataan setuju di ujung pembahasan; Dia menyuruh sebuah perbuatan, dan menyuruhnya kepada Nabi. Ujung yang pas bagi pembicaraan tentang siapa yang mengadakan segala sesuatu ternyata bukan simpulan yang dibuktikan di atas kertas, melainkan sujud yang dijalankan. Bentuk ujung ini sendiri sudah jadi bagian dari pesannya: yang dituju bukan orang yang mengangguk di kepala, melainkan orang yang tunduk dengan badan.
- Sesudah menyebut benih, tanaman, air, dan api, yang diperintahkan diagungkan bukan daftar karya itu, melainkan nama Tuhan. Perhatian diarahkan melewati kehebatan hujan dan api menuju Dia yang di baliknya. Orang mudah kagum pada alam lalu berhenti di kekagumannya; ayat ini tidak membiarkan kekaguman berhenti di sana, melainkan menuntunnya sampai ke nama pemiliknya. Yang dibesarkan adalah Dia, bukan pemandangannya, dan bedanya menentukan: kagum pada ciptaan bisa berhenti jadi kekaguman kosong, sedangkan tasbih meneruskannya sampai ke sumbernya.
- Tiga kali sebelumnya bagian ini menegur dengan bentuk kekurangan: kalian tidak membenarkan di 56:57, kalian tidak mengambil pelajaran di 56:62, kalian tidak bersyukur di 56:70. Di sini ketiga kekurangan itu dijawab oleh perbuatannya sendiri, bertasbihlah. Allah tidak menambah teguran keempat; Dia mengganti bentuknya dari "mengapa kalian tidak" menjadi satu perintah yang tegas. Bentuk positif inilah yang sejak awal dituju oleh semua teguran sebelumnya, seakan tiga "mengapa tidak" itu memang disiapkan untuk berujung pada satu "maka lakukanlah".
- Kata yang dipakai adalah "dengan nama Tuhanmu", bukan "kepada-Nya". Yang dipegang saat bertasbih adalah nama-Nya. Menyebut sesuatu dengan nama seseorang berarti membawa nama itu serta di dalam perbuatan, bukan sekadar mengarahkan perbuatan itu ke arahnya. Perbedaan halus ini membuat tasbih terasa lebih dekat: bukan seruan yang dilontarkan ke kejauhan, melainkan nama yang digenggam sambil menyucikan-Nya dari segala sekutu. Nama yang dipegang membuat ibadah punya pegangan, bukan sekadar arah.
- Kalimat "maka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Sang Agung" yang persis sama menjadi ayat terakhir surah ini di 56:96. Bagian penutup surah dengan demikian duduk di antara dua salinan kalimat yang sama: satu di kepalanya, satu di kakinya. Apa pun yang ada di antaranya, sumpah, penyebutan kitab, tiga golongan yang ditinjau ulang, dibaca di dalam bingkai dua perintah bertasbih yang identik. Perintah itu bukan sekadar satu ayat, melainkan pagar yang mengurung seluruh bagian, sehingga pembaca masuk lewat perintah memuji dan keluar lewat perintah yang sama.
- Kata "agung" muncul empat kali dalam surah ini. Kemunculan pertamanya justru melekat pada "dosa yang besar" milik para pengingkar di 56:46. Tiga kemunculan berikutnya melekat pada nama Tuhan di 56:74 dan 56:96 serta pada sumpah-Nya di 56:76. Kata yang mula-mula menakar besarnya pelanggaran mereka dibalik untuk menakar besarnya nama-Nya. Sesudah pergeseran itu, ketika seseorang menyebut sesuatu "besar" dalam hidupnya, "agung" yang mana yang sebenarnya sedang ia tinggikan?