وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ

Sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang agung seandainya kalian mengetahui.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَإِنَّهُ لَقَسَمٌwa-innahu la-qasamundan sesungguhnya itu benar-benar sumpah
  2. لَوْ تَعْلَمُونَlaw ta'lamuunaseandainya kalian mengetahui
  3. عَظِيمٌ'azhiimunyang agung

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَإِنَّهُwa-innahudan sesungguhnya ia
  2. لَقَسَمٌla-qasamunbenar-benar sumpah
  3. لَوْlawsekiranya
  4. تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui
  5. عَظِيمٌ'azhiimunyang agung

Inti bacaan

Penegasan skala kepentingan sumpah: 'sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang agung seandainya kalian mengetahui', pengakuan bahwa signifikansi penuh dari sumpah ini mungkin belum sepenuhnya dipahami pendengarnya, dorongan untuk terus mencari pemahaman lebih dalam.

Penjelasan pilihan kata

"'azhiimun" bertanwin tak-takrif berfungsi sebagai kata sifat biasa bagi "qasam" (sumpah), bukan sifat ilahi: tidak relevan dengan disiplin larangan superlatif ilahi. Karena itu (عَظِيمٌ, 'azhiimun) diterjemahkan "agung" tanpa gelar "Sang".

Kata (إِنَّهُ, innahu), "sesungguhnya itu", memuat kata ganti -hu yang menunjuk kembali pada perbuatan bersumpah di 56:75, bukan pada sesuatu yang baru. Ayat ini mengambil sumpah yang baru saja diucapkan sebagai pokok bahasannya.

Penegasannya berlapis. Ada (وَإِنَّ) di depan, ada lam penegas pada (لَقَسَمٌ, la-qasamun), dan ada sifat "agung" di ujung. Tiga penanda kuat dipakai sekaligus untuk satu kalimat yang isinya hanya menilai sebuah sumpah. Beratnya susunan ini sendiri sudah menjadi bagian dari pesan: bukan sekadar berkata "sumpah itu agung", melainkan menekankannya dengan segala perkakas penegas yang tersedia.

Susunan katanya menyisipkan (لَوْ تَعْلَمُونَ, lau ta'lamuuna), "seandainya kalian mengetahui", di antara (لَقَسَمٌ, la-qasamun) dan sifatnya, (عَظِيمٌ). Bahasa Arab bisa memisahkan sifat dari kata bendanya seperti ini; terjemahan mengembalikan urutannya menjadi "sumpah yang agung seandainya kalian mengetahui", sementara teguran itu tetap terselip di dalam pujian.

Sasarannya juga bergeser lagi. Perintah bertasbih di 56:74 memakai bentuk tunggal, ditujukan kepada Nabi; "seandainya kalian mengetahui" di sini kembali ke bentuk jamak, ditujukan kepada khalayak yang sama yang dihadapi empat pertanyaan sebelumnya. Sesudah sejenak berbicara kepada satu orang, ayat ini berpaling lagi kepada banyak orang, kali ini untuk menunjuk batas pengetahuan mereka.

Anak kalimat (لَوْ تَعْلَمُونَ) adalah pengandaian yang pokok jawabannya sengaja tidak disebut: "seandainya kalian mengetahui, tentu kalian paham betapa agungnya". Frasa yang sama persis muncul sekali lagi, di 102:5, di sana pun diselipkan di tengah kalimat untuk menyoal kekurangan pengetahuan pendengarnya.

Kata "agung" di sepanjang surah ini muncul empat kali: di 56:46 bagi "dosa yang besar" para pengingkar, di ayat ini bagi sumpah, dan di 56:74 serta 56:96 bagi nama-Nya. Hanya di ayat ini kata itu menjadi sifat penjelas yang netral, tidak terikat pada Allah maupun pada pelanggaran mereka. Yang membedakan adalah bentuknya: pada 56:74 dan 56:96 kata itu bertakrif dan disandingkan dengan "Tuhanmu", sedangkan di sini ia bertanwin dan disandingkan dengan "sumpah". Bentuk bertanwin menandai ukuran yang berlaku pada benda biasa, bukan gelar yang melekat pada Yang disembah.

Ayat ini tidak menyebut satu objek pun. Ia tidak mengulang demi apa sumpah itu diucapkan, yaitu kedudukan bintang di 56:75, dan tidak pula menyebut untuk apa sumpah itu diucapkan, yaitu Al-Qur'an di 56:77. Ia hanya menimbang sumpahnya, lalu menyerahkan alasan beratnya kepada ayat berikutnya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan keagungan sumpah itu, meski kebanyakan orang tidak menyadarinya. Yang menilai adalah yang bersumpah sendiri. Pendengar tidak dimintai pendapat; ia diberi tahu bahwa nilainya memang ada di sana dan bahwa pengetahuannya belum sampai ke sana.

Teguran itu dipasang di dalam pujian. "Seandainya kalian mengetahui" terselip di tengah "sumpah yang agung", sehingga pendengar dipuji dan dikoreksi dalam satu tarikan napas: sumpah ini agung, dan kalian tidak melihat seberapa agung.

Keagungan itu bersandar sebagian pada objek yang disumpahi, yaitu garis edar bintang yang terukur, sebuah tatanan yang sangat besar, dan sebagian pada apa yang akan disumpahkan, yang baru disebut ayat berikutnya. Ayat ini sendiri menyimpan keduanya di luar pandangan dan meminta pembaca menerima bobotnya lebih dulu berdasarkan pemberitahuan.

"Seandainya kalian mengetahui" membiarkan akibatnya tak terucap, cara yang lazim dalam Al-Qur'an untuk menekan: kalimatnya berhenti, dan pendengar harus menutupnya sendiri berhadapan dengan ketidaktahuannya. Frasa yang sama bekerja dengan cara yang sama di 102:5.

Nilai sumpah itu tidak bergantung pada diakui. Pengetahuan pendengar belum tiba; keagungannya tetap ada. Pengakuan adalah kekurangan di pihak pendengar, bukan syarat bagi kenyataannya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menilai sumpah-Nya sendiri sebagai agung. Bukan pendengar yang menimbang lalu memberi nilai; nilainya diumumkan kepadanya dari atas. Orang yang mendengar tidak diberi ruang untuk menyetujui atau menolak penilaian itu, ia hanya diberi tahu bahwa bobotnya sudah ada dan bahwa ia belum menjangkaunya. Penilaian yang datang dari pihak yang bersumpah membuat besarnya sumpah bukan soal pendapat, melainkan soal yang sudah ditetapkan sebelum pendengar sempat menimbang, dan yang tersisa baginya cuma menerima atau berkeras dalam kekurangannya.
  • Kalimat "seandainya kalian mengetahui" disisipkan Allah tepat di tengah "sumpah yang agung", memisahkan sifat dari kata bendanya. Akibatnya pendengar dipuji dan dikoreksi sekaligus: sumpah ini agung, dan kalian tidak melihat seberapa agung. Teguran itu tidak ditaruh di kalimat terpisah supaya bisa diabaikan, melainkan dijepit di dalam pujian sehingga tidak bisa dilewati. Yang memuji dan yang menegur adalah kalimat yang sama, dan pendengar tidak bisa menikmati pujiannya tanpa sekaligus menerima tegurannya.
  • Pengetahuan pendengar disebut belum tiba, sedangkan keagungan sumpah itu disebut tetap ada. Allah menaruh keduanya berdampingan supaya jelas bahwa yang satu tidak menentukan yang lain. Pengakuan adalah kekurangan di pihak yang mendengar, bukan syarat yang harus dipenuhi agar sumpah itu menjadi agung. Sesuatu yang besar tidak menyusut hanya karena tidak ada yang mengukurnya, dan tidak membesar ketika akhirnya diakui; yang berubah hanyalah pendengarnya, bukan yang didengarnya.
  • Anak kalimat "seandainya kalian mengetahui" dibiarkan tanpa pokok jawaban: seandainya kalian tahu, maka apa, tidak disebut. Ini cara yang lazim dalam Al-Qur'an untuk menekan, kalimatnya sengaja dipotong supaya pendengar menutupnya sendiri berhadapan dengan ketidaktahuannya. Frasa yang sama bekerja begitu juga di 102:5, memutus kalimat pada titik yang membuat pembaca meraba sendiri apa yang hilang. Kalau ujung kalimat itu memang sengaja dikosongkan, apa yang diisikan pendengar di tempat yang dibiarkan kosong itu?
  • Tiga kali lain dalam surah ini kata "agung" melekat pada nama Tuhan atau pada tuduhan dosa besar terhadap para pengingkar. Di ayat ini kata yang sama menjadi sifat penjelas biasa bagi sebuah sumpah, tanpa gelar, tanpa kaitan dengan sifat ilahi. Satu kata dipakai untuk tiga hal yang berbeda derajatnya dalam surah yang sama, dan pembeda antara pemakaian yang mengagungkan Allah dan yang sekadar menerangkan sumpah terletak pada bentuk katanya, bertakrif atau bertanwin. Ketelitian sekecil itu yang menjaga kata "agung" tidak dipukul rata untuk segala hal.
  • Ayat ini tidak mengulang demi apa sumpah diucapkan, dan tidak menyebut untuk apa sumpah itu diucapkan. Allah cukup menimbang sumpahnya, lalu menyerahkan alasan beratnya kepada ayat sesudahnya. Menahan kedua isi itu di luar pandangan membuat pembaca harus menerima bobot sumpah lebih dulu berdasarkan pemberitahuan, bukan berdasarkan melihat sendiri apa yang ditimbang. Beratnya diumumkan sebelum barangnya diperlihatkan, dan pembaca diminta percaya pada penimbangnya sebelum ia sendiri melihat timbangannya.