تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

diturunkan dari Tuhan seisi alam.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَtanziilun min rabbi l-'aalamiinaditurunkan dari Tuhan seisi alam

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. تَنْزِيلٌtanziilunpenurunan
  2. مِنْmindari
  3. رَبِّrabbiTuhan
  4. الْعَالَمِينَl-'aalamiinaseisi alam

Inti bacaan

Sumber otoritas yang universal: '(Al-Qur'an) diturunkan dari Tuhan seisi alam', penegasan cakupan universal sumber wahyu, tidak terbatas pada satu kelompok atau wilayah tertentu.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan '(Al-Qur'an)' tidak dipakai: ayat ini anak kalimat tanpa kata kerja yang dilesapkan lanjutan dari 56:77-79 tanpa subjek terpisah di teks Arab, sesuai disiplin elipsis proyek. "Diturunkan" berdiri tanpa kata "(Al-Qur'an)" di depannya karena ia masih kalimat yang sama yang dibuka di 56:77, dan empat ayat itu terbaca sebagai satu tarikan napas.

Kata (تَنْزِيلٌ, tanziil), dari akar ن-ز-ل (n-z-l) bentuk kedua, berarti "penurunan secara bertahap". Sebagai kata kepala kalimat: "suatu penurunan dari ... ". Bentuk kedua akar ini membawa nuansa diturunkan sepotong demi sepotong, bukan sekali jatuh, sehingga salinan-sumber yang satu dan utuh tetap di tempatnya sementara datangnya ke bumi terbentang dalam waktu.

Frasa (تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ) muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, kata demi kata: di ayat ini dan di 69:43. Varian yang sangat dekat, (لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ), ada di 26:192, dan susunan yang sebangun, (وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ ... تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ), ada di 41:41-42.

Ini satu dari beberapa kaitan kata demi kata antara surah ini dan surah Al-Haqqah (surah 69). Kedua surah dinamai peristiwa pasti yang sama: (الْوَاقِعَةُ, al-waaqi'ah) di 56:1 dan (الْحَاقَّةُ, al-Haaqqah) di 69:1. Keduanya memuat perintah yang sama persis, (فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ, fa-sabbiH bi-smi rabbika-l-'azhiim), di 56:74, 56:96, dan 69:52. Keduanya membuka sumpah dengan (فَلَا أُقْسِمُ, fa-laa uqsimu), di 56:75 dan 69:38. Dan keduanya menutup uraian tentang kitab dengan (تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ) yang sama. Dua surah menempuh alur yang sejajar, dan pembaca yang menaruh keduanya berdampingan menemukan kitab digambarkan dengan istilah yang sama pada titik yang sama.

Kaitan dengan Al-Haqqah tidak berhenti di sini. Ayat 56:76 berbunyi (وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ ... عَظِيمٌ), dan 69:51 berbunyi (وَإِنَّهُ لَحَقُّ الْيَقِينِ), kerangka penegas yang sama. Kedua surah menutup uraian tentang kitab dengan penyebutan sumber, dan kedua-duanya meletakkannya sesudah, bukan sebelum, sifat-sifat kitab disebut.

Sebutan (رَبِّ الْعَالَمِينَ, rabbi-l-'aalamiin), "Tuhan seisi alam", dipakai berkali-kali di dalam Al-Qur'an, di antaranya di 1:2, 26:16, dan 37:182, dan catatan pilihan kata mempertahankan "seisi alam" sebagai satu terjemahan. Empat ayat tentang kitab ini ditutup dengan sumber yang seluas mungkin: bukan Tuhan satu bangsa, melainkan Tuhan segala yang diciptakan, sehingga tidak ada golongan yang bisa mengklaimnya sendiri dan tidak ada golongan yang berada di luar sasarannya.

Letaknya: kitab itu dinamai (56:77), ditempatkan (56:78), dijaga sentuhannya (56:79), dan kini disebut asalnya (56:80). Asal-usul ditaruh di ujung daftar, bukan di pangkalnya, sehingga tiga sifat yang lebih dulu disebut bermuara pada satu sumber yang menopang ketiganya sekaligus.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian sifat Al-Qur'an: asalnya langsung dari Tuhan seluruh alam semesta. Sesudah namanya, tempatnya, dan penjagaannya, hal terakhir yang disebut adalah dari mana ia datang. Asal-usul ditaruh di akhir daftar, bukan di awal: pembaca diberi tahu apa kitab itu dan bagaimana ia dijaga sebelum diberi tahu milik siapa ia, sehingga sifat-sifatnya dikenali dahulu, lalu semuanya bermuara pada satu nama.

"Dari Tuhan seisi alam", bukan "dari Tuhan orang Arab" atau "dari Tuhan satu umat". Empat ayat ini ditutup dengan jangkauan seluas mungkin, sumber yang selebar segala yang diciptakan, sehingga tidak ada golongan yang bisa memilikinya sendiri dan tidak ada golongan yang bisa merasa berada di luar sasarannya.

Kalimat yang persis sama menutup uraian tentang kitab di surah Al-Haqqah, di 69:43. Dua surah, sama-sama dinamai peristiwa pasti, berbagi penutup ini kata demi kata, dan berbagi pula perintah bertasbih di 69:52 dan sumpah pembuka di 69:38. Siapa yang membaca keduanya berdampingan menemukan kitab digambarkan dengan istilah yang sama pada titik yang sama.

Kalimat ini tidak berdiri dengan subjek sendiri. Ia menggantung pada 56:77 tanpa mengulang "Al-Qur'an", sehingga empat ayat itu terbaca sebagai satu tarikan napas: mulia, terpelihara, disentuh hanya oleh yang disucikan, diturunkan dari Tuhan seisi alam.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menutup daftar sifat kitab ini dengan menyebut dari mana ia datang. Pembaca lebih dulu diberi tahu apa kitab itu, mulia, dan bagaimana ia dijaga, terpelihara dan disentuh hanya oleh yang disucikan, baru sesudah itu milik siapa ia. Menaruh asal-usul di ujung, bukan di pangkal, membuat pembaca mengenali kitab itu dari sifat-sifatnya dahulu, lalu sifat-sifat itu bermuara pada satu sumber yang menerangkan semuanya sekaligus, sebab sifat setinggi itu memang menuntut asal yang setinggi itu.
  • Yang disebut adalah Pemelihara segala makhluk, bukan pelindung satu bangsa. Kitab ini ditautkan bukan pada tempat ia turun, melainkan pada Dzat yang menjaga seluruh yang hidup. Tautan seperti itu menutup pintu bagi siapa pun yang ingin memperlakukan kitab ini sebagai warisan keluarganya sendiri: apa yang datang dari Pemelihara semua orang tidak bisa dijadikan hak segelintir. Allah memilih nama yang paling luas yang tersedia untuk menutup empat ayat ini, dan luasnya nama itu menentukan seluas apa kitab ini berbicara.
  • Kalimat "diturunkan dari Tuhan seisi alam" menutup uraian tentang kitab di surah Al-Haqqah, di 69:43, dengan kata yang persis sama. Dua surah yang sama-sama dinamai peristiwa pasti itu juga berbagi perintah bertasbih di 69:52 dan sumpah pembuka di 69:38. Allah menggambarkan kitab dengan istilah yang sama pada titik yang sama di dua tempat, sehingga pembaca yang menaruh keduanya berdampingan melihat satu pola yang disengaja, bukan dua uraian lepas yang kebetulan mirip.
  • Kalimat ini tidak berdiri dengan subjek sendiri; ia menggantung pada 56:77 tanpa mengulang "Al-Qur'an". Akibatnya empat ayat itu terbaca sebagai satu kalimat panjang: mulia, terpelihara, disentuh hanya oleh yang disucikan, diturunkan dari Tuhan seisi alam. Allah tidak memenggalnya menjadi empat pernyataan terpisah yang masing-masing bisa ditimbang sendiri; keempatnya diikat jadi satu, dan sumber di ujung menopang tiga sifat sebelumnya sekaligus.
  • Kata yang dipakai adalah bentuk untuk penurunan bertahap, sepotong demi sepotong, bukan sekali jatuh. Salinan-sumber yang terpelihara itu satu dan utuh, sedangkan datangnya ke bumi terbentang dalam waktu. Dua hal yang tidak bertentangan: yang di atas tetap satu dan terjaga, yang sampai ke bawah dibagikan berangsur, sehingga penerimanya bisa mengikutinya bagian demi bagian tanpa salinan asalnya pernah berkurang sedikit pun.
  • Orang yang menampik kitab ini tidak sedang menampik kabar dari pihak asing. Ia menampik sesuatu yang datang dari Dzat yang juga menciptakannya dan memberinya makan, dan itulah yang membuat penolakan pada ayat berikutnya terbaca sebagai ingkar-nikmat, bukan sekadar beda pendapat. Ayat 56:82 memang menyambungnya dengan rezeki: nikmat yang diterima dan kitab yang ditolak datang dari satu tangan. Kalau yang mengirim kitab ini Dia yang memelihara segala yang diciptakan, adakah di antara yang ditegur satu orang saja yang bisa berkata dirinya di luar tanggungan-Nya?