وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ
dan kalian menjadikan rezeki kalian sebagai pendustaan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْwa-taj'aluuna rizqakumdan kalian menjadikan rezeki kalian
- أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَannakum tukadzdzibuunabahwa kalian mendustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَتَجْعَلُونَwa-taj'aluunadan kalian menjadikan
- رِزْقَكُمْrizqakumrezeki kalian
- أَنَّكُمْannakumbahwa kalian
- تُكَذِّبُونَtukadzdzibuunakalian mendustakan
Inti bacaan
Kritik terhadap ingkar-nikmat: 'kalian menjadikan pendustaan sebagai (balasan atas) rezeki kalian?', ironi pahit ketika anugerah yang diterima justru dibalas dengan penolakan terhadap sumbernya, pengingat untuk menyelaraskan rasa syukur dengan keyakinan yang konsisten.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan '(balasan atas)' tidak dipakai: susunan Arab menempatkan 'rizqakum' (rezeki kalian) sebagai objek pertama dari 'taj'aluuna' (kalian menjadikan), dengan anak kalimat pendustaan sebagai isi dari tindakan itu, tanpa kata 'balasan' eksplisit. Terjemahan menahan diri dari menyisipkan kata itu meski maknanya condong ke sana, karena teks Arab membiarkan hubungan sebab-akibatnya tersirat, bukan tersurat.
Ayat ini menyambung 56:81 dengan huruf (وَ, wa-), "dan". Ayat sebelumnya bertanya apakah kalian meluncur begitu saja melewati kitab ini; ayat ini melanjutkan, "dan kalian menjadikan rezeki kalian sebagai pendustaan". Satu teguran, dua bagian: dari meluncur melewati menuju mendustakan secara terbuka. Kata sambung yang menautkan keduanya membuat keduanya terbaca sebagai satu tuntutan, bukan dua keluhan terpisah.
Kata (تَجْعَلُونَ, taj'aluuna), dari akar ج-ع-ل (j-'-l), "menjadikan, membuat", berbentuk sedang, menunjuk kebiasaan yang berlangsung, bukan satu peristiwa. Kata (رِزْقَكُمْ, rizqakum), "rezeki kalian", memakai akhiran kepemilikan, "milik kalian", padahal seluruh argumen sebelum ini, dari tanaman di 56:63-65 sampai air di 56:68-70, menelusuri rezeki itu kembali ke Pemberinya. Akhiran "milik kalian" itu dibiarkan berdiri lalu ditumbangkan dalam kalimat yang sama.
Kata (رِزْق, rizq) hanya muncul sekali di seluruh surah ini, yaitu di ayat ini. Surah ini menghabiskan banyak ayat menunjuk Tangan di balik benih, tumbuhan, dan hujan tanpa sekali pun memakai kata "rezeki"; ia menamainya satu kali saja, tepat di titik ketika pemberian itu dijadikan bahan untuk menolak. Penundaan pemakaian kata itu membuat kemunculannya di sini terasa ditempatkan dengan sengaja.
Anak kalimat (أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ, annakum tukadzdzibuun), "bahwa kalian mendustakan", dari akar ك-ذ-ب (k-dz-b). Bacaan yang dipakai catatan pilihan kata: kalian menjadikan tanggapan atas rezeki itu berupa pendustaan, syukur yang seharusnya dibayar atas karunia diganti dengan penolakan terhadap Sumbernya, yaitu ingkar-nikmat. Akar ك-ذ-ب berjalan sepanjang surah: di 56:2, "tidak ada dusta tentang terjadinya"; di 56:51, "para pendusta yang sesat"; di sini; dan di 56:92, nasib "para pendusta yang sesat". Yang mustahil menjadi dusta di ayat kedua menjadi kebiasaan di ayat kedelapan puluh dua dan nama golongan di ayat kesembilan puluh dua.
Sesudah teguran ini, 56:83 berpaling dari perdebatan menuju sebuah adegan, ranjang kematian, tempat anggapan di balik pendustaan itu, bahwa tidak akan ada yang menagih pertanggungjawaban, diuji secara langsung dan bukan lagi lewat kata-kata.
Tafsiran
Ayat ini menegur mereka yang membalas rezeki yang diterima dengan pendustaan terhadap wahyu. Ironinya tepat: karunia dipakai sebagai bahan untuk menolak Pemberinya. Kalian makan yang Dia tumbuhkan dan minum yang Dia turunkan, seperti diperlihatkan 56:63-70, dan yang kalian kembalikan adalah menyebut firman-Nya dusta. Tenaga untuk menolak itu sendiri berasal dari yang ditolak.
"Rezeki kalian", akhiran kepemilikan dibiarkan berdiri, lalu ditumbangkan dalam satu tarikan napas. Yang kalian perlakukan sebagai milik sendiri disebut pemberian, dan pemberian itulah yang kalian pakai melawan Sumbernya. Rasa memiliki dan kenyataan diberi ditaruh berdampingan supaya benturannya terlihat.
Kata untuk rezeki, yang tidak dipakai di ayat lain mana pun dalam surah ini, jatuh di sini. Sesudah ayat-ayat yang menunjukkan Tangan di balik benih dan hujan tanpa menyebut barang yang diberikan, ayat ini akhirnya menyebutnya, tepat pada saat ia sedang dilemparkan kembali.
Ayat 56:81 dan 56:82 satu teguran dalam dua bagian. Yang pertama sikap meremehkan, menganggap kitab terlalu ringan untuk ditimbang; yang kedua pendustaan, menyebutnya bohong. Ayat ini memasangkan keduanya, seakan berkata bahwa mengangkat bahu dan membantah terang-terangan adalah sikap yang sama dilihat dari dua sisi.
Adegan bergeser sesudah ini. Ayat 56:83 meninggalkan perdebatan dan menuju ranjang kematian, tempat andaian di bawah pendustaan itu, bahwa tak seorang pun akan dimintai pertanggungjawaban, bertemu dengan satu-satunya saat yang tidak dikuasai siapa pun.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut rezeki mereka dijadikan pendustaan, bukan disyukuri. Yang diterima dipakai sebagai bahan untuk menolak. Karunia yang menyambung hidup mereka, yang dari sanalah kekuatan mereka berbicara dan membantah datang, justru diubah menjadi alasan untuk menyangkal pemberinya. Menyebut hal itu di satu kalimat pendek membuat kejanggalannya telanjang: tenaga yang dipakai menolak seluruhnya berasal dari yang ditolak, dan tidak ada bagian dari perlawanan itu yang berdiri di atas sumber lain.
- Kata "rezeki" hanya muncul sekali di seluruh surah ini, tepat di ayat ini. Surah ini menghabiskan banyak ayat menunjuk Tangan di balik benih, tanaman, dan hujan tanpa sekali pun memakai kata itu. Allah menamainya justru pada saat pemberian itu sedang dilemparkan kembali, seakan kata "rezeki" ditahan sampai momen ketika artinya paling terasa: bukan waktu ia dinikmati, melainkan waktu ia diingkari. Kata yang jarang muncul yang jatuh tepat di titik terkelam menandai bahwa ia dipasang, bukan kebetulan lewat.
- Akhiran kepemilikan pada "rezeki kalian" dibiarkan berdiri, lalu di kalimat yang sama isinya ditumbangkan. Kata itu berkata "milik kalian", tetapi kalimatnya memperlakukan yang sama sebagai sesuatu yang diberikan. Yang kalian sebut punya sendiri adalah pemberian, dan pemberian itulah yang kalian pakai melawan sumbernya. Rasa memiliki dan kenyataan diberi ditaruh berdampingan supaya benturannya terlihat, dan supaya jelas bahwa menganggap sesuatu milik mutlak tidak mengubah dari mana ia sebenarnya datang.
- Ayat 56:81 dan 56:82 disambung dengan "dan": yang satu meluncur melewati kitab, yang satu mendustakannya. Allah memasang keduanya sebagai satu teguran berbagian dua. Mengangkat bahu dan membantah terang-terangan tampak berbeda dari luar, tetapi ayat ini menaruhnya sebagai satu sikap dari dua sisi: yang enggan menimbang dan yang sudah memutuskan menolak sama-sama tidak membiarkan kitab itu mengena. Yang satu menghindar dengan halus, yang satu menampik dengan terang, dan keduanya berakhir di tempat yang sama.
- Akar kata "dusta" berjalan sepanjang surah ini: di 56:2 mustahil ada dusta tentang terjadinya peristiwa itu, di 56:51 melekat pada "para pendusta yang sesat", di ayat ini menjadi perbuatan, dan di 56:92 menjadi nama nasib. Allah memakai satu akar untuk menandai empat titik: yang tak mungkin bohong di awal surah menjadi kebiasaan di sini, lalu menjadi label golongan yang paling buntung di akhirnya. Kata yang sama menjahit pembuka surah, tuduhannya, perbuatannya, dan hukumannya dalam satu benang.
- Ayat ini menyebut sikap itu menjadikan rezeki sebagai pendustaan, dan menaruhnya sebagai perkara sikap, bukan perkara argumen. Tenaga untuk membantah dan bahan untuk hidup datang dari satu tangan yang sama, dan tangan itu dipakai untuk menepis pemiliknya. Kalau yang diterima seseorang dipakai justru untuk menolak yang memberinya, istilah apa yang benar-benar pas untuk itu, dan sanggupkah sebutan "beda pendapat" menanggung beban yang sebesar itu?