وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ
sedang kalian ketika itu melihat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَwa-antum hiina'idzin tanzhuruunasedang kalian ketika itu melihat
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَأَنْتُمْwa-antumpadahal kalian
- حِينَئِذٍhiina'idzinketika itu
- تَنْظُرُونَtanzhuruunakalian menyaksikan
Inti bacaan
Kesaksian tak berdaya orang-orang di sekitar: 'sedang kalian ketika itu melihat', gambaran orang-orang terdekat yang hanya bisa menyaksikan tanpa mampu berbuat apa pun, pengingat akan batas mutlak kemampuan manusia menolong sesama pada momen tertentu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini salah satu dari dua anak kalimat yang disisipkan antara pembuka kalimat di 56:83 dan penyambungnya di 56:86: "dan kalian, pada saat itu, memandang". Kalimatnya belum berdiri sendiri; ia bagian dari susunan panjang yang baru tuntas di 56:87, dan tugasnya di sini melukiskan ruangan sebelum tantangan utamanya diucapkan.
Kata ganti (أَنْتُمْ, antum), "kalian", disebut terpisah, menunjuk orang-orang di sekitar yang sekarat, ditandai oleh kata ganti lepas seperti pada empat tantangan sebelumnya di surah ini, di 56:59, 56:64, 56:69, dan 56:72. Bahasa Arab tidak wajib menyebut kata ganti subjek karena sudah terkandung di kata kerja; menyebutnya lepas menambah tekanan, "kalian sendiri, pada saat itu".
Kata (حِينَئِذٍ, Hiina'idzin), "ketika itu", gabungan (حِينَ), "waktu", dan (إِذٍ), "saat itu". Kata ini hanya muncul di ayat ini di seluruh Al-Qur'an. Ia memaku pandangan itu ke satu saat di 56:83, bukan ke waktu lain mana pun, sehingga menatap dan nyawa yang sampai di kerongkongan menjadi satu detak waktu yang sama.
Kata (تَنْظُرُونَ, tanzhuruun), dari akar ن-ظ-ر (n-zh-r), "memandang, menatap". Menatap secara fisik dengan mata. Kata ini ditaruh berhadapan dengan (لَا تُبْصِرُونَ, laa tubshiruun) di 56:85, dari akar ب-ص-ر (b-sh-r): medan yang sama, penglihatan, tetapi 56:84 memandang dan 56:85 tidak menangkap. Mereka menatap tubuh yang terbaring dan luput dari yang lebih dekat kepadanya daripada mereka.
Ayat ini dan 56:85 adalah dua anak kalimat yang disisipkan berdampingan, dan keduanya menyiapkan pertentangan yang menjadi tumpuan tantangan di 56:86-87. Yang satu menyebut apa yang orang-orang lakukan, memandang; yang satu menyebut apa yang mereka lewatkan, kehadiran yang lebih dekat. Tanpa dua ayat penyela ini, tantangan "kembalikan nyawa itu" akan berdiri tanpa latar; dengan keduanya, tantangan itu diucapkan di ruangan yang sudah dilukiskan, penuh orang yang tak berdaya dan satu Kehadiran yang tak mereka sadari.
Sasaran "kalian" di sini bukan hanya orang di sekitar satu ranjang tertentu. Ia ditujukan kepada setiap pembaca, yang cepat atau lambat akan berdiri di ruangan itu, entah sebagai yang menunggui atau sebagai yang ditunggui. Bentuk jamak orang kedua membuat adegan ini tidak bisa dibaca sebagai kisah tentang orang lain; ia menaruh yang membaca di dalam gambar.
Ayat ini menyebut kegiatan memandang, bukan kesedihan. Tidak ada wajah yang dilukiskan, tidak ada kata yang diucapkan, tidak ada tangis. Hanya: kalian memandang. Kepolosan itu membuat kegiatan menatap jadi seluruh isinya, dan menahan perhatian pembaca pada kenyataan bahwa orang-orang di sana menonton dan tidak lebih. Ayat berikutnya akan membalik pandangan itu pada dirinya sendiri: kalian menatap, dan yang lebih dekat kepadanya daripada kalian adalah yang tidak kalian lihat.
Tafsiran
Ayat ini menyoroti kesaksian orang-orang di sekitar orang yang sekarat, yang hanya bisa menyaksikan tanpa berdaya. Orang-orang di ruangan itu hadir, menatap, dan tak sanggup berbuat. Ayat ini memberi mereka satu kata kerja, "memandang", dan tidak lebih. Bukan tangis mereka, bukan seruan mereka, hanya pandangan itu, sehingga yang tinggal adalah kenyataan telak bahwa mereka menonton.
Kata ganti "kalian" yang lepas menandai mereka. Itu gerak yang sama dengan empat tantangan sebelumnya di surah ini, kata ganti dipisahkan untuk menaruh lawan bicara di tempat terang. Di sini ia menaruh orang-orang di sekeliling ranjang sebagai saksi atas ketidakberdayaan mereka sendiri, bukan sebagai penonton yang jauh.
"Ketika itu" adalah kata yang tidak ada di tempat lain dalam Al-Qur'an. Ia mengikat pandangan itu ke satu saat di ayat sebelumnya, sehingga menatap dan nyawa di kerongkongan adalah detak waktu yang sama, bukan dua peristiwa yang berdekatan.
Ayat berikutnya membalik pandangan itu pada dirinya sendiri: kalian menatap, dan yang lebih dekat kepadanya daripada kalian justru yang tidak kalian lihat. Kata kerja menatap dipasang di sini supaya kata kerja tidak-melihat bisa menjawabnya, indranya sama dan hasilnya berlawanan.
Renungan dan Hikmah
- Allah memberi orang-orang di sekeliling satu kata kerja: memandang. Bukan menolong, bukan memanggil kembali, menatap. Ruangan bisa penuh dan tak satu tangan di dalamnya menjangkau yang sedang pergi. Menyebut kegiatan mereka "melihat" saja, tanpa tambahan, menegaskan bahwa pada titik ini kehadiran orang banyak tidak mengubah apa pun, dan yang tersisa bagi mereka hanya menyaksikan sesuatu yang berjalan tanpa meminta izin mereka. Kehadiran ramai yang di kesempatan lain sanggup menolong di sini tidak menambah sedikit pun kuasa untuk menahan.
- Yang menyaksikan, dalam gambaran yang dipilih Allah, adalah orang-orang terdekat, keluarga, orang yang paling ingin berbuat sesuatu. Kedekatan mereka membuat ketidakberdayaan itu lebih tajam, bukan lebih ringan: semakin seseorang ingin menolong dan semakin dekat ia berdiri, semakin terasa bahwa keinginan dan kedekatan tidak menambah kuasa apa pun di detik itu. Yang bisa mereka berikan tinggal kehadiran, dan kehadiran tidak menahan apa-apa dari yang sedang terjadi. Semakin rapat mereka berdiri, semakin terang bahwa dekat saja bukan berarti berkuasa atas apa yang sedang berlangsung.
- Kata "ketika itu" di ayat ini tidak dipakai di tempat lain mana pun dalam Al-Qur'an. Allah memakainya untuk memaku pandangan orang-orang ke satu saat persis di ayat sebelumnya, sehingga menatap dan nyawa yang sampai di kerongkongan menjadi satu detak waktu. Kata sekali-pakai untuk saat sekali-terjadi: momen itu diberi penanda waktunya sendiri yang tidak dibagikan ke peristiwa lain, dan itu menandai betapa terpisahnya ia dari waktu-waktu biasa dalam hidup.
- Tidak ada wajah, tidak ada kata, tidak ada tangis yang dilukiskan. Allah memberi adegan ini satu kata kerja lalu berhenti. Kalau ayat ini melukiskan air mata dan ratapan, perhatian pembaca akan tertarik ke perasaan orang-orang di ruangan; dengan hanya "memandang", yang tinggal adalah kenyataan telak bahwa mereka menonton dan tidak lebih. Kepolosan kalimatnya justru yang membuatnya menekan, sebab bagian yang tidak dilukiskan diisi pembaca dengan wajah orang-orang yang ia sendiri kenal.
- Ayat 56:84 berkata "kalian memandang", ayat 56:85 berkata "kalian tidak melihat". Kata kerja pertama dipasang supaya kata kerja kedua bisa menjawabnya: indranya sama, hasilnya berlawanan. Mereka menatap dengan mata terbuka ke arah tubuh yang terbaring, dan pada saat yang sama luput dari yang paling dekat di ruangan itu. Memandang penuh belum tentu melihat, dan di detik itu perbedaan antara keduanya menjadi menentukan. Mata yang terbuka lebar pun bisa tertuju pada yang satu dan meleset dari yang lain.
- Ayat berikutnya menjawab bahwa yang bisa berbuat justru yang tidak terlihat oleh mereka, tetapi ayat ini lebih dulu meninggalkan pertanyaannya menggantung. Orang-orang yang paling dekat tidak bisa berbuat apa-apa selain menatap. Semua mata di ruangan itu tertuju pada tubuh yang terbaring, dan tak satu pun tertuju pada Yang paling dekat, sehingga satu soal tersisa untuk dijawab pembaca sebelum ayat berikutnya menjawabnya: yang punya kuasa atas saat itu, apakah yang bisa kalian pandang, atau yang tidak bisa kalian pandang?