فَلَوْلَا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ
Maka, mengapa jika kalian tidak dimintai pertanggungjawaban,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَلَوْلَا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَfa-lawlaa in kuntum ghayra madiiniinamaka, mengapa jika kalian tidak dimintai pertanggungjawaban
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَلَوْلَاfa-lawlaamaka seandainya bukan karena
- إِنْinjika
- كُنْتُمْkuntumkalian adalah
- غَيْرَghayraselain
- مَدِينِينَmadiiniinaorang-orang yang dibalas
Inti bacaan
Tantangan logis terhadap klaim otonomi penuh: 'mengapa jika kalian tidak dimintai pertanggungjawaban', pengujian konsistensi bagi yang mengklaim tidak ada akuntabilitas, tantangan untuk membuktikan klaim tersebut secara nyata pada momen kematian.
Penjelasan pilihan kata
'Madiiniina' (dari akar d-y-n, dalam bentuk partisip pasif) diterjemahkan 'dimintai pertanggungjawaban', konsisten dengan keluarga idiom eskatologis akar yang sama di proyek ini (lih. 'yawm ad-diin'→'Hari Pertanggungjawaban'). Penyeragaman ini menjaga satu kata Indonesia untuk satu akar Arab di seluruh proyek, alih-alih berganti-ganti antara 'pembalasan', 'perhitungan', dan 'agama'.
Kata (فَلَوْلَا, fa-lau-laa) di sini mengulang (فَلَوْلَا) di 56:83, menyambung kembali kalimat sesudah dua anak kalimat yang disisipkan di 56:84-85. "Maka mengapa tidak" diucapkan dua kali, sekali sebelum ruangan dilukiskan dan sekali sesudahnya, dan baru selesai di 56:87. Pengulangan itu mengambil kembali benang kalimat yang sempat ditinggal untuk menggambarkan adegan.
Kata (إِنْ, in), "jika", sebuah pengandaian yang sebenarnya kali ini, berbeda dari (إِذَا), "ketika", di 56:83. Ayat 56:83 memakai "ketika" karena saatnya pasti; ayat ini memakai "jika" karena yang diandaikan adalah klaim mereka, yang mereka sendiri harus pertahankan.
Kata (غَيْر, ghayr), "selain, bukan", ditambah (مَدِينِينَ, madiiniin), partisip pasif dari akar د-ي-ن (d-y-n). Akar itu membawa dua makna sekaligus: "dimintai pertanggungjawaban" dan "dikuasai, dimiliki, ditundukkan". (غَيْرَ مَدِينِينَ) berarti "tidak akan dimintai pertanggungjawaban", dan di bawahnya, "tidak dikuasai siapa pun, tuan atas diri sendiri". Kata ini hanya muncul di ayat ini di seluruh Al-Qur'an.
Kerabat terdekatnya di 37:53, (أَإِنَّا لَمَدِينُونَ, a-innaa la-madiinuun), "apakah kami benar-benar akan dimintai pertanggungjawaban?", diucapkan para pengingkar dalam bingkai "apabila kami telah mati dan menjadi tanah dan tulang" yang sama, yang di surah ini diberikan kepada mereka di 56:47. Surah ini membiarkan mereka berkata di 56:47 "apabila kami menjadi tanah, apakah kami dibangkitkan?"; di sini ia mengambil akar kata mereka sendiri dan membaliknya: jika kalian tidak akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana kalian katakan, maka lakukanlah ini.
Akar د-ي-ن dan Harinya: (يَوْمِ الدِّينِ) di 1:4; (وَإِنَّ الدِّينَ لَوَاقِعٌ) di 51:6, "sesungguhnya Pertanggungjawaban itu pasti terjadi", dengan akar و-ق-ع yang menamai surah ini; dan 82:19, (يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا), "hari ketika seseorang tak berdaya sedikit pun menolong orang lain", yang adalah adegan ranjang di 56:84 dinyatakan lebih dulu. Kalimatnya masih belum selesai; 56:87 menyediakan kata kerjanya, "kalian mengembalikannya, jika kalian orang-orang yang benar".
Tafsiran
Ayat ini menantang logika mereka: jika benar tidak akan dimintai pertanggungjawaban, mengapa tidak mampu mengembalikan nyawa yang sedang melayang. Tantangan itu ditaruh di tempat yang tak bisa dielakkan: bukan di perdebatan, melainkan di kerongkongan, saat nyawa sedang pergi. Kalau klaim di balik pendustaan adalah bahwa tak seorang pun memiliki kalian dan tak seorang pun akan menagih, maka ranjang kematian adalah tempat untuk membuktikannya, bukan dengan kata, melainkan dengan perbuatan.
Kata untuk "dimintai pertanggungjawaban" dibangun dari akar yang sama dengan "Hari Pertanggungjawaban". Yang mereka ingkari dinamai dengan istilah yang sudah mereka kenal; kosakata mereka sendiri dipakai untuk menyusun ujiannya, jadi mereka tidak bisa menampiknya sebagai kata yang asing bagi mereka.
Di 37:53 para pengingkar bertanya, dengan kata "tanah dan tulang" yang sama yang diberikan surah ini kepada mereka di 56:47, "apakah kami benar-benar akan dimintai pertanggungjawaban?". Di sini jawabannya datang berupa tantangan: kalian bilang tidak; maka berbuatlah seperti itu, sekarang.
Kalimatnya sengaja dipecah. "Maka mengapa tidak, jika kalian tidak akan dimintai pertanggungjawaban" diucapkan, dan kata kerja yang dibutuhkannya menunggu ayat berikutnya. Pembaca ditahan di baris yang belum selesai seperti adegan itu menahan semua orang di sisi ranjang, hanya bisa menunggu tanpa bisa menyudahi.
Ayat 56:87 akan menutupnya dengan perbuatan yang mustahil: kembalikan nyawa itu, jika kalian benar. "Jika kalian orang-orang yang benar" yang sama yang menutup tantangan mendatangkan tuturan seperti Al-Qur'an di 52:34 menutup pula tantangan membalik kematian.
Renungan dan Hikmah
- Allah menaruh ujian ini di kerongkongan, bukan di ruang perdebatan. Klaim bahwa tak ada yang akan menagih pertanggungjawaban diperiksa di satu titik yang tak seorang pun bisa berjalan menjauh darinya. Di ruang debat, klaim semacam itu bisa dipertahankan dengan kata-kata; di sisi ranjang, ia diminta dibuktikan dengan perbuatan, dan tempat itu dipilih justru karena di sana kata-kata tidak lagi menolong dan yang tersisa hanya sanggup atau tidak sanggup.
- "Tidak akan dimintai pertanggungjawaban" memakai akar yang sama dengan "Hari Pertanggungjawaban". Yang mereka ingkari dinamai Allah dengan istilah yang sudah ada di mulut mereka sendiri. Di 37:53 mereka bertanya dengan akar itu, dalam bingkai "tanah dan tulang" yang sama yang surah ini berikan kepada mereka di 56:47. Ujiannya disusun dari kosakata mereka, jadi mereka tidak bisa menolaknya sebagai istilah asing yang tidak mereka pahami atau tidak mereka pakai.
- Ayat 56:83 memakai "ketika", saatnya pasti; ayat 56:86 memakai "jika", klaimnya milik mereka untuk dipertahankan. Allah menggeser dari waktu yang tentu ke pengandaian yang mereka usung sendiri, dan pergeseran itu menyiapkan tantangannya: yang pasti dipakai sebagai panggung, dan di atas panggung itu klaim mereka diminta berdiri. Kalau "ketika"-nya benar dan "jika"-nya juga mereka pegang, keduanya bertemu di ranjang itu dan salah satunya harus mengalah.
- "Maka mengapa tidak" diucapkan di 56:83 dan diulang di ayat ini, kata kerjanya masih ditahan sampai 56:87. Allah memecah kalimat itu dan menyisipkan gambaran ruangan di tengahnya. Pembaca dibiarkan menunggu di baris yang belum selesai, dan penungguan itu menirukan keadaan orang-orang di sisi ranjang yang juga hanya bisa menunggu tanpa bisa menyudahi apa pun, sehingga bentuk kalimatnya ikut menyampaikan rasa adegannya. Kalimat yang digantung itu sendiri menirukan penantian yang tak bisa dipercepat siapa pun.
- Akar د-ي-ن ada di ayat ini dan di "Hari Pertanggungjawaban" di 1:4, dan di 51:6, "sesungguhnya Pertanggungjawaban itu pasti terjadi", dengan akar yang sama yang menamai surah ini. Ayat 82:19 berkata pada Hari itu seseorang tak berdaya sedikit pun menolong orang lain, dan itu adalah adegan ranjang di 56:84 yang dinyatakan lebih dulu. Allah menautkan detik kematian dengan Hari perhitungan lewat satu akar kata, seakan yang terjadi di ranjang adalah versi kecil dari yang akan terjadi di Hari itu.
- Ayat ini tidak meminta bantahan yang lebih pandai; ia meminta perbuatan yang membuktikan klaim itu. Ketiadaan jawaban atas permintaan itu, yang datang di ayat berikutnya, adalah bagian dari maksudnya, dan diamnya mereka berbicara lebih keras daripada bantahan mana pun yang pernah mereka ucapkan. Kalau memang benar tak seorang pun akan menagih pertanggungjawaban dan tak seorang pun menguasai kalian, maka di kerongkongan, saat nyawa dalam perjalanan keluar, apa yang menghalangi kalian membaliknya kembali?