فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ
Maka, adapun jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَfa-ammaa in kaana mina l-muqarrabiinamaka, adapun jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَأَمَّاfa-ammaaadapun
- إِنْinjika
- كَانَkaanaadalah
- مِنَminadari
- الْمُقَرَّبِينَl-muqarrabiinaorang-orang yang didekatkan
Inti bacaan
Kategori pertama nasib akhir: 'maka adapun jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan', kembali merujuk golongan istimewa (al-muqarrabuun) yang telah diperkenalkan sebelumnya, memulai rangkaian tiga skenario nasib akhir berdasarkan kategori yang telah ditetapkan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini membuka susunan tiga nasib yang berjalan sampai 56:94. Ketiganya dibuka dengan kata yang sebentuk: (فَأَمَّا, fa-ammaa) di sini, (وَأَمَّا, wa-ammaa) di 56:90, dan (وَأَمَّا) lagi di 56:92. Tiga cabang yang sejajar bentuknya, masing-masing menyusul satu golongan yang sudah disebut jauh di awal surah, dan masing-masing menahan pokok jawabannya sampai ayat berikutnya. Bentuk yang berulang itu membuat ketiganya terbaca sebagai satu daftar tunggal, bukan tiga keterangan lepas.
Susunan tiga ini menutup surah dengan mengulang pembukanya. Di 56:7 disebut "kalian menjadi tiga macam"; 56:8 menyebut golongan kanan, 56:9 golongan kiri, dan 56:10-11 golongan terdepan yang "itulah orang-orang yang didekatkan". Surah membuka dengan menamai tiga golongan dan menutup dengan menyebut tiga nasib mereka pada saat kematian, sehingga bagian akhir melingkar kembali ke bagian awal. Pembaca yang sampai di ujung surah bertemu lagi dengan pembagian yang sudah dikenalnya sejak halaman pertama, kini bukan sebagai perkenalan melainkan sebagai putusan.
Kata (الْمُقَرَّبِينَ, al-muqarrabiin), "orang-orang yang didekatkan", dari akar ق-ر-ب (q-r-b). Kata ini dan bentuk marfu'-nya masing-masing muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an; di dalam surah ini keduanya ada di dua tempat, di 56:11 dan di sini. Golongan (السَّابِقُونَ, as-saabiquun) di 56:10 yang dinamai (الْمُقَرَّبُونَ) di 56:11 adalah (الْمُقَرَّبِينَ) di ayat ini, golongan yang sama dibuka dan ditutup dengan sebutan yang sama. Di 56:12 mereka disebut berada "di taman-taman kenikmatan", dan di 56:89 mereka diberi "taman kenikmatan"; pasangan sebutan dan tempat itu diulang di pembuka dan di penutup.
Akar ق-ر-ب juga baru saja dipakai di 56:85: Allah "lebih dekat" kepada yang sekarat daripada orang-orang di sekelilingnya. Jadi di detik kematian, yang disebut "lebih dekat" bertemu dengan golongan "yang didekatkan", dan kata yang sama menautkan adegan ranjang dengan nasib pertama. Kedekatan yang hadir di saat terberat adalah kedekatan yang menjadi ciri golongan pertama, sehingga nama golongan itu dan pengalaman sekaratnya memakai satu akar.
Kata (إِنْ كَانَ, in kaana), "jika dia", memakai kata kerja bentuk lampau: yang diandaikan adalah keadaannya semasa hidup, apakah ia dulu termasuk golongan yang didekatkan. Nasibnya ditentukan oleh golongan tempat ia berada, bukan ditimbang ulang satu per satu di ayat ini. Detik kematian bukan tempat memutuskan, melainkan tempat menampakkan apa yang sudah menjadi keadaan seseorang. Kalimatnya bersyarat dan belum selesai; ayat 56:89 menyediakan pokok jawabannya, yaitu apa yang menyambutnya.
Tafsiran
Ayat ini beralih ke nasib orang yang sekarat berdasarkan golongannya: dimulai dari golongan as-saabiquun. Sesudah adegan maut yang sama bagi semua orang, nyawa di kerongkongan, orang-orang menonton, kematian datang, ayat ini memilah apa yang menyusul menurut golongan tempat orang itu berada semasa hidup. Yang sampai di titik itu tidak lagi dibedakan oleh apa yang tampak di ruangan, melainkan oleh golongan yang sudah menjadi tempatnya berdiri.
Yang pertama disebut golongan terdepan, yang di 56:10-11 dinamai "orang-orang yang didekatkan". Golongan yang paling dulu disebut di awal surah adalah yang paling dulu diberi nasibnya di akhir surah. Urutan penyebutannya dijaga sama dari pembuka sampai penutup, tanpa menukar posisi siapa pun.
Kata "didekatkan" memakai akar yang sama dengan "lebih dekat" di 56:85, tempat Allah disebut lebih dekat kepada yang sekarat daripada keluarganya. Di detik kematian, yang "lebih dekat" itu menyambut golongan "yang didekatkan", dan kedua sebutan itu satu akar kata. Nama golongan pertama dan pengalaman sekaratnya karena itu tidak terpisah, melainkan dua sisi dari kedekatan yang sama.
Bentuk kalimatnya bersyarat, "jika dia termasuk", dengan kata kerja lampau: yang ditimbang keadaannya semasa hidup, bukan penilaian baru di saat itu. Kalimatnya belum ditutup di sini; ayat berikutnya menyebut apa yang menyambutnya, dan menahan jawaban itu membuat pembaca berhenti sejenak di ambang sebelum diberi tahu apa yang menunggu di baliknya.
Renungan dan Hikmah
- Allah memilah nasib menurut golongan yang sudah disebut, bukan menimbang amal satu per satu di ayat ini. Kata kerjanya lampau, "jika dia dulu termasuk", jadi yang diandaikan keadaan orang itu semasa hidup, bukan hitungan yang dimulai dari nol pada saat kematian. Menautkan nasib ke golongan menegaskan bahwa saat kematian bukan tempat memutuskan, melainkan tempat menampakkan apa yang sudah menjadi keadaan seseorang. Yang menentukan sudah terjadi jauh sebelum nyawa sampai di kerongkongan, dan detik ajal hanya membuka apa yang sudah ada.
- Golongan yang paling dulu disebut di 56:10-11, golongan terdepan yang didekatkan, adalah yang paling dulu diberi nasibnya di sini. Allah menjaga urutan yang sama dari pembuka surah sampai penutupnya. Yang disebut duluan waktu tiga golongan mula-mula dinamai disebut duluan lagi waktu tiga nasib dibagikan, sehingga susunannya terbaca seragam dari ujung ke ujung, dan pembaca bisa menebak siapa yang akan disebut berikutnya hanya dari urutan pembukanya.
- Susunan tiga golongan yang dibuka di 56:7-11 diulang di 56:88-92. Allah menutup surah dengan bentuk yang sama seperti membukanya, tiga cabang "adapun jika dia termasuk" yang sejajar. Bagian penutup melingkar lagi ke bagian pembuka, dan pembaca yang sampai di ujung surah bertemu lagi dengan pembagian yang sudah dikenalnya sejak halaman pertama, kini bukan sebagai perkenalan melainkan sebagai putusan. Yang dibuka sebagai gambaran ditutup sebagai keputusan atas gambaran yang sama.
- Akar ق-ر-ب baru dipakai di 56:85, Allah "lebih dekat" kepada yang sekarat daripada orang di sekelilingnya, dan dipakai lagi di sini, "orang-orang yang didekatkan". Di detik kematian, Yang lebih dekat menyambut golongan yang didekatkan, dan satu kata menautkan adegan ranjang dengan nasib pertama. Kedekatan yang hadir di saat terberat adalah kedekatan yang menjadi ciri golongan pertama, jadi nama mereka bukan sekadar label, melainkan gambaran keadaan yang mereka alami tepat pada detik ajal.
- Ayat ini bersyarat, "jika dia termasuk", dan berhenti sebelum menyebut apa yang terjadi. Allah menahan pokok jawabannya sampai ayat berikutnya, sama seperti kalimat adegan maut yang lebih dulu, yang digantung berayat-ayat. Menahan jawaban di kalimat yang menyangkut nasib membuat pembaca berhenti sejenak di ambang, sebelum diberi tahu apa yang menunggu di baliknya, dan jeda pendek itu memberi bobot pada apa yang menyusul.
- Ayat ini menaruh kata kerja lampau, "jika dia dulu termasuk", dan itu memindahkan seluruh bobot ke masa hidup. Kalau saat kematian hanya menampakkan golongan tempat seseorang sudah berada, bukan tempat golongan itu baru ditentukan, maka yang menentukan sudah terjadi jauh sebelum detik itu. Kalau begitu, apa sebenarnya yang sedang disiapkan seseorang setiap hari untuk ditampakkan pada detik yang tak bisa ditunda?