فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ

maka, ketenteraman, rezeki harum, dan taman kenikmatan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌfa-rawhun wa-rayhaanunmaka, ketenteraman dan rezeki harum
  2. وَجَنَّتُ نَعِيمٍwa-jannatu na'iimindan taman kenikmatan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَرَوْحٌfa-rawhunmaka kelegaan
  2. وَرَيْحَانٌwa-rayhaanundan tumbuhan wangi
  3. وَجَنَّتُwa-jannatudan taman
  4. نَعِيمٍna'iiminkenikmatan

Inti bacaan

Gambaran kenikmatan golongan terdekat: 'maka (baginya) ketenteraman, rezeki harum, dan surga kenikmatan', kombinasi ketenangan batin, kenikmatan sensorik, dan tempat abadi, gambaran kesejahteraan yang menyeluruh mencakup dimensi spiritual dan material.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menyediakan pokok jawaban bagi kalimat bersyarat yang dibuka di 56:88. Bentuknya kalimat tanpa kata kerja: tiga kata benda berdiri sendiri sebagai seluruh jawabannya, tanpa "maka baginya" atau "maka dia mendapat" yang disebut. Ketiadaan kata kerja membuat ketiga hal itu terbaca seakan sudah hadir di saat itu juga, bukan dijanjikan untuk nanti, sehingga jarak antara kematian dan balasan terasa dihilangkan. Kalimat pendek tanpa kata kerja itu menyampaikan sambutan yang seketika, bukan proses yang perlu ditunggu.

Kata pertama (رَوْحٌ, rawh), dari akar ر-و-ح (r-w-H), berarti "kelegaan, ketenangan, embusan napas yang lapang". Perlu dibedakan dari (رُوح, ruuH), "nyawa", yang seakar tetapi berbeda maknanya. Kata (رَوْح) dalam pengertian kelegaan ini muncul dua kali saja di seluruh Al-Qur'an: di sini, dan di 12:87, (لَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ, laa tay'asuu min rawHi-llaah), "janganlah kalian berputus asa dari kelegaan yang dari Allah". Yang di 12:87 disebut sebagai sesuatu yang tak boleh diputus-asakan adalah yang di 56:89 diberikan sebagai kenyataan yang menyambut.

Kata kedua (رَيْحَانٌ, rayhaan), dari akar ر-ي-ح (r-y-H), berarti "tumbuhan wangi, keharuman", dan juga "rezeki yang menyenangkan". Kata ini muncul di 55:12, (وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ), tentang biji-bijian berkulit dan tumbuhan wangi di bumi, dan di sini sebagai bagian dari sambutan. Yang di surah sebelumnya disebut sebagai karunia di bumi muncul lagi di sini sebagai bagian dari balasan, sehingga yang menyambut tidak seluruhnya asing bagi yang menerimanya.

Kata ketiga, (جَنَّتُ نَعِيمٍ, jannatu na'iim), "taman kenikmatan", dari akar ج-ن-ن (j-n-n) dan ن-ع-م (n-'-m). Bentuk susun tak takrif ini hanya muncul di ayat ini; bentuk yang lebih umum, (جَنَّاتِ النَّعِيمِ), muncul enam kali, di antaranya di 56:12, tempat ia disebut sebagai tempat golongan terdepan. Jadi "taman kenikmatan" yang dinamai bagi golongan yang didekatkan di 56:12 adalah yang mereka terima di 56:89; pembuka dan penutup surah menyebut hal yang sama dengan kata yang sama, sehingga janji dan pemenuhannya sejajar.

Urutan ketiganya bergerak dari dalam ke luar: kelegaan lebih dulu, lalu keharuman, lalu taman. Yang batin disebut sebelum yang tercium, dan yang tercium sebelum tempatnya. Sambutan itu dimulai dari keadaan hati, bukan dari perabotannya, dan kenikmatan lahir menyusul di belakang keadaan batin yang sudah tenang. Susunan dari dalam ke luar itu menandai bahwa yang pertama diberikan kepada yang baru sampai adalah rasa lega, dan segala yang bisa dilihat serta ditempati datang sesudah rasa lega itu lebih dulu ada.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan sambutan langsung bagi golongan yang didekatkan pada saat kematian: ketenteraman dan kenikmatan seketika. Tiga hal disebut sebagai seluruh jawabannya, tanpa kata kerja: kelegaan, keharuman, dan taman kenikmatan. Tidak ada "maka dia akan mendapat"; tiga kata benda itu berdiri sendiri, seolah sudah ada di hadapan begitu nyawa lepas, tanpa jeda menunggu.

Yang pertama disebut kelegaan, bukan makanan atau tempat. Yang batin didahulukan: napas yang lapang lebih dulu, baru yang bisa dicium, baru tempatnya. Sambutan itu dimulai dari keadaan hati, bukan dari perabotannya, dan urutan itu menandai apa yang pertama-tama dibutuhkan orang yang baru sampai.

Kata untuk kelegaan di sini hanya dipakai sekali lagi dalam Al-Qur'an, di 12:87, tempat orang dilarang berputus asa darinya. Yang di sana disebut sebagai harapan yang tak boleh ditinggalkan diberikan di sini sebagai kenyataan, sehingga kata langka itu menautkan yang dinantikan dengan yang tiba.

Kata untuk taman, dalam bentuk ini, hanya di ayat ini, tetapi bentuk umumnya disebut di 56:12 sebagai tempat golongan terdepan. Apa yang dinamai bagi mereka di pembuka surah adalah apa yang mereka terima di penutupnya, sehingga janji dan pemenuhannya memakai kata yang sama, dan surah menutup lingkarannya persis pada tempat ia membukanya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut tiga hal, kelegaan, keharuman, dan taman kenikmatan, tanpa satu kata kerja pun di antaranya. Tidak ada "maka dia akan mendapat" atau "maka baginya"; ketiganya berdiri sendiri sebagai seluruh jawaban. Ketiadaan kata kerja membuat sambutan itu terbaca seakan sudah hadir di detik itu juga, bukan sesuatu yang dijanjikan lalu ditunggu, sehingga jarak antara kematian dan balasan terasa dihilangkan, dan yang sampai langsung berada di tengah yang menyambutnya.
  • Yang pertama disebut Allah adalah kelegaan, bukan makanan dan bukan tempat. Baru sesudahnya keharuman, dan baru sesudah itu taman. Sambutan dimulai dari keadaan hati, napas yang lapang, sebelum apa pun yang bisa dicium atau ditempati disebut. Urutan itu menandai bahwa yang pertama-tama diberikan kepada yang sampai adalah rasa lega, dan kenikmatan lahir menyusul di belakang keadaan batin yang sudah tenang, bukan mendahuluinya. Yang paling menekan pada detik ajal adalah rasa tidak tenang, dan justru itu yang lebih dulu dijawab.
  • Kata untuk kelegaan di ayat ini hanya dipakai dua kali di seluruh Al-Qur'an: di sini, dan di 12:87, tempat orang dilarang berputus asa dari kelegaan yang dari Allah. Yang di sana disebut sebagai harapan yang tak boleh ditinggalkan diberikan di sini sebagai kenyataan yang menyambut. Kata langka yang muncul sekali sebagai yang dinantikan dan sekali sebagai yang tiba menandai bahwa keduanya berbicara tentang hal yang sama, dan bahwa yang diharap tidak sia-sia diharap.
  • Kata untuk keharuman di ayat ini juga dipakai di 55:12, tentang tumbuhan wangi di bumi. Allah memakai kata yang sama untuk karunia yang sudah dikenal di dunia dan untuk bagian dari sambutan di akhirat. Yang pernah dicium sebagai nikmat kecil di bumi disebut lagi sebagai bagian dari yang menyambut, sehingga balasan itu tidak seluruhnya asing bagi yang menerimanya, melainkan bentuk penuh dari yang sudah pernah dirasa dalam ukuran kecil.
  • Bentuk umum "taman kenikmatan" disebut di 56:12 sebagai tempat golongan terdepan, dan bentuk ringkasnya muncul di sini sebagai yang mereka terima. Allah menamai tempat itu bagi mereka di pembuka surah dan menyerahkannya kepada mereka di penutupnya, dengan kata yang sama. Janji dan pemenuhannya dinyatakan memakai istilah yang tidak berubah, sehingga apa yang dibuka di awal ditutup persis pada tempatnya, tanpa selisih antara yang dijanjikan dan yang diberikan.
  • Ayat ini menaruh kelegaan di depan daftar, mendahului semua yang bisa dilihat dan disentuh. Kalau yang pertama-tama disambutkan kepada golongan terdepan adalah rasa lega, bukan hidangan dan bukan istana, mungkin itu pula yang sebenarnya paling dibutuhkan, dan yang lahiriah hanya melengkapinya. Banyak orang menghabiskan hidup mengejar yang lahiriah lebih dulu, dengan anggapan ketenangan akan mengikut sendiri. Kalau begitu, apa yang selama ini paling dicari seseorang, tanpa selalu menyadarinya, di balik semua yang tampak ia kejar?