وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ

Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِwa-ammaa in kaana min ashaabi l-yamiinidan adapun jika dia termasuk golongan kanan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
  2. إِنْinjika
  3. كَانَkaanaadalah
  4. مِنْmindari
  5. أَصْحَابِashaabipenghuni
  6. الْيَمِينِl-yamiinikanan

Inti bacaan

Kategori kedua nasib akhir: 'dan adapun jika dia termasuk golongan kanan', transisi ke golongan kedua, menegaskan struktur tripartit yang konsisten sejak awal surah.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini cabang kedua dari susunan tiga nasib. Ia dibuka (وَأَمَّا, wa-ammaa), "dan adapun", memakai huruf (وَ) di depannya, berbeda dari (فَأَمَّا) yang membuka cabang pertama di 56:88; cabang ketiga di 56:92 memakai (وَأَمَّا) yang sama. Tiga cabang yang sebentuk, dengan cabang pertama disambungkan lebih rapat lewat huruf fa- dan dua berikutnya ditambahkan lewat huruf wa-. Perbedaan kecil pada huruf sambung itu tidak mengubah bentuknya yang sejajar.

Kata (أَصْحَابِ الْيَمِينِ, ash-Haabi-l-yamiin), "golongan kanan", dari akar ص-ح-ب (sh-H-b), "menyertai, menjadi kawan", dan ي-م-ن (y-m-n), "kanan, sisi kanan". Sisi kanan dalam Al-Qur'an adalah sisi yang membawa keberuntungan, juga sisi tempat catatan amal diterima, sebagaimana disebut di tempat lain tentang orang yang diberikan catatannya "dari sebelah kanannya". Sebutan "golongan kanan" karena itu sudah mengandung isyarat nasib sebelum nasibnya disebutkan; namanya sendiri sudah menyampaikan ke sisi mana ia berpihak.

Dalam susunan tiga golongan, golongan kanan berada di tengah: bukan yang terdepan yang didekatkan, bukan pula golongan yang mendustakan. Menurut gambaran surah ini, jumlah mereka lebih besar daripada golongan terdepan: golongan terdepan disebut "segolongan besar dari umat terdahulu dan sedikit dari umat kemudian" di 56:13-14, sedangkan golongan kanan disebut "segolongan besar dari umat terdahulu dan segolongan besar dari umat kemudian" di 56:39-40. Golongan yang lebih ramai itu menempati posisi kedua dari tiga, tidak di puncak dan tidak di dasar.

Golongan ini disebut berkali-kali sepanjang surah, dengan sebutan yang berkembang. Di 56:8 mereka (أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ), dari akar ي-م-ن yang sama; di 56:27 dan 56:38 mereka (أَصْحَابُ الْيَمِينِ) yang diberi gambaran surganya yang panjang; dan di sini serta 56:91 mereka disebut lagi untuk diberi sambutannya pada saat kematian. Satu golongan diikuti dari pembuka surah, lewat gambaran tempatnya, sampai ke detik ajalnya, sehingga pembaca mengenalnya sebagai satu rombongan yang utuh.

Kata (إِنْ كَانَ, in kaana), "jika dia", memakai kata kerja lampau, sama seperti di 56:88: yang diandaikan keadaannya semasa hidup, apakah ia dulu termasuk golongan kanan. Detik ajal bukan tempat memutuskan siapa masuk golongan mana, melainkan tempat menampakkan golongan yang sudah menjadi tempat seseorang berdiri. Kalimatnya bersyarat dan belum ditutup; 56:91 menyediakan pokok jawabannya, yaitu salam yang menyambutnya.

Berbeda dari golongan terdepan yang di 56:89 diberi gambaran keadaan, kelegaan dan keharuman dan taman, golongan kanan di 56:91 diberi sebuah ucapan: sejahtera bagimu. Yang satu disambut dengan hal yang bisa dirasa dan ditempati, yang satu disambut dengan kata. Perbedaan jenis sambutan itu tampaknya sepadan dengan kedudukan masing-masing, golongan terdepan lebih dahulu dan golongan kanan di belakangnya.

Tafsiran

Ayat ini beralih ke nasib golongan kanan pada saat kematian. Sesudah golongan terdepan diberi nasibnya di 56:88-89, giliran golongan kedua, yang di awal surah disebut golongan kanan atau golongan yang beruntung. Urutannya dijaga sama dengan urutan penyebutan mereka di pembuka surah, tanpa menukar posisi siapa pun.

Golongan ini diikuti sepanjang surah. Disebut di 56:8 dengan satu sebutan, diberi gambaran surganya yang panjang di 56:27-38, lalu disebut lagi di sini untuk diberi sambutan ajalnya. Satu golongan yang sama dibawa dari perkenalan, lewat tempat tinggalnya, sampai ke saat kematiannya, sehingga ia terbaca sebagai satu rombongan yang diikuti dari awal sampai akhir, bukan nama yang muncul sekali lalu hilang.

Bentuk kalimatnya bersyarat, "jika dia termasuk", dengan kata kerja lampau, seperti pada cabang pertama. Yang ditimbang keadaan orang itu semasa hidup, bukan penilaian yang baru dimulai di saat itu. Yang menentukan sudah selesai sebelum nyawa sampai di kerongkongan.

Kalimatnya belum ditutup di sini. Ayat berikutnya menyebut apa yang menyambut golongan kanan, dan sambutannya berbeda jenisnya dari sambutan golongan terdepan: yang pertama diberi keadaan yang bisa dirasa, yang kedua diberi ucapan salam. Dua golongan yang sama-sama selamat menerima sambutan yang berbeda bentuknya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah membuka tiga nasib dengan kata yang sebentuk: satu di 56:88, satu di sini, satu di 56:92. Yang ini yang di tengah, memakai "dan adapun" dengan huruf sambung di depannya, sedikit berbeda dari cabang pertama yang disambungkan lebih rapat. Bentuk yang berulang membuat ketiganya terbaca sebagai satu daftar yang tersusun rapi, bukan tiga keterangan yang kebetulan berdekatan, dan perbedaan kecil pada huruf sambung tidak memutus kesejajarannya.
  • Golongan kanan disebut Allah berkali-kali dalam surah ini, dengan sebutan yang berkembang: golongan yang beruntung di 56:8, golongan kanan yang diberi gambaran surganya di 56:27 dan 56:38, dan golongan kanan yang disambut ajalnya di sini dan 56:91. Satu golongan diikuti dari perkenalan, lewat tempat tinggalnya, sampai ke detik kematiannya, sehingga pembaca mengenalnya sebagai satu rombongan yang utuh, bukan nama yang muncul sekali lalu lenyap.
  • Kata kerjanya lampau, "jika dia dulu termasuk golongan kanan". Yang diandaikan Allah keadaan orang itu semasa hidup, bukan hitungan yang dimulai pada saat kematian. Detik ajal bukan tempat memutuskan siapa masuk golongan mana, melainkan tempat menampakkan golongan yang sudah menjadi tempat seseorang berdiri. Yang menentukan sudah selesai sebelum nyawa sampai di kerongkongan, dan detik itu hanya menyingkap apa yang sudah ada, tanpa menambah atau mengurangi apa pun dari keadaan yang dibawa seseorang ke sana. Tidak ada golongan yang berpindah pada detik terakhir.
  • Golongan terdepan di 56:89 disambut dengan gambaran keadaan: kelegaan, keharuman, taman. Golongan kanan di 56:91 disambut dengan sebuah ucapan: sejahtera bagimu. Allah memberi yang pertama sesuatu yang bisa dirasa dan ditempati, dan yang kedua sebuah salam. Dua golongan yang sama-sama selamat menerima sambutan yang berbeda jenisnya, yang satu berupa hal dan yang satu berupa kata, dan bedanya tampak sepadan dengan kedudukan masing-masing.
  • Golongan kanan disebut di urutan tengah di 56:8-9 dan diberi nasibnya di urutan tengah di sini. Allah menjaga urutan yang sama dari pembuka surah sampai penutupnya, tanpa menukar posisi siapa pun. Yang di pembuka berada di urutan tengah tetap di urutan tengah waktu nasib dibagikan, sehingga susunan surah terbaca sebagai satu rancangan yang dipegang teguh dari halaman pertama sampai terakhir, bukan kumpulan bagian yang disusun seadanya, sehingga pembaca bisa mempercayai bahwa setiap pengulangan menunjuk hal yang sama seperti pertama kali disebut.
  • Ayat ini membicarakan orang yang "dulu termasuk golongan kanan", jadi keadaan itu dibangun jauh sebelum detik ajal. Kalau saat kematian hanya menampakkan golongan yang sudah menjadi tempat seseorang, dan kata kerjanya lampau, maka pertanyaan yang tersisa bukan tentang detik ajal, melainkan tentang hari ini. Keanggotaan sebuah golongan tidak dipilih di ambang pintu, melainkan ditumbuhkan sepanjang jalan menuju ke sana, sedikit demi sedikit lewat hal-hal yang terasa kecil. Di golongan mana sebenarnya seseorang sedang berdiri pada saat ia membaca ini?