وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ
Dan adapun jika dia termasuk para pendusta yang sesat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَwa-ammaa in kaana mina l-mukadzdzibiina dh-dhaalliinadan adapun jika dia termasuk para pendusta yang sesat
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
- إِنْinjika
- كَانَkaanaadalah
- مِنَminadari
- الْمُكَذِّبِينَl-mukadzdzibiinaorang-orang yang mendustakan
- الضَّالِّينَdh-dhaalliinaorang-orang yang tersesat
Inti bacaan
Kategori ketiga nasib akhir: 'dan adapun jika dia termasuk para pendusta yang sesat', penutupan struktur tripartit dengan kategori terakhir, kombinasi kesesatan tindakan dan penolakan keyakinan sebagai penentu nasib.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini membuka cabang ketiga dan terakhir dari susunan tiga nasib. Cabang pertama dibuka (فَأَمَّا إِنْ كَانَ, fa-ammaa in kaana), "maka adapun jika dia termasuk", di 56:88. Cabang kedua dan ketiga memakai bentuk yang hampir sama, (وَأَمَّا إِنْ كَانَ, wa-ammaa in kaana), "dan adapun jika dia termasuk", di 56:90 dan di 56:92. Cetakan kalimat "adapun jika dia termasuk golongan ini" hanya dipakai di tiga tempat itu di seluruh Al-Qur'an, ketiganya berurutan di penutup surah ini. Tiga kalimat bersyarat yang disusun sejajar, masing-masing menimbang seseorang menurut golongan tempat ia berada saat mati, bukan menurut satu perbuatan yang terlepas. Susunan sejajar itu membuat ketiga nasib terbaca sebagai satu daftar tertutup: tidak ada kemungkinan keempat.
Golongan ini disebut dengan dua kata yang digabung: (الْمُكَذِّبِينَ, al-mukadzdzibiin), "para pendusta", lalu (الضَّالِّينَ, adh-dhaalliin), "yang sesat". Dua-duanya memakai kata sandang "al-", dan dua-duanya bentuk jamak yang menandai sifat yang melekat, bukan satu perbuatan yang lewat. Kata pertama berasal dari akar yang berarti menyebut sesuatu sebagai dusta; ia menunjuk sebuah sikap terhadap kebenaran, yaitu menolaknya. Kata kedua berasal dari akar yang berarti kehilangan jalan; ia menunjuk sebuah keadaan, yaitu tidak tahu lagi ke mana harus menghadap. Yang satu perbuatan, yang satu akibat. Keduanya ditaruh berdampingan tanpa kata sambung apa pun di antaranya, sehingga terbaca sebagai satu sebutan yang utuh, bukan dua tuduhan yang terpisah.
Ini nama ketiga yang diberikan surah ini kepada golongan yang sama. Di awal surah mereka disebut (أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ, ash-Haabu l-masy'amah), "golongan kiri", di 56:9. Di tengah surah, ketika nasib mereka mulai dirinci, mereka disebut (أَصْحَابُ الشِّمَالِ, ash-Haabu sy-syimaal), "golongan kiri" juga, di 56:41. Dua nama yang pertama hanya menunjuk arah, sisi kiri, tanpa mengatakan apa-apa tentang perbuatan; keduanya bisa dipahami sekadar sebagai posisi tempat duduk. Nama ketiga di 56:92 melepas arah itu sama sekali dan menggantinya dengan apa yang mereka kerjakan: mendustakan, lalu tersesat. Penyebutannya bergerak dari tempat menuju perbuatan, dan pergeseran itu terjadi tepat di ujung surah, ketika tinggal disebutkan ke mana mereka pergi.
Bentuk (الْمُكَذِّبِينَ) yang persis ini muncul di tujuh tempat: 3:137, 6:11, 16:36, 43:25, 56:92, 68:8, dan 73:11. Di empat tempat, yaitu 3:137, 6:11, 16:36, dan 43:25, kata ini datang dalam susunan "lihatlah bagaimana akhir para pendusta", sebuah ajakan berjalan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana orang yang mendustakan dahulu berakhir. Di 68:8 bentuknya sebuah larangan, "jangan patuhi para pendusta", dan di 73:11 sebuah perintah, "biarkan Aku dan para pendusta". Enam dari tujuh pemakaian itu menunjuk kelompok lain, entah di masa lampau yang harus diperhatikan akhirnya, entah di masa kini yang tidak boleh diikuti. Di 56:92 kata yang sama tidak menunjuk siapa-siapa di luar; ia menjadi cabang ketiga dari nasib yang sedang dibagikan pada saat kematian itu juga.
Bentuk (الضَّالِّينَ) muncul enam kali di lima surah: 1:7, 2:198, 6:77, 26:20, 26:86, dan 56:92; surah 26 memuatnya dua kali, di 26:20 dan 26:86. Bentuk yang paling sering dibaca ada di 1:7, penutup Al-Fatihah, (وَلَا الضَّالِّينَ, wa-laa adh-dhaalliin), "dan bukan pula golongan yang sesat". Di sana kata itu berdiri sebagai kelompok kedua yang terpisah dari "orang-orang yang dimurkai", dua kegagalan yang berbeda pada dua kelompok yang berbeda. Di 56:92 kata yang sama tidak berdiri sendiri; ia menempel pada "para pendusta" dan menjadi sifat kedua bagi satu kelompok. Kata yang tiap hari diucapkan dalam salat sebagai sesuatu yang dimohonkan agar dijauhkan, di ayat ini menjadi label bagi cabang ketiga saat kematian, dan permohonan harian itu jadi terbaca sebagai permohonan agar tidak berakhir di cabang tersebut.
Tafsiran
Ayat ini beralih ke nasib golongan ketiga pada saat kematian: para pendusta yang sesat. Surah ini dibuka dengan memilah manusia menjadi tiga (56:7), lalu menamai ketiganya: golongan kanan, golongan kiri, dan yang terdepan (56:8 sampai 56:10). Penutup surah mengambil tiga golongan yang sama dan menyusunnya ulang saat kematian: yang didekatkan lebih dulu (56:88), lalu golongan kanan (56:90), lalu golongan ini (56:92). Urutannya menurun, dari yang paling dekat kepada yang paling jauh. Yang di pembukaan surah tampak sebagai tiga kelompok yang berdiri sejajar, di penutupan surah tersusun sebagai tiga anak tangga yang turun.
Dua cabang yang sebelumnya langsung menyebut apa yang diterima: kelegaan, keharuman, dan taman bagi yang terdepan di 56:89; ucapan selamat bagi golongan kanan di 56:91. Cabang ketiga menahan diri sejenak. Sebelum menyebut satu pun balasan, ayat ini lebih dulu memastikan siapa mereka, dengan dua kata yang berat. Baru sesudah itu, di 56:93 dan 56:94, balasannya jatuh. Jeda kecil itu membuat kalimatnya terasa seperti sedang menegakkan tuduhan dengan tenang sebelum menjatuhkan putusan, bukan meledak lebih dulu lalu mencari alasannya.
Kata "jika dia termasuk" menimbang keanggotaan, bukan satu kesalahan. Yang dihitung adalah golongan tempat seseorang berdiri, arah hidup yang ia pilih dan tempati bertahun-tahun, bukan satu jam yang buruk. Ayat ini menutup daftar tiga golongan bukan dengan ancaman yang keras, melainkan dengan sebuah penggolongan yang datar dan sudah tetap. Nada yang tenang itu justru yang membuatnya terasa final: sesuatu yang tidak perlu diteriakkan karena sudah pasti.
Renungan dan Hikmah
- Golongan ini dinamai tiga kali dalam satu surah, dan namanya berubah tiap kali. Dua kali Allah menyebut mereka menurut arah, golongan kiri, di 56:9 dan 56:41, sebutan yang bisa dipahami sekadar sebagai tempat duduk. Sekali, tepat di ujung surah, arah itu ditanggalkan dan diganti dengan perbuatan: para pendusta yang sesat. Sebutan yang mula-mula hanya menunjuk posisi akhirnya menunjuk apa yang dikerjakan. Seakan nama yang paling jujur tentang seseorang bukan di mana ia duduk, melainkan apa yang selama ini ia tolak dan ke mana penolakan itu membawanya.
- Sebelum menyebut apa yang golongan ini terima, ayat ini berhenti pada dua kata: mendustakan, lalu sesat. Cabang yang terdepan dan cabang golongan kanan langsung disambung dengan balasannya, tanpa jeda. Yang ini diberi ruang sejenak. Allah seolah memastikan dulu bahwa yang dibicarakan memang benar kelompok itu, baru menurunkan air mendidih dan api di dua ayat berikutnya. Hukuman yang tidak buru-buru, yang didahului penyebutan siapa dan mengapa, terasa lebih berat daripada yang langsung dijatuhkan tanpa kata pengantar.
- Di awal surah tiga golongan disebut dengan golongan kanan lebih dulu (56:8), lalu golongan kiri (56:9), lalu yang terdepan (56:10), tiga kelompok yang berdiri sejajar. Di penutup surah Allah menyusunnya ulang: yang didekatkan (56:88), golongan kanan (56:90), lalu para pendusta (56:92). Kali ini urutannya menurun rapi, dari yang paling dekat kepada yang paling jauh. Daftar yang di pembukaan terbaca mendatar, di penutupan menjadi sebuah tangga yang turun selangkah demi selangkah, dan cabang ketiga ada di anak tangga paling bawah.
- Kalimatnya berbunyi "jika dia termasuk", bukan "jika dia pernah". Yang ditimbang keanggotaan, golongan tempat seseorang berdiri, bukan satu perbuatan yang terlepas dari keseluruhan. Arah hidup yang dipilih dan ditinggali sepanjang waktu itulah yang dibaca, bukan lintasan sesaat. Kalau seseorang ditimbang bukan dari hari terburuknya, melainkan dari ke mana wajahnya menghadap selama bertahun-tahun, dia termasuk golongan yang mana?
- Dua sifat itu diberi urutan: mendustakan disebut lebih dulu, sesat kemudian. Menyebut sesuatu sebagai dusta adalah perbuatan, sebuah pintu yang ditutup dengan tangan sendiri. Sesudah pintu itu tertutup, arah hilang, dan itulah kesesatan. Allah menaruh keduanya berurutan, seakan yang satu melahirkan yang lain: penolakan lebih dulu, baru tersesat. Bukan orang tersesat yang kebetulan menolak, melainkan orang yang menolak lalu kemudian tidak lagi menemukan jalan pulang.
- Kata (الضَّالِّينَ, adh-dhaalliin) diucapkan setiap hari di penutup Al-Fatihah, (وَلَا الضَّالِّينَ, wa-laa adh-dhaalliin), "dan bukan pula golongan yang sesat". Di 1:7 kata itu menyebut kelompok yang dimohonkan kepada Allah agar dijauhkan dari kita. Di 56:92 kata yang sama menjadi bagian dari sebutan bagi cabang ketiga saat kematian. Yang tiap hari kita minta "jangan sampai kami termasuk mereka" di sini muncul sebagai golongan yang nasibnya sudah tetap. Doa harian yang mudah terucap tanpa dipikir ternyata menyangkut sesuatu yang penutup surah ini gambarkan dengan sungguh-sungguh.