فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

Maka, bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Sang Agung.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِfa-sabbih bi-smi rabbika l-'azhiimimaka, bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Sang Agung

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَسَبِّحْfa-sabbihmaka bertasbihlah
  2. بِاسْمِbi-smidengan nama
  3. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  4. الْعَظِيمِl-'azhiimiyang agung

Inti bacaan

Penutup Al-Waqi'ah dengan seruan yang sama seperti 56:74: 'bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Sang Agung', pengulangan yang membingkai seluruh surah dengan seruan ibadah yang identik, menegaskan bahwa respons akhir terhadap seluruh rangkaian kisah dan peringatan tetaplah tindakan penghambaan yang konkret.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan '(menyebut)' tidak dipakai, konsisten dengan identik di 56:74: 'bi-smi' (dengan nama) sudah lengkap tanpa kata kerja tambahan. (بِاسْمِ, bi-smi), "dengan nama", tidak memerlukan kata kerja "menyebut" di depannya untuk menjadi kalimat yang utuh. (الْعَظِيمِ, al-'azhiim) memakai kata sandang, sehingga tetap ditulis dengan gelar "Sang Agung", sesuai cara proyek ini memperlakukan sifat yang berkata sandang: sebuah sifat yang sudah tertentu diperlakukan sebagai sebutan, bukan sekadar keterangan lepas.

Seluruh ayat ini sama kata demi kata dengan 56:74. Baris (فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ, fa-sabbiH bi-smi rabbika l-'azhiim) muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an: di 56:74, di 56:96, dan di 69:52. Di dalam surah ini ia sebuah pengulangan yang disengaja: sekali di pertengahan, sesudah rangkaian pertanyaan tentang air dan api di 56:68 sampai 56:73, sekali lagi di ujung, sesudah seluruh pemilahan tiga golongan. Dua kali baris yang sama itu dipasang seperti dua tiang yang menyangga bangunan surah dari tengah dan dari tepi.

Huruf (فَ) "maka" di awal ayat mengikat perintah ini pada semua yang mendahuluinya. Di 56:74 ia menjawab rentetan pertanyaan yang membentang belasan ayat, dengan sebuah perbuatan, bukan sebuah alasan. Di 56:96 ia menjawab seluruh pemilahan tiga golongan dan putusan di 56:95, juga dengan perbuatan yang sama. Perintah pendek yang sama menutup kedua bagian, seakan apa pun yang sudah dipaparkan, entah pertanyaan tentang alam atau gambaran nasib manusia, jawaban yang diminta selalu satu dan itu-itu juga.

(سَبِّحْ, sabbiH) adalah bentuk perintah dari akar yang berarti menyatakan bersih dari cela. Yang diminta bukan memuji dalam arti mengagumi, melainkan menyatakan bahwa Tuhan bersih dari segala kekurangan, "dengan nama Tuhanmu", yaitu melalui nama itu. (رَبِّكَ, rabbika) membawa akhiran "-mu" yang tunggal; perintah ini ditujukan kepada satu pendengar, bukan kepada orang banyak, meski yang membacanya kemudian bisa siapa saja.

Rangkaian (بِاسْمِ رَبِّكَ, bi-smi rabbika), "dengan nama Tuhanmu", juga membuka perintah pertama dalam Al-Qur'an, di 96:1, (اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ, iqra' bi-smi rabbika), "bacalah dengan nama Tuhanmu". Rangkaian dua kata yang sama itu berdiri di perintah "bacalah" yang pertama, di 96:1, dan di penutup dua surah, 56:96 dan 69:52. Perlu dicatat, (عَظِيمٌ, 'azhiimun) di 56:76 berbeda dari kata di ayat ini: di sana kata itu tanpa kata sandang dan menjadi sifat biasa bagi sebuah sumpah, "sumpah yang agung", bukan sebutan bagi Allah, sehingga tidak ditulis dengan gelar "Sang".

Tafsiran

Ayat penutup surah ini mengulang perintah tasbih yang sama di 56:74, membingkai seluruh surah dengan seruan pengagungan Allah. Surah ini dibangun di antara dua baris yang sama persis. Yang satu berdiri sesudah bagian pertengahan, sesudah pertanyaan tentang air dan api; yang satu lagi menutup surah. Semua yang terletak di antara keduanya, tiga golongan yang dirinci nikmat dan siksanya lalu tiga golongan yang sama saat kematian, dipegang di dalam bingkai satu perintah yang diulang.

Yang diminta di penutup adalah bertasbih, menyatakan bersih dari cela, bukan bersyukur. Sesudah uraian panjang tentang balasan dan siksa, tanggapan yang diminta bukan terima kasih atas bagian yang diterima, melainkan menempatkan Tuhan di atas segala kekurangan. Sebutan yang dipilih untuk menutup adalah "Sang Agung". Yang memilah tiga golongan dinamai di ujung surah dengan sifat kebesaran yang paling luas, bukan dengan sifat yang menunjuk satu perbuatan tertentu.

Surah 69 ditutup dengan kata-kata yang sama persis, tepat sesudah "kebenaran yang pasti" di 69:51. Dua surah berakhir dengan cara yang sama: sebuah penegasan bahwa perkaranya pasti, lalu satu perintah pendek untuk mengagungkan. Penutup dua langkah itu bukan milik satu surah saja, melainkan sebuah bentuk yang dipakai ulang.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menutup surah dengan kalimat yang sama persis seperti yang berdiri di pertengahannya, di 56:74. Diulang kata demi kata, tanpa satu huruf pun yang berubah. Semua yang terbentang di antara dua baris itu, tiga golongan yang dirinci panjang lalu tiga golongan yang sama saat kematian, berada di dalam bingkai satu perintah pendek. Yang paling banyak dibicarakan sepanjang surah ini justru dipeluk oleh kalimat yang paling ringkas, seakan seluruh uraian itu ada untuk mengantar ke perintah tersebut.
  • Sesudah uraian panjang tentang siapa mendapat kelegaan dan siapa mendapat api, yang diperintahkan Allah bukan bersyukur, melainkan bertasbih: menyatakan-Nya bersih dari segala cela. Tanggapan yang diminta bukan "terima kasih atas bagianku", melainkan pengakuan bahwa yang membagi itu sendiri bersih dari salah. Rasa terima kasih berpusat pada yang menerima dan pada apa yang ia dapat; tasbih berpusat pada yang disucikan, lepas dari untung rugi si pembaca. Yang diminta di ujung surah bukan menghitung bagian sendiri, melainkan menempatkan Yang membagi itu di atas segala cela.
  • Rangkaian "dengan nama Tuhanmu" juga membuka perintah pertama dalam Al-Qur'an, "bacalah dengan nama Tuhanmu" di 96:1. Dua kata yang sama berdiri di perintah pembuka "bacalah" dan di perintah penutup surah ini "bertasbihlah". Yang pertama menyuruh menerima wahyu, yang terakhir menyuruh mengagungkan yang menurunkannya, dan keduanya dilakukan lewat pintu yang sama: nama Tuhan. Awal dan salah satu akhir bertemu pada satu titik yang sama.
  • Akhiran "-mu" pada "Tuhanmu" berbentuk tunggal. Perintah penutup ini tidak ditujukan kepada orang banyak sekaligus, melainkan kepada satu orang. Sesudah surah selesai dibacakan, perintahnya jatuh pada seorang pendengar, bukan pada kerumunan yang bisa saling menyembunyikan diri di dalamnya. Ketika kalimat terakhir surah ini terbaca dan menyebut "Tuhanmu", siapa yang sedang dipanggil?
  • Surah ditutup Allah dengan menyebut diri-Nya "Sang Agung". Sesudah menggambarkan tiga golongan dan tempat masing-masing, nama yang dipakai di baris terakhir adalah sifat kebesaran yang paling luas, bukan sifat yang menunjuk satu perbuatan. Yang memegang kuasa memilah manusia disebut, tepat di ujung, dengan sebutan yang mencakup besarnya secara keseluruhan. Perincian yang panjang ditutup dengan sebutan yang paling lapang, seakan sesudah semua rincian, yang tersisa untuk dikatakan hanyalah bahwa Ia besar. Sebutan seluas itu sengaja disimpan untuk baris yang paling akhir, bukan disebar di sepanjang surah.
  • Baris (فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ, fa-sabbiH bi-smi rabbika l-'azhiim) muncul persis tiga kali di seluruh Al-Qur'an: di 56:74, di 56:96, dan di 69:52. Di surah ini ia diulang di tengah dan di akhir; di surah 69 ia menjadi baris penutup, tepat sesudah "kebenaran yang pasti". Dua surah dibawa Allah ke penghujungnya dengan perintah yang sama. Cara sebuah surah berakhir, ternyata, bisa dipakai lebih dari sekali, dan pengulangan itu sendiri seperti sebuah tanda tangan.